Kritik Atas Filsafat Pendidikan Progresivisme dan Rekonstruksionisme

0 496

Kritik yang diarahkan kepada filsafat progresivisme. Kritik pendidikan progresif yang berasal dari filsafat pragmatisme dimulai pada tahun 1950-1957. Muncul banyak tulisan dan pembahasan yang berkaitan dengan itu dan kritik masih terus berlanjut sampai saat ini, dan memungkinkan untuk membuat ringkasan segi-segi kritik yang ditujukan kepada mazhab ini dalam hal-hal sebagai berikut:

14 Kritik Atas Filsafat Pendidikan Progresivisme

Filsafat progresif-pragmatis adalah pendidikan tanpa tujuan

Filsafat progresif-pragmatis adalah pendidikan tanpa tujuan. Ia memberikan perhatian yang lebih besar dari yang seharusnya terhadap masalah adaptasi dan dorongan terhadap remaja untuk menjalankan kesenangan mereka dan akitvitas sosial sementara megabaikan tema-tema akademik, rasio dan studi yang sungguh-sungguh. Sebagian pengkritik mazhab modern yang didasarkan pada pragmatisme menjelaskan bahwa ia tidak lebih sebagai “permainan sirkus” daripada institusi akademik.

Pendidikan Modern Hanya memberi Perhatian Kepada Teknik Mengajar Bukan Materi Belajar

Pendidikan modern memberikan perhatian yang lebih besar dari yang seharusnya kepada mempersiapkan pengajar untuk teknik pembelajaran dan mekanisme pembelajaran sementara tidak memberikan perhatian yang seharusnya untuk mempersiapkan materi studi yang akan ia ajarkan.

Pendidikan Modern Memberikan Kedudukan yang Tinggi Terhadap Keahlian Ijazah

Pendidikan modern memberikan kedudukan yang tinggi terhadap keahlian ijazah sehingga yang memiliki ijazah materi pendidikan diberikan kesempatan yang lebih utama untuk mendapatkan pekerjaan daripada yang berhasil mendapatkan ijazah dalam materi ilmiah.

Kurangnya Keunggulan Ilmiah

Pemusatan pada adaptasi sosial dan materi pendidikan menyababkan kurangnya keunggulan ilmiah Amerika dalam perang dingin.

Gagal Dalam Menawarkan Hakikat yang Menyeluruh

Ketika pragmatisme dan progresivisme membatasi hakikat hanya pada “pengalaman” maka ia gagal dalam menawarkan hakikat yang menyeluruh yang merupakan orbit perhatian manusia pada zaman dulu dan saat ini.

Menurunkan Kedudukan Hakikat

Ketika pragmatisme menganggap bahwa hakikat itu dibuat oleh manusia maka berarti menurunkannya dari kedudukan hakikat dan menjadikannya sesuatu yang tidak berarti dan tidak memerlukan kerja keras.

Menurunkan Konsep Akal

Pragmtisme menurunkan konsep akal dari taraf pemikiran dan rasionalisme kepada kecerdasan untuk mengatur masalah-masalah kehidupan.

Menurunkan Nilai Etika dan Estetika

Pragmatisme menurunkan nilai etika dan estetika dan menjadikannya sebagai nisbi, temporer dan tidak dipercaya.

Memusatkan pada manusia saat ini

Pragmatisme memusatkan pada manusia pada saat ini padahal sejarah mengetahui banyak hal.

Terpengaruh Darwinisme

Pragmatisme terpengaruh dengan Darwinisme melalui  perubahan konsep evolusi dan adaptasi.

Melalaikan Kematangan, Pengetahuan dan Hikmah Pengajar

Meningkatnya pemusatan pada anak-anak dan meminimalisir peran pengajar dan menganggapnya sebagai semata-mata pengarahan yang melalaikan kematangan, pengetahuan dan hikmah pengajar.

Buruknya Penafsiran

Rasisme pragmatisme adalah karena buruknya penafsiran. Padahal sebenarnya pragmatisme tidak susah dipahami hanya saja kebanyakannya dieksploitasi untuk maksud yang buruk. Pendidik, bertolak dari konsep “anak adalah orbit aktivitas” hanya sedikit memberikan pembelajaran, dan kedua orang tua lepas dari tanggungjawab terhadap anak-anaknya.

Mengabaikan Perasaan dan Batin Manusia

Perhatian terhadap fenomena perilaku dan mengabaikan perasaan dan batin manusia.

Bekomplot Dengan Tokoh Industrialis dan Ekonomi

Pendidikan progresif-pragmatis sejak tahun 70-an hingga saat ini mendapat kritik yang keras dari kumpulan pendidik dan peneliti yang dikenal dengan muroji’in (revisionis) sehingga mereka menuduh bekomplot dengan tokoh industrialis dan ekonomi dan membangun sistem pendidikan dengan bentuk “yang sesuai” dengan tujuan industri dan pusat-pusat pekerjaan dalam menjinakkan dan melatih manusia modern untuk tuntutan pekerjaan dan nilai industri dan kondisi pekerjaan di dalamnya yang sesuai dengan kepentingan tokoh industri dan kapital.

Kritik atas Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme

  1. Rekonstruksi sosial adalah sesuatu yang tidak realistis. Bentuk yang diajukan filsafat rekonstruksionisme lebih dekat kepada utopia dan imajiner.
  2. Pengabaian pengaruh kekuatan lain seperti kekuatan politik, dan ia menduga bahwa hanya pendidikan yang mampu melakukan rekonstruksi sosial.
  3. Kontradiksi mazhab ini dengan dirinya sendiri. Pada saat memperkuat kebebasan individu dan demokrasi ia memberikan masyarakat hegemoni yang bertentangan dengan kebebasan dan demokrasi.
  4. Filsafat pendidikan rekonstruksionisme bukanlah filsafat pendidikan. Ia lebih mendekati filsafat sosial yang berkaitan dengan kepentingan sosial dan bukan proses pendidikan.

Akhirnya pada tahun 1985-1967 Karen E. Maloney meringkas pembahasan tentang keadaan filsafat pendidikan dengan yang sebagai berikut:

Pada tahun 1958-1967 para filosuf pendidikan bersungguh-sungguh dalam membahas konsep yang lebih jelas tentang makna, watak filsafat dan hubungannya dengan aplikasi pendidikan. Akan tetapi dengan kegagalan angan-angan yang menimpa mereka- mereka berhenti di jalan buntu.

Pada tahun yang terjadi antara 1968-1982 filosuf pendidikan terbagi menjadi dua bagian: kelompok filsafat analisis dan kelompok yang merasa cukup dengan fenomena pemikiran, ini artinya kembali kepada keadaan tidak adanya kesepakatan tentang pengertian dan watak filsafat pendidikan.

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

 Bahan Bacaan:

William H Howick, Philosophies of Western Education, Danville: The Interstate Printers & Publishers, Inc., 1971

Karen A. Maloney, “Philosophy of Education: Definitions of the Field, 1942-1982”, dalam Educational Studies, vol. 16, No. 3, Musim Gugur, 1985

Komentar
Memuat...