Linda dalam Puncak Asmara yang Salah | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part – 13

Linda dalam Puncak Asmara yang Salah | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part – 13
0 138

Linda dalam Puncak Asmara yang Salah. Saat Ghina demikian asyik menulis semua lakon cintanya bersama Luthvi, entah mengapa tiba-tiba lampu kompuetr Ghina menyala dan membunyikan suara. Ting … ting …. tong. Muncul sebuah Surel di sudut kanan komputernya yang selalu menyala kalau siang hari. Wajah yang tidak asing bagi dirinya itu, tersenyum. Dia adalah Linda sahabat Ghina. Anak sang kyai Desa yang bersahaja namun selalu memancarkan suka cita dan karakter periangnya sebagai seorang perempuan penuh rona.

Dengan tergopoh-gopoh, Ghina segera membuka Surel dari Linda. Di situ terdapat tulisan Linda untuk Ghina. Tulisan ini berbunyi sebagai berikut: “Ghin … apa kabar. Kamu pasti baik dan selalu damai ya … dengan suami kamu. Aku selalu memantau perkembangan kamu lho, termasuk saat kamu berada di Jerman. Aku bahagia mengikuti dinamika kamu. Betapa sejujurnya aku ingin sekali-kali dapat mengunjungi negeri yang demikian memukau di masa lalu akan keberhasilannya dalam bidang teknologi.

Ghina segera menjawab tulisan Linda dengan menyatakan: “Hmmmm …. Aku baik dan betapa aku bahagia! Seorang dosen bergelar doktor Aritmatik masih berkenan mengirim Surel untukku. Aku selalu kikuk kalau urusannya dengan kamu, Lin. Bersama suamiku aku dalam keadaan baik. Meski ….. ach … tidak jadilah … nanti kalau kita memiliki ruang dan waktu untuk bertemu di darat, aku pingin bercerita segala hal tentangku. Termasuk aku sedang berada dalam puncak ketidakmengertianku sebagai seorang wanita.

Linda segera menjawab. Oke … Ghin. Aku juga begitu. Betapa aku merindukan kalian. Kudengar posisi dan karier Yanti di Kantor kamu juga membaik. Aku bahagia sekali. Bahkan belakangan ada informasi yang masuk kepadaku, Yanti katanya sudah menjadi seorang Magister Kebijakan Publik ya …. Aku sangat percaya, Yanti tak mungkin seperti itu, tanpa kamu.

Ghina segera menjawab. Iya … dia sudah menjadi Magister. Berlebihan jika kamu bilang, Yanti hebat karena aku. Aku yakin selain dia memang cerdas, juga banyak terinspirasi oleh kita. Hebatnya lagi, Yanti sangat disukai bossku. Boosku begitu ke sengsem. Tetapi Yanti selalu menolak dengan berbagai alasan.

Oooh begitu ya kata Linda. Baik kalau begitu. Hebaat dia ya … Linda lalu menulis. Ghin … sorry ya … jam ngajarku masuk lagi nich. Nanti aku in box lagi ya …  By… terima kasih ya … Ghina hanya mampu menulis. Ya … ya … meski sejujurnya aku ingin curhat kepadamu. Linda menjawab terakhir. Iya sama …. ! Aku juga pingin curhat.

Puncak Asmara yang Salah

Linda berjalan menuju ruang kuliah. Dilihatnya, mahasiswa belum semuanya masuk kelas. Ia menunggu beberapa waktu. Saat menunggu kehadiran seluruh mahasiswa di dalam kelas, ia tertegun sendiri. Ia memperhatikan kalimat-kalimat yang ditulis Ghina. Ia memiliki keyakinan kalau Ghina sama dengan dirinya, kelihatannya kembali jatuh cinta. Sama seperti aku. Masalah apalagi yang private bagi seorang perempuan, kecuali segala hal yang berurusan dengan cinta. Tetapi apa mungkin? Ghina kan shalehah …

Linda terus membuncah … dan terus melamun. Ia sendiri juga sama. Ia memiliki suatu asa yang kayaknya baru ia rasakan. Ia bukan hanya sedang peduli pada laki-laki lain selain suaminya, tetapi, juga pada sesuatu yang menurut ukuran dirinya keliru. Ia menyandarkan semua asa pada kultur keluarga yang menurut ukurannya sangat salah jika rasa yang dimilikinya harus menjadi kenyataan. Tak kubayangkan bagaimana jika hal ini benar-benar terjadi.

Linda membathin dengan mengatakan: “Suamiku sangat baik. Aku tak punya alasan untuk membuat jarak dengan dirinya sedikitpun. Banyak keluarga yang takut kalau suaminya mencintai perempuan lain. Mengapa aku tidak! Justru sejujurnya aku berharap, suamiku memiliki perasaan cinta kepada peremouan lain, agar aku memiliki alasan untuk berpisah dengan dirinya”. Ya Allah ampunilah aku. “Astaghfirullah al Adzim”, maafkan aku. Ghina terus membathin.

Suamiku tetap baik. Sebetapapun mungkin aku marah atau membuat dia jengkel, dia tetap tersenyum. Sebetapapun beban dia sangat berat, dia tetap asyk bersamaku. Kadang aku ingin lari dari kenyataan ini. Aku tak kuasa menahan semua gejolak yang aku rasa, tetapi aku semakin tak berdaya. Kubayangkan umurku juga terus merangkak menua. Aku merasa semakin tak dewasa. Keremajaanku malah semakin terus menggelayuti pikiran dan nalar-nalar keremajaanku.

X File Linda yang Jitu

Dalam keadaan melamun terus di dalam kelas, Linda tiba-tiba membuka X Filenya. Ia membaca dua paragraf penting atas tulisannya beberapa bulan sebelumnya. Tulisan itu berbunyi sebagai berikut:

Tuhan …. Sebagai manusia biasa aku tak punya alasan untuk menolak cintanya. Selain dia sangat gagah, parlente dan memiliki full power dalam hidup, ia demikian santun. Ia begitu memukau dan membuat siapapun akan tertuju mata kepadanya, jika dia ada di hadapan siapapun. Tutur katanya sangat santun dan mencerminkan seorang intelektual yang sangat genius. Aku pernah dipujanya sebagai Kate Winslet. Saat itu aku nggak tahu cerita awalnya … tetapi tiba-tiba berkata: Bukan … yang benar kau adalah Jack Dawson atau Leonardo diCaprio. Kami sama-sama tersenyum membayangkan indahnya cinta dua remaja dalam Film Titanic yang masyhur.

Saat itu, sekali kami tersenyum bersama. Mungkin karena aku bangga disebut Kate Winslet atau dia juga bangga disebut Dawson. Lalu dengan ramah dia mengatakan: Sejujurnya, kau adalah primadona dari seluruh lecture di kampus ini. Seandainya Tuhan mempertemukan aku bersamamu di 20 tahun yang lalu, aku tahu ceritanya tidak seperti ini. Karena itu, bagaimana kalau kau kupanggil Winslet. Aku menjawab boleh asal dirimu mau kusebut Dawson.

Perjalanan waktu memutarkan segalanya. Hingga akhirnya aku hampir selalu terlelap dalam bayangan keindahan senyum rekah dirinya yang tak pernah memudar. Terlebih saat di mana, kami tiba-tiba melakukan riset bersama di tempat yang sangat jauh sekali, Yakni di Wamena.Banyak hal indah yang kulakukan bersama, yang tak mungkin kuceritakan kepada siapapun, termasuk tak mungkin kutilis dalam buku ini.

Lupa Mulai Mengajar

Tuhan jagalah aku dalam segenap keterbatasanku sebagai seorang manusia. Sebagai seorang wanita yang sesungguhnya sangat lemah. Meski banyak pihak selalu berkata, bahwa aku kuat. Ya mungkin aku kuat menerjang apapun. Tetapi, menahan sebuah rasa dalam apa yang disebut cinta, sejujurnya aku terkapar.

Dalam lamunan itu, seorang mahasiswa tiba-tiba nyeletuk. Bu kami sudah siap dan tampaknya semua sudah hadir. Linda segera bangkit dan menggesekan matanya. Lalu ia berkata: “mohon maaf aku sedikit terpeseona pada sesuatu yang kutahu bahwa kalian tidak boleh tahu”. Ia tersenyum simpul dan mahasiswa bengong. Linda kemudian mengambil spidol dan langsung menuju papan tulis. Ia menyampaikan perkuliahan yang biasanya sangat ekspresif, kali ini ia begitu tampak lemah. By. Charly Siera –bersambung.

 

Komentar
Memuat...