Linda yang Genius Menjadi Doktor | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part – 3

Linda yang Genius Menjadi Doktor | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part-3
0 115

Linda terus melamun panjang. Dalam lamunannya,  ia terus mencari upaya bagaimana mengubah nasib dan persepsi ayahnya yang dianggapnya terlalu kolot. Saat sedang melamun itu, tiba-tiba ada seorang laki-laki dengan badan tinggi semampai duduk di kursi dekat dengan dirinya.  Ia tampak kaku. Linda sendiri tidak peduli atas kehadiran laki-laki di samping tempat duduknya itu. Ia lebih asyik dengan lamunan panjangnya, bagaimana rasanya jika ia benar-benar menjadi seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi bergengsi di Indonesia/

Terbayang olehnya, bagaimana ransel yang berisi tumpukan buku-buku ia gendong. Ia juga membayangkan bagaimana rasanya masuk ke dalam perpustakaan dengan jutaan judul buku didalamnya. Di perpustakaan megah, ia bakal asyik membaca berbagai buku yang paling ia suka. Linda adalah pembaca Novel yang baik dan memiliki kemampuan dalam menerjemahkan rumus-tumus matematika dan statistika dengan baik.

Ia berpikir, bagaimana ia lahir dari seorang ayah yang selalu merasa harus menang sendiri dan menjadi penentu setiap kebijakan utama dalam sebuah keluarga. Tetapi, dalam lamunannya, Linda berkata, aku masih beruntung. Karena aku tidak jadi dinikahkan dengan laki-laki yang dipilih orang tuaku. Bagaimana mungkin di tahun-tahun seperti saat ini, masih ada orang tua yang berpikir menjodohkan anaknya dengan seorang laki-laki, yang satu sama lain sebelumnya belum saling mengenal.

Linda Lupa Bayar Ongkos

Tak terasa, bus patas AC yang membawanya dari terminal Cicaheum itu, telah melaju di tengah jalan dalam durasi waktu yang cukup lama. Saking asyiknya melamun, Linda lupa membayar ongkos. Ketika mobil itu, benar-benar hampir sampai di sebuah terminal Cilembang, Tasikmalaya, ia baru sadar kalau dirinya belum membayar ongkos mobil.

Dengan segera, Linda mengeluarkan uang sertus ribu pecahan lima puluh ribuan yang baru diterbitkan pemerintah untuk membayar ongkos. Tetapi, ketika ia mau membayar ongkos dimaksud, tiba-tiba kondektur mengatakan sudah dibayar neng. Linda bengong, lalu bertanya: Ko sudah dibayar, sama siapa? Kata Linda heran. Tuch sama si Abang yang duduk di samping si eneng.

Aduch mohon maaf Mas … ini uang ongkos aku. Maaf tadi aku lupa dan sama sekali tidak ingat bahwa saya belum membayar ongkos. Lindapun memberikan dua lembar kertas berwarna biru kepada laki-laki itu, yang kemudian dikenal dengan nama Sandi.

Sandi mengatakan, nggak usah neng. Aku punya ko … kebetulan, kemarin sebelum aku pulang dari Bandung, aku ada sedikit banyak rezeki yang dititipkan Tuhan kepadaku. Mungkin sebagiannya, Tuhan memperuntukkannya untuk dirimu. Aduch, aku jadi nggak enak, cetus Linda. Dan kemudian Linda mengatakan terima kasih ya mas … o, ya ngomong-ngomong, nama Mas ini siapa? O ya, namaku Sandi sambil menjulurkan tangan untuk salaman. Linda menjawab aku Linda. Terim kasih ya … atas bantuannya. Sama-sama neng … Mereka kemudian berlalu.

Laki-laki itu Ternyata Sang Jagoan

Tanpa diduga sama Linda, becak yang dia tumpangi diikuti secara pelan oleh Sandi. Dan tanpa diduga juga kalau Sandi akhirnya tahu di mana rumah Linda dan siapa orang tuanya. Sandi yang waktu itu masih duduk di semester IV suatu Perguruan Tinggi di Bandung, sejujurnya merasa sangat terpesona menyaksikan wajah dan tampilan kesahajaan yang dimiliki Linda. Pengintaian yang dilakukan Sandi itu, tentu saja tidak diketahui oleh Linda. Ternyata rumah Linda dan rumah orang tua Sandi tidak terlalu jauh. Masih berada dalam satu kecamatan yang sama.

Sandilah laki-laki yang berani menyatakan cinta kepada Linda. Linda meski tidak begitu menyukainya, atau apalagi mencintainya, iseng-iseng mengikuti nalar Sandi. Sandi semakin lama semakin berani berkunjung ke rumah atau memintanya untuk bertemu di suatu titik bersama Linda. Linda juga akhirnya tahu, kalau Sandi adalah sosok laki-laki yang memiliki tipologi khusus sebagai ketua geng –dalam pengertian positif—di kecamatannya itu.

Linda Akhirnya Menikah

Laki-laki sejenis ini, sebenarnya tidak begitu disukai oleh ayahnya Linda yang memiliki kemampuan beragama. Linda sendiri sebenarnya sama, tidak terlalu suka. Linda menerima Sandi lebih karena bapaknya, menurut beberapa sumber akan menikahkan Linda dengan anak sewaktu mengaji di Banten. Kalau dulu dia akan dijodohkan dengan anak temannya sewaktu ngaji di Bangkalan, Madura, kini akan dijodohkan dengan anak kyai Banten.

Tetapi, takdir berkata lain, inilah akhirnya laki-laki yang meminang dan diterima sama Linda dengan baik. Ia juga demikian gigih mendapatkan cinta Linda. Sampai tiga tahun kemudian, ini juga laki-laki yang menikahi Linda dengan sempurna di sebuah pojok negeri yang tidak terlalu meriah. Tidak dihadiri banyak tamu sebagaimana prosesi pernikahan yang dihelat keluarga Yanti. Linda sendiri tidak mengundang Ghina dan Yanti, Karena gelaran acaranya yang terlalu sederhana.

Linda tetap tidak kuliah sampai beberapa tahun lamanya ketika mereka sudah menikah. Mereka menata dan meniti karier dengan sangat hati-hati. Sampai kemudian mereka sukses menjalani hidup dan Linda dapat meneruskan Kuliah di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Bandung. Saat itu usianya sudah menginjak di kisaran 23 tahun.

Saat ia memulai kuliah, ia merasa tidak perlu lagi meminta idzin pada ayahnya, karena kewajibannya telah beralih kepada suaminya. Mereka menjalani hidup dalam kedamaian dan Linda tetap menjaga suaminya dengan baik. Sekalipun berbagai badai datang  menghampirinya, mereka tetap mampu menjaga cintanya.

Tidak terasa, Linda terus mengikuti Studi, meski kadang suaminya melarang. Tampak bahwa di mata suaminya, kalau ia malah menjadi kurang percaya diri. Terlebih suaminya ketika sudah menikah itu, tidak meneruskan pendidikan lanjutan. Ia mengakhiri studi sebagai sarjana diploma 3. Tetapi bukan Linda namanya, kalau ia tidak mampu meyakinkan Sandi.

Sepuluyh tahun berjalan dalam biduk keluarga Sandi dan Linda, perempuan yang merasa pernah gagal itu, di suianya yang ke 33  malah sudah menjadi seorang Doktor. Ia juga memperoleh penetapan dari rektor untuk menjadi dosen di almamaternya.

Sepucuk Surat Linda

Saat posisinya seperti ini, Sandi kadang cemburu dan mungkin kadang merasa under line. Tetapi, Linda tetaplah Linda. Sosok seorang ibu yang tetap mampu menjaga dinamika hidup keluarga dengan baik. Mereka tetap hidup bahagia disertai iringan-iringan do’a dari mereka yang mencintai keluarga ini. Inilah keluarga yang mawaddah dan warahmah dan Linda tampil dalam sosoknya yang unik.

Sehari sebelum prosesi sidang terbuka Linda berlangsung, saat ia akan mempertaruhkan disertasi yang disusunya dengan susah, ia mengirim surat kepada Ghina dan Yanti. Surat itu berbunyi:

“Yanti dan Ghina yang baik hati dan budiman. Ternyata Tuhan memiliki rencana unik atas kehidupan kita. Kini aku telah menjadi seorang doktor … Ya doktor dalam bidang telematika. Aku bangga dan kebanggan ini akan menjadi catatan penting bagi kehidupan anak-anakku di masa yang akan datang. Aku bahagia, karena suamiku, Sandi, selalu memberi ruang kepadaku untuk meneruskan studi. Aku berharap kalian sama, dapat menapaki hidup dengan baik. Aku juga bermimpi, suatu waktu kita dapat bertemu di suatu arena indah di mana kita bertiga dapat berkumpul dan bernyanyi bersama. Kalian masih ingat nggak … ! Lagu apa kesukaanku. Lagu itu adalah Selamat Malam yang dinyanyikan Evie Tamala. Tetangga kita waktu dulu sekolah di Kota Tasikmalaya. Salam hangat dariku ya …. “ By. Linda

Saat surat ini sampai kepada Ghina, ia berteriak kencang sampai membuat suasana kantor karena Ghina sudah menjadi executive di perusahaan, menjadi agak kacau, Linda …. Hebat kau. Aku baru selesai menjadi Magister di Jerman. Kau yang berhenti cukup lama, malah kini telah menjadi doctor. Wouw … kau keren. Aku bangga menjadi temanmu. Selamat kawan …. By. Charly Siera — bersambung

Komentar
Memuat...