Lagu Kerinduan Abadi | Misteri Sang Ksatria Cinta Part – 18

0 104

Lagu Kerinduan Abadi: Allent dan Mell kembali ke Atrium setelah mereka sangat lelah berjalan-jalan di seputar Monas. Mereka merasa hidup dan terhidupkan kembali, setelah enam bulan berada dalam kebisuan hidup, tanpa harapan sedikitpun. Mereka duduk berdua di kursi belakang mobil. Sambil memegang tangan Mell dengan lembut, Allent berkata: “Hidup memang misteri Mell. Saat aku mendapati apapun yang tidak atau belum pernah dimiliki orang lain, justru kadang hidup ini terasa hampa dan tidak memiliki harapan apapun”. Mell menjawab. Iya … aku pikir hanya aku-lah yang suka berpikir seperti itu.

Dulu sebelum aku menjadi dokter, betapa aku merasa akan menjadi demikian bangga dengan profesi ini. Sekarang, saat di mana prestasi tentang dunia kedokteran sudah saya miliki, justru berbagai dinamika hidup membuat aku kadang lelah dan mendorong jiwaku pada sesuatu yang entah bagaimana datangnya, justru sering putus asa. Allent kamu harus tahu bahwa hanya dengan cintalah sesungguhnya harapan dan masa depan itu, kita masih dapat berharap.

Jika begitu, dan jika benar kamu mencintai aku sebagaimana aku mencintai kamu, hari ini aku melamar kamu tanpa sepengetahuan ibu dan bapak kamu. Kamu setuju Mell. Iya pasti aku setuju. Jika begitu, tolong dengarkan aku Mell. Mell …. dengan segenap cinta dan rasa yang aku miliki, detik ini aku meminang kamu secara resmi. Terimalah aku sebagai sosok yang pantas kau puja dan membuat kamu merasa selalu nyaman di sampingku. Dan jika setuju, aku mohon dengan sangat, karena sejak detik ini kamu resmi menjadi pinanganku, bantulah aku mengembangkan rumah sakit yang lama telah bapak kami rintis.

Dengan berkaca-kaca, Mell bingung. Tetapi dengan tegas ia akhirnya, menyetujui dan ia akan memin ibunya untuk mencarikan sosok lain yang dapat meneruskan poliklinik di kampung halamannya. Allent berkata: Mell, kamu kalah satu kosong ya sama aku. Mell dengan manja berkata, aku bukan kalah olehmu. Tapi aku kalah oleh cintaku. Aku akan mengabdi pada rasa cintaku bukan pada rasa cinta kamu. Allent dan Mell kemudian tersenyum dan bahagia.

Mell dan Allent Berpisah

Menjelang hari yang makin gelap dan guyuran hujan di Jakarta sudah mulai reda, Mell dan Allent akhirnya berpisah dengan membawa kenangan masing-masing yang sangat indah. Sesampainya di rumah, Alberta dan Hhypatia sedang melaksanakan shalat isya. Allent datang dengan nyanyian merdu Lionel Richi yang sangat hafal di kepala Alberta. Lagu poluler melalui duet Lionel Richi dengan Diana Ross yang berjudul My Endless Love. Sambil membuka pintu, dia menyanyikan suatu syair, there’s only you in my life, the only thing that’s right. My first love, you’re every breath that I take, you’re every step I make, I, I, I, I, I, I want to share, All my love … with…  you, no one else will do … two heart, two heart that beat as one, our live have just begun. Lagu itu terus diulang-ulang sampai ia akhirnya hapal.

Selesai shalat dan dzikir, Allent dipanggil Alberta dan Hypatia. Lent sini. Kamu sudah shalat belum. Belum pah jawab Allent. Tadi kamu ko nyanyinya sangat merdu. Coba kamu nyanyikan sekali lagi. Lagu itu, akan terasa sangat indah jika dimainkan dengan saxophon. Coba kamu nyanyikan dan papah serta mamih akan mendengarkan dan menilai kemampuan kamu. Sudah lama papah tidak mendengar kamu berada dalam keceriaan seperti malam ini. Tapi shalat dulu ya ….. Allent kemudian masuk mushala dan melaksanakan shalat isya. Ia menjama dan mengqasar shalat Isya dan Maghrib.

Allent dan Alberta Menyanyi Bersama

Tibalah ahirnya, Allent membawa Saxophon dan menyanyi dengan sangat merdu. Saat Allent menyanyikan lagu itu, Alberta ingin sekali mencucurkan air mata. Hanya ia menahannya untuk tidak dikeluarkan. Itulah yang menyebabkan matanya menjadi demikian lembab dan sering lembab dalam hitungan tahun yang panjang, gara-gara hanya mengingat Santi. Dalam hati Alberta, itulah lagu yang mengabadikan cintanya bersama Santi. Lagu yang dinyanyikan Allent telah mengingatkan memori Alberta akan cintanya pada Santi. Lagu itulah yang pada saat mereka remaja, selalu dinyanyikan bersama dengannya. Entah mengapa juga, malam di mana Allent menyanyi, ia ingat akan satu ungkapan Santi kepadanya, meski kalimat itu telah melewatinya dalam ribuan hari.

Santi berkata: “Ya Allah … sampai detik ini aku tidak berubah dan kayaknya tidak mungkin berubah. Aku masih mencintainya, menyayanginya, dan selalu merindukannya. Aku ingin, malam ini dapat terbang ke angkasa secara bebas. Aku ingin menemaninya tidur, bermain dalam aroma cinta dan bermain bersama secara nyata. Aku tidak ingin hanya menemaninya dalam bunga tidur mimpinya. Aku ingin, malam ini, kamu Alberta dapat tetap tidur dengan nyenyak.

Alberta My Love … I love you. Aku masih selalu setia mendatangi mihrab cinta kita. Hanya sayang mungkin hanya beberapa menit kau datang, aku sudah pergi. Begitupun sebaliknya, aku datang dan kau sudah pergi. Datang dan berlalu tidak dapat kita rangkai dalam waktu yang sama. Daratan mungkin tak mengidzinkan kita untuk bertemu.

Lagu yang dinyanyikan Allent terus mengalun bersama dengan lamunan Alberta. Alberta dalam hatinya berkata: Ya Allah akupun sama seperti dirimu Santi. Aku tak mungkin melupakan kamu. Ya Allah ya Rabb, lindungilah kami dan jagalah kekasihku dalam segenap kebaikan hidup. Jagalah marwahnya, dan berikan kebaikan yang cukup untuk menajalani hidupnya.

Melihat gejala bathin ayahnya yang syahdu, ia meminta untuk gantian memainkan Saxophon. Pah, papahlah yang meniup Saxophon, aku yang nyanyi. Biar indah gitu …  Kata Allent. Akhirnya mereka bernyanyi berdua dengan iringan musik yang sangat merdu. Ternyata, Alberta jauh lebih mahir memainkan alat musik ini, dibandingkan dengan Allent sendiri. Allent bertepuk tangan dan memuji papahnya sebagai sosok tua yang cerdik memainkan rasa dirinya. Allent tahu bapaknya sedang rindu akut. Tapi, biarlah aku tidak akan bercerita telah bertemu dengan Mellisa Claudhya.

Pah sudah malam. Kita tidur aja malam ini. Besok aku ada meeting …. oke. By. Charly Siera –bersambung

Edisi Sebelumnya:

  1. Misteri Sang Ksatria Cinta. Part 1
  2. Dalam Sebuah Mihrab 
  3. Hiburan di Tengah Segenap Rasa Pilu 
  4. Membunuh Rindu 
  5. My Endless Love
  6. Bertemu di Forum Budaya
  7. Kematian Tak Mengakhiri Cinta 
  8. Cinta dalam Dua Keluarga
  9. Selalu Misteri
  10. Love in the Sky 
  11. Diam Seribu Bahasa 
  12. Sosok Mellisa Claudhya
  13. Duka Allent ditinggal Mati Istri 
  14. Atrium Mengawal Cinta
  15. Memadu Kasih di Atrium
  16. Cerita Cinta dua Generasi
  17. Allent dan Mell Saling Menyatakan Cinta
Komentar
Memuat...