Take a fresh look at your lifestyle.

Lelehan Air Mata | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part – 1

66 158

Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah. Seperti biasanya, di pagi hari yang masih buta, keluarga Shofi sudah ramai. Tungku dapur yang dipenuhi jalakan api panas, dilingkari para ksatria agama. Arang api dari kayu yang keras, telah membuat jalakannya demikian panas. Api itu telah menghangatkan suasana pagi pegunungan yang tidak lebih dari 16 derajat celcius.

Kampung TURTLE, di Pojok Paling Selatan Jawa Barat yang masih sangat alami itu, beberapa laki-laki tua selalu berkumpul. Melingkar seperti para pendekar jalanan dengan lincangan sarung di leher mereka. Celana pendek berwana putih selalu dipakai mereka. Tidak sedikit, di antara mereka memakai serban berwarna putih atau hijau.

Diskusi yang digelar mereka biasanya datar. Tidak ada yang aneh. Berputar-putar seperti kaset sebuah lagu yang ada di Tape yang biasa didengarkan mereka. Tetapi pagi itu, agak berbeda. Para pendekar itu, justru melakukan diskusi hangat terkait dengan kejadian yang dialami Shofi semalaman bersama istrinya.

Diskusi Soal Kewajiban Berhaji

Di suatu lingakaran kecil itu, dengan pelan, Shofi bertanya kepada pamannya, Yusuf. Ia adalah imam besar Masjid di mana mereka tinggal. Shofi bertanya dalam nada yang agak sedikit lemah, karena takut kedengaran istrinya. Istri Shofi yang bernama Siti, dalam beberapa bulan terakhir memang sedang”memaksa” dirinya agar segera mendaftar untuk menabung haji. Shofi berkata, paman, sesungguhnya seberapa penting umat Islam harus melaksanakan ibadah haji?

“Dengan tangan melingkar di lutut kakinya, Kyai Yusuf berkata: “ya sepenting kita melaksanakan shalat”. Kewajiban melaksanakan ibadah haji, karena ia termasuk rukun Islam, maka, bagi yang mampu wajib segera melaksanakannya tanpa kecuali. Coba kamu ingat kembali ayat al Qur’an. Salah satunya surat al Baqarah [2]: 196-197 yang terjemahannyaadalah:

“Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal …”

Yang menjadi persoalan sekarang, kata Kyai Yusuf, mengapa kamu bertanya soal haji. Bukankah itu juga yang sering diceramahkan kakak saya, yang tidak lain bapak kamu, namanya Ahmad. Apakah kamu masih ragu akan pentingnya melaksanakan ibadah haji? Apakah kamu merasa dapat mengelak dari kewajiban melaksanakannya?

Perdebatan Ilmiah Berlangsung

Di lingkaran itu, kemudian terjadi perdebatan. Perdebatan ilmiah yang menurut ukuran kampung sangat tidak realistik. Beginilah perdebatan itu berlangsung.

Shofi berkata dengan sangat datar. Bukan begitu paman. Sekali lagi, persoalannya bukan di situ. Saya lebih melihat nilai fungsionalnya atas apa yang disebut dengan pelaksanaan ibadah haji. Menurutku, ibadah haji penuh makna sosial. Bagaimana mungkin saya harus melaksanakan ibadah haji, sementara bukan hanya sekedar saya masih menanggung beban bagi anak-anak yang masih kecil dan butuh biaya pendidikan dan perawatan. Paman juga kan tahu, beberapa anak pungut sayapun belum pada selesai melaksanakan studinya baik di sekolah maupun di pesantren. Saya khawatir dengan cara bersegera melaksanakan ibadah haji, biaya pendidikan untuk anak-anak kami itu, habis.

Terhadap kalimat terakhir Shofi, Kyai Yusuf kaget. Ia kemudian membacakan ayat suci al Qur’an, yakni surat Ali Imran [3]: 97 yang artinya:

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allâh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. Imam Ibnu Katsir, menjelaskan hal ini melalui hadits Rasulullah yang periwayatannya berasal dari Ibnu Abbâs dengan penjelasan sebagau berikut: “Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allâh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”, yaitu: Barangsiapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya dia telah kafir, dan Allâh tidak memerlukannya”

Kyai yusuf kemudian mengutif salah satu hadits Qudsi: “Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya seorang hamba yang telah Aku anugerahi kesehatan badan, Aku telah luaskan penghidupannya, telah lewat padanya lima tahun, (namun) dia tidak mendatangiKu (yakni: melakikan ibadah haji), dia benar-benar dicegah (dari kebaikan).

Kamu harus takut terhadap ancaman itu Shofi. Hati-hati kamu dalam menerjemahkan makna-makna teologis dalam al Qur’an. Termasuk memberi makna atas apa yang disebut dengan pelaksanaan ibadah haji.

Kebanggaan Siti pada Kyai Yusuf

Tanpa sepengatahuan Shofi, Siti ternyata mendengarkan nasihat Kyai Yusuf kepada suaminya. Ia memperhatikan kalimat demi kalimat yang disampaikannya. Terlebih saat itu, dia lagi kurang nyaman terhadap suaminya, gara-gara setiap kali diajak nabung untuk kepentingan ibadah haji, selalu ditolaknya dengan keras. Suaminya selalu bilang bahwa memberi sesuap nasi kepada fakir miskin selalu setara dengan sekali mencium hajar aswad

Siti berkata dalam hatinya. Semoga Allah memberi hidayah kepada suamiku agar berkenan mulai menabung untuk ibadah haji. Shofi sendiri kelihatannya mangut-mangut saja, tanda bahwa dia menyetujui gagasan pamannya. Ia ingat bagaimana bapaknya, yakni Kyai Ahmad dan kakeknya Kyai Santho’i, menasehatinya agar mulai memikirkan pentingnya pelaksanaan ibadah haji, sebelum mereka meninggal dunia.

Shofi tak kuasa menahan deraian air mata. Air mata itu meleleh di pipi kiri kanannya tanpa mampu dibendung. Ia berada dalam pergulatan bathin yang sulit dipertemukannya. Mempertemukan keyakinan ketuhanan dengan keyakinan kemanusiaan. Dua pilihan –antara haji atau tidak—dengan konsekwensi masing-masing. Diskusinya sendiri baru berakhir ketika entim peda merah habis mereka makan sampai ke kepala ikan peda dimaksud. By. Charly Siera … Bersambung

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

  1. Mana rul berkata

    Dari cerita novel yang saya baca al hasil yaitu semua orang besar kemungkinan menginginkan yang namanya haji, seseorang akan dianggap sempurna imanya imanya, apabila ia sudah melaksanakan haji itupun bagi orang yang mampu untuk memenuhi panggilan Allah yang ke 5, disamping seseorang mengetahui betapa pentingnya melaksanakan ibadah haji, seseorang harus tahu makna dari keutamaan orang menunaikan haji, kaedah hakiki haji dan seterusnya. Setiap orang memiliki argumen yang berbeda mengenai pelaksanaan haji dari cerita novel tersebut seseorang yang bingung akan melaksanakan haji, dikarenakan ia masih mempunyai hak dan kewajiban untuk menafkahi anak anak mereka. Takut akan harta yang dikeluarkan, takut akan tidak bisa menafkahi si anak dan lain sebagainya. menurut saya orang yang melaksanakan haji hanya bagi orang yang mampu dan mempunyai tekat yang kuat untuk memenuhi panggilan Allah swt.

  2. Hasanatun Nadia berkata

    Bismillah..
    menunaikan ibadah haji adalah wajib bagi yang mampu karena itu adalah rukun islam yang harus dilaksanakan, tapi jika belum mampu maka tidak ada kewajiban lagi untuk berhaji.
    namun dalam cerita diatas shofi sebenarnya mampu untuk berhaji tapi ragu untuk menunaikankannya karena shofi punya kewajiban lain yg harus ia tanggung jawabkan. hal ini menjelasakan bahwa shofi tidak percaya bahwa ada rizqi dari Allaah yang akan dicukupkan untuknya.

  3. Melli Nurvelina berkata

    Assalamu’alaikum.wr.wb
    Novel ini menceritakan tentang pentingnya menunaikan ibadah haji karena ibadah haji merupakan rukun islam yang ke 5, tapi part 1 terjadi perbedaan pendapat antara shofi dan istri nya. Shofi lebih mementingkan pendidikan dan kehidupan anak-anaknya sedangkan istrinya menginginkan nabung untuk menunaikan ibadah haji..

  4. Ade Rossy Indra Pertiwi TIPS A/1 berkata

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Dalam novel yang berjudul Mencari Tuhan Di Kaki Ka’bah dalam part-1 bahwasanya melaksanakan rukun islam yang ke-5 itu sangatlah penting bahkan bagi yang mampu wajib segera melaksanakannya tanpa kecuali. dalam part ini dimana sang suami yang bernama shofi suami dari siti, ada perselisihan dimana sang istri ingin menyegerakan pergi melaksanakan rukun islam yang ke-5 yaitu haji. tapi berbeda pendapat dengan sang suami yaitu shofi yang enggan melaksanakan haji karena ada beberapa hal yang membuat sang suami bingung karena masih mempunyai banyak menanggung beban karena anak-anaknya masih kecil yang masih membutuhkan lebih banyak biaya. dalam hal ini melaksanakan ibadah haji itu adalah hal yang didasari dari rasa ikhlas dari hati bukan paksaan dari pihak manapun. Terimakasih

  5. Siti hamidah berkata

    Siti hamidah ips A 1
    Assalamualaikum
    Tentang kelurga yg terdapat suami istri d antara mereka memiliki pendapat yang berbeda tentang ibadah haji
    Ibadah haji merupakan rukun islam yang ke lima dimana orng kaya yang memiliki harta yang lebih wajib melaksanakan rukunbyangbke lima ini yaitu ibadah haji
    Kita jalani wajib orang yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji tersebut

  6. Ayuning Sutiman berkata

    Assalamua’laikum wr.wb….
    pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita diatas adalah bahwasannya kita tidak boleh sembarangan menafsirkan arti atau makna yang terkandung di dalam Al-qur’an .
    karna salah satu fungsi Al-qur’an adalah petunjuk, jadi kita tidak boleh sembarangan mengartikan isi kandungan yang ada di dalam Al-qur’an.
    Diibaratkan seperti ini, Al-qur’an adalah petunjuk arah dan didalam petunjuk itu terdapat tanda tanda untuk menunjukan arah. nah jika kita sembarangan mengartikan petunjuk itu dan pengertiannya itu salah, pasti kita akan berjalan menuju jalan yang salah.
    jadi jika kita ingin mengartikan sesuatu itu jangan sembarangan atau hanya sekedar pemahaman sendiri, tapi kita juga harus bisa memahai dari berbagai referensi yang lain (tidak mengartikan sendiri) apa lagi Al-qur’an yang dijadikan berbagai sumber yang berkaitan dengan kehidupan, akhirat dan lain- lain.
    sekian…. wassalamu’alaikum wr.wb….

  7. akhmad afifudin berkata

    Novel mencari tuhan dikaki ka’bah cukup menarik untuk dibaca, stelah saya membacanya saya skrng lebih tau bahwasanya ibadah haji haris dilakukan dengan kerendahan hati, harus ikhlash tanpa ada paksaan dari siapapun. Akan tetapi jika diri kita sudah merasa mampu dalam sgala hal kita wjib untuk melaksanakan rukun islam yang ke 5 . saya sependapat dengan apa yang difikirkan oleh siti sang istri dari shofi. Beliau menyadari bahwasanya keluarganya telah sanggup bahkan mampu untuk menjalankan perintah allah. Akan tetapi hati seseorang tidaj mungkin terbuka selain atas kehendak allah.
    Saran saya untuk semua pembaca movel part 1 ini untuk slalu bersyukur terhadap apa yang telH allag berikan.. Baik berupa materi maupun non materi..
    Barakallah

  8. Fifit Fitri Nur'aeni berkata

    Assalamu.alaikum wr wb.
    NoveI ini menceritakan tentang sepasang suami istri yang mempunyai masalah perbedaan pendapat tentang menunaikan ibadah haji.
    Setelah membaca novel ” Mencari Tuhan Di kaki Ka*bah part 1 ” Dapat di simpulkan bahwa naik haji merupakan dambaan setiap muslim dan merupakan salah satu bentuk jihad . Rasulullah pun pernah menyinggung kepada para sahabatnya bahwa melakukan ibadah haji merupakan salah satu jihad kepada allah.
    Menjalankan ibadah haji akan menghantarkan manusia memperoleh 2 manfaat yaitu manfaat dunia dan akhirat.

  9. Rif'atul Ula berkata

    Assalamu’alaikum wr. wb
    Setelah membaca novel “mencari Tuhan di kaki ka’bah” part 1 ini, ada satu hal yang menjadi fokus utama di dalamnya yaitu tentang bagaimana memecahkan masalah dan mencari jalan keluar ketika adanya ke tidaksinkronan antara hati, pengetahuan yang dimiliki dan pekerjaan yang akan dilakukan seperti yang dirasakan oleh shofi yang ragu ketika akan berangkat haji. Sikap ragu inilah yang mengganggu shofi karena perbedaan jawaban dari hati yang menuntutnya agar memikirkan anak-anaknya. Sedangkan menurut pengetahuan yang dimilikinya menyimpulkan bahwa haji hanya sebatas mencium hajar aswad, oleh karena itu dia menyetarakannya dengan memberi sesuap nasi kepada fakir miskin. Dari jawaban keduanya ini menguatkan agar shofi tidak perlu berangkat haji dan kedua jawaban ini pula yang menggambarkan sisi kemanusiaan.
    Shofi belum memiliki keyakinan yang mantap karena dia hanya mendapatkan sisi kemanusiaan saja, makanya dia bertanya pada pamannya agar memperoleh pula sisi ketuhanan. Dilihat dari reaksi shofi yang menangis menceritakan kepada kita bahwa sisi ketuhanan adalah sisi yang paling dominan untuk kita ambil.
    Jadi intinya ketika kita hendak mengambil sebuah keputusan selain mempertimbangkannya dengan kebaikan antarsesama, maka kita juga harus mengaitkannya pula dengan penghambaan kepada Allah Yang Maha Segalanya.
    Terimakasih
    Wassalamu’alaikum wr.wb

  10. De Zidni Tazqiah MPI semester 3 berkata

    Assalamualaikum wr.wb.
    Dalam novel mencari tuhan di kaki ka’bah part 1 bahwasanya menceritakan sepasang suami istri yang berbeda pendapat tentang ibadah haji.Pertama sang istri yang menginginkan ibadah haji untuk menyempurnakan rukun islam yang ke 5 karna ibadah haji merupakan bagian dari rukun islam yang harus terpenuhi bagi orang yang mampu. Sedangkan suami tidak menginginkan, tapi bukan karena tak mampu tapi karena dia melihat ke sisi sosialnya. Sebenarnya kedua duanya pun penting dan wajib kita lakukan,karna menunaikan ibadah haji merupak kewajiban seorang muslim begitu juga dengan bertanggung jawab dalam rumah tangga juga kewajiban. Jadi lakukanlah dengan niat dan iklas

  11. Elok Firdausiana berkata

    Membiayai pendidikan dan menabung untuk berhaji menurut saya tidak akan mengurangi harta kita, selagi kita mempunyai niat untuk mencapai kebaikan, maka Allah akan terus melapangkan segala macam bentuk rizqi untuk kita. Karena membiayai pendidikan dan menabung untuk berhaji (menjalankan rukun islam)  merupakan hal yang sama wajib/pentingnya dalam kehidupan kita, maka jangan takut dan ragulah kita dalam menggunakan harta untuk hal2 yang positif.

  12. Intan Sulistiani berkata

    Assalamu’alaikum wr.wb
    setelah saya membaca novel mencari tuhan dibawah kaki ka’bah part 1, saya akan sedikit menyimpulkan bahwasanya Allah tidak akan menyulitkan setiap hambanya dalam melakukan hal kebaikan,aplalagi itu sebuah rukun islam yang wajib dilaksanakan oleh umat islam jikalau dari segi materi maupun psikologis nya mampu, jangan ragu dalam hal kebaikan, tetap optimis dan berusaha bisa, pesannya “seimbanglah dalam hal duniawi maupun ukhrowi” cukup sekian dari saya trima kasih.
    Wassalamu’alaikum

    1. lyceum
      lyceum berkata

      Yakinlah memang Allah yang mampu mengubah segalanya bagi kita semua

  13. fajar maulana berkata

    Assalamualaikum,
    Menurut saya novel mencari “Tuhan di kaki Ka’bah part 1” memiliki beberapa makna jika di artikan dari beberapa sudut pandang dan sekaligus membuat penasaran pembaca karena bersambungnnya episode ini 😀
    Pada novel ini dikatakan bahwa diwajibjakn untuk menunaikan rukun islam yang ke – 5, tetapi shofi dan siti mempunyai latar belakang masalah yang berbeda. Masalah yang dihadapi shofi itu karena harus mengurus anak yatim dan menyekolahkannya, sedangkan masalah siti yaitu di tolak olrh suaminya karena memberi selalu mengatakan “memberi sesuap nasi kepada fakir miskin itu pahalanya sama dengan mencium hajar aswad.
    Jadi filosofi nya adalah Alangkah baiknya menunaikan kewajiban terlebih dahulu yakni mengerjakan rukun islam yang ke-5, niatkanlah untuk menunaikan haji disamping sedang mengerjakan amalan-amalan yang mulia.
    Sekian terima kasih

  14. Amalia Fitriyanti berkata

    Assalamualaikum.
    setelah saya baca novel ini pada part 1 menurut saya antara shofi dan siti mereka tak sependapat. Tetapi shofi selalu bertanya tentang penting nya ibadah haji dan siti selalu bersabar dengan sikap suami nya. Mereka sebenarnya ingin menunaikan ibadah haji hanya saja shofi berfikir dengan biaya pendidikan anak-anaknya nanti. Tetapi menurut saya Allah selalu melapangkan rezeki nya bagi hamba-Nya. Terima kasih

  15. Sukinih mpi/3 berkata

    novel ini sangat menarik dan banyak pelajaran yang bisa kita ambil, novel ini menceritakan tentang suami istri yang berbeda pendapat dalam melakukan ibadah haji . situ sangat ingin menuaikan ibadah haji sedangkan shofi bahwa ibadah haji penuh makna sosial, dan sangat mementingkan pendidikan pendidikan. pendisikan bagi anaknya maupun anak angkatnya. bahwa shofi sangat menjunjung tinggi pentingnya pendidikan,setelah itu shofi bertanya kepada seorang kiyai yang berada di desanya. sehingga shofi menyadari seberapa pentingnya kewajiban menuaikan ibadah haji itu.

  16. Diah ayu nuratillah berkata

    Its a good story dad…
    Dalam penggalan novel diatas mengajarkan saya tentang hukum menjalankan ibadah haji. Sebelumnya saya belum pernah tau tentang ayat ayat dalam al-qur’an yang terjemahannya menyerukan kita sebagai umat muslim untuk wajib melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu. Dalam cerita diatas tokoh istri bimbang karena sang suami beranggapan bahwa ibadah haji hany dilaksanakan bagi orang yg sudah mampu dalam hal finansial sedangkan ia sendiri merasa bahwa dirinya belum mampu melaksanakan ibadah haji karena masih harus membiayai hal hal lain dalam duniawinya. Lalu sang istri mencari jawaban atas kebimbangannya itu, tentang hukum melaksanakan ibadah haji dengan bertanya kepda kyai, akhirnya ia mendapat jawaban yang sangat meyakinkan dirinya bahwasannya ibadah haji wajib dilaksanakan bagi yang mampu.
    Ibadah haji sebenarnya bukan hanya diukur dari hal finansialnya saja, bukan pula tentang siapa yang terpanggil oleh Allah. Tetapi tentang bagaimana orang tersebut siap dan yakin untuk melaksanakan ibadah haji, tentu saja hal tersebut ada pada dalam diri kita masing-masing. Jika kita merencanakan siap maka akan tercapai, jika dari awal kita merencanakan tidak siap maka rencana itu pun tidak akan tercapai.
    Terimakasih pak semoga saya bisa membaca novel ini sampai akhir agar bisa mendapatkan ilmu yang berlimpah dalam membacanya.

  17. Asri Wulandari berkata

    Novel mencari tuhan di kaki ka’bah part 1 ini sangat realistis dengan kehidupan sosial pada umumnya, kebanyakan orang takut kehilangan hartanya , begitulah. Kehidupan ini memang harus dilandasi dengan ilmu agama, agar setiap pribadi lebih memahami makna perintah Allah, baik haji, sholat, puasa, zakat atau lainnnya. Ketika seseorang menyadari segala sesuatu yang dilakukannya adalah ibadah dan kekuasaan Allah lebih besar dibanding kekuasaan manusia makanya hatinya tdak lagi ragu, bahkan tidak takutmengeluarkan hartanya untuk haji .

  18. Rina agustiana 1/A berkata

    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    setelah saya membaca novel ” mencari tuhan di kaki ka’bah pada part 1 ”
    novel ini sangat menarik dan banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita itu,sehingga saya ingin selalu tau dan ingin membaca nya apa alur selanjut nya
    ” novel ini menceritakan tentang sepasang suami istri yang memiliki perbedaan pendapat tentang ibadah haji,ibadah haji merupakan rukun islam yang ke 5 yang wajib kita jalani wabi orang yg mampu.
    sang istri yg mengajak suami nya untuk pergi haji dengan cara menabung,pada suatu hari shofi menceritakan permasalahan kepada kyai yusuf
    bagaimana perintah haji yg terdapat di dalam Al-qur’an,kyai pun memberikan penjelasan dan nasehat kpada shofi.
    sehingga ia menyadari bahwa seberapa pentingnya kewajiban pergi haji,pada saat itu pun shofi tak kuasa menahan air mata yg membasahi pipi nya.

    Terima Kasih …

  19. Fariz maulana ibrahim a/1 berkata

    assalamualaikum wr.wb. Novel ini mengajarkan kita bahwa setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang tidak bisa dipaksakan kehendaknya oleh orang lain,begitupun dengan shofi,dia ditekankan untuk haji oleh kyai yusuf namun shofi masih memiliki kewajiban di sini yg tidak bisa ditinggalkan begitu saja,akhirnya perbedaan pendapatpun terjadi,karena haji pun wajib bagi yang siap dan mampu.oleh karena itu dua tokoh tersebut memang tidak salah,namun alangkah baiknya selesaikan dulu kewajiban yang ada di sini ,setelah siap baru kita berangkat haji. Terima kasih.

  20. Farrin Nurul Aina berkata

    Assalamualaikum wr wb
    Novel berjudul ” Mencari Tuhan di Kaki kabah part 1″ sangat lah menarik karena di dalamnya tidak hanya menceritakan tentang hubungan manusia dengan Tuhan (hamblum minallah) namun membahas tentang hubungan manusia dengan manusia (hamblum minannas)
    Bisa lihat dari watak shofi yang peduli pada sesama dia tidak mementingkan dirinya sendiri. Dibalik keinginannya untuk melaksanakan kewajiban sebagai hamba dia masih memikirikan nasib anak kandung maupun anak asuh yang masih menjadi tanggungannya apa lagi dalam masalah pendidikan.

  21. Ega Sopana T.IPS 1/A berkata

    Part 1
    Novelnya menarik dari perbedaan pendapat antara suami istri yaitu shofi dan siti. Siti ingin sekali menunaikan haji karena itu sebuah kewajiban bagi yang mampu, sedangkan shofi bahwa ibadah haji penuh makna sosial penuh makna sosial. Bagaimana mungkin saya harus melaksanakan ibadah haji sementara saya masih menanggung beban bagi anak anak yang masih kecil dan butuh biaya pendidikan dan perawatan. Shofi lebih mementingkan anak-anak nya yang masih butuh pendidikan dan perawatan dibanding menunaikan haji. Dalam hal ini shofi seharusnya lebih mementingkan akhirat dibanding dengan dunia,karena dunia hanyalah semata.
    Sekian terimakasih

  22. Ega Sopana berkata

    Part 1 Mencari Tuhan Dikaki Ka’bah
    Novelnya menarik dari perbedaan pendapat antara suami istri yaitu shofi dan siti. Siti ingin sekali menunaikan haji karena itu sebuah kewajiban bagi yang mampu, sedangkan shofi bahwa ibadah haji penuh makna sosial penuh makna sosial. Bagaimana mungkin saya harus melaksanakan ibadah haji sementara saya masih menanggung beban bagi anak anak yang masih kecil dan butuh biaya pendidikan dan perawatan. Shofi lebih mementingkan anak-anak nya yang masih butuh pendidikan dan perawatan dibanding menunaikan haji.

  23. Naufal Faruq berkata

    Assalamualaikum..
    Novel ini sangat inspiratif karena terdapat tokoh (Shofi) yg ingin menunaikan ibadah haji akan tetapi dia tidak bisa karena dia lebih mementingkan pendidikan anak-anak nya

  24. Silmy Awwalunnisa TIPS/1
    Silmy Awwalunnisa TIPS/1 berkata

    Hidup memanglah pilihan. selama hidup kita di paksa memilik satu dari dua atau lebih pilihan. kita di didik dalam lingkungan beragama agar kita dapat belajar untuk lebih baik dalam memilih pilihan. jika terdapat dua pilihan dan keduanya wajib, maka kita lihat kemampuan kita saat ini berada seperti apa. bukankah ahi di wajibkan bagi umat islam yang mampu?! juka memang tokoh shofi masih memiliki beban yaitu anknya, mulailah menabung karena menabung tak harus banyak namun bertarget. maka ia akan dapat dikatakan mampu untuk berhaji.

  25. Isah Siti Khodijah T.IPS/A/1 berkata

    Bismillahirrahmanirrahim…
    Assalamu’alaikum wr.wb
    Part 1 “Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah”, setelah membaca dapat saya analisis bahwa Shofi sangat berjiwa sosial dan sangat mementingkan pendidikan. Itu dibuktikan dengan dia membiayai sekolah anak kandung dan anak anak asuh nya. Saya pun sangat mendukung dan harus mencontoh apa yang dilakukan Shofi yaitu disaat ke egoisan merasuki hati dan pikirannya tentang keraguan untuk menunaikan rukun islam yang ke 5 (haji),Shofi masih bisa membuka hatinya untuk bertanya dan meminta saran kepada orang lain yang lebih mengerti tentang persoalan yang sedang dihadapi nya. Karena ada pepatah mengatakan “Malu Bertanya Sesat Di Jalan”, jadi, seberapa pintar nya kita dalam mengambil keputusan, sebaiknya konsultasikan dulu keputusan yang kita ambil benar atau salah kepada orang yang jauh lebih mengerti terhadap persoalan yang kita hadapi. Sekian terima kasih wasalamu’alaikum wr.wb

    1. Cecep Sumarna
      Cecep Sumarna berkata

      keterbukaan untuk menerima saran dan pikiran orang lain adalah watak masyarakat Muslim yang terdidik. Karena itu, sebetapapun kita merasa berbeda dalam pandangan dengan orang, mendengarkan dan meminta pendapatnya adalah bagian penting dari perjalanan pendidikan. Thank a lot

    2. Cecep Sumarna
      Cecep Sumarna berkata

      Jika anda ingin bergabung dengan lyceum indonesia, silahkan gabung. Mulai dari Home di sana ada tulisan lyceum Community. lalu setelah itu pijit join now. Nice to meet you …

  26. maemunah fadillah berkata

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Novel mencari tuhan di kaki ka’bah pada part 1 memberikan banyak sekali pelajaran setelah saya membacanya.
    Di dalam cerita tersebut menceritakan seorang shofi yang memiliki kepribadian yang sangat baik dalam memikirkan kehidupan sesamanya ( kemanusiaan ). Namun, disisi lain shofi juga sadar bahwa kewajibannya bukan hanya tentang kewajiban pada sesamanya saja (Hablum minannas), Dia pun memiliki kewajiban yang lebih penting dari apa yang telah dia lakukan terhadap sesamanya, yaitu kewajiban dirinya terhadap Tuhannya.
    Sekian terimakasih

    1. Cecep Sumarna
      Cecep Sumarna berkata

      ya semoga kita mampu mengambil hikmah nya ya

    2. Cecep Sumarna
      Cecep Sumarna berkata

      Oke dan selamat terus membaca

  27. maemunah fadillah berkata

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Novel mencari tuhan di kaki ka’bah pada part 1 ini, memberikan banyak sekali pelajaran setelah saya membacanya. Dalam cerita tersebut, menceritakan seorang shofi yang memiliki kepribadaian yang sangat baik dalam memikirkan kehidupan sesamanya ( kemanusiaan) . Namun, disisi lain shofi pun sadar bahwa kewajibannya bukan hanya tentang kemanusiaan saja.Dia pun memiliki kewajiban yang lebih penting dari apa yang telah dia lakukan terhadap sesamanya, yaitu kewajiban kepada Tuhannya.
    Sekian terimakasih

  28. maemunah fadillah berkata

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Novel mencari tuhan di kaki ka’bah pada part 1 ini, memberikan banyak sekali pelajaran setelah saya membacanya. Di dalam cerita tersebut menceritakan seorang shofi yang memiliki kepribadian yang sangat baik dalam memikirkan kehidupan sesamanya ( kemanusiaan ).Namun, disisi lain shofi juga sadar bahwa kewajibannya bukan hanya tentang kemanusiaan saja. Dia pun memiliki kewajiban yang sama penting nya dengan apa yang telah dia lakukan, bahkan dapat dikatakan lebih penting, yaitu kewajiban dirinya atas Tuhannya.
    Sekian terimakasih

    1. Cecep Sumarna
      Cecep Sumarna berkata

      ok thank

  29. maemunah fadillah berkata

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Novel mencari tuhan di kaki ka’bah pada part 1 ini, memberikan banyak sekali pelajaran setelah saya membacanya. Di dalam cerita tersebut menceritakan seorang shofi yang memiliki kepribadian yang sangat baik dalam memikirkan kehidupan sesamanya ( kemanusiaan ).Namun, disisi lain shofi juga sadar bahwa kewajibannya bukan hanya tentang kemanusiaan saja. Dia pun memiliki kewajiban yang sama penting nya dengan apa yang telah dia lakukan, bahkan dapat dikatakan lebih penting, yaitu kewajiban dirinya atas Tuhannya.
    Dan dari sinilah pergulatan bathin shofi pun dimulai, yaitu pergulatan bathin yang sulit di pertemukan antara keyakinan ketuhanan dengan keyakinan kemanusiaan.
    Sekian terimakasih

  30. Aida Nur Aisyah (T.IPS 1/A) berkata

    Bismillahirrahmanirrahim…
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Part 1 novel “Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah”
    Setelah membaca part 1 dari novel “Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah”, kemudian saya analisis dari segi pendidikannya saya mendapatkan nilai pendidikan dari tokoh Shofi yaitu tokoh Shofi dalam segenap keadaan dan keterbatasan yang ia miliki, ia berusaha untuk mementingkan pendidikan bagi anaknya maupun anak angkatnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa tokoh Shofi sangat menjunjung tinggi pentingnya pendidikan. Selain itu, tokoh Shofi juga menerapkan prinsip “long life education” dalam hidupnya. Hal itu dibuktikan dengan Shofi yang bertanya tentang kewajiban berhaji pada pamannya yang juga seorang Kiayi di desanya. Sehingga ia menyadari bahwa seberapa pentingnya kewajiban berhaji itu.
    Sekian. Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr.wb

    1. Cecep Sumarna
      Cecep Sumarna berkata

      Thank a lot … good idea ..

  31. dhini apriliani 1/b ips berkata

    asalamualaikum. setelah saya membaca part 1 ceritanya sangat menarik dan memberikan pelajaran, shofi dan siti adalah tokoh suami istri yang memiliki pendapat yang berbeda dalam melaksanakan ibadah haji. ibadah haji merupakan rukun islam ke 5 yang wajib di laksanakan bagi yang mampu. siti selalu mengajak shofi menabung untuk ibadah haji tetapi shofi selalu menolak karena ia masih menanggung beban pendidikan dan perawatan anak asuhnya. padahal di luar sana banyak orang yang belum mampu secara finansial bisa melaksanakan ibadah haji karena dari hatinya sudah berniat dan memiliki keinginan yang besar untuk melaksanakan ibadah haji. memiliki keinginan yang baik sekalipun sulit bagi allah tidak ada yang tidak mungkin, shofi memang sebenarnya mampu secara finansial tetapi ia belum memiliki keinginan dari hati untuk melaksanakan ibadah haji
    sekian terimakasih…

    1. Cecep Sumarna
      Cecep Sumarna berkata

      Ya … begitulah keadaannya. Di mana posisi kita dan atas posisi itu, bagaimana kita melangkah.

  32. Muhamad Udin TIPS-A/1 berkata

    Assalmualaikum wr.wb
    Pada part 1 itu sangat penasaraan alur ceritanya karena Shofi bingung dengan istrinya yang mengajak dirinya untuk Beribadah Haji dengan cara menabung.
    Pada suatu hari Shofi menceritakan permasalahan yang dihadapinya kepada Kyai Yusuf, kayi Yusuf pun Menjelaskan bagaimana Perintah Haji yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Memberi Nasehat yang Sejelas-jelasnya kepada Shofi.
    Shofi pun tak kuasa menahan air mata yang terus mengalir membasahi pipi kanan kirinya. Terima kasih.

  33. Muhamad Udin TIPS-A/1 berkata

    Assalamualaikum wr.wb
    Pada Part 1 itu sangat penasaran alur ceritanya, karena Shofi bingung dengan istrinya yang mengajak dirinya untuk Beribadah Haji dengan cara menabung.
    Pada suatu hari Shofi menanyakan permasalahannya kepada Kyai Yusuf,
    kyai Yusuf pun menjelaskan bagaimana Perintah Haji yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Memberi Nasehat yang Sejelas-jelasnya, Shofi pun tak kuasa menahan air mata yang terus mengalir ke pipi kanan kirinya. Terima kasih.

  34. Yuni Anna berkata

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Pada part pertama ini sangat lah menarik dan membuat penasaran para pembacanya, pada part ini juga mengajarkan kita bahwasannya memberi makan fakir miskin itu sama saja mencium hajar aswad di ka’bah. dan mengajarkan kita bahwa kalau kita sudah mampu baik rohani ataupun jasmani sebaiknya cepet-cepet lah tunaikan rukun islam yang ke lima ini.

    1. lyceum
      lyceum berkata

      Ya itulah yang dinamakan dengan haji sosial

  35. Uak yudi berkata

    novel ini sangat menarik karena menampilkan masalah perbedaan pendapat kewajiban pergi haji antara suami dengan istri

  36. Uak yudi berkata

    novel yang sangat menarik karena didalamnya ada permasalahan perbedaan pendapat antara suami dengan istri tentang ibadah haji. menariknya, sang suami tidak begitu paham dengan persoalan haji dan fungsionalnya padahal orang tua dari suami itu juga seorang kyai sering memberikan ceramah tentang ibadah haji

  37. Lenny Erdiani Choerun Nissa berkata

    bismillahirahmanirahim
    novel yang sangat menarik, untuk dibaca oleh para pelajar. banyak pesan yang dapat diambil dari kisah yang sangat menarik ini.
    seperti yang terkandung dalam Q.S An-Nahl:125 yang artinya “Serulah (manusia) kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. sesungguhnya tuhanmu, dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”. seperti yang dilakukan oleh sofi dia melakukan diskusi dan berdebat dengan paman nya yaitu kiyai yusuf, mengenai seberapa penting umat islam harus melakukan ibadah haji? hingga akhirnya menghasilkan satu keterangan dimana ibadah haji ini, adalah ibadah yang wajib dilakukan oles seluruh umat islam

  38. Firman Maulana mpi smt 4 berkata

    Part 1
    Setelah saya baca dengan teliti, novel ini mempunyai ketertarikan sendiri dibandingkan dengan novel-novel lain yg pernah saya baca. Dalam penggalan cerita diatas ibadah haji merupakan rukun islam yg terakhir dan wajib untuk dilaksanakan (bagi yg mampu), kata mampu tersendiri memiliki arti mampu secara financial, jasmani, rohani, dan sudah mempersiapkan segala-galanya dgn sungguh sungguh. Dalam cerita diatas seorang tokoh yg bernama shofi sedang dilanda dilematis kerana harus memilih antara harus menabung untuk menunaikan ibadah haji ataukah menunda ibadah haji sampai tanggung jawabnya sebagai seorang kepala rumah tangga selesai setelah anak kandung serta anak angkat dari mereka sudah bisa hidup mandiri. Tetapi setelah shofi berdiskusi dgn paman nya yaitu seorang kyai besar di desa tersebut, ia mendapat pencerahan bahwasanya ayat suci al Qur’an, yakni surat Ali Imran [3]: 97 yang artinya:

    “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allâh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. Imam Ibnu Katsir, menjelaskan hal ini melalui hadits Rasulullah yang periwayatannya berasal dari Ibnu Abbâs dengan penjelasan sebagau berikut: “Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allâh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”, yaitu: Barangsiapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya dia telah kafir, dan Allâh tidak memerlukannya”. Dari penggalan cerita diatas saya mempunyai persefektif sendiri bahwa melakukan kebaikan ( dijalan Allah ) janganlah ragu dan jangan pula takut miskin, karena yg meciptakan kita itu sendiri adalah yg Maha Kaya.

  39. Muhammad Yasir Arafah MPI/4 (1415109012) berkata

    Bismillahirrahmanirrahim, pada part 1 sangat menarik dan membuat penasaran. Disini mengungkapkan bagaimana keresahan dan rasionalisasi mengenai ibadah haji. Shofi yang hidup pada zaman modern sangat kritis dan mencari tahu mengenai makna haji yang seutuhnya, kepada beberapa orang yang menurut dia bisa untuk dimintai pendapatnya.
    Mengenai keresahan shofi yang sangat menarik untuk kita ikuti, karena dari sini kita tahu permasalahan kontemporer yang ada sekarang dan mungkin kedepan bakalan terjadi. Pada bagian satu ini masih menjelaskan bagaimana perintah haji yang terdapat dalam Al-Quran.
    Shofi mengeluarkan apa yang mengganjal pada dirinya, bahwa bagaimana haji itu bisa diwajibkan dan kemampuan untuk berhaji sendiri. Terima kasih

  40. Muhammad Yasir Arafah MPI/4 (1415109012) berkata

    Bismillahirrahmanirrahim, di dalam part 1. Menceritakan mengenai keresahan shofi dan kerasionalan mengenai ibadah haji, bahwa perintah berhaji terdapat di dalam beberapa surat dalam Al-Quran.
    Bahwa haji ditunaikan bagi orang-orang yang mampu baik lahir maupun batin, ketika keadaan itu sudah terpenuhi maka wajib bagi kita untuk melaksanakan ibadah haji.
    Ibadah haji juga bukan hanya mengandung kegiatan spiritual belaka, melainkan mengandung kegiatan sosial dll. Dengan ini shofi mengungkapkan apa yang menjadi kegelisahannya.

  41. Ega Sugandi (1415109003) MPI/4 berkata

    Salah satu rukun islam yang paling terakhir yaitu haji, dijelaskan dalam islam bahwa menunaikan haji untuk yang mampu, yaitu mampu dalam materil maupun jasmani. Salah satu yang menjadi persoalan bagi setiap umat muslim khususnya di Indonesia masih banyak yang menafsirkan menunaikan haji perlu membutuhkan uang yang tidak sedikit. Hal ini yang menjadikan permasalahan yang perlu dipikirkan. Sama halnya dengan keluarga shofi yang ingin melakasanakan kewajiban sebagai seorang muslim yaitu dengan menunaikan haji karena haji merupakan kesempurnaan bagi setiap umat muslim. Keluarga shofi pun ingin sekali dapat menunaikan ibadah haji apalagi dorongan sang istri siti yang ingin segera datang kerumah Allah sudah tidak bisa dibendung lagi tekad yang sudah bulat terus dia dedikasikan kepada suaminya shofi dengan menyuruh untuk menabung, namun sang suami shofi didera kebimbangan yang bergejolak dalam dirinya. Biaya haji yang mahal ditambah kebutuan sehari-hari yang harus ditunaikan mulai dari dapur, biaya sekolah anak-anaknya ditambah mempunyai anak asuh. Hal ini yang membuat shofi menjadi ragu untuk berhaji. Namun berkat arahan dan nasehat sang paman yang notabene sebagai seorang kyai dapat menyentuh hati shofi dan merubah cara pandangnya tentang ibadah haji.

  42. Siti Nurbaeti (MPI/4) berkata

    Novel yang sangat menarik ! berbeda dengan kebanyakan novel yang biasanya. Letak pembeda antara novel biasa dengan novel mencari Tuhan di kaki ka’bah terletak pada awal cerita. Apabila novel biasa dominan pada awal cerita mengisahkan tentang latar belakang, profil, atau kehidupan tokoh utamanya, namun ketika saya membaca novel mencari Tuhan di kaki ka’bah pada awal kisahnya saja sudah terjadi konflik yang sangat serius. Teruntuk shofi janganlah takut akan berkurangnya rezeki yang diberikan oleh Tuhan kepadamu, Allah Maha kaya dan tidak ada yang sanggup menandingin-Nya.

  43. Koko Santoso (MPI/4) berkata

    Part 1
    Pelajaran yg dapat diambil pada part pertama novel ini yaitu mengenai rasionalitas keresahan duniawi yg menganggap bahwa ketika menunaikan ibadah haji sedangkan terdapat pula kewajiban2 dalam mengurus anak dikhawatirkan hartanya akan tidak cukup, hal ini menjadi dilematis tokoh Siti. Namun kehadiran pamannya ternyata menjadi terang dalam nuansa kegelapan. Nasihatnya yg dilandasi oleh ayat Al-Qur’an serta hadits nabi membuat Siti sadar bahwa Allah ajja wajala Maha Besar, Maha Pemberi Rahmatan lil alamin~

  44. Siti Sutihatin-MPI/4 berkata

    Dari penggalan cerita di atas tampak bahwa ibadah haji merupakan kewajiban bagi setiap muslim jika mampu melaksanakannya, baik mampu secara finansial, jasmani maupun rohani. Memang tidak semua muslim bisa menunaikan ibadah haji, hanya mereka yang terpilih oleh Allah.
    Cerita di atas menggambarkan kebimbangan seorang Shofi yang dibujuk oleh istrinya untuk menunaikan ibadah haji. Namun ia menolaknya dengan alasan masih ada kewajiban lain yang harus ia tunaikan sebagai seorang kepala keluarga. Dari penggalan cerita tersebut, Shofi khawatir jika ia tidak bisa melaksanakan kewajibannya sebagai kepala keluarga secara optimal. Akan tetapi Allah dengan jelas telah mengatakan dalam firman-Nya bahwa dengan menunaikan ibadah kepada-Nya tidak akan membuat seorang muslim menjadi miskin. Sesungguh,nya Allah tidak akan menguji kaum-Nya kecuali kaum tersebut tidak mampu melalui ujian-Nya.

  45. Sri hardianti-MPI/4 (1415109024) berkata

    Assalamualaikum
    Dalam part 1 ini di novel mencari tuhan di kaki ka’bah..
    Setelah saya baca di bagian awal ini..
    Shofi mengalami pergulatan batin yang teramat, sebab ia menginginkan bisa menyempurnakan rukun islamnya akan tetapi di sisi lain ia juga mempunyai tanggung jawab lainnya yaitu harus membiayai kluarga.
    Memang dalam islam kalau kita sudah mampu secara financial, secara fisik dan juga bekal untuk yang di tinggal.. namun kita juga harus memprtimbangkan kembali berhaji atau membiayai keluarga.

  46. Indah kusumawati (mpi-4) berkata

    Dalam novel ini mengajarkan kita, khususnya pribadi saya sendiri untuk seimbang antara habluminannas (hubungan manusia dg manusia) dan habluminallah (hubungan manusia dengan Allah). Memang hubungan manusia dengan Allah itu tidak sekedar dgn berangkat haji saja melainkan bisa dgn mengerjakan ibadah-ibadah lainnya. Tapi alangkah baiknya jika kita sudah mampu dalam hal materi, jasmani, dan rohani kenapa tidak disegerakan. Jangan takut tidak bisa mencukupi keluarga karna berangkat haji. Allah sudah menjamin rezeki pada setiap umatnya. Jangankan manusia, hewanpun sudah dijamin rezekinya. Misalnya cicak dibalik pintu pun sudah ada rezekinya.

  47. Rahmat Maulana (MPI-4) berkata

    Novel ini cukup menarik untuk dibaca, karena mengingat bahwa ibadah haji merupakan bagian dari rukun islam yang harus terpenuhi bagi orang yang mampu, selanjutnya tatkala kita diberi dua pilihan antara keyakinan terhadap perintah Allah dengan keyakinan terhadap kewajiban atau tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga, maka kita harus mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan shalat sunah istikharah, salah satu pendekatan ini akan mengantarkan pada kebenaran dan ketidak ragu-raguan terhadap apa yang akan kita pilih, dan jika kita menginginkan sesuatu maka laksanakanla shalat sunat hajat niscaya Allah akan mengabulkan dan memberikan keinginan kita.
    #Mudah-mudahan kita semua termasuk orang-orang yang beruntung

  48. Riana sri anisah -MPI/4 (1415109019) berkata

    Novel ini sangat menarik,setelah saya baca di situ memang ada 2 pendapat yang mengatakan bahwa berhaji itu wajib bagi setiap insan yang mampu atau menunaikan secara kewajiban terlebih dahulu untuk mencukupi kebutuhan keluarganya,menurut pendapat saya berhaji memang di anjurkan allah untuk hamba nya yang memang sudah mampu dan sangat trcukupi dalam kebutuhan keluarga, menurut sya mencukupi dan terpenuhinya kebutuhan keluarga memang harus lebih di prioritaskan, untuk bertemu dengan allah tidak harus dengan cara berhaji,dengan kita slalu menjalankn perintahnya dan menjauhi larangannya, slalu berbuat baik, dan lain sebagainya kita pun sebenarnya bisa bertemu dengan allah.

  49. Nur Aliffah MpI/4 berkata

    Dalam part 1 ini, banyak pelajaran yang kita dapat, diantaranya yaitu, kewajiban seorang muslim untuk menunaikan ibadah haji. Ibadah haji merupakan kewajiban bagi seorang muslim. Menurut pendapat saya melaksanakan ibadah haji merupakan hal yang wajib bagi setiap umat muslim, tetapi wajib disini menurut saya yaitu bagi yang mampu, mampu dalam hal material, maupun nonmaterial. oleh sebab itu bagi kita yang sudah mampu melaksanakan ibadah haji harus segera menunaikan ibadah haji.

  50. Winda Dwi Nurrachmawati (1415109032) MPI-4 berkata

    Novel ini sangat menarik. Karena menggambarkan bagaimana pandangan orang-orang dizaman modern sekarang mengenai ibadah haji yang merupakan ibadah yang wajib dilakukan jika mampu melakukannya, sesuai dengan rukun islam.
    Menunaikan ibadah haji merupak kewajiban seorang muslim begitu juga dengan bertanggungjawab dalam keluarga juga kewajiban. Keduanya dapat terlaksana secara beriringan jika memang kita sudah memantapkan hari dan membulatkan tekad kuad untuk melaksanakan keduanya. Karena Allah tidak akan menjadikan hambanya miskin karena apa usahanya.

  51. Sri Rokhmah-MPI/4 berkata

    Novel diatas sangatlah patut dijadikan pembelajaran bagi seseorang khususnya utk diri sendiri, bahwasanya dlm novel tsb memiliki dua argumen dr satu lingkup keluarga. Dimana shofi sendiri lebih mengacu pada perawatan dan biaya pendidikan anak ketika sang istri menyarankan utk menabung. Namun, disisi lain sang istri justru yakin dengan ketentuan selagi kita mampu, maka berhak dan wajib utk melakukan ibadah haji.
    Mengutip dr hal tsb, bahwasanya Allah tidak akan memberikan beban diluar batas kemampuan seseorang. Yakin bahwa Allah selalu memberikan kemudahan disetiap langkah yg menuju kebaikan.
    Terimakasih..

  52. tubagus rizqy yahya mpi/4 (1415209028) berkata

    Novel yang sangat menarik untuk para remaja baca, novel ini menceritakan dikeluarga ada istri yang menginginkan haji namun sang suami tidak menginginkan buakn karena tak mampu atau sebagainya tapi karena dia melihat ke sisi sosialnya.
    Sebagai hamba, siapapun orangnya, apapun pekerjaannya, bagaimanapun keadaannya pasti ingin memberikan yang terbaik untuk ALLAH SWT. Sebisa mungkin kita harus menjalankan rukun islam yang diantaranya Solat, puasa, zakat dan ibadah yang terakhir adalah ibadah haji. Bagi setiap orang Islam yang beriman ntah dia kaya ataupun miskin pasti menginginkan untuk melaksanakan ibadah haji ini. Saya juga pernah mendengar kata kata seperti ini “Ibadah haji diwajibkan bagi muslim yang mampu secara materi dan fisik” menurut saya ibadah haji itu bukan soal mampu atau tidaknya melainkan tentang panggilan dari TUHAN YME karena banyak orang yang kaya kemudian mereka tidak tergerak hatinya untuk pergi melaksanakan ibadah haji dan banyak orang yang sudah berusaha bahkan semua persyaratan sudah siap, tinggal berangkat, tapi akhirnya tidak jadi berangkat. Ini bukti bahwa ibadah haji merupakan panggilan dari ALLAH SWT

    WASALAMUALAIKUM WR WB

  53. uyunurrohmah MPI semester4 berkata

    novelnya sangat menarik dengan membaca novel ini kita jadi tau akan kewajiban menunaikan ibadah haji dan mudah mudahan menyadarkan kita yg mampu melaksanakannya untuk segera melakukan ibadah haji dan bagi kita yg belum mampu mudah2 diberi jalan dan kemudahan

    1. Dhini apriliani 1/B ips berkata

      Asalamualaikum. Setelah saya membaca di part 1 ini, cerita nya sangat menarik shofi dan siti dua tokoh suami istri yang mempunyai pendapat yang berbeda, berhaji memang wajib bagi yang mampu tetapi masih banyak orang yang sudah mampu dalam hal finansial belum melaksanakan ibadah haji. Shofi memang berfikir secara logis bahwa ia masih menanggung beban biaya pendidikan dan perawatan anak asuhnya. Tetapi banyak orang di luar sana yang memang belum mampu secara finansial melaksanakan ibadah haji tapi karena niat di dalam hatinya ingin melaksanakan rukun iman yang ke 5 itu mereka pergi haji, karena semua tergantung niat karena bagi allah jika mengerjakan hal yang baik tidak ada yang tidak mungkin. Shofi adalah salah satu dari orang yang sudah mampu secara finansial tetapi belum mempunyai niat dari hati untuk melaksanakan ibadah haji. Sekian terimakasih

      1. Cecep Sumarna
        Cecep Sumarna berkata

        Goood …. we wait your comment on next Hajj title

  54. Sri Rahayu MPI/4 (1415109025) berkata

    Novel ini sangat menarik di bagian pertama, dari apa yang telah saya baca dalam novel di atas bahwasanya ada dua sisi yang harus kita pilih apakah melaksanakan perintah Allah untuk Berhaji atau menunda hingga anak-anak yang menjadi tanggung jawab shofi semuanya selesai di laksanakan baru melaksanakan haji, namun mencari Allah tidaklah harus sampai ke Mekkah Baitullah, karena di dalam kehidupan kita pun Allah selalu hadir dalam hati seluruh manusia yang beriman terbukti dalam hembusan napas, ayunan tangan langkah kedua kaki, mata yang melihat, telinga yang mendengar itu semua atas Qudrat dan Irodat Allah SWT. artinya mencari Allah dengan melaksanakan ibadah haji merupakan kewajiban setiap muslim ( bagi mereka yang mampu ) mampu finansial, mampu fisik, jiwa dan raga semuanya harus lengkap. Orang yang berhaji merupakan tamu Allah dalam artian mereka yang berhaji adalah manusia-manusia yang di undang secara khusus oleh Allah SWT. karena banyak orang yang mampu secara finansial tapi belum juga berhaji.
    Sikap saya dalam hal ini jika kita memang muslim sejati dan mampu (kaya) kita tidak hanya menyampaikan dalil-dalil tentang kewajiban haji tapi yang terpenting adalah apabila kita di takdirkan menjadi orang yang memiliki harta yang berlebih mampukah kita menghajikan mereka yang tidak mampu ? atau hanya menganjurkan saja.
    Selanjutnya tentang perintah Allah jangan sampai kita abaikan dalam menjalankanya disesuaikan dengan kemampuan yang kita miliki, karena Allah dalam memberikan beban kepada hambanya telah disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan hamba tersebut begitu juga tanggung jawab terhadap sesama dalam hal kebaikan jangan kita sia-siakan bisa jadi itu adalah nilai yang sama dalam melaksanakan ibadah haji menurut Allah.
    Sekian Barokallah…….

    1. lyceum
      lyceum berkata

      Siiip menarik komentar anda ini