Landasan Nilai Etik dalam Nash| Menata Konsep Dzikir Part – 7

Landasan Nilai Etik dalam Nash| Menata Konsep Dzikir Part - 7
0 56

Teori yang dibangun sebelumnya, bukan berarti penulis menolak keberartian dimensi fisik dan rasional. Tetapi alur logika penulis lebih melihat bahwa kondisi pendidikan sains kita, akan menjadi wahana untuk melakukan kompromisasi terhadap seluruh potensi yang dimiliki manusia. Tujuannya, kembali ke pokok soal awal penulis, agar pendidikan mampu menjaga manusia tetap menjadi manusia.

Landasan Nash tentang Nilai Etik

Epistemologi pendidikan yang demikian, mengakui bahwa fakta-fakta empirik dan keberfungsian rasio sebagai bagian penting dari hadiah Tuhan kepada umat manusia. Hanya saja dimensi-dimensi dimaksud, dianggap memiliki keterbatasan yang karenanya butuh piranti lain. Piranti lain itu terbentuk dalam wahyu, iluminasi dan sekaligus gnostik.

Ayat-ayat al Qur’an yang menerangkan soal ini, setidaknya terlihat dari: QS. A1 Anbiya [21]: 27, Yasin [36]: 36. Shad [38]: 16, AzZumar [39]: 27, dan; At Taghabun [64]: 3. al Baqarah [2]: 2-3, 31, 55, 253, al Nisa [4]: 163, alMaidah [5]: 31,110, al A’raf [7]: 179, al Anfal [8]: 21, Yunus [10]: 101, Hud [11]: 123, Yusuf [12]: 101, An Nahl [16]: 12,78, Ar Ra’d [13]: 22, Al Isra [17]: 70,85, al Anbiya [21]: 16, 22, al Hajj [22]: 46, an Nur [24]: 35, al Furqon [25]: 5, al Qashash [28]: 7, Al Ankabut [29]: 20, al Rum [30]: 7,8, [35]: 9, Yasin [36]: 36, al Jatsiyah [45]: 13, al Dzariyat [51]: 49, Fathir al Haqqah [69]: 38-39, al Ghasiyah [88]: 17-19, al Alaq [96]: 1-5)

Menurut Penulis, ayat-ayat di atas dapat menjadi alat untuk mengembalikan makna ilmu yang lebih esensial. Esensialitas dimaksud, secara ontologis Pendidikan Islam diartikan sebagai sifat dasar manusia itu sendiri. Hal ini dicirikan dengan cara mempertemukan seluruh potensi manusia yang fisik dengan potensi lain seperti dimensi ruhiyah, qalbiyah dan aqliyah.

Islam sebagai agama yang penulis anut, dapat dijadikan pijakan dalam rumus pendidikan. Pendidikan Islam, menurut saya, akan selalu memandang bahwa semua potensi manusia, telah melakukan persaksian pada time of the preseparatin dengan Tuhan, yang mengakui bahwa di balik dirinya ada kekuatan yang maha besar. Kekuatan itu kemudian diperkenalkan dengan nama Allah. (Mehdi Golasani, 2004. Syed M. Naquib al-Attas, 1998:112-115. Fazlurrahman, 1968: 263-270, Q.S. al-A’raf:72).

Dari Ontologis ke Aksiologis

Dengan nalar tadi, maka se­cara aksiologis, ilmu dalam pendidikan Islam, ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena manusia dapat mendekati Allah, tentu tidak menjadi Tuhan, maka, ia pasti bisa mendapatkan ridha-Nya. Artinya, seluruh aktivitas keilmuan umat manusia, harus difokuskan atau diorientasikan pada upaya mendekatkan diri kepada Allah.

Ilmu dalam teori ini, hanya berguna jika dijadikan alat untuk mendapatkan pengetahuan tentang Allah, keridhaan dan kedekatan kepadaNya. Jika tidak, maka ilmu, apapun, justru malah  akan menjadi penghalang yang besar (hijab al akbar) bagi tercapainya visi kemanusiaan.

Di perspektif ini, harus disebutkan bahwa menyembah Allah itu, tidak sekedar dilakukan melalui shalat, puasa dan berbagai kegiatan ibadah ritual lainnya. Suatu gerakan menuju taqarrub kepada Allah, harus selalu dianggap sebagai ibadah. Salah satu cara menolong manusia dalam perjalanannya menuju Allah, adalah ilmu. Dan menurut penulis, hanya dalam hal semacam inilah, ilmu dipandang bernilai.

Terjadinya perubahan pada dimensi ontologis dan aksiologis, secara otomatis juga menuntut adanya rekonstruksi epistemologi, yakni pada dimensi metodologis dan sarana serta alat yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran materi ini di tingkat satuan pendidikan persekolahan. Prof. Cecep Sumarna –bersambung–

Komentar
Memuat...