Home » Sastra Budaya » Novel » Maafkan Aku! dalam Novel Bergulat dengan Nafas Terakhir Part-9

Share This Post

Novel

Maafkan Aku! dalam Novel Bergulat dengan Nafas Terakhir Part-9

MAAFKAN AKU! | Doddy merasa terpukul, karena catatan dan imaginasi kreatifnya telah membawa dirinya ke ranah yang sangat sensitif. Beberapa kawan dekatnya, mulai banyak yang kecewa atas celotehan dirinya, saat menuangkan seluruh imaginasinya itu ke dalam bentuk tulisan. Aku … kata Doddy pelan, tidak sedikitpun bermaksud melecehkan atau mengurangi rasa syukur kami, untuk seluruh teman yang telah membantuku bersama istriku. Beberapa teman yang telah menyumbangkan pemikiran, moril dan materil, tentu aku bangga dan bahagia. Pahalanya bukan hanya akan dipetik di akhirat kelak, tetapi, akupun tak mampu melupakan selamanya. Terlebih saat di mana banyak kawan-kawan kami, yang terpaksa diambil darahnya dalam jumlah labu yang banyak. Darah mereka kini sudah terbawa ke alam barzah bersama dengan kematian Vanny. Bagaimana mungkin aku melupakannya.

Maafkan aku kawan. Sesungguhnya dan sejujurnya bukan itu yang kumaksud.Catatan ini, kupersembahkan hanya untuk anakku. Agar kelak ia bukan saja mengenal ibunya, tetapi, juga mengetahui bahwa betapa aku yang menjadi suami dan sekaligus menjadi bapak dari anakku itu, tahu kalau aku berada dalam dilema-dilema hidup yang sulit menepi. Ini bukan kecongkakanku. Ini adalah anugerah terbesarku pada akhirnya, karena ternyata jari tanganku tak mampu kuhentikan. Seolah aku didorong untuk terus menulis oleh sukma dan jiwa Vanny yang secara theologis, ruh dan jiwa itu memang tidak pernah hilang.

Rekomendasi untuk anda !!   Saat Pertama Bertemu dalam Novel Bergulat dengan Nafas Terakhir-Part 3

Jariku Tak Mampu Kutahan

Sulit kukatakan bahwa jari ini, terus menerus mendorong diriku untuk menulis kata dan kalimat, kata Doddy pelan. Ini misteriku. Aku bahkan tanggup menahan jari ini, hanya sekedar untuk menuliskan nama asli istriku. Ia selalu tertulis dalam hurup yang selalu gagal. Nama itu, selalu tertulis dalam hurup yang berbeda dengan aslinya. Akhirnya aku tak peduli, mungkin ruh kekasihku menginginkan untuk dipanggil dengan nama itu.

Di balik semua itu, harus juga kutuliskan bahwa tulisan ini didorong oleh satu catatan kecilku yang membuat aku dalam suasana pilu, berbagai memory buruk yang akhirnya menjadi kenangan indah itu, muncul dengan sangat cepat saat kerinduanku begitu mendera akan apa yang aku alami. Mungkin aku lupa diri dan mungkin juga aku tak mampu mengontrol diriku sendiri. Aku tak mau apa yang kualami, dapat teralami oleh siapapun, karena betapa situasi itu sangat menyiksa.

Rekomendasi untuk anda !!   Mentari di Ufuk Rindu dalam Selendang Pemikat Rasa Part-2

Kerinduanku pada apa yang aku cintai, semakin tak mampu aku hapus meski hanya sekejap. Iringan waktu yang telah meninggalkanku dalam jarak yang semakin panjang, tidak membuat aku memiliki hasyrat akan apapun, terlebih saat di mana anak kami menyunggingkan seutas senyum yang terus mengingatkan akau padanya. Kawan, sejujurnya inilah situasi-situasi tersulit yang aku alami. Situasi di mana mata, hati dan pikiranku tak mampu membawa aku ke alam kebahagiaan baru.

Inilah kalimah saktiku kata Doddy, sambil memejam mata di atas kasur yang mulai tak lagi empuk. By. Charly Siera –bersambung.

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>