Love in the Sky | Misteri Sang Ksatria Cinta Part – 10

0 128

Love in the Sky | Misteri Sang Kstaria Cinta-Part 10: Allent melamun. Ia berbisik dalam hatinya, kau mengagumkan. Ia bingung mau ngomong apa. Wanita dengan kaca mata hitam itu, tetap duduk santai dan cenderung cuek. Sementara Allent duduk dengan membolak balikan kursi tanpa henti. Ia kikuk, kata apa yang pertama kali harus disampaikan kepada wanita misteri selama dua hari di Jepang ini.

Perkenalan di Pesawat

Tetapi, tiba-tiba wanita itu bertanya: Do you know the name of Allenta Akriphos? Allent menggelengkan kepala dan berkata: “tadi kita sepakat sebelum pesawat ini terbang, untuk hanya menggunakan bahasa Indonesia kan”. O, ya I am sorry. Ah dasar kata Allent membathin. Ko diulang lagi memakai bahasa Inggris. Kita mesti bangga memiliki bahasa yang lebih baik dari bahasa apapun. Bahasa itu adalah bahasa Indonesia. Tetapi wanita itu tidak percaya kalau laki-laki yang duduk disampingnya itu tidak tahu, siapa sesungguhnya Allenta Akriphos.

Perempuan itu, kemudian menyodorkan tangan dan mengatakan, saya Mellisa Claudhya dan banyak orang, biasanya memanggil namaku dengan Mell. Laki-laki itu tersenyum dan mengatakan, serta menyodorkan tangan untuk berjabat tangan. Saya Allent. Nama lengkap, saya tidak tahu, terlalu panjang dan berbau Eropa. Allent bercanda. Terima kasih atas kesempatanku untuk mengenal namamu, kata Allent pelan. Namaku Allenta Akriphos.

Menurut bapakku, nama ini mengandung arti mutiara yang mahal. Mell, tersenyum dan mengatakan, ya namaku juga aneh. Menurut Mamiku, kalimat dimaksud mengandung arti Madu yang Langka. Keduanya tersenyum bahkan cenderung terbahak. Ko bisa ya, kita memiliki nama yang terserap dari bahasa Yunani Kuna. Jodoh kita ya, kata Allent. Mendengar kata jodoh, Mellisa langsung menunduk lemas.

Lho kenapa kau diam kata Allent. Tidak, tidak. Aku hanya sedang sedikit mencari suasana agak tenang. Ooooh aku mengganggumu? Tanya Allent. Bukan, bukan. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu. Dalam bathin Mell, justru kalau kamu menjauh, aku semakin gelisah.Lalu Allent mengalihkan pembicaraan dengan bercerita dan bertanya tentang sesuatu yang berbeda. Mell, kita orang Indonesia. Indonesia itu sebenarnya hebat dan sangat mengagumkan. Hanya sayang, negeri ini tidak pernah dipelihara dengan baik.

Di mana kau bekerja? Tanya Allent kepada Mell.Mell masih saja diam dan sangat sedikit memberi komentar. Begini ya kata Allent. Dulu sewaktu aku masih remaja, aku, disuruh untuk menilai photo seorang anak perempuan yang masih sangat kecil, namanya, kalau tidak salah Claudhya. Lalu aku bilang, cantik pah. Sudah saja begitu. Aku terus menerus sekolah dan studi.

Sewaktu-waktu, aku disuruh untuk datang main ke kaki gunung tertinggi di Jawa Barat. Aku selalu tidak sempat. Sampai kemudian, aku kuliah S2 di Jerman, Papahku selalu bilang main dan temui Claudhya. Aku tetap malas dan bahkan meneruskan study di Jepang. Selesai juga di sana. Nama Claudhya selalu muncul dari mulut papahku.

Terlebih entah mengapa, kurang lebih 12 tahun yang lalu, papahku menarik salah satu sahamnya di sebuah rumah sakit internasional. Entah ada apalah. Katanya masalahnya sebenarnya kecil hanya menurutnya prinsip. Sejak saat itu, papah selalu memikirkan bagaimana caranya mendirikan rumah sakit. Hanya sayang, dia tidak memiliki anak yang belajar di kedokteran. Berdirilah tiga rumah sakit, yang menjadi salah satu anak dari perusahaan yang dimilikinya. Papah ingin rumah sakit ini berdiri sebagai koorporasi sendiri.

Jadi kau manawari kerja kata Mell. Gini-gini aku memiliki poliklinik tersendiri lho. Mell menggoda dan sedikit senyum.

Mungkinkah Kau Takdirku

Allent menjawab dengan cepat. Bukan, bukan, bukan begitu! Aku hanya bingung merekrut tenaga kerja profesional yang mampu membantu dan mengabdi atas jalannya perusahaan itu. Karena itu, aku sekarang menjadi faham atas sikap papaku ketika ada seorang gadis yang datang ke rumahku, papahku agak bingung dan cenderung kalut. Ia hanya mengatakan, semoga kau tak pernah menyesal. Saya tidak tahu maknanya apa. Inilah kalimat yang menggangguku cukup lama. Aku akhirnya menikah dengan seorang gadis Muslim keturunan China. Sementara nama Claudhya, tidak pernah aku temukan. Bapakku juga cukup rapat mengatakannya kepadaku.

Tiba-tiba Allent diam sejenak dan berkata dalam hatinya: “Tuhan, jika yang dimaksud Claudhya oleh papaku itu, Mell, maka, betapa bodohnya aku. Dan betapa aku berada dalam kerugian”. Allent kemudian menghibur diri, bukan ah … dulu photonya memiliki kulit agak gelap. Ini Mell sangat putih. Ia kembali mengingat perjalanannya dengan istrinya. Ia berusaha menutupi sekuat mungkin potensi rasa yang dimilikinya kepada Mell.

Ketika Allent melamun, tanpa disadari, detak jantung Mell berdegup semakin kencang. Karena apa yang disampaikan Allent, agak mirip dengan cerita Mamihnya yang kadang memintanya untuk sekali-kali berkunjung menemui seorang mahasiswa UI bernama Akriphos. Aku yang waktu itu merasa menjadi idola remaja, agak aneh jika harus bertemu dengan seorang mahasiswa yang tidak aku ketahui. Lagi pula, waktu itu, aku masih menjadi salah seorang pelajar pada jenjang SLTA.

Apa yang dimaksud dengan Akriphos itu, Allent? Bathin Mell memberontak. Jika iya, betapa menyesalnya aku, cetus Mell dalam hati. Allent tertawa kecil, dengan mengatakan, Mell mungkin kau adalah takdirku. Sama dengan Mell, ia juga tersenyum sendiri. Di bathinnya berkata, Allent, mungkinkah ruang takdirku itu, kamu? Tapi keduanya, tidak tahu, apa yang menyebabkan objek bicaranya itu tersenyum. Mell hanya bergumam, Allent, Allent sambil berusaha sekuat tenaga mengingat sejuta kebaikan suaminya yang sangat mencintainya. Sedangkan Allent hanya berkata, Mell, Mell.

Pesawat terus mengudara di angkasa. Hampir setengah perjalanan telah dilalui mereka berdua. Kadang-kadang tanpa disengaja, tangan Mell atau tangan Allent menyatu. Allent sesungguhnya sangat senang, terlebih Air Condition pesawat terasa sangat dingin dan menyesak. Pertemuan kulit tangan itu, sedikit memberi kehangatan. Tetapi, Mell selalu segera menggerakkan tangan untuk menjauhkannya dari tangan Allent.  –By. Charly Siera

Komentar
Memuat...