Inspirasi Tanpa Batas

SPONSOR

SPONSOR

Membunuh Mimpi | Candu Asrama Remaja Part – 17

0 8

Konten Sponsor

Candu Asrama Remaja. Benar juga cerita Kayla kepada Kelvin. Kayla memang akhirnya pergi dari rumah orang tuanya. Ia bersama Rayhan, suami yang paling setia, berangkat menuju Jakarta. Ia memberi alasan yang sangat kuat kepada kedua orang tuanya, bahwa mereka ingin mandiri. Ia menyembunyikan suatu rahasia, dipaksa seperti apapun akan alamat rumah mereka di Jakarta. Keduanya tetap tidak memberitahunya.

Kayla memberi alasan, bahwa nanti setelah segalanya cukup, akan memberi tahu alamat rumah yang dihuninya. Kayla dan Rayhan bahkan menolak hanya sekedar diantar supir keluarga. Rayhan merelakan diri untuk membawa mobil yang biasa digunakannya di Tanah Abang, Jakarta.

Sebelum berangkat, Kayla mendekati Nisa. Adik satu-satunya yang sangat disayangi Kayla. Ia mendekap Nisa dengan hangat dan menitipkan secarik kertas berwarna putih. Kayla bilang, Nisa bacalah surat itu, nanti setelah aku berangkat menuju Jakarta. Jaga dirimu baik-baik ya. Tentu jaga juga kedua orang tua kita. Percayalah aku akan selalu mendo’akanmu dalam segenap perjalanan hidup yang aku miliki.

Nisa meneteskan air mata. Rumah yang besar, memang tidak mungkin cukup hanya diisi dirinya bersama dengan anak kecil dan kedua orang tua mereka. Aku pasti kesepian teh … kata Nisa. Pulanglah dan pikirkan kembali untuk tinggal di Jakarta. Menurutku lebih baik di sini. Tanpa teteh, aku pasti akan kesulitan mengatur jalannya usaha orang tua kita. Boutiq, Alfa Maret, Konveksi dan perusahaan kayu dan mebeuler, siapa yang mengurusnya teh. Kayla tetap menggelengkan kepala. Jangan khawatir Nisa … aku akan memantaumu dari jarak yang sangat jauh.

Pergilah Kayla dengan Rayhan. Mereka berdua membawa mimpinya masing-masing. Di hati Kayla berbisik, Kelvin, kini kau kusempurnakan disimpan dalam hatiku. Di labirin bathin yang saya yakin tak mungkin ada yang mengetahui betapa aku mencintai kamu. Potomu tak ada satupun yang aku bawa dari rumah kami. Kubiarkan mereka tetap bergantung di rumah orang tuaku. Tetapi, kupastikan bahwa jiwa dan dirimu akan selalu bergantung di jantungku yang paling kokoh. Ia mengelus perutnya yang sudah memasuki usia lima bulan.

Saat Istirahat Kelvin Ngebel Kayla

Di tempat pemberhentian Toil Cipularang, Kayla dan Rayhan berhenti. Rayhan ingin buang air besar. Ia sedikit mules karena makan yang terlalu pedas. Kayla memilih diam di dalam mobil tidak ikut ke luar bersama Rayhan. Mobil tidak dimatikan dengan air condition yang juga tetap menyala. Tetapi, beberapa saat kemudian, tiba-tiba saat Rayhan ke luar dari mobil, nomor HP Kayla berbunyi. Tidak menggunakan nomor biasa. Ia memakai nomor tri dan tidak menyangka kalau itu Kelvin.

Di balik teleponnya kemudian munculah suatu suara yang dirasa sangat indah oleh Kayla. Suatu suara yang sesungguhnya selalu dinanti untuk mengobati hatinya yang selalu rindu. Kelvin langsung bertanya kabar dan ada di mana sekarang. Ia tidak tahu kalau Kayla sedang pergi ke Jakarta bersama suaminya. Lalu ia bilang lagi di jalan bersama Rayhan. Semula Kelvin hendak memutus suara itu, tetapi Kayla mencegahnya karena Rayhan sedang ke Toilet. Hampir setengah jam mereka berdua berbicara melalui telepon genggam itu.

Kelvin begitu bangga dan begitu sayang kepada Kayla. Meski ia tidak tahu siapa ayah sesungguhnya yang ada dalam rahiem dan janin Kayla, tetapi, entah aku tak peduli. Kata Kelvin memelas. Yang pasti aku merasa bahwa bagian tertentu dalam hidup, sekalipun penuh misteri, rasa sayang tak mungkin hilang begitu saja. Kelvin meminta tangan Kayla memelas kandungannya dan seolah hendak menyatukan rasa yang dia punya dengan janin dalam kandungannya itu. Kelvin kemudian berdo’a dalam hatinya:

Yya Allah … kami telah berbuat dosa. Tetapi, aku ingin meyakinkan diriku bahwa anak dalam kandungan Kayla adalah suci. Ia melambangkan kesucian bathin yang aku punya. Ya Allah jangan Kau timpakan kesalahan kami untuk anaknya Kayla. Biarlah aku yang menanggungnya. Ya Allah … aku mohon kepadaMu, jadikanlah anak ini shaleh, dan mampu menjadi pemimpin hebat di masa yang akan datang.

Ya Allah aku ingin ikut menitipkan anak itu, kepada-Mu dan kepada Kayla untuk merawatnya dengan penuh suka cita. Kayla meneteskan air mata. Kelv … jangan terlalu melankolis. Biasa ajalah … Rayhan kemudian muncul dan kemudian Kayla mengatakan, Kelv udah dulu ya .. Rayhan sudah ada. Berhentilah telepon itu dan kemudian Kayla melanjutkan perjalanan.

Nisa Membaca Surat Kayla

Lain Kayla, lain Kelvin. Nisa justru terisak dalam derai air mata yang pilu. Ia membaca surat Kayla kepada dirinya dengan syahdu. Isi surat itu berbunyi sebagai berikut:

Adikku, Nisa … ! Maafkan teteh ya … Selama ini, tetah telah banyak berbuat salah. Terutama kepada kedua orang tua kita. Mungkin juga terhadapmu. Perjalanan masa lalu teteh yang demikian sembilu, pada akhirnya harus teteh tebus dengan segenap kebaikan. Teteh ingin mandiri dan tidak ingin terlalu banyak membuat beban baru bagi kedua orang tua kita. Bahagialah dirimu, memiliki suami yang demikian hebat dan penuh cinta. Jadilah keluarga abadi. Jangan tiru teteh ya … Sejak saat ini, teteh akan mengganti nomor telepon. Nanti kalau segalanya sudah beres, aku pasti menjumpaimu.

Dalam hati, Nisa berkata: “Kayla memang misteri. Misteri kehidupan dan dia dicipta Tuhan dengan segenap kebaikan dan ketulusan”. Teteh hati-hati ya … sesungguhnya aku juga ingin bersama dengan kelvin. Ikut bersamanya ke Medan. Tetapi, apa daya bagaimana dengan orang tua kita. Teteh bisa merajut mimpi. Aku selalu dan terus menerus membunuh mimpi ini. By. Charly Siera –bersambung.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar