Inspirasi Tanpa Batas

Kunci Sukses adalah Sadar Bahwa Kita Belum Sukses

0 1

Konten Sponsor

Ada beberapa orang bertanya kepada saya, sewaktu habis mengisi acara di Bandung sebelum saya mampir ke Penerbit Rosdakarya. Ketika akan naik mobil, tiba-tiba ada suatu pertanyaan aneh dari teman-teman yang lama tidak berjumpa. Pertanyaan dimaksud begini bunyinya: Bagaimana atau rumus apa yang dapat membuat diri seseorang sukses? Saya jawab, ya … sepanjang anda merasa tidak sukses, di situlah orang akan menganggap bahwa anda sukses.

Dia bertanya lagi. Kalau begitu, berarti bapak belum merasa sukses. Ya … tentu saja! Sepanjang aku belum mati dan belum divonis masuk syurga, tentu saja, saya belum merasa sukses.

Kenapa bengong tanya saya! Saya bingung kata dia. Sebab saya justru merasa tidak pernah sukses. Tetapi, banyak hal tidak aku punya. Saya katakan: “itulah jawabannya! Kalau anda merasa belum sukses dan banyak hal belum anda raih dan anda sadar akan situasi semacam itu, berarti anda tahu di letak mana anda harus sukses dan jalan apa yang harus anda lakukan. Itulah kuncinya.

Kunci Sukses adalah Sadar Bahwa Kita Belum Sukses

Cara menempuhnya tentu butuh waktu. Tetapi ada syarat penting dan utama yakni konsisten atau istiqamah dalam menegakkan kebenaran, menjauhkan diri dari segenap kekeliruan hidup yang disengaja, merasa diri banyak dosa, dan sadar bahwa banyak hal di mana kita merasa tidak mampu untuk melakukannya.

Sepanjang anda sadar dalam posisi seperti itu, maka, pintu-pintu keberkahan hidup akan terbuka lebar. Tuhan tahu apa yang dipikirkan dan apa yang dijalani. Tidak perlu takut akan apapun yang terjadi sepanjang berada dalam ruang-ruang hidup yang seperti itu.

Dampak dari karakter tadi, kita akan tampil sebagai sosok yang lembut dan menjaga jarak sejauh mungkin dengan budaya hidup yang keras kepala dan menyombongkan diri. Watak dimaksud akan mengajak diri kita pada wujud yang selalu terbuka. Kita tidak tertutup atau menutupi diri dari kebenaran yang mungkin datang di luar diri kita.

Watak semacam itu, persis seperti kaum heathen yang menolak apapun yang datang dari luar dirinya. Mengapa? Karena ia merasa bahwa dirinya adalah pembenar.

Hati manusia yang heathen, telah dikeraskan Tuhan pencipta segala ciptaan. Manusia sejenis ini akan selalu berada dalam posisi yang tetap sama inkar meski berbagai pemberitahuan dan ilmu yang datang kepadanya datang bertubi-tubi. Ia tetap keras kepala dan tidak mau menerima kebenaran baru.

Manusia sejenis ini, jikapun pada suatu waktu dikesankan memenangkan berbagai event hidup, maka, kemenangan itu pasti tidak akan abadi. Apapun yang ia dapatkan pasti akan segera sirna dan berakhir ditelan jaman dan waktu. Kebahagiaan dan berbagai kemenangan hanya akan abadi untuk mereka yang tetap konsisten menjaga karakter yang sadar bahwa ia hidup sebagai manusia yang syarat berbagai kelemahan.

Karena itu, pandanglah dunia ini dalam segenap kelenturan manusiawi. Suatu kelenturan yang akan mendorong manusia tetap bertahan dalam posisinya sebagai hamba Allah. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar