Linda dan Puisi Kerinduan | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part – 14

Linda dan Puisi Kerinduan| Noktah Kerinduan Tuhan-Part 14
0 303

Puisi Kerinduan – Ghina dan Yanti, berencana bertemu dengan Linda. Mereka saling mengirim surat elektronik melalui emailnya masing-masing. Melalui surel itulah, ketiganya sepakat untuk bertemu. Mereka hendak melakukan reunian. Reuni terbatas karena hanya diikuti mereka bertiga. Tidak ada yang lain. Ketiganya sepakat untuk tidak membawa suaminya masing-masing. Apalagi tentu tidak membawa anak-anaknya.

Bertemulah mereka di sebuah kafe di Ciateur, Subang Jawa Barat. Pertemuan itu mulai berlangsung pukul 19.00. Masing-masing membawa mobil sedan sendiri-sendiri. Mobil dipacu dengan pelan, karena merayap macet. Di atas gunung dengan suhu udara 12 derajat selsius, pegunungan itu membuat mereka masing-masing memakai pakaian tebal.

Cerita tentang Makna Hidup

Yanti yang pertama kali bercerita. Ia mengatakan, terima kasih atas seluruh perhatian kawan-kawannya. Tanpa kalian, aku mungkin sudah mati dan anak-anakku mungkin sudah busung lapar. Ghina dan kau Linda, membuat aku bisa seperti ini. Saat ini, aku dapat menjalani hidup dengan baik.

Tiba-tiba, Yanti mual. Ia muntah yang tak biasa. Mukanya pucat dan tak mampu berkutik. Lalu Linda mengambil segelas air teh hangat, sedikit dicampur gula. Ghina dan Linda tampaknya, mulai tahu kalau Yanti sedang mengandung. Keduanya berkata dengan serempak, hai Yanti kamu hamil ya …! Iya aku hamil. Kemarin aku menguji coba melalui bidan. Hasilnya, benar aku hamil. Ia berusaha semaksimalkan mungkin untuk menutupi siapa sesungguhnya laki-laki yang menghamilinya itu.

Mereka tertawa terpingkal-pingkal. Hebat ya suami kamu itu. Itu kan teman kita juga Ghin, kata Linda, sedikit keras suaranya. Ghina mengatakan: Iya … dia teman kita. Tapi ko jantan juga dia … mereka kembali tertawa terbahak-bahak. Diapain tuch suami kamu yang sebelumnya kelihatan sangat loyo, tiba-tiba mantap begitu. Yanti diam … dan kemudian dia terus berupaya menyimpan rahasia terdalamnya.

Ketiga wanita yang memiliki usia sama, yakni di kisaran 38-39 tahunan itu, tampak masing-masing sangat cantik. Bahkan mungkin lebih cantik dibandingkan dengan mukanya, ketika masih berumur remaja. Inilah muka manusia tercantik dalam kajian Psikologi. Linda dan Ghina yang sudah menjadi doktor itu, kemudian akhirnya bercerita tentang kondisi keluarga masing-masing. Rupanya baik Linda maupun Ghina, sama. Keduanya sedang menghadapi pergulatan bathin antara mempertahankan cinta kasih suaminya, atau, mereka harus tergoda oleh laki-laki lain.

Ghina dan Linda Berbagi Cerita

Hai Linda, kamu kan pengajar. Apakah kamu suka ada yang menggoda atau tergoda. Linda hanya tersenyum mesem. Ia mengatakan, inilah fase penting dalam hidup kita. Apakah keluarga kita masing-masing ini, akan selamat atau tidak. Jika selamat, ya mungkin takdir anak-anak kita baik. Jika tidak entahlah …

Lalu Ghina nyeletuk. Itu terlalu akademik Lind … Aku hanya bertanya, apakah kamu pernah bergulat dalam pilihan yang serumit itu? Linda kembali hanya tersenyum. Ia kemudian menggigit jarinya dengan keras. Lalu ia menyodorkan selembar kertas yang berisi puisinya. Ghina disuruh membaca puisi kerinduan yang prhasenya sebagai berikut:

“Tiada ruang jiwaku untuk bisa melupakanmu
Namamu tergurat di kalbu sukmaku
Wajahmu tak pudar dari pelupukku
Simponi pribadimu meliris keindahan

Semua lekat satu dalam jiwaku
Rindu ini terus menggebu
Cintapun tak pernah beranjak dari hatiku
Jalannya terus merambat ku

Sungguh aku mencintai dengan ketulusan
Bukan sebuah permainan ilusi
Bukan pula menimbang hanya dalam bayangan
Rasa ini terus menggulana dengan segenap bara rindu

Gejolak kangen infal tak henti
Menguak hasrat yangg tak pupus
Rasa cinta ini kian meluap tak dapat kupungkiri
Kata hati ini tetap jujur dengan bisikannya

Dengan limpahan kasih yang tak terbendung
Siluet wajahmu menerpa pandanganku
Selalu menghiasi layar khayalku
Walau saat ini kau tak berada di sisiku jauh dari tatapku

Namun kau seakan lekat satu dengan sukmaku
Setiap nafasku berhujah dengan desahnya
Hanya kau dan kau yang memenuhi ruang jiwaku
Kesunyian malam telah terabaikan

Karena dekap kasihmu telah menghangatkan rasaku
Sehangat cinta yang kau berikan
Cintaku hanya untuk dirimu
Kesunyian semakin sepi dari hingarnya waktu

Hanya wajahmu yang terus mengeja pikiranku
Betapa aku mencintaimu … my love”

Apakah, orang yang membuat puisi semacam ini, Ghina …? Tanya Linda. Ghina hanya meneteskan air mata. Mengapa? Karena diapun sama, hanya mampu mengguratkan segenap rasa dan keinginan atas cintanya itu, pada pulpen, pensil atau catatan kecil di surelnya. Andaikan aku tak punya Tuhan … dan andaikan hanya aku dan dia kata Ghina, maka, aku juga sama. Aku hanya ingin melumatkan dunia cinta bersamanya. By. Charly Siera — bersambung

Komentar
Memuat...