Lihat Bagaimana Kurma Ditanam Jika Ingin Mengawali Bisnis

0 152

Suatu sore saya bertemu dengan senior parter, namanya Ir. Haji Soenoto. Pemilik dan komisaris tunggal perusahaan air Mountoya Cirebon. Lama kami tidak bertemu dengan salah satu tokoh politik nasional ini. Sarjana ITB yang saat ini sedang mempelopori gerakan anti korupsi yang dimulai dari kampus di mana dulu dia belajar.

Mentor Jokowie ketika keduanya sama-sama mengurusi dan berbisnis dalam bidang yang sama, mebeuler itu, meski usianya sudah di atas 60 tahun, tetaplah kelihatan semangat. Muntahan-muntahan pemikirannya, mengalir cukup deras menyelimuti awan yang sore itu memang sedang mendung.

Sore itu, kami ngobrol lama sampai malam hampir larut dan mau berganti menjadi pagi. Berbagai isu nasional dan internasional kami diskusikan secara bersama. Beberapa pejabat bank juga ada didalamnya, tentu apalagi tokoh-tokoh politik.

Ia mendongeng mulai dari isu politik, hukum dan tentu karena kami sama-sama berada dalam dunia bisnis, membincangkan masa depan ekonomi Indonesia. Suatu kondisi ekonomi yang nafasnya terasa sangat sengau. Ia berada dalam apitan kekuatan ekonomi global.

Belajar dari Pohon Kurma

Dari sekian tema yang menghentak diri sata adalah, pembicaraannya tentang penanaman pohon Phoenix dactylifera. Sebuah pohon yang menghasilkan buah sangat pavorit bagi masyarakat Muslim, khususnya ketika puasa tiba. Pohon itu menghasilkan buah yang hari ini, dikenal dengan sebutan buah kurma.

Jujur saya tertegun menyaksikan bagaimana dia menerangkan tentang proses penanaman biji kurma. Prosesnya begitu kuat. Dalam penjelasannya, biji kurma yang ditanam itu, harus ditutup oleh batu yang sangat kuat. Bila perlu besar. Secara logika, bagaimana biji kurma menghasilkan tunas, padahal ia ditutup dengan batu besar.

Benih Kurma, sebelum tunas muncul ke permukaan, ia setidaknya mengalami 10 kali menukikkan dirinya ke tanah. Terus berulang-ulang. Bolak balik antara mau menyaksikan matahari atau balik lagi ke bumi. Mengapa? Karena tunas itu susah ke luar. Tunasnya terhimpit atau terhalang batu yang kokoh dan besar. Meski prospek bisnis di jalur ini cukup lumayan baik, tetapi bisnis ini memiliki prospek agrobisnis berjangka panjang. Tidak untuk jangka pendek.

Dia menjelaskan lebih lanjut bahwa daya tahan hidup  Phoenix dactylifera tergolong cukup lama. Tentu hal itu jika dirawat dengan baik. Jika prosesnya produksinya dilakukan dengan cara yang baik, maka, ia akan tetap berproduksi dan bertahan hidup dalam usia ratusan tahun.

Inilah Filosofi Bisnis

Sepulang ke rumah, yang terbayang oleh penulis hanya satu, yakni pohon kurma. Jika apa yang disampaikan maestro air Cirebon itu benar, maka, inilah filosofi yang paling kongkret dalam menjalani hidup. Tentu yang paling tepat adalah untuk dunia bisnis. Mengapa? Sebab jika nalar pohon  Phoenix dactylifera diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka, foundasi ekonomi dan sosial kita akan menjadi sangat kuat.

Kita tidak mungkin tampil ke permukaan, ketika foundasi internal kita belum kuat. Maka, apa yang diperagakan pohon Phoenix dactylifera menjadi indikasi nyata, bahwa hidup kuat hanya akan diperoleh jika foundasi dan akar-akar kehidupan kita kuat.

Masyarakat kita hari ini, justru berlawanan arah. Sesuatu yang belum kuat sudah tampil kepermukaan. Mengambil gaya hidup dan menampilkan diri sebagai sosok yang luar biasa, padahal didalamnya sangat keropos.  By. Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.