Literasi Pendidikan dan Nilai Etik | Menata Konsep Dzikir Part – 6

0 45

Literasi Pendidikan dan Nilai Etik – Literatur sains pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan di Indonesia, sangat kuat menganut prinsip kausalism dan materialism. Prinsip ini, secara filosofis, berakar pada filsafat positivisme. Hal ini, menurut penulis setidaknya terlihat dari:

Setiap Benda Memiliki Daya

Dalam paradigma ini, setiap benda dianggap memiliki daya penggerak sendiri yang mengatur dirinya untuk tumbuh dan berkembang menurut ukuran perkembangan benda itu sendiri. Teori ini tampaknya dirujuk dari teori Aristoteles yang dikembangkan August Comte dan Charles Darwin.

Kedua tokoh ini menyebut bahwa setiap wujud bergerak secara dinamis oleh sesuatu yang inheren dengan wujud itu sendiri. Wujud di balik yang fisik itu sendiri bersifat materil. Artinya makhluk hidup berkembang biak melalui sebuah rangsangan yang bersifat vegetatif dan evolutif. Teori ini jika nalar yang digunakan rumusan August Comte, secara otomatis menolak adanya campur tangan wujud absolut, yakni Tuhan.

Semua Benda Berfungsi Secara Materil

Fungsi-fungsi organ tubuh manusia dan binatang, seperti: jantung, paru- paru, hati, ginjal dan otak, dilihat hanya dalam bentuk materil. Semua dimensi tadi, dianggap tumbuh dan bergerak karena proses mekanik benda itu sendiri yang berjarak dengan Tuhan.¬†Teori ini memperkuat pikiran August Comte yang menyebut: “Berikan kepada saya unsur-unsur benda, maka aku pasti dapat membuat benda seperti yang anda inginkan”. Akibatnya, pelajaran sains telah menjadi fondasi berkembangnya materialisme dalam berbagai benda, termasuk jika benda itu, mengandung kemungkinan tidak fisik-materil.

Manusia sebagai Puncak Kesemestaan

Manusia ditempatkan sebagai sentral segala kesemestaan. Karena ia dianggap sebagai puncak segala kesemestaan, maka, hewan dan binatang ditempatkan sebagai makhluk yang keberfungsiaannya hanya jika diperlukan manusia. Dengan logika semacam ini, manusia seolah berhak melakukan eksploitasi apapun atasnya. Di sisi ini, pendidikan sains telah menjadikan manusia sebagai pemilik segala kesemestaan dan menjadikan dunia sebagai akhir sejarah kemanusiaan.

Masuknya Teori Generalisasi

Literatur sains telah menjadi penguat masuknya paradigma generalisasi. Posisi ini, akan mengajarkan kepada anak didik melalui pembentukkan otak kiri-kananny a tentang keharusan untuk menolak segala sesuatu yang keluar dari prinsip-prinsip generalisasi. Sebab akhir yang dikehendaki dari prinsip ini adalah budaya dan metode ilmiah yang acuannya sangat berdimensi pada hukum-hukum alamiah yang ritmik dan teratur. Teori ini sudah diperkenalkan sejak anak berada di kelas empat SD sampai anak usia SMA.

Padahal teori ini, diinduk semangnya sendiri, Amerika Serikat, khususnya di negara-negara bagian tertentu, telah ditolak kehadirannya (Republika, 19 Juni 2005). Menarik untuk disebutkan bahwa sekalipun teori generalisasi dan sikap ilmiah ini diajarkan, persoalan anomali (misalnya soal air) yang menjadi salah satu batang tubuh kajian pelajaran sains di sekolah misalnya, telah memaksakan teorinya untuk mengikuti teori generaliasi.

Padahal jika mau mengikuti nalar temporer, proses pemadatan dan pencairan air, serta kecenderungan pembekuan di tataran muka air, tidak didasar air, harus diakui bahwa di situ terdapat anomali dan ini berarti keluar dari hukum generalisasi itu sendiri. Akibat dari kondisi seperti ini, maka landasan filosofis negara, Pancasila dan UUD 1945 yang syarat nilai etik dengan bangunan dan jaringan pengetahuan yang iluminatif, harus berakhir di ranah praksis pendidikan persekolahan.

Ujungnya, secara tidak langsung, hukum keteraturan alam, yang di awal disebut sebagai ayat adanya Tuhan, menjadi terabaikan. Anak didik justru disuguhi sejumlah informasi yang langsung maupun tidak langsung menghilangkan iprima kausa. Tuhan pencipta awal atas penciptaan kesemestaan.

Pelaksanaan pendidikan sains yang demikian, sejauh yang dapat Penulis kaji, tampaknya perlu kembali dirumuskan dengan usaha memasukan bukan hanya sumber qauliyah Tuhan, tetapi seperangkat metode, alat dan sarana keilmuan yang dibutuhkar atasnya. Langkah ini, dilakukan untuk menjadi salah satu alat ukur kebenaran ilmiah yang dipaksa harus mengakui bahwa di luar dimensi fisik-materil, masih ada dimensi lain yang tidak bersifat fisik.

Harus dicatatkan juga, bukankah saintis sendiri mengakui bahwa di alam raya ini, selalu ada dua warna hidup. Dua warna yang saling memperngaruhi, seperti siang dan malam, pagi dan petang. Pertanyaannya, bukankah ketika ada aspek materi pasti selalu butuh dimensi immateril sebagai tuntutan keharusan keseimbangan. Ini juga sejatinya sesuatu yang sudah dalam metode saintifik itu sendiri. Prof. Cecep Sumarna –bersambung–

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.