Lyceum adalah “Sekolah Bebas” bagi Kaum Muda di Era Modern

29 1.717

GAGASAN “Sekolah Bebas” sebenarnya telah  lama digagas kalangan para cendekia di bidang pendidikan. Nama Lyceum sendiri yang berarti sistem pendidikan ditinjau dari  semiotika merupakan bangunan gagasan pada setumpuk dialektika antarpeserta didik lembaga tersebut. Di Indonesia, Lyceum digagas Prof.  Dr. H. Cecep Sumarna,  pakar filsafat Ilmu dan guru besar IAIN Syekh Nurjati Cirebon. (Baca: About Lyceum.id)

Satu kritik tajam yang disampaikan pakar pendidikan Brazil,  Paulo Freire,  pendidikan di negara-negara berkembang dilakukan secara “andhap asor” (baca : tuan dan hamba) antara mahasiswa dan dosen, murid dan guru atau santri dan kyainya. Ini seperti sebuah teko berisi penub  air yang dituangkan ke dalam gelas atau wadah lain,  tak ada kesetaraan dan dialog.

Illich (1982) dalam Deschooling Society, mencoba menggedor kesadaran kita untuk segera membuat Revolusi Budaya, yakni sekali lagi menguji secara mendasar mitos-mitos sosial dan lembaga-lembaga yang ada di era industri-teknologi yang semakin mekanistik, anonem, massal, namun memperkurus kemanusiaan. Illich menyerukan,Bebaskan masyarakat dari belenggu sekolah.

Sekolah tidak otomatis sama dan sebangun dengan pendidikan,  justru memfrustasikan abak didik; menyeponsori kemajuan pembangunan yang mengagung-agungkan produksi, konsumsi dan laba sebagai satu-satunya pendongkrak mutu hidup manusia. Universitas pun terancam menjadi sekadar pencetak pemasok tukang-tukang yang melayani masyarakat kapitalistik-konsumeristik;  memberi ijazah tanda legitimasi,  dan mendesak ke pinggir orang-orang tidak yang cocok dengannnya.

Sekolah Bukan Arena Berlomba Untuk Naik Kelas

Dalam konteks pemikiran Freire maupun Illich, sekolah dipandang hanya sebagai tempat untuk berlomba mencapai tingkatan kelas,  bukan intelektualitas. Anak didik dibiasakan untuk menerima pelayanan,  bukannya nilai. Kadar materialistik dinilai lebih tinggi ketimbang intelektualitas.

Di dalam negeri (Cirebon),  seorang anak muda,  Indra Yusuf (2016) menyatakan, tak bisa dibayangkan bagaimana jadinya,  jika sebuah bangsa gagal dalam membangun pendidikan karakter bagi rakyatnya.  Pendidikan yang seharusnya menyemai benih kejujuran, malah menyemai kemunaifikan, kecurangan dan cara instan.

Pendidikan yang seharusnya membangun pondasi moral bangsa, malah meruntuhkan  moral bangsa Disadari atau tidak,  terpaksa atau tidak, melakukan perilaku tidakjujur,  terlebih dalam dunia pendidikan adalah sakaratul maut,  tidak saja bagi dunia pendidikan, melainkan bagi seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa.

Kewajiban sekolah, seperti kata Ivan Illich lagi,kewajiban bersekolah secara tidak terelakkan membagi suatu masyarakat dalam kutub-kutub yang saling bertentangan. Kewajiban bersekolah juga menentukan peringkat bangsa-bangsa di dunia menurut sistem kasta dimana posisi setiap negara di bidang pendidikan ditentukan berdasarkan jumlah tahun rata-rata rakyatnya bersekolah, suatu ukuran yang terkait erat dengan produk nasional bruto perkapita, dan itu menyakitkan.

Sejarah Nama Lyceum

Lyceum,  sebuah universitas yang pernah digagas Aleksander Agung pada abad-abad sebelum masehi memberi makna kebebasan. Secara semantik, Lyceum bisa dimaknai sebagai “sekolah bebas” yang diharapkan mampu melewati spektrum pemikiran konvensional. Mungkin banyak orang yang kurang memahami, apa itu “sekolah bebas”.

Dalam lembaga ini setiap orang bisa berperanserta untuk menyampaikan gagasan lewat tulisan tanpa harus melihat, apa, siapa dan bagaimana derajat dan pendidikan formal orang tersebut. Di lembaga ini setiap orang didudukkan setara, antara penulis, pembaca dan pengasuh (editor). Kritik dan koreksi yang sehat pun bisa disampaikan dalam diskusi melalui tulisan-tulisan yang ditayangkan lembaga ini.

Siapa pun yang suka pada gagasan-gagasan budaya, politik,  filsafat, pendidikan, bahasa, ekonomi dan bisnis, kesehatan,  botani atau apa saja yang diminati bisa dibaca dan dikritisi secara bebas,  namun tetap dengan mengedepankan tata karma dan sopan santun yang dimiliki kalangan  intelektual. Lyceum tempatnya. Lyceum, dalam  Chambers Family Dictionary  (1981), diartikan sebagai a gymnasium and grove beside the temple of Apollo in Athens, in whose Aristotle taught;  a college a place or building devotes to literary studies  or lecture. Pada masa Aristoteles merupakan sebuah aula yang dikelilingi hutan rimbun sebagai tempat pengajaran (kuliah) sastra.***

Cirebon,  1 September 2016.

Nurdin M. NoerWartawan senior, pemerhati kebuadaayn lokal.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Rif'atul Ula berkata

    Masih tertanam nya pemikiran bahwa guru adalah sumber pengetahuan menjadi hal yang mengahambat dalam pencapaian tujuan pendidikan. Sehingga segala hal yang dikatakan oleh guru adalah benar. Hal ini menyebabkan tumpulnya kreativitas dalam menemukan dan mencari pengetahuan-pengetahuan baru yang mungkin lebih luas lagi jangkauan nya dibanding daripada yang telah disampaikan oleh guru.
    Dan ketika adanya pengkritisan atau penyampaian pendapat yang berbeda dengan pendapat guru dicap sebagai adab yang tidak sopan. Padahal penyampaian perbedaan pendapat ini bermaksud untuk mengevaluasi, tapi memang harus dilakukan dengan penyampaian yang benar dan tidak dengan menyinggung perasaan.
    Sekolah bebas adalah Sekolah yang tidak menutup kreativitas siswanya.

  2. Nita Anita berkata

    Nita Anita / Mpi. A smt. 3
    Dalam konteks pemikiran Freire maupun Illich, sekolah dipandang hanya sebagai tempat untuk berlomba mencapai tingkatan kelas, bukan intelektualitas. Anak didik dibiasakan untuk menerima pelayanan, bukannya nilai. Kadar materialistik dinilai lebih tinggi ketimbang intelektualitas.

  3. Ikha Solekha MPI-A/3 berkata

    Dengan adanya sekolah bebas ini, sekolah bisa membantu meningkatkan rasa percaya diri dalam berpendapat di tempat umum tanpa ada rasa malu, karena tujuan dari pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan moral bangsa

  4. Ikha Solekha MPI-A/3 berkata

    Dengan adanya sekolah bebas ini bisa membantu meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam berpendapat di tempat umum tanpa rasa malu, karena tujuan dari pendidikan ini yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan moral bangsa.

  5. Dahlia berkata

    Assalamu’alaikum…..
    saya sangat setuju dengan sekolah bebas yang bapak canangkan, namun dalam praktiknya masih ada saja dosen-dosen yang menggunakan sistem ceramah dan tidak menerima pendapat dari mahasiswa.
    saya berharap sekolah bebas ini bisa benar-benar terlaksana dan berjalan sesuai harapan.

  6. Reza Fawziyyah berkata

    Menurut saya sekolah bebas bagi kaum muda itu sangatlah bagus, kenapa? Karena dengan sekolah bebas kaum muda dapat mengemukakan pendapatnya dan mengekspresikan semua yang sudah diketahuinya. Dengan ini juga akan menimbulkan kesetaraan antara kaum muda.

  7. Reza Fawziyyah berkata

    Menurut saya sekolah bebas bagi kaum muda itu bagus, kenapa? Karena kaum muda dapat mengemukakan pendapatnya dan dapat mengungkapkan secara bebas tentang apa yang diketahuinya, dengan sekolah bebas kaum muda akan terlihat setara dengan pemikirannya masing-masing. Dan kaum muda dapat mengekspresikan dan dapat mengembangkan potensi yang sudah ada.

  8. Elok Firdausiana berkata

    Sekolah bebas itu menurut saya bagus untuk diterapkan, karena dengan adanya sekolah bebas seseorang tidak akan minder dengan pendidikan antar sesamanya, karena sekolah bebas ini kedudukan satu sama lainnya setara, jadi kita itu ketika kita eksis berpendapat di suatu media misalnya tidak minder, karena kedudukan kita di dalam sekolah bebas itu setara.

  9. Anton Mulyono berkata

    Pendidikan pada dasar nya tidak hanya di sekolah sekolah saja atau di lembaga pendidikan lainnya. Melainkan pendidikan bisa di temui di mana saja, kapan saja dan tidak terikat oleh waktu. Contoh nya sekarang saya menulis komen tentang hal di atas ini termasuk pendidikan. Lyceum menurut saya bisa membuat semua orang bebas belajar di mana saja tenpa terikat oleh waktu dan tempat. TERIMAKASIH BANYAK.

  10. Qorry Yafatihana berkata

    sekolah sekarang ini dipandang sebagai tempat untuk berlomba untuk mencapai tingkatan kelas dan nilai, sekolah bukan tempat untuk meningkatkan intelektual siswa. adanya sekolah bebas adalah untuk membebaskan manusia supaya mampu menggali potensinya.

  11. Cecep Sumarna berkata

    Terima kasih banyak atas semua komentar saudara. Menarik memang. Mengapa? Sebab selama ini, sekolah justru sering hanya menjadi arena membekukan semua dinamika dan kreativitas mereka yang belajar. Pikiran Paulo Preire tentang pentingnya memberikan kebebasan kepada seluruh peserta didik, memungkinkan pendidikan justru bukan soal sekedar demokratis, tetapi, mengajarkan bahwa betapa kebebsan sesungguhnya menjadi model ampuh untuk mengembangkan pendidikan. Apapun itu ceritanya, pendidikan seharusnya menjadi pilar penting bagi pertumbuhan ilmu. Ilmu hanya akan berkembang jika dinamika dan kebebasan, karena itu menjadi pilar penting dalam pelaksanaannya.

  12. Nisa berkata

    Assalamu’alaikum.
    Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan yakni tempat nya dari segudang ilmu. Menurut paule freire, di negara berkembang pendidikan masih dilakukan secara “andhap asor” yakni tak ada kesetaraan dalam berdialog. Maka dari itu, dalam sekolah bebas ini diharapkan setiap siswa bisa mengeluarkan gagasan juga pendapat nya secara meluas tanpa adanya memfrustasikan anak didik. Tetapi jika dilihat dari sisi negatif nya, sekolah bebas ini cenderung pasif atau tidak adanya face to face antara pendidik dan anak didik.

    1. Cecep Sumarna berkata

      Yess Good

  13. Raudhotul Jannah berkata

    Assalamualaikum
    Menurut saya, Memang sekolah sekarang ada hanya dipandang bahwa anak itu sekolah, akan tetapi pengetahuannya tidak diimplikasikan di kehidupan sehari-hari. Namun keberadaan sekolah pun perlu, karena di dalam sekolah diberikan berbagai ilmu pengetahuan. Jika sekolah ditiadakan maka siapa yang akan melanjutkan kehidupan di masa yang akan datang.
    Sekian dari saya, terima kasih

  14. Qorry Yafatihana berkata

    Menurut saya
    Sekarang ini sekolah dipandang sebagai tempat untuk berlomba mencapai tingkatan kelas dan nilai, bukan tempat untuk meningkatkan intelektual anak. Konsep sekolah bebas adalah membebaskan manusia supaya mampu menggali potensinya.

  15. Qorry Yafatihana berkata

    Menurut saya.
    Sekolah sekarang ini dipandang sebagai tempat untuk berlomba mencapai tingkatan kelas dan memperoleh nilai, bukan tempat untuk meningkatkan intelektual siswa. Konsep sekolah bebas adalah membebaskan manusia supaya mampu menggali potensinya.

  16. ikbal pauji berkata

    Assalamualaikum
    Ade Ikbal Pauji 3MPI A :
    Keberadaan ‘sekolah bebas’ seperti lyceum itu bisa dijadikan alternatif yang positif bagi keberlangsungan pendidikan,dimana setiap kalangan siapa pun itu yang penting memiliki alat pendidikan yang terkoneksi internet (gadget) bisa berbaur dan menimba ilmu tanpa dibatasi jam pelajaran & ruang belajar (kapan pun dimana pun) . Akan tetapi, perlu dijadikan bahan pertimbangan ulang bahwa setiap individu dengan segala cara dalam memahami sebuah teks itu tidak semuanya bisa terpahami jika tanpa penjelasan yang detail melalui lisan langsung, takutnya akan ada missed-penafsiran teks.
    Selanjutnya mengenai pendidikan (dalam label sekolah) yang dinilai cenderung non-dialogis dan tak ada kesetaraan antara pendidik-peserta didik, serta lebih mengejar matrealistik ketimbang intelektualitas, saya rasa itu telah menjadi penyakit pendidikan yang serius. Perlu adanya penanganan langsung dari semua pihak yang terlibat, mulai dari (persepsi) peserta didik, pendidik, lembaga, masyarakat, serta birokrasi yang terlibat. Supaya persepsi seperti itu dapat dikikis dan dirobohkan.

  17. nurul faridah berkata

    nurul faridah
    1608109039 mpi a/3
    sekolah bebas sebenarnya baik karena setiap orang didudukkan setara, antara penulis, pembaca dan pengasuh (editor). kemampuan seseorang juga lebih terasah tetapi kekurangannya di sekolah bebas atau lyceum hanya dengan menggunakan tulisan tidak dengan secara langsung atau praktek seperti di sekolah biasa.

  18. Siti Hayyun MPI-A smt 3 berkata

    menurut saya pendidikan bebas ini ada benarnya juga, karena mampu mengasah pemikiran pemikiran peserta didik untuk menjadi seorang yang memiliki intelektual tinggi. namun apa yang seperti kita lihat pendidikan di indonesia sekarang ini, dimana peserta didik tidak diajarkan untuk menjadi seorang yang intelektual. mereka hanya disugui sebuah pelayanan bukan intelektualitas.

  19. fajar maulana berkata

    Assalammualaikum,
    Menurut saya sekolah bebas itu ada baiknnya ada tidak baiknnya juga. Baiknya sekolah bebas itu tidak melihat siapakah orang itu dan semua orang bisa mempelajari sesuatu melalui sekolah bebas, yaitu lyceum…….
    Tetapi sisi tidak baiknya itu adalah tidak adanya guru atau seseorang untuk menjelaskan lebih rinci lagi apa materi yang di pelajari.
    Sekian terimakasih
    Mpi-A / 3

  20. Uun unesih MPI A smt. 3 berkata

    Sekolah bebas memang menjadikan kita berkreatif terutama dalam hal menulis lewat sosial media tentunya, dalam sekolah bebas pun kita yang memiliki bakat menulis bisa lebih kreatif lagi dengan sekolah bebas ini, seperti yang digagas oleh alexsander Agung bahwasanya sekolah bebas yakni mampu melewati sprektum pemikiran konvensional dan setiap orang bisa berperan serta untuk menyampaikan gagasan lewat tulisan tanpa harus melihat siapa dan bagaimana derajat dan pendidikan formal orang tersebut. Jadi sekolah bebas memang boleh boleh saja dan juga kita harus mendapatkan ilmu ilmu positif dari sekolah bebas ini. Terima kasih

  21. Wahyuni Wati Nengsi MPI A smt 3 berkata

    Dengan adanya sekolah bebas ini kita sebagai mahasiswa jangan salah memaknai, kita disini dibebaskan untuk berpendapat sesuai etika dan tau tata krama sopan santun.

  22. Siswanto sianak kampoeng MPI-B berkata

    “Sekolah bebas” menurut saya boleh-boleh saja itu juga kan sama mencari ilmu akan tetapi sebelum memasukan ilmu sebaiknya menyaring hal-hal positif saja. Di dalam ilmu pengetahuan terdapat hal positif dan negatif jadi kita pintar-pintar dalam mencari ilmu di medsos maupun di sekolah.

  23. Siti A'isyah berkata

    Dalam pendidikan seharusnya membangun pondasi kejujuran dengan sikap yang terdidik, sekolah bukan hanyalah untuk orang-orang yang berada saja,tapi semua orang juga berhak untuk bersekolah (mencari ilmu) bersekolah itu bukan ajang tingkatan kelas saja, Tetapi untuk berlomba-lomba menggalih materi, agar di kemudian hari akan bermanfaat.
    Terimakasih

  24. Miftahul janah berkata

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Sekolah ebas sangatlah bagus karna setiap orang berperan serta untuk menyampaikan gagasan lewat tulisan tanpa harus melihat,apa,siapa, bagaimana drajat,dan pendidikan formal orang tersebut,karna semua orang didudukan setara.Tapi dari sisi lain,kita sebagai makhluk sosial tidak dapat berinteraksi secara langsung (tatap muka),karna hanya berinteraksi lewat tulisan saja.

  25. Bayu Hermawan berkata

    Sekolah masih seringkali dianggap sebagai belenggu yang justru memfrustasikan anak didik,karena seperti yang dikatakan Paulo Freire di dalam negara berkembang pendidikan masih dilakukan secara “andhap asor” yang artinya tak ada kesetaraan dan dialog,Pendidikan yang seharusnya membentuk karakter yang baik justru mengajarkan tentang keburukan sehingga pendidikan itu sendiri kehilangan perannya sebagai pembangun pondasi moral bangsa.Sekolah bebas diharapkan dapat menjadi solusi karena di dalamnya
    setiap orang bebas untuk menyampaikan gagasan dan pendapat tanpa harus melihat status pendidikan,dll.

  26. Lenny Erdiani Choerun Nissa berkata

    Semoga dengan adanya sekolah bebas ini, dapat menumbuhkan kreativitas siswa dalam belajar, menumbuhkan sikap kritis juga percaya diri dalam berfikir serta mengemukakan pendapatnya. Sekolah bukan hanya milik mereka, orang-orang elit. Yang mana sekolah hanyalah di jadikan sebagai sarana untuk berlomba-lomba dalam segi materi, juga dijadikan kompetisi untuk saling mengejar rangking, tanpa memikirkan hal yang akan ia dapatkan dan pengaruhnya dikemudian hari.

  27. ELOK ALFAIN LUTHFIE berkata

    Pendidikan yang seharusnya membangun pondasi moral bangsa, tetapi justru meruntuhkan moral bangsa. Untuk itu dalam kegiatan belajar mengajar guru juga perlu memberikan kebebasan untuk muridnya berpendapat.
    Menurut konteks pemikiran friere atau illich, sekolah di pandang hanya sebagai tempat untuk berlomba mencapai tingkatan kelas, bukan intelektualitas. Murid di biasakan untuk menerima pelayanan bukannya nilai, kadar materialistik di nilai lebih tinggi daripada intelektualitas. Terima kasih

  28. MUNIRUDIN berkata

    Banyaknya siswa membolos pelajaran mungkin karena kurangnya kebebasan dan siswa mungkin merasa kurang nyaman berada di lingkungan sekolah.jadi kebebasan brlajar ini menjadi solusi yang cukup efektif

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.