Lyceum adalah “Sekolah Bebas” bagi Kaum Muda di Era Modern

0 1.735

GAGASAN “Sekolah Bebas” sebenarnya telah  lama digagas kalangan para cendekia di bidang pendidikan. Nama Lyceum sendiri yang berarti sistem pendidikan ditinjau dari  semiotika merupakan bangunan gagasan pada setumpuk dialektika antarpeserta didik lembaga tersebut. Di Indonesia, Lyceum digagas Prof.  Dr. H. Cecep Sumarna,  pakar filsafat Ilmu dan guru besar IAIN Syekh Nurjati Cirebon. (Baca: About Lyceum.id)

Satu kritik tajam yang disampaikan pakar pendidikan Brazil,  Paulo Freire,  pendidikan di negara-negara berkembang dilakukan secara “andhap asor” (baca : tuan dan hamba) antara mahasiswa dan dosen, murid dan guru atau santri dan kyainya. Ini seperti sebuah teko berisi penub  air yang dituangkan ke dalam gelas atau wadah lain,  tak ada kesetaraan dan dialog.

Illich (1982) dalam Deschooling Society, mencoba menggedor kesadaran kita untuk segera membuat Revolusi Budaya, yakni sekali lagi menguji secara mendasar mitos-mitos sosial dan lembaga-lembaga yang ada di era industri-teknologi yang semakin mekanistik, anonem, massal, namun memperkurus kemanusiaan. Illich menyerukan,Bebaskan masyarakat dari belenggu sekolah.

Sekolah tidak otomatis sama dan sebangun dengan pendidikan,  justru memfrustasikan abak didik; menyeponsori kemajuan pembangunan yang mengagung-agungkan produksi, konsumsi dan laba sebagai satu-satunya pendongkrak mutu hidup manusia. Universitas pun terancam menjadi sekadar pencetak pemasok tukang-tukang yang melayani masyarakat kapitalistik-konsumeristik;  memberi ijazah tanda legitimasi,  dan mendesak ke pinggir orang-orang tidak yang cocok dengannnya.

Sekolah Bukan Arena Berlomba Untuk Naik Kelas

Dalam konteks pemikiran Freire maupun Illich, sekolah dipandang hanya sebagai tempat untuk berlomba mencapai tingkatan kelas,  bukan intelektualitas. Anak didik dibiasakan untuk menerima pelayanan,  bukannya nilai. Kadar materialistik dinilai lebih tinggi ketimbang intelektualitas.

Di dalam negeri (Cirebon),  seorang anak muda,  Indra Yusuf (2016) menyatakan, tak bisa dibayangkan bagaimana jadinya,  jika sebuah bangsa gagal dalam membangun pendidikan karakter bagi rakyatnya.  Pendidikan yang seharusnya menyemai benih kejujuran, malah menyemai kemunaifikan, kecurangan dan cara instan.

Pendidikan yang seharusnya membangun pondasi moral bangsa, malah meruntuhkan  moral bangsa Disadari atau tidak,  terpaksa atau tidak, melakukan perilaku tidakjujur,  terlebih dalam dunia pendidikan adalah sakaratul maut,  tidak saja bagi dunia pendidikan, melainkan bagi seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa.

Kewajiban sekolah, seperti kata Ivan Illich lagi,kewajiban bersekolah secara tidak terelakkan membagi suatu masyarakat dalam kutub-kutub yang saling bertentangan. Kewajiban bersekolah juga menentukan peringkat bangsa-bangsa di dunia menurut sistem kasta dimana posisi setiap negara di bidang pendidikan ditentukan berdasarkan jumlah tahun rata-rata rakyatnya bersekolah, suatu ukuran yang terkait erat dengan produk nasional bruto perkapita, dan itu menyakitkan.

Sejarah Nama Lyceum

Lyceum,  sebuah universitas yang pernah digagas Aleksander Agung pada abad-abad sebelum masehi memberi makna kebebasan. Secara semantik, Lyceum bisa dimaknai sebagai “sekolah bebas” yang diharapkan mampu melewati spektrum pemikiran konvensional. Mungkin banyak orang yang kurang memahami, apa itu “sekolah bebas”.

Dalam lembaga ini setiap orang bisa berperanserta untuk menyampaikan gagasan lewat tulisan tanpa harus melihat, apa, siapa dan bagaimana derajat dan pendidikan formal orang tersebut. Di lembaga ini setiap orang didudukkan setara, antara penulis, pembaca dan pengasuh (editor). Kritik dan koreksi yang sehat pun bisa disampaikan dalam diskusi melalui tulisan-tulisan yang ditayangkan lembaga ini.

Siapa pun yang suka pada gagasan-gagasan budaya, politik,  filsafat, pendidikan, bahasa, ekonomi dan bisnis, kesehatan,  botani atau apa saja yang diminati bisa dibaca dan dikritisi secara bebas,  namun tetap dengan mengedepankan tata karma dan sopan santun yang dimiliki kalangan  intelektual. Lyceum tempatnya. Lyceum, dalam  Chambers Family Dictionary  (1981), diartikan sebagai a gymnasium and grove beside the temple of Apollo in Athens, in whose Aristotle taught;  a college a place or building devotes to literary studies  or lecture. Pada masa Aristoteles merupakan sebuah aula yang dikelilingi hutan rimbun sebagai tempat pengajaran (kuliah) sastra.***

Cirebon,  1 September 2016.

Nurdin M. NoerWartawan senior, pemerhati kebuadaayn lokal.

Komentar
Memuat...