Kutatap Ulang Dunia melalui Pendidikan

0 84

Kutatap Ulang Dunia melalui Pendidikan. Belakangan, saya kembali disibukkan pekerjaan baru. Pekerjaan yang menuntut diri saya untuk tetap selalu dipandang capable dalam melaksanakan suatu tugas atau suatu cita-cita. Cita-cita yang secara rinci telah dikerjakan dengan seksama oleh staf-staf saya.  Hampir enam tahun lamanya, dunia sejenis ini saya tinggalkan, Kali ini, saya memulainya lagi. Memulai dari sesuatu yang sangat kecil dan mungkin tidak dihitung banyak orang.

Awalnya hanya karena sedikit kasian terhadap istri saya, yang dalam banyak hal butuh refreshing dan memperbanyak istirahat dari cara kerja yang selama ini digeluti keluarga kami. Ia tampaknya terbebani cukup berat dengan model dan cara kerja yang biasa saya lakukan. Dalam ketertekanan itu, ia memiliki kesadaran spiritual tinggi. Kesadaran spiritualnya, saat ini jauh mengalahkan diri saya. Meski ia belajar agama awalnya kepada saya. Entahlah, itu dia hari ini.

Dua tahun lalu, Ia minta dibikinkan Sekolah Dasar [SD] dan TK.  Tetapi kedua lembaga itu, permohonannya harus mewah meski diperuntukkan untuk orang-orang miskin dan lemah. Ia hendak mengabdi kepada bangsa dan agamanya melalui cara seperti itu. Dibikinlah gedung SD yang secara konstruksi untuk empat lantai dengan jumlah ruang belajar 24 kelas. Tahun ini, ia meminta dibangunkan gedung TK. Akhirnya apa daya, saya bangunkan juga. Ia bilang, aku ingin mewarisi sesuatu yang berbeda. Ungkapannya yang memelas itulah, yang membuat saya tak kuasa menolak.

Di luar dugaan, dalam suasana yang seperti itu, orang tua sosiologis kami malah menghibahkan suatu Perguruan Tinggi dalam bidang kesehatan. Akhirnya, konsentrasi kami, penuh untuk mengurusi segala keperluan pengembangan pendidikan. Untuk mengurusi keperluan pendidikan dari mulai TK sampai perguruan tinggi, butuh konsentrasi penuh dan istri kembali menyerah. Saya diminta langsung turun tangan membantunya.

Saat ini, tidak kurang dari 16 jam sehari, saya tinggal di yayasan keluarga kami. Aktivitas harian sendiri, tampaknya dalam enam bulan ini terpaksa dipindahkan ke sini. Seluruh tamu dan kolega yang hendak bertemu dengan saya, hanya dapat diterima di yayasan itu. Maklum, jangankan pemerintah, kawan-kawan dekat sendiri, tidak banyak yang tahu kalau saya sedang membangun peradaban baru.

Kuncinya Adalah Kapabilitas

Di dunia yang sebenarnya tidak asing bagi saya ini, dibutuhkan kapabilitas khusus. Sebab kapabilitas personal [personal capability] seorang pemimpin, apapun institusinya, kini bukan lagi menjadi isu. Teori itu, kini bahkan telah menjadi penentu; berhasil atau gagal. Hanya mereka  yang memiliki personal capability itulah yang bakal mampu menentukan arah dan menjadi semacam road map segenap solusi yang solutif dalam setiap institusi di mana dia memimpin. Tanpa personal capability, apapun cita-cita yang hendak dibangun suatu komunitas, maka, cita-cita itu hanya akan menjadi sia-sia.

Rasa takut akan kesia-sia-an itulah, yang membuat saya butuh konsentrasi penuh dalam rangka mencari figur tepat dalam menjalankan visi kami dalam dunia pendidikan. Saya harus benar-benar tepat memilih orang yang dalam perhitungan kami, setidaknya membutuhkan tenaga kerja baru tidak kurang dari 50 orang dari mulai TK, SD dan Akademi dimaksud.

Jika muncul suatu pertanyaan, apa penyebab utama gagalnya gagasan positif dan progresif yang kita miliki? Jawabannya ternyata, lebih pada bahwa kita belum mampu memberi guaranty atas personal capability kita dalam menyelesaikan setiap masalah yang datang dan berubah setiap saat. Inilah sekali lagi yang membuat saya harus konsentrasi penuh.

Ini juga yang secara praktis, telah menginspirasi saya ketika salah satu akademi tertentu minta dirawat oleh keluarga kami. Kami menyusun bagaimana konsep dan praktis sarjana yang diluluskan kampus dimaksud mampu bekerja dalam sektor-sektor yang lebih real. Kami juga akhirnya melakukan kerjasama, termasuk ketika harus bermitra misalnya dengan dunia usaha dan pemerintah. Kami malah membangunnya dengan Jepang dan Arab Saudi. Mereka yang lulus dari kampus ini, diharapkan justru bakal menjadi tenaga kerja profesional di sektor-sektor jasa yang cukup menjanjikan. Do’a kami minta dari semua pembaca ya … Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.