Kurikulum Pendidikan Islam dalam Cengkraman Positivisme

0 84

Saya melihat ada kesan eksploitasi paradigmatik dari paradigma positivisme terhadap pelaksanaan pendidikan, termasuk terhadap pelaksanaan Pendidikan Islam. Eksploitasi paradigma positivisme itu, terlihat dari: a). Asumsi pengetahuan yang hanya mengalaskan sumber pengetahuan pada fakta-fakta empirik-rasional sensual, paradigma yang demikian, kini menjadi nyata didorong oleh lembaga-lembaga pendidikan. Di perspektif ini, pendidikan bukan hanya terkena dampak dari paradigma positivisme, tetapi yang justru lebih parah adalah pendidikan menjadi penyokong atas berkembangnya faham positivisme; b). Lembaga pendidikan, termasuk lembaga pendidikan Islam, tidak lagi mampu menjadi arah perubahan masyarakat, malah ia terkesan mengikuti dinamika masyarakat yang dinamis dan dalam beberapa hal telah mengalami deviasi dalam pencapaian tujuan pendidikan.

Asas Filsafat Positivisme

Posotivisme berlandas pada fakta-fakta empirik, rasio dan keterukuran. Dampak dari kerangka berfikir yang demikian, mengakibatkan adanya pengakuan bahwa sumber pengetahuan itu hanya fakta-fakta empirik dan keterukuran rasio. Paradigma yang demikian secara otomatis akan menolak aspek-aspek meTapisik, beyond dan eternal serta nilai-nilai yang dikandungnya. Patutu disayangkan bahwa paradigma positivisme yang demikian, bukan hanya diakui dan diamalkan dalam literatur pendidikan ilmu alam, tetapi ia kini telah menjadi paradigma dalam literature pendidikan ilmu sosial, termasuk ilmu agama. Letak bangun eksploitasi ini,  disebut secara langsung oleh pendiri positivisme modern Auguste Comte yang secara umum menyebut bahwa paradigma positivisme yang empirik-rasional sensual dapat diterapkan dalam ilmu-ilmu sosial.

Orientasi utama paradigma positivisme adalah berusaha menempatkan manusia dalam realitas kesemestaan dan alam sepenuhnya berada dalam posisi sebagai objek manusia. Dalam paradigma positivisme tidak disinggung adanya pertanggungjawaban tingkah laku manusia, karena manusia hanya dianggap sebagai wujud yang fisik.  Hal ini bertentangan dengan prinsip ajaran Islam yang jika mengacu kepada pemikiran Harun Nasution, bahwa hakikat manusia tersusun dari unsur materi, yaitu tubuh yang mempunyai hayat dan unsur immateri yaitu ruh yang mempunyai daya rasa dan daya pikir.

Daya arsa jika diasah akan mempertajam hati nurani, dan daya pikir jika dilatih akan mempertajam penalaran. Di Barat yang mendasarkan diri pada filsafat positivisme, terdapat ajaran bahwa manusia hanya tersusun dari satu unsur materi, dan ruh tidak ada. Dalam kontek ini yang berpikir dalam diri manusia bukanlah akal yang bersipat immateri , tetapi otak yang fisik. Dengan matinya manusia selesailah seluruh riwayatnya, tidak ada hidup kedua, tidak ada perhitungan sesudah mati. Yang penting pada yang ada didunia materi ini.

Pendidikan dalam Filsafat Islam

Secara filosofi-qur’ani, paradigma pendidikan Islam, berbeda dengan paradigma positivisme. Dari sisi sumber pengetahuan, pendidikan Islam tidak hanya menyandarkan pada aspek-aspek empirik-rasioanal-sensual, tetapi juga memasukkan sumber lain seperti intuisi dan wahyu. Dua sumber terakhir ini, jika mengacu kepada paradigma positivisme justru ditolak karena dianggap tidak memadai  untuk dijadikan alas dalam memperoleh pengetahuan.

Pendidikan Islam mengutip al Ghozali, justru mendorong anak didik untuk menjadi insan al kamil yang syaratnya adalah kenerimaan yang total terhadap eksistensi Tuhan yang tunggal dan pengakuan pada hukum Tuhan yang teratur. Selain itu, pendidikan Islam juga mendorong upaya pemanfaatan sumber ragawy insani, seperti aspek bertujuan yaitu mengarahkan anak didik (manusia) kepada titik optimal berdasarkan potensi (kemampuan) yang dimiliki peserta didik [rasio]. Sedangkan tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan Islam adalah terbentuknya kepribadian yang bulat dan utuh (manusia sempurna) sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, sekaligus sebagai hamba Tuhan yang mengabdikan diri kepadaNya yang berarti keseimbangan.

Islam mengajarkan bahwa perubahan tidak terjadi dengan sendirinya melalui hukum-hukum yang melekat pada dirinya sendiri. Perubahan adalah sebuah proses yang terus berkembang. Karena perubahan tidak terjadi dengan sendirinya dan terus mengalami perkembangan, maka dalam perspektif Islam peruabahan harus diusahakan. Allah berfirman: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

BACA JUGA: 

Pendapat al Ghazali tadi, dibenarkan oleh Murtadha Muttahhari, dan Sayyid Hawwa, yang menyebutkan bahwa manusia sama halnya dengan makhluk hidup lain memiliki seperangkat hasrat dan tujuan. Perbedaan antara keduanya terletak pada dimensi pengetahuan dan kesadaran. Inilah yang memberikan kelebihan, keunggulan serta membedakan diri manusia dari semua hewan lain. Karena itu, maka sasaran akhir dari pendidikan Islamadalah perjalanan ruhani manusia menuju Allah agar terbentuk menjadi manusi bijak, yang mampu meletakkan segala hal secara proposional dan pada tempat yang sebenarnya.

Dalam konteks ke-Indonesiaan,pemikiran tadi dibenarkan oleh Achmadi yang memandang pentingnya nilai (etika) dalam pelaksanaan pendidikan. Islam dianggapnya mengakui adanya relatifitas dalam soal-soal etika. Tetapi jika nilai etis semuanya bersifat relative, maka bagaimana manusia dapat menerapkan prinsip-prinsip hidup atas prinsip dasar yang benar. Oleh karena itu, nilai etika dalam Islam tetap ada yang mutlak. Ia bersifat abadi, tidak mengalami perubahan dan tidak tergantung pada kondisi tertentu dan tempat tertentu pula. Sedangkan nilai relatif selain bergantung kepada nilai mutlak, tetapi ia juga menjadi syarat bagi nilai intristik.

Pentingnya Nilai Etik dalam Pendidikan

Nilai etik kependidikan harus bermuara kepada konsep ketuhanan (uluhiyah&rububiyah). Nilai dimaksud harus menjadi semacam ghayah (tujuan) semua aktifitas masyarakat Muslim yang terumuskan dalam pendidikan. Semua amal shaleh masyarakat Muslim harus dijadikan alat dan pra syarat untuk meraih nilai di hadapan Tuhan. Nilai amanah, kejujuran, kesabaran, keadilan, kemanusiaan, etos kerja dan disiplin adalah nilai instrumental keislaman yang berfungsi untuk menunjang   bagi pelaksanaan dan penempatan Tuhan sebagai wujud hakiki dan tempat segala “persembahan” manusia. Konseptualisasi yang demikian, sekali lagi dianggap harus menjadi bagian dari agenda  kependidikan ke depan.

Hal lain yang perlu di tegaskan adalah, pendidikan Islam tampaknya perlu memelopori nilai-nilai universal yang tidak terdapat dalam rumusan nash  namun selalu sesuai dengan fitrah manusia. Contoh nilai etis yang demikian adalah cinta, damai, HAM, keadilan, demokrasi, kepdulian sosial dan kemanusiaan. Nilai-nilai itu, meski secara persis tidak di atur dalam al Qur’an dan hadist Nabi, tetapi nilai universalnya pati terdapat di dalamNya. Kondisi inipun bukan saja perlu dilacak dalam dunia pendidikan, tetapi juga diperlukan sebuah konstruk yang lebih baru dan mendorong kea rah kebijakan yang lebih praktis.

Hasan Langgulung, berpendapat bahwa pendidikan Islam lebih bersipat menyeluruh. Pendidikan Islam berputar sekitar pengembangan jasmani, akal, emosi, rohani dan akhlak manusia. Pendapat yang demikian, tampaknya juga diadopsi oleh Sanusi Uwes, yang menyebut bahwa pendidikan Islam bergerak dalam uniformitas bagi pembentukan manusia sebagai makhluk pribadi, makhluk sosial dan makhluk yang memiliki potensi jasmani-rohani, akal, nafs,dan qalb. Pendidikan Islam bergerak untuk mensinergikan berbagai potensi dimaksud karena ia telah mengharuskan adanya proses keseimbangan serta mewujudkan satu kesatuan yang utuh. Ilustrasi di atas telah menggambarkan bahwa nilai etis dalam pendidikan Islam harus dapat mengartikulasi konsep universal, pun jika soal itu belum terdapat dalam nash. Misalnya tentang teori kebebesan yang menjunjung tinggi keanekaragaman.

Pendidikan Islam dituntut merumuskan nilai etisnya

Pendidikan Islam dituntut merumuskan nilai etisnya dalam artikulasi pendidikan. Sebab konsep ini setidaknya masih dapat direlevansikan dengan rumusan para ahli hukum Islam (fuqaha) tentang  maqashid al Syar’i (tujuan syari’at). Berdasarkan analisis al Ghazali, Allah dan RasulNya (syar’i) membuat syari’at dengan beberapa tujuan. Di antara tujuan syari’at dimaksud adalah: 1). Untuk memelihara agama (hifzhu al din); 2). Untuk memelihara akal (al aql); 3). Untuk memelihara jiwa (al nafs); 4). Untuk memelihara keturunan (hifz al nasl), dan; 5). Untuk memelihara harta (hifz al mal).

Pendidikan juga memiliki tuntutan untuk melakukan uniformitas dalam pembentukan watak manusia yang dalam paradigma positivis dianggap fisik dan materil. Dalam banyak ayat dalam al-Qur’an yang merumuskan tentang pentingnya uniformitas antara ruh dan jasad manusia. Dari berbagai keterangan ayat al-Qur’an, kata ruh dapat diartikan sejenis “kekuataan” Tuhan yang sulit terwujud namun memiliki sipat kesucian. Definisi ruh yang demikian setidaknya akan terlihat dalam Surat al-Baqarah [2]: 87, Surat al Nisa [4]: 171 dan Surat al Naba ayat 38. Kedua, ruh diartikan Jibril dan Malaikat. Hal ini terlihat dari al Qur’an Surat Al  Nahl ayat 102, Asy Syuara ayat 52; dan keempat, ruh diartikan sebagai nyawa manusis yang menghidupkan manusia. Dalam perspektif yang terakhir ini setidaknya akan terlihat dari al Qur’an Surat Al Hijr ayat 29, Al Isra ayat 85, Maryam ayat 17, Sh oleh  kekad ayat 72, Al Sajadah ayat 9, al Mujadalah ayat 22; dan al Tahrim ayat 12.

Ilmu dalam islam, seharusnya dikonstruk dalam pendidikan islam, adalah jauh lebih substantive dibandingkan dengan ilmu dalam prespektif Barat. Naquib al Attas, memahami pengetahuan sebagai bersumber dari tuhan. Pengetahuan yang bersumber dari tuhan itu kemudian ditafsirk oleh kekuatan fakultas-fakultas manusia berupa indera yang sehat, akal yang sehat dan intuisi yang bersih melalui pengamatan/ observasi (empiri) dan persepsi (rasio). Berdasarkan argumentasi tadi, dalam perspektif pendidikan islam, pengetahuan yang dimiliki dan harus dikembangkan manusia melalui dunia pendidikannya, sesungguhnya tidak lebih dari tapsiran terhadap pengetahuan tuhan. Dari sini dapat juga diketahui bahwa sumber pengetahuan dalam pendidikan islam adalah masuknyamakna sesuatu dari tuhan kedalam jiwa manusia; sebaliknya dari sisi subjek atau manusianya, pengetahuan adalah sampainya jiwa pada suatu objek pengetahuan. Dengan demikian, pengetahuan dalam perspektif manusia bukan pada adanya, melainkan makna dari adanya atau makna dari realitas objek.

Pendidikan islam, mengutip tulisan Mehdi Golshani, akan menempatkan ilmu sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mendaptkan ridhaNya. Bukan sebaliknya. Seluruh aktifitas keilmuan umat manusia, menurut Golshani harus difokuskan atau diorintasikan pada upaya mendekatkan diri kepada allah. Ilmu hanya berguna jika dijadikan alat untuk mendapatkan pengetahuan tentang Allah, keridhaan dan kedekatan  kepadanya. Jika tidak, maka ilmu akan . penghalang yang besar (hijab al akbar) untuk memfitrahkan manusia. Dari sini, Ghulsyani kemudian menyebut bahwa menyembah Allah tidak sekedar lewat shalat, puasa dan berbagai kegiatan ibadah ritual lainnya. Suatu gerakan menuju taqarrub kepada Allah selalu dianggap sebagai ibadah. Salah satu cara menolong manusia dalam perjalanannya menuju Allah adalah ilmu, dan hanya dalam hal semacam inilah, ilmu dipandang bernilai. Sebab dengan bantuan ilmu, seorang Muslim dengan berbagai cara dan upaya dapat ber-taqarrub kepada Allah.

Pentingnya Melakukan Derekonstruksi

Dekontruksi (pembongkaran) terhadap cakupan literature pendidikan di Sekolah Dasar yang dianggap sangat kuat dipengaruhi positivisme. Makna dekontruksi di sini tentu tidak hanya mengangkut pembongkaran terhadap unsur-unsur yang dilacaknya,  untuk kemudian dibongkar itu, sesuatu yang inkonsistensi logis, argument yang lemah atau premis yang akurat yang terdapat dalam teks. melainkan unsur yang secara filosofis, dekonstruksi harus dilakukan terhadap sesuyang yang berupa ungkapan yang muncul tidak secara transparan melalui sebuah tanda  yang berkarakter  marerial; grafis maupun ponetis.

Lahirnya dekonstruksi secara filosofis mengharuskan munculnya tuntutan rekonstruksi (reconstruct). Di letak ini, rekontruksi dapat diartikan dengan:  ‘to construct or build again sth that has been damaged or destroyed’. Langkah rekonstruksi yang diawali dengan dekonstruksi ini. Paling tidak dapat dikorelasikan dengan kegiatan yang pernah dilakukan Friederich Max Muller (1870) atas keinginannya. Untuk menciptakan sains yang berdimensi agama (Science of Religion) sebagai lawan dari, umpamanya terhadap kuatnya pikiran Charles Darwin dalam buku The Origin  of Species (1859) yang justru menolak peran agama dengan menyebut “bagaimana mungkin kepastian-kepastian iman yang telah dianut dapat dicampuradukan dengan program studi yang berdasarkan eksperimen, revisi dan perubahaan-perubahaan? Mungkinkan dua mainstream ini dapat dipersatukan tanpa ada salah satu atau keduanya yang hancur?

Menjawab soal-soal itu, Muller menyebutnya bahwa keduanya dapat disatukan. Ia menyebut bahwa berdasarkan studi sejarah agama, diperoleh keterangan bahwa agama- yang syarat etik itu- dapat memberi sumbangsih kepada ilmu pengetahuan. Ia menunjukan bagaimana peradaban Yunani Kuna yang dibangun di atas prinsip nilai Dewa Amon dan Horus, India  dengan Hindu Budhis, atau Timur Tengah dengan Islam.

De Rekonstruksi ( de-reconstruct) dimunculkan untuk memperlawankan (dapat juga dibaca dekonstruksi). Bangunan keilmuan positivistik yang sejatinya muncul sebagai hasil tela’ah filosof dan ilmuan abad pertengahan. Yang menyusun bangunan keilmuan dimaksud, dengan ciri dan sifat yang bebas nilai etik sebagai antitetik dari basis keilnuan sebelumnya yang syarat nilai etik keagamaan.

Rekonstruksi yang dilakukan oleh filosof dan ilmuan abad pertengahan, terhadap corak keilmuan berbasis nilai etik ini, harus dibongkar kembali. Yakni dengan cara mengembalikan ciri dan citra keilmuan agar kembali mengandung nilai etik. Dari gambaran tadi, yang dimaksud dengan derekonstruksi dalam kajian peneliti. Adalah membongkar hasil rekonstruksi keilmuan yang dibangun oleh filosof dan sains abad pertengahan yang paradigmanya sangat positivistic.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.