“Langit Makin Mendung” Ki Pandjikusmin | Penistaan Agama dalam Cerpen

0 668

IMAJINASI memang terkadang menjadi liar tak terkendali. Kebebasan berimajinasi tak serta merta mampu mendorong seseorang menjadi terpuaskan. Terutama pada karya sastra yang terkadang memberikan tafsir berbeda dengan pengarangnya.

 “Heboh Sastra 1968” predikat yang lahir setelah terbitnya sebuah cerita pendek yang ditulis Ki Pandjikusmin pada Agustus 1968, saat kebebasan para sastrawan baru saja diperoleh dari kungkungan tirani rezim Orde Lama. Sebelumnya para sastrawan harus berhadapan dengan pihak berwajib lantaran kritiknya terhadap pemerintahan rezim Soekarno.  57 koran dibredel pada zamannya dan beberapa ulama besar, seperti HAMKA, K.H. Isya Anshari dan sastrawan Muchtar Lubis dipenjarakan tanpa proses pengadilan.

Pada tanggal 11 Februari 1970, ruangan Pengadilan Negeri Istimewa penuh sesak. Wartawan-wartawan foto takhentinya mengarahkan lampu blitznya kea rah paus sastra H. B.Jassin, yang duduk tenang di kursi terdakwa. Hadir diantara pengunjung Prof. Harsja Bachtiar, dekan fakultas sastra Universitas Indonesia, Dr. Fuad Hassam ahli psikologi terkenal, pengarang Ali Audah,  para mahasiswa,  seniman,sastrawan, wartawan dan wakil-wakil kantor berita. Ada apa gerangan ?

Ada peristiwa penting dan baru terjadi dalam sejarah kesusastraan Indonesia seorang Pemimpin Redaksi Majalah Sastra H. B. Jassin duduk di kursi pesakitan. Ia diadili atas tuduhan penistaan agama. Peristiwanya terjadi pada Agustus 1968, masyarakat sastra Indonesia dikejutkan dengan terbitnya cerita pendek “Langit Makin Mendung”  karya Ki Pandji Kusmin. Cerpen itu sendiri dimuat pada majalah Sastra Th.VI No.8,  Agustus 1968. Cerpen itu sendiri sangat menyinggung umat Islam. Kisah itu diawali dengan para nabi yang bosan hidup di surga.

Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan djustri siksaan bagi manusia jang biasa berdjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir2 kami sudah pegal2 kedjang memudji kebesaranMu;  beratus tahun tanpa henti.

Membatja petisi para nabi, Tuhan terpaksa meng-geleng2kan kepala, tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia……. Dipanggillah penanda-tangan pertama : Muhammad dari Medinah,  Arabia. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad saw.

  • Daulat, ja Tuhan.
  • Apalagi jang kurang disorgaku ini?

………………….

  • Djiwa mereka kabarnya mambu Nasakom. Keratjunan Nasakom !
  • Nasakom ? Ratjun apa itu ja Tuhan! Iblis laknat mana meratjuin djiwa mereka. (Muhammad saw nampak gusar sekali. Tindju mengepal) Usman, Umar dan Ali !  Asah pedang kalian tadjam2 !

Cerita berikutnya dalam cerpen itu, Nabi Muhammad saw turun ke bumi dengan menaiki kendaraan buroq. Namun di atas langit bertubrukan dengan sputnik buatan Rusia. Muhammad dan Djibrail terpental ke bawah, mudjur mereka tersangkut digumpalan awan jang empuk bagai kapas.  Sampailah keduanya diatas Djakarta.

  • Djibrail, neraka lapis keberapa disana gerangan ?
  • Paduka salah duga. Dibawah kita bukan neraka tapi bagian bumi paling durhaka, Djakarta namanya.  Ibukota sebuah negeri dengan seratus juta rakjat yang malas dan bodoh.Tapi ngakunya sudaj bebas B.H. (buta huruf).

Desas-desus Soekarno hampir mati-lumpuh tjepat mendjalar dari mulut kemulut. Meluas seketika,  seperti lonjatan api dikebakaran gubug2 gelandangan diatas tanah milik Tjina.  Sampai djuga ketelinga Muhammad dan Djibril jang memgubah diri djadi sepasang burung-elang. Mereka bertengger dipuntjak menara emas bikinan pabrik Djepang.

Cerita ditutup dengan kalimat,Rakjat Indonesia rata2 memang pemaaf serta baik hati. Kebohongan dan kesalahan Pemimpin selalu disambut dengan dada lapang. Hati mereka bagai mentari, betapapun langit makin mendung, sinarnya ingin tetap menjentuh bumi.

Sebenarnya cerpen “Langit Mendung” itu ingin mengritik Soekarno dan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang telah berbuat onar di Indonesia. Namun sayang, imajinasi pengarangnya Ki Pandji Kusmin terlalu liar,  sehingga ia dituding melakukan penistaan agama Islam. Namun siapa Ki Pandji Kusmin? Nama ini disembunyikan pimpinan redaksi Majalah Sastra, Hans Bague Jassin (HB Jassin). Sebagai risikonya HB Jassin harus memertanggungjawabkannya secara hukum. Ia ditangkap polisi dan diadili pada 4 Februari 1970  dan 11 Februari 1970.

Seperti yang ditulis Darsjaf Rahman dalam Antara Imajinasi dan Hukum (1986) Jaksa  menuduh Jassin, bahwa cerpen “Langit Makin Mendung”  mengandung unsur-unsur yang bersifat penodaan terhadap agama Islam, merendahkan kekuasaan,  kesempurnaan Tuhan J.M.E, merendahkan kemuliaan Nabi Muhammad saw dan merendahkan/menodai sendi-sendi agama lainnya, serta menimbulkan kebencian terhadap agama. Jaksa menuduh Hans melanggar pasal 156 j.o. pasal55 ayat (1) sub c. KUHP. Menurut jaksa kalimat-kalimat yang menghina agama Islam dalam cerpen itu di antaranya:

 Membatja petisi para nabi, Tuhan terpaksa meng-geleng2kan kepala, tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia…….

Kaca mata model kuno dari emas diletakkan di atas meja dari emas pula.”

“Tuhan hanya mengangguk-angguk senyum penuh pengertian dan penuh kebapaan.”

Astagfirullah hal’aziim,Tuhan dianggap sebagai sosok tua renta yang memakai kaca mata. Penulisan karya itu ternyata melahirkan istilah “Heboh Sastra 1968” dan ulama HAMKA pun  angkat bicara, bahwa cerita itu bernuansakan penistaan terhadap agama. “Tuhan tak bisa dipersonifikasikan dengan manusia.” Dalam putusan PN Jakarta Pusat HB Jassin diganjar dengan hukuman satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun.

Namun masyarakat sastra Indonesia bertanya-tanya,”Siapakah Ki Pandji Kusmin?’ Pertanyaan itu tak kunjung terjawab hingga kini. Banyak kalangan menduga, Ki Pandji Kusmin adalah HB Jassin sendiri. Tafsir terhadap cerpen itu pun terus menyeruak. Siapa yang mengatakan,  bahwa Nabi Muhammad yang terkenal patuhnya sebagai rasul terhadap Tuhannya sudah bosan di sorga dan sudah pegel lidahnya memuja kebesaran Tuhan. Orang Islam yang imannya sebesar butir pasir pun akan sulit menerimanya. “Yang bisa berkata demikian adalah gerpol PKI,” kata salah seorang saksi di pengadilan Bahalwan.

Dalam pembelaannya, Yassin menyatakan, “Unsur penghinaan terhadap Tuhan,  semata-mata karena Ia digambarkan sebagai orang tua berkacamata, kiranya tidak dapat diterima, kalau diketahui, bahwa pengarang dalam visi ketuhanannya oleh pendidikannya terpengaruh oleh visi Kristen. Dalam agama Kristen, apabila  seorang pelukis menggambarkan Tuhan sebagai orang tua berjanggut panjang di tengah awan,  sama sekali tidak ada niat untuk menghina-Nya.  Maka demikian pula pengarang Ki Pandjikusmin, menurut keyakinan saya,  tidak punya niat menghina Tuhan. HAMKA  sendiri dalam suatu wawancara dengan Pelopor Baru (27 Juni 1970),  bahwa ia dapat memaafkan Ki Pandjikusmin, karenavisi Ketuhanannya dipengaruhi visi Kristen.

Dalam tulisan Darsjaf, ia menyesalkan sekali, ”HB Jassin,  sebagai tokoh Islam, tokoh sastrawan dan  guru besar seumur hidup fakultas sastra tidak menjunjung tinggi norma-norma agama Islam. Jassin telah mengorbankan kesucian dan kepatuhannnya terhadap agama yang dipeluknya hanya untuk menyalurkan imajinasi seorang pengarang.” Kisah “Langit Makin Mendung” merupakan pelajaran bagi kalangan sastrawan untuk berhati-hati dalam menyalurkan imajinasinya. Kritik dalam sastra tak harus mengandaikan para nabi yang sudah bosan hidup di surga dan  memersonifikasikan Tuhan sebagai lelaki tua berkacamata. Astagfirullah hal’azim.  ***

Oleh NURDIN M.NOER

Wartawan senior,  pemerhati kebudayaan

Komentar
Memuat...