Inspirasi Tanpa Batas

Lima Bentuk Negara Dalam Nalar Al Farabi | Intelektual Muslim Part-8

Lima Bentuk Negara Dalam Nalar Al Farabi | Intelektual Muslim Part-8
0 145

NALAR Al Farabi. Manusia adalah makhluk social yang tidak mungkin hidup sendiri. Karena ia tidak mungkin hidup sendiri, maka, ia membutuhkan tata aturan pergaulan dan system kehidupan yang menjamin keberlangsungan dirinya sebagai makhluk social dalam suatu kumpulan yang disebut dengan negara. Karena itu, negara lahir untuk dan Karena ada kepentingan masyarakat yang bersepakat membentuk suatu komunitas yang ada didalamnya. Inilah mengapa akhirnya ia menyebut bahwa inti atau substansi dari negara adalah rakyat.

Untuk dan karena itu, negara menurutnya hadir sebagai bentuk kebutuhan mereka yang ada didalamnya. Lalu untuk menjamin keberlangsungan negara sebagaimana dimaksud oleh para penghuni yang ada dalam negara itu, ia membutuhkan suatu system yang disebutnya dengan mabadi yang berarti dasar, titik awal, prinsip, ideologi yang tertuang dalam apa yang disebut dengan qanun atau undang-undang yang akhirnya mengikat seluruh warga dimaksud. Mabadi sendiri lahir bukan untuk kepentingan apa-apa, tetapi, untuk kepentingan warga negara dimaksud.

Negara Karena itu, menurut al Farabi, harus difahami sebagai sebuah kebutuhan agar menjamin masyarakat bangsa yang ada didalamnya tetap hidup dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan. Negara juga dituntut memberi keamanan dan kenyamanan bagi setiap warga untuk memperoleh kebahagiaan hidup.

Lima Bentuk Negara Dalam Nalar Al Farabi

Al farabi membagi negara menjadi lima bentuk. Kelima bentuk dimaksud adalah sebagai berikut:

Pertama. Al Madinah al Fadhilah yang jika diterjemahkan menjadi negara utama. Inilah negara sebagaimana pernah dipragmentasi oleh para Nabi dan Rasul, yang kemudian dilanjutkan oleh para pengikutnya yang shalih dan mendapat petunjuk resmi dari Tuhan yang dalam Bahasa dia disebut dengan mereka yang menjadi failasuf.

Kedua. Al Madinah al jahiliyah atau negara orang-orang bodoh. Inilah bentuk negara yang bukan hanya tidak pernah dipimpin para nabi dan Rasul, juga tidak pernah dipimpin para filosof. Para pemimpin yang memimpin mereka adalah mereka yang tidak memenuhi persyaratan sebagai pemimpin. Jenis negara semacam ini, tidak mungkin mampu melahirkan masyarakat yang bahagia.

Ketiga. Al Madinah al Fasiq yakni suatu negara yang pemimpin dan rakyatnya itu, sebenarnya mengenal apa yang dimaksud dengan kebahagiaan, hanya mereka tidak mampu menunjukkan dirinya sebagai sosok yang mampu berbuat kebahagiaan itu. Tingkah laku para pemimpin dan masyarakatnya sama dengan tipologi negara yang bodoh.

Keempat. Al Madinah al Mutabaddilah yakni suatu negara yang sebelumnya memenuhi persyaratan untuk disebut sebagai negara yang utama, dipimpin minimal oleh para failasuf, hanya kemudian ia berubah menjadi negara yang tidak menentu, akibat adanya pertentangan dan perbedaan kepentingan dalam membentuk negara. Inilah negara yang sesungguhnya harus disesalkan Karena ia ke luar dari cita-cita pembentukkannya.

Kelima. Al Madinah al Dallah yakni suatu negara yang bukan hanya dipimpin oleh orang yang seolah menerima wahyu, tetapi, fatanya mereka terbiasa melakukan penipuan kepada rakyatnya baik melalui ucapan maupun perbuatannya. Akibatnya, negara semacam ini, bukan saja tidak akan memperoleh kebahagiaan bagi rakyatnya, tetapi, bahkan ia tidak akan mungkin memperoleh penghargaan dan kecenderungan dikucilkan oleh negara lain. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...