Lahirnya Pancasila dalam Tafsir Yusril Ihza Mahendra

0 127

Lahirnya Pancasila dalam Tafsir Yusril Ihza Mahendra. Dua hari lalu, Edy Chandra mengirim sebuah tulisan nyentrik di akun Face book yang dia miliki. Tulisan itu, rupanya disusun Prof. Yusril Ihza Mahendra. Ahli hukum tata negara yang saat ini lebih dikenal sebagai lawyer.

Yusril dalam tulisan dimaksud mengomentari penetapan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila. Tulisan dimaksud dirilis dua hari setelah penetapan tanggal tersebut sebagai hari lahir Pancasila.

Menurut Yusril, Presiden Jokowi terlalu berani menetapkan tanggal dimaksud sebagai hari lahirnya Pancasila. Penetapan dimaksud, akan semakin menghilangkan makna karena jejak Pancasila mulai dihapus. Perjalanan sejarah terpaksa akan diganti di tengah perjalanan sejarah bangsanya itu sendiri.

Para pendiri bangsa, menurutnya telah bersusah payah melalui sidang BPUPKI di tahun 1945. Perjalannanya bergerak mulai tanggal 29 Mei hingga 1 Juni. Dalam rentang waktu itu,  anggota BPUPKI khusus merumuskan tentang bahan konstitusi dan rencana cetak biru [blue print] bangsa Indonesia.

Dengan demikian, rumusan-rumusan yang disampaikan oleh para pendiri bangsa seperti Moh Yamin, Soepomo dan Soekarno hingga ke Piagam Jakarta dan Rumusan Pancasila dalam UUD 1945 yang ditetapkan 18 Agustus 1945.

Rumusan Yamin, Soepomo dan Soekarno serta Piagam Jakarta adalah rumusan yang berbeda dan saat ini berarti harus dipandang tidak lagi valid. Semua rumusan tadi, tidak sama dengan Pancasila yang saat ini dijadikan ideologi dan falsafah bangsa.

Logika Tanpa Nalar

Yusril mengatakan bahwa semua boleh menjawab dengan menggunakan nalar masing-masing. Namun bagi Yusril, 1 Juni tidaklah tepat [tidak bernalar] disebut sebagai hari lahir Pancasila. Mengapa? Sebab jika 1 Juni yang ditetapkan, maka, akan mengandung konsekwensi lahirnya justifikasi bahwa Pancasila seolah produk tunggal Soekarno.

Bagi Yusril, Pancasila lebih tepat disebut lahir tanggal 18 Agustus 1945. Mengapa? Sebab pada tanggal dimaksud, perumusan Pancasila dihasilkan bersama para pendiri bangsa itu sendiri melalui sebuah institusi formal bernama BPUPKI.

Penetapan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila, semakin terasa narsis ketika mencoba melihat fenomena kebangsaan hari ini. Kondisi masyarakat Indonesia yang sedang berada dalam belahan-belahan kriris kalau bukan pertentangan ideologi. Salah satu ideologi yang dianggap memicu fenomena kebangsaan ini adalah munculnya suatu anggapan bahwa gerakan kiri bangkit dan bersamanya kelompok kanan juga bangkit.

Wajar karena itu, jika penetapan 1 Juni dianggap sebagian masyarakat Muslim mengandung makna pengaburan  sejarah kebangsaan. Tetapi, tampaknya ada yang lupa dari apa yang pernah disampaikan Prof. termuda di zamannya ini. Saya ingat betul sewaktu dia memberi kuliah umum di PPs Banda Aceh 1997. Ia mengatakan bahwa tafsir atas Pancasila dan UUD 1945, selalu mengabdi kepada penguasa.

Apakah hal ini menjadi bukti lain bahwa salah satu produk yang mengabdi kepada penguasa itu adalah, lahirnya Pancasila untuk era Jokowi? Wallahu’alam. By. Prof. Cecep Sumarna

 

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.