Lelehan Air Mata | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part – 1

Mencari Tuhan di Kaki Ka'bah sebuah Novel Haji
0 170

Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah. Seperti biasanya, di pagi hari yang masih buta, keluarga Shofi sudah ramai. Tungku dapur yang dipenuhi jalakan api panas, dilingkari para ksatria agama. Arang api dari kayu yang keras, telah membuat jalakannya demikian panas. Api itu telah menghangatkan suasana pagi pegunungan yang tidak lebih dari 16 derajat celcius.

Kampung TURTLE, di Pojok Paling Selatan Jawa Barat yang masih sangat alami itu, beberapa laki-laki tua selalu berkumpul. Melingkar seperti para pendekar jalanan dengan lincangan sarung di leher mereka. Celana pendek berwana putih selalu dipakai mereka. Tidak sedikit, di antara mereka memakai serban berwarna putih atau hijau.

Diskusi yang digelar mereka biasanya datar. Tidak ada yang aneh. Berputar-putar seperti kaset sebuah lagu yang ada di Tape yang biasa didengarkan mereka. Tetapi pagi itu, agak berbeda. Para pendekar itu, justru melakukan diskusi hangat terkait dengan kejadian yang dialami Shofi semalaman bersama istrinya.

Diskusi Soal Kewajiban Berhaji

Di suatu lingakaran kecil itu, dengan pelan, Shofi bertanya kepada pamannya, Yusuf. Ia adalah imam besar Masjid di mana mereka tinggal. Shofi bertanya dalam nada yang agak sedikit lemah, karena takut kedengaran istrinya. Istri Shofi yang bernama Siti, dalam beberapa bulan terakhir memang sedang”memaksa” dirinya agar segera mendaftar untuk menabung haji. Shofi berkata, paman, sesungguhnya seberapa penting umat Islam harus melaksanakan ibadah haji?

“Dengan tangan melingkar di lutut kakinya, Kyai Yusuf berkata: “ya sepenting kita melaksanakan shalat”. Kewajiban melaksanakan ibadah haji, karena ia termasuk rukun Islam, maka, bagi yang mampu wajib segera melaksanakannya tanpa kecuali. Coba kamu ingat kembali ayat al Qur’an. Salah satunya surat al Baqarah [2]: 196-197 yang terjemahannyaadalah:

“Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal …”

Yang menjadi persoalan sekarang, kata Kyai Yusuf, mengapa kamu bertanya soal haji. Bukankah itu juga yang sering diceramahkan kakak saya, yang tidak lain bapak kamu, namanya Ahmad. Apakah kamu masih ragu akan pentingnya melaksanakan ibadah haji? Apakah kamu merasa dapat mengelak dari kewajiban melaksanakannya?

Perdebatan Ilmiah Berlangsung

Di lingkaran itu, kemudian terjadi perdebatan. Perdebatan ilmiah yang menurut ukuran kampung sangat tidak realistik. Beginilah perdebatan itu berlangsung.

Shofi berkata dengan sangat datar. Bukan begitu paman. Sekali lagi, persoalannya bukan di situ. Saya lebih melihat nilai fungsionalnya atas apa yang disebut dengan pelaksanaan ibadah haji. Menurutku, ibadah haji penuh makna sosial. Bagaimana mungkin saya harus melaksanakan ibadah haji, sementara bukan hanya sekedar saya masih menanggung beban bagi anak-anak yang masih kecil dan butuh biaya pendidikan dan perawatan. Paman juga kan tahu, beberapa anak pungut sayapun belum pada selesai melaksanakan studinya baik di sekolah maupun di pesantren. Saya khawatir dengan cara bersegera melaksanakan ibadah haji, biaya pendidikan untuk anak-anak kami itu, habis.

Terhadap kalimat terakhir Shofi, Kyai Yusuf kaget. Ia kemudian membacakan ayat suci al Qur’an, yakni surat Ali Imran [3]: 97 yang artinya:

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allâh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. Imam Ibnu Katsir, menjelaskan hal ini melalui hadits Rasulullah yang periwayatannya berasal dari Ibnu Abbâs dengan penjelasan sebagau berikut: “Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allâh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”, yaitu: Barangsiapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya dia telah kafir, dan Allâh tidak memerlukannya”

Kyai yusuf kemudian mengutif salah satu hadits Qudsi: “Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya seorang hamba yang telah Aku anugerahi kesehatan badan, Aku telah luaskan penghidupannya, telah lewat padanya lima tahun, (namun) dia tidak mendatangiKu (yakni: melakikan ibadah haji), dia benar-benar dicegah (dari kebaikan).

Kamu harus takut terhadap ancaman itu Shofi. Hati-hati kamu dalam menerjemahkan makna-makna teologis dalam al Qur’an. Termasuk memberi makna atas apa yang disebut dengan pelaksanaan ibadah haji.

Kebanggaan Siti pada Kyai Yusuf

Tanpa sepengatahuan Shofi, Siti ternyata mendengarkan nasihat Kyai Yusuf kepada suaminya. Ia memperhatikan kalimat demi kalimat yang disampaikannya. Terlebih saat itu, dia lagi kurang nyaman terhadap suaminya, gara-gara setiap kali diajak nabung untuk kepentingan ibadah haji, selalu ditolaknya dengan keras. Suaminya selalu bilang bahwa memberi sesuap nasi kepada fakir miskin selalu setara dengan sekali mencium hajar aswad

Siti berkata dalam hatinya. Semoga Allah memberi hidayah kepada suamiku agar berkenan mulai menabung untuk ibadah haji. Shofi sendiri kelihatannya mangut-mangut saja, tanda bahwa dia menyetujui gagasan pamannya. Ia ingat bagaimana bapaknya, yakni Kyai Ahmad dan kakeknya Kyai Santho’i, menasehatinya agar mulai memikirkan pentingnya pelaksanaan ibadah haji, sebelum mereka meninggal dunia.

Shofi tak kuasa menahan deraian air mata. Air mata itu meleleh di pipi kiri kanannya tanpa mampu dibendung. Ia berada dalam pergulatan bathin yang sulit dipertemukannya. Mempertemukan keyakinan ketuhanan dengan keyakinan kemanusiaan. Dua pilihan –antara haji atau tidak—dengan konsekwensi masing-masing. Diskusinya sendiri baru berakhir ketika entim peda merah habis mereka makan sampai ke kepala ikan peda dimaksud. By. Charly Siera … Bersambung

Komentar
Memuat...