Long March dan Nyamuk 212 dalam Membela Kebenaran Part-7

0 16

LONG MARCH DAN NYAMUK. Hari ini, 212, tengah digelar Aksi Bela Islam jilid III di Monas (ternyata akhirnya meluber juga ke bundetan HI). Aksi 212 ini ditandai oleh fenomena heroik, yakni long march Ciamis-Jakarta, setelah pihak perusahaan angkutan tidak diizinkan mengantarkan para aktivis ke Jakarta. Peristiwa long march ini telah menginspirasi jutaan orang tentang makna dan implikasi sebuah keyakinan yang terkoyak.

Getarannya telah menyentuh sisi kemanusiaan universal, sehingga bukan saja telah berhasil merajut ukhuwah Islamiyah tidak hanya di Indonesia tetapi juga telah menarik perhatian dunia Islam, sehingga tidak salah lagi peristiwa long march ini telah mendunia. Banyak kesaksian mengharukan di sepanjang jalan antara Ciamis-Jakarta menyambut dengan antusias rombongan aksi, mayarakat berbagai lapisan berbondong antri menyediakan makanan, minuman, uang, doa dan air mata. Gubernur, Kaploda dan Pangdam Jabar bahkan ikut juga menyambut rombongan dengan menjamunya makan.

Yang juga mengharukan adalah keihlasan seorang pengusaha muslim, al-Ma’soem, melayani sendiri jamuan makan rombongan itu. Adalah seorang Nitizen keturunan Tionghoa beragama Kristen dalam akun fb-nya kemarin, mengaku merinding melihat aksi long march itu, dia bilang hanya menemukan fenomena itu dalam Islam. Bahkan seorang budayawan terkemuka, Jaya Suprana yang sedang berada di Kuba juga mengaku terharu dan menangis menyaksikan dari jauh bagaimana sebuah keyakinan telah menggelorakan energi tidak terbendung untuk memperjuangkan keadilan.

Di hari yang sama kita juga menyaksikan “suasana kebatinan” lain, misalnya seperti yang ditampilkan oleh Ade Armando di akun fbnya. Ade menulis kurang lebih begini: “Saya geli mendapat pertanyaan kenapa anda tidak ikut aksi 212, apakah anda takut? Saya jawab saya tidak takut, saya malah iba. Bayangkan ada ribuan orang jalan kaki dari Ciamis ke Jakarta hanya untuk berkumpul di Monas. Pertanyaanya untuk apa? Tapi kemudian saya sadar bahwa itulah ciri masyarakat terbelakang yang mengedepankan otot daripada otak, mengandalkan kuantitas daripada kualitas. Saya iba akan kesia-siaan aksi ini, pantas saja umat Islam semakin terbelakang. Dengan begitu umat Islam jangan menyalahkan Cina, Komunis, Kristen dan seterusnya. Seorang temannya membuat komentar tak kalah provokatif (maaf sebenarnya saya tidak tega mengutip kata2nya): “Jika ingin tau jumlah orang bodoh di Indonesia, datanglah ke Jakarta tanggal 2 Desember besok.”

1-ade-armando
photo: screnshot status Ade Komarudin terkait long march

Isyarat al Qur’an

Lakon di atas, sebenarnya telah diisyaratkan al Qur’an, misalnya pada surat Al-Baqarah 26: “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang2 yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang2 yang fasik.”

Pergumulan dua kelompok anak bangsa yang sedang mencari jati diri kebangsaannya seperti digambarkan di atas, mengingatkan kita pada perumpamaan seekor nyamuk seperti disebutkan dalam Surat al-Baqarah 26:

Surat Al-Baqarah Ayat 26

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang2 yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang2 yang fasik.” (QS. Al Baqarah 2:26)

Pesan penting ayat di atas adalah, seekor nyamuk saja bisa menjadi ujian keimanan. Jadi bagaimana mungkin jutaan orang yang secara bersamaan bergerak ke satu titik merupakan sesuatu yang sia-sia? Untungnya mayoritas bangsa ini masih memiliki nurani dan akal sehat, karena bila cara berfikir dan mentalitas bangsa ini seperti yang dimiliki bung Ade Armando dan kawan2, yakinlah bangsa ini tidak akan pernah bisa merdeka. Energi apalagi yang bisa menggetarkan jiwa, bila kasus sebesar penistaan al-Quran pun malah membuatnya makin menjauh. Jadi marilah kita do’akan: Allahummahdi qaumi innahum laa ya’lamun.**


Penulis  : Drs. H. Maman Supriatman, M.Pd
Editor    : Team Lyceum

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.