Landasan Pengembangan Kurikulum PTAI

0 27

Sebagaimana dikemukakan McNeil bahawa kurikulum bersifat dinamis. Artinya, kurikulum tidak statis, atau tidak kaku (blueprint), akan tetapi kurikulum bersifat fleksibel, mudah dimodifikasi, dan berlaku apa yang disebut “diversifikasi” (pengembangan). Diversifikasi kurikulum oleh para perencana kurikulum (curriculum planners) bisa disesuaikan sesuai situasi dan tuntutan masyarakat (perseta didik, daerah dan stakeholders). Secara teoretik, sumber utama kurikulum sesungguhnya adalah masyarakat (Zais, 1976). Kurikulum yang tidak peduli pada kebutuhan masyarakat, maka, ia tidak mungkin “laku” dijual kepada masyarakat.

Masyarakat dan Tuntutan Perubahan

Secara sosiologis, kebutuhan masyarat selalu berubah dan berkembang dengan tingkat perubahan dan perkembangan yang cukup cepat. Dengan demikian, kita misalnya dapat memahami apa yang dikatakan Taba (1962) yang mengungkapkan bahwa pengembangan kurikulum bukan termasuk ke dalam pekerjaan yang mudah. Artinya, pekerjaan tersebut kompleks dan memerlukan banyak keputusan strategis.

Taba dalam sebuah tulisan tentang kurikulum menjelaskan: “Curriculum development is a complex undertaking that involes many kinds of decision.” Apa yang diungkapkan Taba tadi bahwa pekerjaan membuat kurikulum kompleks. Oleh karena itu, para perencana kurikulum dalam dunia pendidikan, sudah sangat perlu mempertimbangkan landasan pengembangan kurikulum.  Mengapa misalnya, kurikulum tertentu harus dilakukan pengembangan.

Landasan atau tempat berpijak yang harus dipegang dalam membuat perencanaan kurikulum dalam tulisan Glan Hass (2006) mengungkapkan atau merumuskan setidaknya enam hal. Keenam hal dimaksud adalah sebagai berikut:a) tujuan sosial (special goals), b) konsep kebudayaan (conception culture), c) memahami perbedaan budaya yang terjad di lingkungan masyarakat (the tension between cultural uniforming and diversity), d) keadaan sosial yang diprioritaskan (social pressure), e) perubahan social (social change), e) perencanaan berwawasan ke depan (future planning).

Hampir mirip dengan Hass, Hilda Taba (1962) menyebut setidaknya 4 landasan dalam penyusunan kurikulum. Keempat hal dimaksud adalah sebagai berikut: a) ekonomi, b) politik dan budaya, c) nilai-nilai, dan d) spiritual. Berbeda dengan berbagai tulisan tadi, Robert S. Zais (1976) menyebut landasan pendidikan pada  filsafat dan kultur social. Sedangkan  Nasution (1989) menyebutnya dengan: a).  pemahaman akan filsafat; b) perkembangan sains dan c) teknologi. Tokoh filsafat pendidikan Islam, Al-Syaibany (1978) menyebut landasan pendidikan Islam pada: Al-Qur’an dan Sunnah Rasulallah SAW.  By. Dr. H. Anda Juanda, M.Pd

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.