Lelahnya Berhaji| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 10

Lelahnya Berhaji| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 10
0 144

Lelahnya Berhaji – Kurang lebih pukul 09.00 pagi, Jama’ah sampai di Asrama haji Bekasi. Mereka diistirahatkan di Asrama dimaksud. Tujuannya, bagus! Yakni mengristirahatkan mereka agar memiliki tenaga untuk naik pesawat. Di Asrama ini, waktu dihabiskan selama kurang lebih 10 jam. Mereka dianjurkan untuk tidur, barangkali ada yang tidak terbiasa, tidur di atas kendaraan. Perjalanan dari rumah mereka diperkirakan, minimal masing-masing 12 jam. Fakta, tidak ada satupun yang tidur. Satu kamar yang diisi tidak kurang dari 10 Jama’ah itu, tidak membuat mereka bisa istirahat.

Yang terjadi, jama’ah malah riuh rendah. Mereka asyik dengan dunianya sendiri-sendiri. Meski pihak penyelenggara haji, menyediakan makanan untuk kepentingan jama’ah, tetapi tidak sedikit yang berupaya mencari makan di tempat lain. Maklum, mungkin makanan yang disediakan, terlalu lama terhidangkan. Akibatanya, makanan dimaksud, terasa hambar dan tidak lagi gurih. Karena itu, mereka terpaksa harus mencari makanan lain, sesuai dengan lidahnya atau enak menurut kebiasaannya.

Di antara Jama’ah haji, banyak sekali orang kampung. Bukan karena latar belakang daerahnya, tetapi pada karakternya. Mereka tersebar dalam rombongan pemberangkatan yang berbeda-beda. Gaya bicara, cara berperilaku, cara berkomunikasi, masing-masing memiliki keunikannya sendiri. Ada yang senang guyonan, ada yang suka jajan, ada yang suka belanja, tetapi, tidak sedikit, yang terus menerus membaca al Qur’an. Yang suka belanja, melihat berbagai aksesoris, tidak sedikit yang membeli. Dibungkus dan dibawa ke dalam tasnya masing-masing. Waktu 10 jam, dihabiskan akhirnya oleh jama’ah untuk saling berkenalan satu dengan yang lainnya.

Dalam proses penantian di Asrama Haji Bekasi, Shofi kembali demam. Demamnya sangat tinggi. Ia mencari dokter yang menjadi petugas haji. Ia hanya bertemu dengan seorang suster perempuan. Shofi kemudian dikasih obat semacam aspirin, dan demamnya lantas agak menurun. Crhonos memakaikan jaket tebal, lalu kepala Shofi diikat dengan selendang berwarna putih. Ia duduk bersila sambil terus berupaya untuk menahan nafas dengan baik. Shofi berkata:

“Crhonos, kapan kita berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta. Ko lama sekali tinggal di sini? Crhonos menjawab, katanya nanti jam 11 malam. Tengah malam, kita baru ke Bandara. Bagaimana dengan keadaan bapak. Apakah sudah mulai baikan. Shofi dengan lembut mengatakan, mulai membaik. Semoga Allah memberi keberkahan atas perjalanan ini. Semoga juga Dia Yang Maha Kasih, memberi kekuatan kepadaku dan kepadamu serta kepada istri kita untuk melaksanakan perintahnya. Ke mana mereka sekarang. Bapak tenang saja. Di sini ada saya. Mereka sedang mengambil uang kembalian dari Kementerian Agama. Uang kembalian apa, tanya Shofi. Uang untuk bekal bapak dan ibu. Besarnya, lumayan, masing-masing sekitar 1.500 Riyal. Oooh …. Shofi menjawab dengan pelan”

Situasi Jama’ah di Asrama Haji Bekasi

Setelah tiga jam ada di Asrama Haji Bekasi, waktu dhuhur-pun tiba. Muadzin dari Masjid telah mengumandangkan adzan dan iqomat. Sedikit sekali, jama’ah yang berangkat ke Masjid. Umumnya, mereka tetap berada dalam kamarnya masing-masing di asrama. Mereka melaksanakan shalat dhuhur di Asrama Haji dimaksud, dan tidak ke Masjid. Ada yang berjama’ah, tetapi, tidak sedikit yang shalatnya sendiri-sendiri.

Setelah itu, Jama’ah kembali berhamburan ke luar.  Gelaran kopi dan rokok merebak di mana-mana. Crhonos duduk di atas kasurnya yang tipis, dan menulis beberapa coretan tulisan di atas kertas yang dibawanya. Shofi menyaksikan bagaimana Crhonos setiap kali berhenti, selalu mengambil pulpen dan kertas di saku tasnya. Ia berbisik, hai kamu ko suka menulis. Menulis apa, tanya Shofi. Crhonos menjawab:

“Bapak ingat, saat aku masih kecil. Saat di mana, waktu itu, umurku kurang lebih 10 tahun. Waktu itu, bapak membelikan buku tulis buatku. Lalu menyediakan pulpen mewah menurutmu. Waktu itu kau bilang: Crhonos … ini buku kosong. Isinya 150 lembar, yang kalau di bulak balik, berarti 300 lebar. Isilah buku ini dengan tulisanmu.Apa saja! Berbagai peristiwa yang kau alami, harus ditulis. Peristiwa itu mungkin baik, tetapi, sebagiannya pasti peristiwa buruk atau bahkan sedikit berbau dosa dan konyol. Jangan takut, tulislah.

Setiap lembar tulisanmu, kuhadiahkan karenanya uang sebesar 25 rupiah. Kalau kamu butuh uang jajan 100 rupiah per hari, maka, tulislah empat lembar setiap hari juga. Bukankah sejak saat itu pak, hampir tidak ada peristiwa; penting atau tidak yang tidak aku tulis. Kan tulisan itu, juga suka dibaca sama bapak. Sejak saat itu, sampai saat ini, aku tidak pernah berhenti menulis. Ini kan peristiwa unik. Coba kita lihat tuch orang Indonesia. Jangankan sampai ke Mekkah, ke Bandara saja belum. Mereka sudah demikian rakusnya belanja. Judulnya, untuk oleh-oleh ke kampung halamannya.

Shofi diam, lalu tersenyum.  Ya aku ingat masa kamu kecil itu. Impianku waktu itu, selain kamu sukses menjadi pebisnis, juga berharap dapat menjadi penulis. Dapat tampil di layar kaca. Tulisan-tulisan kamu juga dibaca orang. Tujuannya sederhana. Supaya kamu dapat dikenal orang lain. Karena kamu dikenal, kamu tidak mungkin tidak mencantumkan namaku, celetuk Shofi. Kini, kamu sudah besar, meski aku tetap menganggapmu sangat kecil.

Menuju Bandara Soekarno Hatta

Tepat pukul 21.00, Jama’ah kembali naik bus. Satu persatu jama’ah menduduki kursi yang telah disediakan. Kini mereka akan berangkat ke Bandara Internasional Soekarno Hatta. Jadwal keberangkatan ke Mekkah, direncakan akan dilangsungkan pada pukul 02.00 dini hari. Ketua Rombongan kembali membacakan do’a yang sama. Saat itu, jalan sangat macet. Akhirnya, perjalanan tertunda agak sedikit lama.

Sampailah di Bandara pada pukul 23.30. Jama’ah berjejer seperti jejeran ikan asin atau ikat peda. Mereka umumnya pada sing gluprak, di ruang tuunggu yang tidak ada kursi duduk. Karena saking asyiknya akan menunaikan ibadah haji, tidak ada sedikitpun yang protes. Jika keadaan ini, berada dalam tiur biasa, maka, betapa situasi ini akan melahirkan prahara. Mereka pasti akan bertanya mengapa mereka diperlakukan seperti itu.

Hal ini diperkuat oleh materi bimbingan haji, yang selalu menekankan akan pentingnya menjaga keabsyahan ibadah haji. Para Jama’ah sudah cukup mafhum melalui kortek otaknya masing-masing, bahwa berbantah-bantahan, adalah dilarang. Inilah materi yang selalu disampaikan para  pembimbing haji.

“Allah swt. Dalam al Qur’an surat Al Baqarah [2]: 197 berfirman:  “Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi [ditentukan].  Barang siapa yang menetapkan niatnyan dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, tidak boleh fusuq dan berberbantah-bantahan. Apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekalah dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”.

Dalam riwayat ‘Atha’ bin Abi Rabbah disebutkan bahwa rafats adalah hubungan suami isteri. Hal ini setidaknya dapat dibaca dari pernyataan Ibnu Abbas –mufassir generasi sahabat– tentang makna “jangan rafats”. Ia menjawab: “isyarat dengan perkataan yang menjurus ke hubungan suami isteri. Karena itu, para ulama memasukkan perkataan kotor ke makna rafats ini.

Sedangkan yang dimaksud dengan fusuk dan jidal, sebagaimana dapat dibaca dari tafsir Ibnu Katsir disebutkan bawa: “Perbuatan fasik adalah maksiat, seperti mancaci-maki, gibah, memakan harta anak yatim, dan lain-lain. Jangan berbantah-bantahan adalah. 1). tidak boileh berbantah-bantahan dalam masalah waktu dan tata cara ibadah haji, dan 2). Tidak boleh berbantah-bantahan dalam segala hal yang menjadikan orang yang berbantahan itu saling marah dan memusuhi”

Srhonos yang biasanya kritispun diam. Ia tidak mampu berkata apa-apa, kecuali menuliskan dan memotretkan photonya kepada jama’ah haji yang dilihatnya. Sekali-kali, ia melakukan rekaman perjalan yang menurutnya sangat asyik.

Rekaman Peristiwa itu ada di X File

Dalam buku X File itulah, ia menulis, bagaimana mungkin jama’ah haji Indonesia tidak sakit. Lha perjuangan perjalanan dari rumah menuju pesawat terbang saja, ditempuh kurang lebih 42 jam. Mereka pasti tidak bisa istirahat. Tetapi, jama’ah tidak bisa protes. Penyelenggara haji, seolah-olah harus dilindungi  dan kebal protes. …. By. Charly Siera– bersambung

Komentar
Memuat...