Ku Tahu Segalanya | Bergembira Menjalani Takdir Part – 1

0 109

Akhir-akhir ini, entah mengapa, aku merasa sedang diuji Tuhan. Atau serendahnya aku patut bertanya, sesungguhnya Tuhan sedang membuat rencana apa dalam segenap perjalanan hidupku. Aku merasa Tuhan sedang menguji berbagai hal dalam perjalanan ini, yang secara teoritis, seharusnya aku tak diuji seperti ini.

Aku merasa Tuhan sedang melakukan berbagai hantaman yang terasa menyakitkan. Sampai aku sendiri tidak tahu kepada siapa sesungguhnya, aku harus menceritakan dan berbagi rasa tentang semua ini. Yang pasti aku merasa sedang berada dalam suatu persimpangan jalan yang sulit aku pilih.

Aku sering merasa bahwa pikiranku tak karuan. Jasad atau tubuhku tak beraturan. Terlebih semua cita rasa dan semangatku dalam menatap masa depan. Aku bingung! Aku merasa bahwa Tuhan sedang berpihak kepadaku.

Akhirnya, banyak waktu aku habiskan untuk melamun. Memikirkan sesuatu yang antah berantah. Aku yang tumbuh menjadi seorang wanita, hidup dalam gumpalan hidup yang dirasa tidak pernah menentu.

Akhirnya Kukisahkan Segalanya

Hingga akhirnya, pada suatu sore, aku menemukan suatu sosok yang dianggap mampu kupercaya. Akhirnya aku berani menceritakan semua kisah ini kepada teman yang sejujurnya aku anggap ia dapat dipercaya. Sosoknya menampilkan diri, sebagai pemuja yang mampu menjaga suatu kerahasiaan yang sejatinya selalu aku sembunyikan.

Sebenarnya masalah ini bukanlah hal spele. Meski mungkin untuk orang yang mendengar dan tidak pernah mengalaminya, dianggap sebagai sesuatu yang sepela dan biasa. Namun menurutku ini masalah besar yang dampaknya pasti besar.

Aku berhadapan dengan masalah serius terkait dengan posisi orangtuaku. Mereka yang telah lama menjalin rumah tangga, terpaksa memilih jalannya masing-masing. Mereka berpisah dan kami berada dalam pilihan [ibu atau bapak] yang sama-sama rumit.

Awalnya aku tak tahu alasan apa yang menyebabkan mereka akhirnya berpisah. Cukup lama kuhabiskan waktu untuk mencari tahu, alasan apa yang menyebabkan mereka tidak mampu melanjutkan hubungan keluarga dalam mahligai kebahagiaan.

Sampai pada suatu malam, ketika aku duduk berdua bersama ibuku, barulah peristiwa itu kuketahui. Saat itu, wajah ibuku tampak sangat murung. Aku tidak tahu, entah apa yang sedang dia pikirkan. Hingga akhirnya aku mulai mendengarkan pembicaraan ibu kepadaku atas peristiwa yang menimpanya.

Alasannya hanya karena faktor ekonomi. Ibuku bekerja sebagai guru, sedangkan ayahku tidak. Ibu sudah sabar menghadapi ini bertahun-tahun. Membiyayai aku dan kakakku. Memberi modal agar ayahku bekerja. Tapi semuanya tidak mendapat hasil.  By Inten Cahya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.