Lain Soekarno Beda Jokowi Di Perhelatan 15 Agustus

0 27

Jaman berputar. Masalah yang dihadapi bangsa Indonesia juga berbeda. Pada tanggal 15 Agustus 1945 atau 72 tahun yang lalu, Ir. Soekarno yang menjadi ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia [PPKI], berada dalam tekanan hebat. Tekanan yang bukan dibuat penjajah, tetapi, justru didesak kaum muda progresif Indonesia.

Seperti diketahui bahwa kaum muda menginginkan agar proklamasi segera diproklamirkan tanpa harus memperoleh persetujuan Jepang. Termasuk tentu tidak perlu menunggu persetujuan konstituante [PPKI]. Sedangkan Soekarno-Hatta berada dalam labirin konstitusional yang menyatakan bahwa kemerdekaan hanya dapat dilakukan oleh sebuah bangsa yang merdeka.

Karena itu, menurutnya, kita harus memperjuangkan kemerdekaan yang tidak parsial. Kemerdekaan itu hanya akan dapat dilakukan dan kemudian dianggap syah apabila dilakukan oleh suatu institusi yang konstitusional. Lembaga itu harus mewakili bangsa Indonesia. Sampai 1945, lembaga yang konstitusional yang dimiliki bangsa Indonesia, hanya PPKI. Apapun alasannya, proklamasi harus dapat dilakukan jika telah memperoleh persetujuan PPKI.

Tanggal 15 Agustus 1945, Soekarno Hatta tetap menolak keinginan mahasiswa. Malam jelang tanggal 16, Soekarno Hatta akhirnya diasingkan ke Rengasdengklok. Ia bersama istri dan anaknya yang masih Balita, hanya dapat menikmati pahitnya teh buatan petani Cina bernama Djaw Kie Siong di Bantara Sungai Citarum.

Lain Soekarno Beda dengan Jokowi

Berbeda dengan Soekarno, Jokowi menghabiskan hari bertanggal 15 Agustus dengan cara menikmati kopi hitam. Kopi yang masih panas disajikan para pramusaji kepresidenan. Jokowi tak perlu mengerutkan dahi untuk menyusun teks proklamasi, dan tentu berdebat sengit ilmiah seperti Soekarno dan Hatta menyusun dan memperdebatkannya. Jokowi hanya diminta untuk mempersiapkan mental membaca teks proklamasi yang penuh heroisme itu, yang kemudian disebut sebagai teks proklamasi otentik. Teks yang telah diketik Sayuti Malik.

Saat detik-detik proklamasi akan dikumandangkan, Jokowi juga tidak harus menunggu bendera jahitan yang dibuat istrinya, seperti Soekarno menunggu Fatmawati. Ia tampaknya harus dianggap lebih baik menikmati dan mengkhidmati kemerdekaan itu dengan cara bercengkarama dengan para anggota Paskibra yang bakal menderek bendera 17 Agustus 2017. Bagaimana mereka yang menjadi wakil muda-mudi Indonesia se Nusantara mewakili bangsanya menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung di merah putih itu.

Jokowi dan seluruh bangsa Indonesia, juga tidak harus khawatir akan berapa banyak bangsa Indonesia yang tumpah darah saat derekan demi derekan bendera naik ke atas. Kekhawatiran akan situasi seperti itu telah berakhir di era Soekarno. Hari ini bendera merah putih telah menjelma menjadi darah dan nadi bangsa Indonesia.

Satu hal yang mungkin pantas dipesankan kepada Jokowi atas peristiwa ini, yaitu bagaimana ia mampu menampilkan diri sebagai Presiden yang plus minus mendekati peran Soekarno akan seperti apa bangsa ini dibuat dalam adonan bendera merah putih. Sebuah adonan kebangsaan di usia bangsa Indonesia yang menurut ukuran kemanusiaan sudah masuk masa dewasa. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.