Latar Pendidikan dan Keagamaan M. Natsir | Tokoh Politik Islam Indonesia Part 1

Latar Pendidikan dan Keagamaan M. Natsir | Tokoh Politik Islam Indonesia Part 1
0 19

Tokoh Politik Islam Indonesia: Latar Pendidikan dan Keagamaan M. Natsir. Negarawan dengan apiliasi politik Islam Indonesia temporer. Tokoh ini dikenal santun dan bersahaja. Ia menjadi icon pergerakan politik Islam Indonesia, baik sebelum maupun sesudah Indonesia merdeka.

Pantas kalau kemudian, tokoh Masyumi ini, banyak disebut kaum intelektual sebagai sosok yang layak disebut sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Natsir, lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok, Sumatera Barat, pada 17 Juli 1908. Ayahnya bernama Mohammad Idris Sutan Saripado –pegawai pemerintah Hindia Belanda. Ibunya bernama Khadijah. Dari pasangan ini, lahir empat orang anak, yakni: Yukinan, Rubiah, Yohanusun dan tentu Natsir sendiri.

Berbeda dengan bapaknya, yang menjadi pegawai pemerintah, kakek Natsir yang diberi gelar Datuk Sinaro nan Panjang adalah pemangku adat di Maninjau, Tanjung Raya, Agam, Sumatera Barat.

Karier Pendidikan M. Natsir

Dengan ayah sebagai seorang pegawai pemerintah, tentu pemikirannya menjadi modern. Karena itu, tidak heran jika Natsir mengawali pendidikannya di sekolah-sekolah umum milik Belanda. Ia mengikuti pendidikan pertama bernama Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Padang. Pendidikan ini, saat ini setara dengan Sekolah dasar. Hanya beberapa bulan ia mengikuti pendidikan di HIS kampung halamannya itu. Ia pindah ke Solok dan dititipkan di rumah seorang saudagar kaya bernama Haji Musa.

Sebagai keluarga Muslim yang taat, sekalipun ia belajar di sekolah umum Belanda, sore harinya, ia belajar pengetahuan agama Islam di Madrasah Diniyah. Ia menghabiskan waktu sore dan malam hari untuk mempelajari dan mendalami ajaran agama Islam. Selesai di HIS, Pada tahun 1923, Natsir meneruskan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).

Aktivitasnya sebagai seorang organisatoris, dimulai saat dia berada di MULO. Ia bergabung dengan perhimpunan pemuda seperti Pandu Nationale Islamietische Pavinderij dan Jong Islamieten Bond.

Selesai dari MULO, ia megikuti Pendidikan tinggi di Bandung. Ia belajar di Algemeene Middelbare School (AMS) sampai tamat pada tahun 1930. Di kisaran tahun 1928-1932, ia menjadi ketua Jong Islamieten Bond (JIB) Bandung.

Selain sebagai seorang aktivitas, di tengah kesibukannya sebagai seorang mahasiswa, ia mengajar, tentu setelah sebelumnya menerima pelatihan sebagai guru selama dua tahun di perguruan tinggi.

Pengalamannya sebagai seorang pelajar yang mempelajari agama Islam di kampung halamannya, ia kemudian mendalami pengetahuan agama dimaksud khususnya dalam bidang Al-Qur’an, tafsir, hukum Islam (fiqih Islam), serta dialektika atau filsafat Islam. Ia mempelajari Islam kepada tokoh pendiri Persis bernama Ahmad Hassan. Inilah organisasi Islam yang mengambil model pembaharuan Islam dalam bentuk puritanisme Islam. Diambil dari berbagai sumber. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...