Kumpulan Puisi Spiritual Cerminkan Harapan Datangnya Kekuasaan Tuhan

0 580

Berikut adalah kumpulan puisi spiritual, berbentuk do’a, harapan dan keinginan Prof. Cecep Sumarna. Ia menyuguhkan nuansa alami yang dimilikinya dan dimiliki manusia lain disekitarnya. Puisi-puisi ini, seperti ingin mencerminkan bagaimana dia berharap datangnya kekuasaan Tuhan saat berbagai badai kehidupan menghampirinya.

Berikut ini Admin lyceum menampilkan empat puisi eksentrik dalam judul Diam-ku, Kau-lah Pelindung Kami, Menanti Kahiyangan dan Bayangan Kecemburuan.

Diam-ku

Langkah kakiku tak mungkin terhenti
hanya karena matahari tenggelam di hari ini
Mulutku tak mungkin diam tanpa suara
hanya karena aku tak memiliki Hasyrat

Aku tak mungkin menyendiri
hanya karena jiwaku tak tentram
Lagu tak mungkin tak kugubah
hanya karena aku cukup lelah

Diamku adalah pengorbanan
Sama dengan berjalanku yang tak mampu kuutas
Semua harus berjalan dan tetap berjalan
agar bumi mampu kusiram dengan kedamaian

Kau-lah Pelindung Kami

Tuhan, akan kah Engkau tetap menjadi pelindung
Penjaga dalam tidur dan terjaganya kami
Pemelihara atas segala apa yang Kau berikan
di saat balutan tubuh hanya penuh dengan dosa

Tuhan, aku akan tetap lari dari segenap prasangka buruk terhadap-Mu
dan terhadap seluruh ciptaan terbaik-Mu
Ku tahu … ya ku tahu, rahmat-Mu tak mungkin terhenti
hanya karena aku berlumpur dosa

Tuhan
Jalan-Mu tetap lurus dan terbentang panjang
Bersamanya Kau tetap Kokohkan kaki kami
hingga tiap rintangan dapat kami atasi

Tuhan
Kau telah mengabarkan bahwa bumi-Mu tidak sebanding dengan Arasy-Mu
Kuasa-Mu tak sebanding dengan apapun yang telah Kau ciptakan
Aku ingin duduk syahdu menyaksikan segala hal tentang keindahan itu

Tuhan, Kau adalah segalanya
Kau adalah segala seluruh kesegalaan
dan kini Kami sedang menanti segala kesegalaan-Mu
dalam balutan hidup penuh rahmat-Mu

Ya … kami sedang menunggu
Menunggu yang kuyakini hanya Kau dan aku yang tahu
Samudera yang luas itu
sebagiannya kuyakin akan Kau hadiahkan untukku

Malamku sebagiannya ternyata menjadi siangku
sama dengan hujanku ternyata menjadi kemarauku
selalu akan kujalani dalam segenap perjalanan
walau gunung menjulang tinggi atau lautan menerjang lautan penuh gelombang

Menanti Kahiyangan

Duduk seorang pemuda bijak
Dengan senyum simpul penuh makna
Kebahagiaan tersirat dalam bathinnya
Meski kegetiran menyergap bayangan hidupnya

Siang dan malam dilalui tanpa duka
Diterjang seperti plamboyan sakti penuh misteri
Hanya kalimah sakti dan harapan penuh makna
Yang menghibur jiwa yang lama menantang

Kedamaian adalah jalan kesempurnaan dirinya
Berlari menggapai mimpi yang sulit bertepi
Mengimajinasi detak jantungnya yang berirama
Badai dianggapnya pasti berlalu

Di bathinnya dia selalu berucap
Akan kehadiran dewi kahiyangan yang dinanti
Apa daya semua harus serba menanti
Kalimah sakti sang Maha Gusti

Dipersembahkan untuk Sang Paman, Maskun Kuncoro Jakti

Bayangan Kecemburuan

Mataku kadang redup tanpa binar cahaya
Saat jiwaku terkoyak akan ketulusan cinta
yang kuutaskan kepada jiwamu

Tubuhku kadang sulit berganti
saat rebahan badan menghalau rasa cinta
tulusmu kepadaku

Ketulusan cintamu membuat aku tak berdaya
tuk menyaksikan segenap cinta Tuhan dalam kesemstaan
karena selalu kau halau dalam kesembiluanmu

Sadarlah bahwa sesungguhnya hanya dirimu
yang menyertai seluruh nafasku
Hanya sayang kau tak pernah tahu hingga ….
cemburu membunuh cumbuan dan kasih sayangmu

Puisi didedikasikan untuk ACEP M. LUTVI. Edited by Ali Alamsyah

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.