Home » Filsafat » Sejarah Kampus Dunia » Lyceum dan Aristoteles | Melacak Pemikiran Aristoteles Part – 3

Share This Post

Sejarah Kampus Dunia

Lyceum dan Aristoteles | Melacak Pemikiran Aristoteles Part – 3

Lyceum dan Aristoteles | Melacak Pemikiran Aristoteles Part - 3

Lyceum dan Aristoteles. Aristoteles bergelar bapak ilmu pengetahuan. Ilmuan kelahiran Stagira, Macedonia pada 384 Sebelum Masehi ini, dilahirkan dari seorang ayah yang dikenal menguasai fisika, biologi dan ilmu terapan. Karena itu, meski penulis belum memperoleh informasi akurat tentang pendidikan awal Aristoteles, tetapi, kemungkinan besar, ia berguru kepada bapaknya.

Baru ketika berumur 17 tahun, Aristoteles berangkat ke Athena. Diketahui bersama bahwa pada saat itu, Athena memperkenalkan dirinya sebagai pusat kota dan sekaligus pusat peradaban, bukan hanya bagi Yunani tetapi juga bagi dunia. Di Athenalah, terdapat Universitas hebat bernama Akademia yang didirikan Plato.

Aristoteles berada di Athena tidak kurang dari dua puluh tahun [367-347 SM]. Selama itu pula, Aristoteles belajar di Akademia Plato. Ia baru pulang ke Stagira setahun setelah kematian Plato [346 SM]. Meski tidak jelas sebabnya apa.

Yang pasti, di usinya yang ke 38 tahun [342 SM], Aristoteles diangkat raja menjadi seorang guru. Ia diminta Raja untuk mendidik anaknya yang baru berumur 13 tahun. Anak dimaksud diberinama Alexander Agung. Kelak ia akan menjadi raja menggantikan ayahnya. Aristoteles dengan tekun mengajari anak itu, sampai ia benar-benar diangkat menjadi raja.

Alexander Agung menjadi Raja

Alexander Agung kemudian diangkat menjadi raja [335 SM]. Saat itu juga, dia mengikuti Alexander Agung ke Athena. Atas bantuan raja baru itu, Aristoteles kemudian mendirikan kampus baru bernama Lyceum. Selama 12 tahun Aristoteles berada di Athena. Ia baru pulang kembali ke kampung halamannya, Stagira, ketika Alexander Agung meninggal dunia.

Rekomendasi untuk anda !!   Tipologi Respon Keberagamaan

Berkat raja yang terkenal ini, pendirian kampus lyceum dengan mudah dikembangkan Aristoteles. Kampus ini khusus dimintakan untuk menjadi pusat riset. Berdirilah kampus ini secara megah dan tentu saja terkenal. Inilah kampus pertama yang menjadi portopolio pertama juga di dunia tentang bagaimana negara membantu mengembangkan pendidikan berbasis riset ilmiah.

Lyceum Aristoteles dan Akademia Plato

Melalui narasi di atas, maka, Plato dan Aristoteles sama-sama memiliki kampus. Keduanya sekaligus menjadi imam keilmuan pertama dan bahkan mungkin utama dalam konteks Filsafat. Keduanya layak diberi gelar sebagai imam madzhab, khususnya dalam konteks keilmuan dan filsafat serta moral praktis. Mengapa keduanya layak disebut imam? Sebab keduanya memiliki corak berpikir yang diametral berbeda, sekalipun keduanya memiliki hubungan sebagai murid dan guru.

Perbedaan itu terlihat misanya dari: Jika Plato memiliki kampus bernama Akademi, maka, Aristoteles mengembangkan ilmunya melalui kampus bernama Lyceum. Kata lyceum [Λύκειον/Lykeion] berawal dari sebuah Gimnasium di Athena, Yunani Kuna. Nama ini dinisbatkan kepada Dewa Apolo Lyceus. Dewa ini dianggap mewakili komposisi dewa yang menguasai musik, ramalan, panahan dan penyembuhan. Dewa ini juga dikenal dengan nama Foibos Apollo yang umumnya dikenalkan sebagai dewa cahaya atau dewa matahari.

Lyceum mengajarkan ilmu pengetahuan melalui pendekatan paripatetik. Istilah ini masyhur ketika Aristoteles sendiri sudah meninggal dunia. Kata Paripatetik bukan buatan Aristoteles, tetapi lebih pada sebutan mereka atas para pengikut ajaran Aristoteles.

Rekomendasi untuk anda !!   Plato dan Akademi Pertama Dunia | Melacak Pemikiran Plato Part -1

Para penerus lyceum, bukan hanya mengajarkan ajaran ilmiah ala Aristoteles, tetapi cara mengajarnya yang tidak suka duduk. Aristoteles dikenal berkeliling dan mengitari seluruh murid-muridnya ketika mengajar. Model pembelajaran seperti ini, oleh Al Farabi dan Ibnu Sina [di dunia Islam] digunakan dengan nama masya’i atau masya’iyin [berkeliling].

Substansi Materi di Akademi dan di Lyceum

Akademi murni dibiayai Plato dan mereka yang bersimpati pada gagasan Plato. Sedangkan lyceum di sumbang seorang raja yang sangat terkenal, yakni Alexander Agung. Inilah perbedaan yang sangat mendasar antara Akademi [Plato] dengan Lyceum [Aristoteles].

Selain itu, terdapat perbedaan lain di antara keduanya. Misalnya, Jika Plato mengembangkan dasar-dasar pembangunan pada sesuatu yang bersipat esensial [values], maka, Aristoteles, justru pada sesuatu yang empiris dan cenderung pragmatis. Aristoteles bahkan menganggap Plato eror ketika menyebut bahwa pusat kebenaran terdapat bukan pada sesuatu yang empiris.

Konsekwensi dari sistem ilmiah seperti Aristoteles, menghasilkan suatu simpulan dasar tentang keabadian alam dan tentang Tuhan tidak mengetahui hal-hal yang partikuler. Inilah gagasan yang terus menerus dikembangkan Aristoteles. Konsep ini, secara bersamaan berbeda dengan pemikiran Plato. Inilah yang menyebabkan lahirnya dua madzhab dalam konteks filsafat. By. Prof. Cecep Sumarna –bersambung

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>