Kumpulan Puisi Nestapa

0 758

Puisi-puisi ini adalah satu cermin seorang pribadi yang gagal dalam berjuang mempertahankan asa. Tapi kegagalan itu sebenarnya bukan muncul dari gangguan orang lain, lebih kepada serangan hasrat dirinya yang tidak cukup rasional dan terlalu mendramatisir keadaan, pada akhirnya ia terjebak pada satu kesimpulan bahwa perasaannya telah menjadi musuh utamanya, tanpa ia sadari. Puisi-puisi ini menjadi satu panorama menarik, bahwa bertempur dengan bayang-bayang sendiri adalah satu kondisi gagal dalam mengelola jiwa sendiri. Kebanyakan orang memang tidak merasakan itu.

Harapan Semu

Tatapannya menggoda
Bibirnya merekah menghunjam jantungku
Ucapannya perlahan dan mengunci kata-kataku
Senyumnya mematikan perasaanku
Jalannya menjadikan aku terpesona, seakan kesempurnaan itu hanya miliknya

Sakitku tak terasa
Pedihku tak terhiraukan
Letihku selalu terbayar
Dahagaku terlewat sudah
Laparku tak pernah menjadi cerita

Aku terperosok dalam fatamorgana
Bercinta lewat lamunan
Menembus keindahan dalam bayang-bayang
Membahagiakan diri dalam pembenaran

Aku kini menerima kenyataan
Tapi tak mau orang lain tahu
Aku sakit hari ini
Tapi temanku jangan sampai tahu
Aku sengsara karena ulahku
Tapi tanganku tak usah mengusap air mataku

Yah, itulah aku hari ini.

 

Cinta dan Marah

Rindu itu ada tapi terhalang
Cinta itu cepat tumbuh tapi jangan disiram lagi
Pesona itu hadir tapi harus tersembunyi
Sayang itu muncul tenggelam dalam status-statusku

Marah itu bisa tapi tak bisa
Benci itu ada tapi terhalang oleh khawatir
Kesal itu hadir setiap saat tapi harus dipendam
Sampai aku sulit menjadi seorang profesional

Ada yang mengesankan
Ada pula yang mengesalkan
Ada yang memesona
Ada pula yang membosankan

Hingga aku sadar bahwa keduanya hanya simbol
Keduanya niscaya ada
Keduanya menjadi satu potret menarik dalam hidupku
Hingga aku harus katakan
bahwa tempat kembaliku adalah kesadaran tentang marah dan benci.

 

Retorika Cinta

Jika terminologi menjadi sebuah momentum
Jika regulasi menjadi satu sandaran
Jika tafsir diri menjadi pembenaran
Cinta telah dipersepsikan begitu rendah
Cinta telah dinistakan di posisi minimal
Cinta telah disalahkan menjadi bulan-bulanan

 
Aku harus terpejam tapi ini kenyataan
Aku harus terus terang tapi ini memalukan
Aku harus jujur tapi ini soal harga diri
Aku harus berkata hanya itu pilihanku

Aku tidak pernah memimpikan itu
Menjanjikan sesuatu yang menjebakku
Perasaan telah membonceng sadarku
Hingga abai dalam buai

Lonceng kehidupan sedang menyapaku
Pertanda hari berangsur dan menindakku
Terkadang aku tak paham tentang itu
Aku ingin cinta tanpa retorika

Karya. Nanan Abdul Manan
Dosen Bahasa Inggris STKIP Muhammadiyah Kuningan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.