Take a fresh look at your lifestyle.

Mabrur Tak Identik dengan Berangkat Haji | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part-2

50 154

Mabrur Tak Identik dengan Berangkat Haji | Dengan pipi kiri dan kanan Shofi yang dialiri air mata, ia mengambil Tembako Cap Wayang. Ia gelar Tembako itu, di pusaran para ksatria agama. Tidak ada diskusi dan tidak ada lagi komunikasi antara mereka, kecuali hanya melintingkan daun Nira kering dengan Tembako dimaksud. Mereka sama-sama menghabiskan dua lintingan Tembako. Suasana yang kelihatan sangat asyik dan nikmat itu, berakhir ketika Shofi idzin ke WC. Seperti biasa, Shofi menggosok gigi dan mempersiapkan diri berangkat ke sekolah.

Tas Hitam bersama dengan baju Safari yang berganti setahun sekali itu, ia gunakan. Tampak sosok laki-laki separuh baya itu masih gagah untuk berdiri dan berjalan. Tidak lupa kaca mata plusnya ia selipkan ditasnya, lalu menjinjingnya pergi ke sekolah. Dari rumah menuju sekolah yang dipimpinnya itu, kurang lebih 700 meter, dan ia selalu berjalan kaki. Sepatu yang digunakan jarang disemir. Maklum merasa percuma, sebab tidak lama habis disemir, sepatu itu pasti kembali merah. Jalan yang dilalui bukan hanya terjal, tetapi jauh dari aspal.

Perjalanan Penuh Lamunan

Sambil berjalan kaki, Shofi tidak berhenti melamun. Beberapa temannya yang melewati atau dilewatinya, kadang tidak terhiraukan. Banyak orang berkata: “Assalamu’alaikum pak Mantri …! Tidak semua kata itu terjawab. Ia berjalan dengan sejumlah kebingungan yang sangat akut. Ia mempertanyakan, apakah mungkin orang Islam, terpaksa atau dipaksa harus menunaikan ibadah haji. Ia menghitung jumlah kebun dan sawahnya. Kalau dijual, untuk ibadah haji berdua, insyaallah cukup. Lalu untuk makan dan meneruskan pendidikan anak dari mana?

Kadang ia menjawab sendiri. Aku kan punya gajih sebagai PNS. Bathinnya kembali menjawab. Gajihgu kan habis dipotong Koperasi. Belum karena aku menjadi Kepala Sekolah Swasta, bukankah soal ujian juga harus aku bayar. Anak-anak yang sekolah di sini banyak yang bukan saja tidak mampu bayar, tetapi, juga memandang pendidikan tidak penting. Akibatnya, uang gajih ku kan habis dipotong Suvervisilah, membayar soal ujianlah dan beban-beban lain.

Gajihku tidak cukup, bukan saja untuk membiayai pendidikan tinggi anak-anakku, tetapi, juga untuk hanya sekedar makan. Ya Allah bagaimana aku ini. Jika aku jual tanah sawah dan kebunku, bagaimana semua ini harus aku jalani. Sementara istriku, tidak pernah berhenti untuk memintanya agar mendaftar melaksanakan ibadah haji. Lindungilah aku ya Allah dari kesesatan pikiranku, dan nafsuku termasuk nafsu melaksanakan ibadah haji.

Tidak terasa perjalanan dari rumah menuju sekolah itu, telah sampai. Shofi duduk di kursi tamu sekolah. Ia melamun dengan tenang. Anak-anak sekolah mulai ramai. Banyak guru sudah hadir dan siap untuk mengajar. Shofi masih duduk di kursi tamu itu, seperti tidak ingain bangkit. Bel sekolahpun sudah dibunyikan. Semua murid dan guru sudah masuk ke dalam kelas. Shofi tetap duduk di kursi dan sedikitpun tidak terkesan mau masuk ke dalam kelas.

Shofi Ingat Kitab Durah An Nashihin

Saat Shofi melamun di kursi tamu sekolah itu, ia kemudian ingat pelajaran agama di Pesantren Bahrul Ulum Tasikmalaya. Di lembaga pendidikan ini, ia pernah belajar suatu kitab yang disebut Durah An Nashihin. Kitab ini, memang dianggap banyak kalangan mengandung hadits-hadits lemah. Tetapi meskipun lemah, ia dalam beberapa hal tetap memberi pelajaran berarti. Salah satu kisah yang ingat saat itu, dalam apa yang terdapat dalam kitab dimaksud adalah kisah haji. Inilah ceritanya:

“Suatu hari ada seorang alim yang lemah dari sisi ekonomi. Ia menabung dalam waktu yang cukup lama untuk kepentingan ibadah haji. Tibalah saatnya ia berangkat ibadah dimaksud dengan perbekelan yang menurutnya bakal cukup. Ribuan hari yang dia tunggu untuk ibadah itu, terjawab sudah. Tetapi, pada malam hari, di mana besoknya dia mau berangkat ibadah dimaksud, tiba-tiba hujan besar dan menyebabkan satu rumah orang miskin hancur tempat tinggalnya. Berita itupun sampai kepada sang alim itu.

Tanpa diduga seluruh biaya yang dipersiapkannya untuk melaksanakan ibadah itu, ia berikan. Tanpa menyisakan sedikitpun uang yang dimilikinya untuk ibadah dimaksud. Iapun akhirnya, tidak jadi berangkat haji. Beberapa bulan setelah kejadian dimaksud, seorang shufi besar asal Baghdad, bermimpi bertemu dengan Rasul Muhammad di Ka’bah. Yang dalam mimpi itu dititipi salam agar disampaikan kepada seseorang dengan alamat dan tempat di mana sang alim yang miskin itu tidak jadi berangkat ibadah haji. Dialah dari ribuan orang yang melaksanakan ibadah itu, yang hajinya diterima Allah”

Inilah Kisah yang menjadi spirit Shofi. Dan inilah Dalil yang dia gunakan untuk menjawab istrinya dan pamannya. Setelah lamunan itu, Shofi bangkit lalu bergerak menuju kelas untuk mengajar. Ia begitu lincah menerangkan sesuatu. Ia pandai dan menjadi murid teladan saat dia mengikuti Pendidikan Guru Agama 6 Tahun di sekolahnya. Iapun tidak lagi memiliki sedikit keraguan, bahwa hajinya harus ditunda sampai dalam batas waktu yang belum ditentukan.

Dalam hatinya, Shofi berkata: Aku merasa bahwa Tuhan belum waktunya Dicari di Kaki Ka’bah. Aku akan mencari dan menemukan-Nya di sini. Di kampung halamanku sendiri. By. Charly Siera — bersambung.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

  1. Mana rul berkata

    Novelnya bagus dan alur ceritanya juga bagus tetapi terlalu singkat kisah ceritanya.Seorang yang wajib melaksanakan haji adalah orang yang mampu dan mempunyai niyat atau tekat yang kuat, dan hanya satu kali seseorang diwajibkan untuk berhaji, seorang yang berhaji tidak dilihat dari berapa banyak iya menunaikan hajinya tetapi berapa ikhlas dan tekat kuat ia menjalankanya.

  2. Siti Hamidah Tadris IPS A / 1 berkata

    Bismillah,
    Tidak semua muslim bisa menunaikan rukun Islam yang kelima ini. Oleh karena itu, kita harus memikirkan secara matang sebelum memutuskan untuk berhaji. Jangan sampai kita berhaji hanya karena ingin dihormati oleh orang lain atau karena gelar haji saja. Ibadah haji adalah ibadah yang wajib bagi yang mampu, dan apabila kita ditakdirkan atau dipanggil Allah untuk melaksanakan ibadah haji/ mendatangi rumahnya InsyaAllah semua itu akan di permudah, kembali lagi kepada diri kita sendiri bagaimana mengusahakannya dan berniat Lillah.

  3. Elok Firdausiana berkata

    Pada part 2 ini, kebimbangan yang dialami oleh Shofi untuk memilih sebuah keputusan akhirnya terpecahkan setelah ia ingat isi dari kita Durah An Nadihin yang dulu pernah ia pelajari sewaktu di pesantren. Dan akhirnya Shofi telah menilih dan tetap kekej pada keputusannya agar tetap menunda untuk mendaftarkan haji. Dengan keteguhan hati Shofi dalam memilih keputusan, ia bergumam dalam hatinya “Aku merasa bahwa Tuhan belum waktunya dicari di laki ka’bah. Aku akan mencari dan menemukan-Nya di sini, di kampung halamanku sendiri”

  4. Sukinih berkata

    dari novel part 2 ini, ibada haji memang wajib dikerjakan bagi setiap muslim yang mampu . tetapi keinginan melaksanakan ibadah haji tidak harus terburu-buru semau harus dipersiapankan lebih matang dengan niat untuk melaksanakan ibadah haji . jika melakukan ibadah haji tidak dengan hati yang tenang bersih maka haji tidak akan berjalan dengan baik. . sekian

  5. Hasanatun Nadia berkata

    bismillah..
    memang ini adalah suatu pilihan yang sulit untuk diputuskan.. menunaikan ibadah haji memang wajib, tp di sisi lain memberi nafkah kepada anak dan istri pun suatu kewajiban .
    walaupun untuk bisa mendapatkan pahala haji mabrur tidak harus mengikuti ritual haji tapi ada rasa yang beda jika kita menjalankan ritual ibadah haji secara nyata dan mendapatkan kemabrurannya dan itulah yang di inginkan oleh semua orang Islam.

  6. yuni anna berkata

    Haji itu tidak harus berangkat ke mekkah , karena dengan beramal juga dapat di sebut dengan haji.
    sebagaimana hadits nabi yang berbunyi manjada wa jadda , barang sipa yang bersungguh-sungguh maka ia akan dapat, begitupun dengan shofi apabila ia berusaha dan ttp beristiqomah maka ia akan dapat menunaikan ibadah haji.

  7. De Zidni Tazqiah MPI 3 berkata

    Assalamualaikum. Setelah saya membaca novel mencari tuhan di kaki kabah part 2, bahwasannya Kebimbangan seorang shofi menggambil keputusan yang sangat berat untuk berangkt haji atau tidak, karna dia benar-benar tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri akan tetapi dia masih saja memikirikan kepentingan lain seperti biaya untuk masa depan anaknya kelak nanti. Ibadah Haji merupakan salah satu dari rukun Islam. yakni pada rukun yang kelima yang wajib dikerjakan bagi setiap muslim, baik itu laki-laki maupun perempuan yang mampu dan telah memenuhi syarat. Berhaji bukan hanya mampu berangkat tetapi juga kita mampu memenuhi kebutuhan selama berhaji maupun setelah berhaji. Cerita diatas dapat kita tahui bahwa jika kita inggin melalukakan sesuatu maka kita harus melihat sekeliling kita terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.

  8. Melli Nurvelina berkata

    Assalamu’alaikum.wr.wb
    Di part ini Shofi benar2 dilanda kebingungan keputusan apa yang mesti diambil, disatu sisi shofi mementingkan pendidikan anak2 nya dan kehidupan sehari2 nya sedangkan disisi lain istri terus2an menyuruh untuk menabung ibadah haji,
    Ditengah lamunan nya shofi teringat akan kitab yang pernah ia pelajari sewaktu dipesantren yaitu kitab Durah An Nashihin yang mampu memecahkan kebingungan nya, shofi akhirnya memutuskan untuk menunda menunaikan ibadah haji nya dalam waktu yang belum ditentukan..

  9. Amalia Fitriyanti berkata

    Mencari Tuhan Di Kaki Ka’bah part 2
    Menurut pendapat saya setelah membaca novel part 2 ini, menunaikan haji itu bagi yang mampu terutama mampu dalam segi materi. Tetapi, jika meteri itu sangat terbatas dan lebih di butuhkan dari yg lainnya. Maka janganlah memaksakan diri. Karena itu bukanlah waktu yang tepat. Allah akan mempermudahkan hamba-Nya tanpa harus meninggalkan beban. Oleh karena itu shofi dalam peran tersebut akan mencari jalan yang lain agar bisa menunaikan haji tanpa harus menjual sawahnya.

  10. Ega Sopana berkata

    part 2 ini saya berpendapat bahwa menunaikan ibadah haji itu wajib bagi yang mampu. Di dalam part 2 ini shofi bingung dalam segi ekonomi dia gaji besar tetapi dia menjadi kepala sekolah swasta belum juga dipotong lagi dengan koperasi dan kebutuhan keluarganya apalagi untuk menunaikan ibadah haji berasa tak mungkin. Dan shofi juga sangat tergesa gesa dalam menunaikan ibadah haji itu ingin cepat-cepat ingin menunaikan haji sampe-sampe dia ingin menjual sawah nya. Tetapi jika dia menjual sawah bagamana dengan makan keluarganya. Dia pun meminta kepada Allah untuk memudahkan jalan pikiran nya. Dan dia pun teringat tentang kitab ad durah an nashihin tentang cerita didalamnya dan dia pun termotivasi tentang ceritanya itu. Nah kita bisa ambil pelajaran dari cerita dalam kitab ad durah an nashihin ini untuk menolong sesama muslim yang terkena musibah apalagi itu orang miskin, karena itu sama saja dengan ribuan orang yang melaksanakan ibadah itu, yang hajinya diterima Allah . Dalam segi pendidikan nya yaitu dalam mendidik siswa-siswa nya dengan sabar walaupun siswa-siswi itu pada nakal. Lalu dalam hal penyampain belajar sebaiknya jangan terburu-buru. Supaya siswa-siswi nya bisa memahami apa yang seorang pendidik sampaikan.

  11. Ade Rossy Indra Pertiwi TIPS A/1 berkata

    Assalamu”alaikum wr.wb.
    dalam part ini bahwasanya saya sependapat dengan shofi yang tidak egois atau tidak memikirkan dirinya sendiri ia lebih memikirkan atau mengedepankan keluarganya. sehingga ia bingung untuk berangkat menunaikan ibadah haji sehingga ia berfikir ingin menjual harta yang ia miliki sekarang. dalam hal ini pula bahwasanya jgn mengambil keputusan itu tidak harus tergesa-gesa berfikirlah secara matang-matang jangan mengikuti nafsu belaka saja. Terimakasih

  12. Silmy Awwalunnis
    Silmy Awwalunnis berkata

    Mencari tuhan bukan banya di kaki ka’bah. Ibadah haji wajib hukumnya bagi mereka yang mampu. Mampu dalam segi ekonomi, jasmani dan rohani. Jika seorang shofi dalam part 2 ini memilih untuk menunda sementara ibadah hajinya mungkin itu belum saatnya ia beribadah haji atau Alla belum memanggilnya untuk pergi ke tanah suci.

  13. Rina Agustiana berkata

    Mabrur Tak Identik Dengan Berangkat Haji, dengan kita melakukan sholat,puasa,zakat itu semuah dengan ikhlas dan niat karena Allah ta’alah insyaAllah itu sudah termasuk mabrur
    memang haji termasuk rukun islam tetapi dengan catatatan”menunaikan ibadah haji apabila ia sudah mampu” mampu disni apabila sudah memenuhi semuah kebutuhan buat dirinya sendri dengan memenuhi kebutuhan orang yang di tinggal nya seperti kebutuhan anak-anakNya.
    Apabila kita belum mampu menunaikan ibadah haji sebaikNya kita jangan dulu menjalankan nya namun tanpa pak shofi sadari bahwa jika ia berangkat haji dengan membawa nafsu yang tergesa-gesa yang akan membuat Allah SWT tidak meridhoi apa yang ia lakukan maka akan sia-sia.
    Jadi shofi menyadari bahwa pendidikan keluarga lebih utama.

  14. Farrin Nurul Aina berkata

    “Kebimbangan hati shofi untuk berangkt haji semakin besar, dia benar-benar tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri akan tetapi dia masih saja memikirikan kepentingan lain seperti biaya untuk melanjutkan sekolah anaknya. Namun ketika shofi membaca kitab An-nasihun yg berisi tentang haji dia semakin yakin untuk menunda hajinya. Karena pada kisah itu orang yg tidak jadi brngkt haji karna membantu orang lain yg lebih membutuhkan sampai2 Rasulullah menitipkan salam untuknya, dengan kata lain mabrur nya seorang haji tdk hanya d tentukan sampai tdk nya dia ke makkah tapi dilihat dari keberkahan setiap ibadah nya

  15. Fariz maulana ibrahim tadris ips a/1 berkata

    sangat menarik dan banyak manfaat yang didapat setelah membaca kisah novel ini,diceritakan Shofi yang tergesa gesa akhirnya mendapat petunjuk dan menunda keberangkatan hajinya setelah membaca kitab Durah annasihin,karena jika melakukan ibadah haji tidak dengan hati yang bersih,tenang atau tergesa gesa tidak akan berjalan dengan baik.

  16. akhmad afifudin berkata

    Sangat memotivasi pembaca,
    Kebimbangan shofi ketika tuntutan istrinya agar sgera sang suami mendaftarkan haji akhirnya dengan melihat hadits yang terdapat dalam durah nashihin menjadikan shofi menunda dan kuat terhadap pendiriannya.. Karena shofi merupakan slah satu orng yang peduli terhadap pendidikan anak anaknya sehingga menunda untuk melaksanakan ibadah haji.. Dan shofi yakin bahwa bukan waktu yang tepat untuk skrng mencari tuhan bukan hanya makkah saja. Tapi dikampung halamanpun bisa..
    Selain itu. Part 2 menginspirasi pembaca bahwasannya pendidik harus selalu tabah dan tidak boleh lengah terhadap apa yang menimpa dirinya.karena tujuan pendidikan slah satunya menjadikan pribadi seseorang menjadi dewasa ..

  17. maemunah fadillah berkata

    kebimbangan hati shofi akan keberangkatannya ke tanah suci akhirnya terjawab setelah ia ingat akan suatu kisah seorang alim yang terdapat di dalam sebuah kitab yang bernama Durah An Nasihin yang dahulu pernah ia pelajari saat masih berada di pondok pesantren. Akhirnya shofi pun semakin yakin untuk menunda keberangkatannya ke tanah suci setelah membaca kitab tersebut.

  18. Fifit Fitri Nur'aeni/Ips/1B berkata

    AsAlamuallaikum
    Dalam novel part 2 ini sangatlah menarik bagi pembacanya karena shopy menyadari bahwa ibadah haji itu tidak di laksanakan secara tergesa-gesa. Sebab syarat *mampu* berhaji bukan hanya mampu berangkat tetapi juga kita mampu memenuhi kebutuhan selama berhaji maupun setelah berhaji. Berangkat haji haruslah mempunyai bekal yang kuat akan materi, jasmani maupun rohani.
    Di dalam setiap orang di cipta dalam keinginan untuk tuhan. Mencari tuhan tidak harus di kaki ka’bah tetapi juga bisa dengan cara beribadah kepada allah,mentaati perintahnya dan menjauhi larangannya.

  19. Siti Hayyun berkata

    dalam part dua ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa shofi telah melakukan metode yang bagus dalam menganalisa masalah yang dihadapinya. dimana shofi telah menganalisis/mengungkapkan fakta-fakta yang ada dalam masalahnya yaitu dengan sejumlah hitungan luas kebun dan tanah yanag mana bila dijual akan mencukupi biaya berangkat haji, akan tetapi tanggung jawab shofi bukan hanya satu dua orang. dia harus mencukupi biaya anak-anak, biaya ujian sekolah dan permasalahan lainya. lalu shofi teringat pada sebuah hadist Nabi SAW yang membahas tentang haji. dalil ini tentu menjadi landasan shofi dalam memecahkan masalah yang sedang di alaminya kini. dengan ini, shofi mampu melakukan pendekatan atau memiliki cara pandang yang menurutnya mampu menjawab pertanyaan dari istri dan pamanya

  20. Asri Wulandari berkata

    Memang sangat sulit jika dalam kondiri tersebut, ibadah haji sendiri memiki syarat. Salah satu sayaratnya adalah orang tersebut harus mampu secara fisik dan materi, jika dalam keadaan pak shofi dalam.novel, sangat dilematis, saat kita sudah di anggap sebagai orang kaya tapi sebenrnya keuangan kita saja tidak cukup untuk menutupi kebutuhan pribadi. Apalagi pak shofi menutup kebutuhan sekolah swasta yang dipimpinnya dengan uang beliau sendiri, mungkin ini hanya masalah waktu untuk pak shofi dapat menjelaskan dngan istri supaya tidak selalu mmaksa daftar haji. Dan mencari tuhan memang tidak selamanya harus di kaki ka’bah, karena tuhan ada di hati hambanya yang percaya. Sekian..

  21. Isah Siti Khodijah T. IPS/A/1 berkata

    Asalamualaikum wr.wb…
    Ibadah haji merupakan rukun islam yang kelima yang wajib dilaksanakan,tetapi salah satu syarat nya adalah jika kita mampu. Tetapi, saya lihat didalam novel part2 ini shofi belum mampu melaksanakannya & itu menurut saya wajar dengan pertimbangan2 yang dia kemukakan. Dia tidak egois. Jika dia memilih berhaji dgn menjual berharganganya bagaimana dengan pendidikan anak2nya?, kemudian Shofi teringat dengan sebuah kitab yg dibacanya dan memberikan inspirasi kepada nya utk mengambil keputusan yg bijaksana. jadi dpt dikatakan bahwa rajin lah membaca buku agar dpt memaknainya. Dia juga sangat mementingkan pendidikan anak2nya dimana dlm keadaan apapun shofi selalu memikirkan biaya sekolah anak2nya. Semoga Allah segera memberikan kesempatan kpd shofi agar cpt mencari tuhan dikaki kabah. Amen. Trims..

  22. Aida Nur Aisyah-T.IPS A/1 berkata

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Dalam part 2 ini, tokoh Shofi menyadari bahwa ibadah haji itu tidak dilaksanakan secara tergesa-gesa dan terpaksa. Sebab syarat “mampu” untuk berhaji bukan hanya kita mampu berangkat ke Mekkah dan melaksanakan ibadah haji di sana, tetapi juga kita mampu memenuhi kebutuhan kita dan keluarga selama beribadah haji maupun setelah beribadah haji. Selain itu, masih banyak yang dapat kita lakukan selain beribadah haji contohnya kita dapat berbuat baik kepada orang-orang yang ada di sekitar kita. Dalam part ini pula, tokoh Shofi menunjukkan sikap profesionalisme, hal tersebut ditunjukkan saat Shofi tengah mengajar. Shofi tidak lagi memikirkan masalah yang ia hadapi. Shofi berusaha menyampaikan yang terbaik kepada anak didiknya. Sikap tersebut patut dicontoh oleh kita yang akan menjadi seorang pendidik. Serumit apa pun masalah yang kita hadapi jangan sampai kita membawanya ke dalam kelas.

  23. M. Didi Wahyudi berkata

    sangat mantap, ibadah haji bukan sekadar rukun islam yang wajib di lakukan jika mampu dalam segi ekonomi, kita bisa saja menjual tanah atau sawah untuk bisa pergi ibadah haji, tapi kalau itu semua dijual kita mau makan apa? mending sawah atau tanahnya bisa kita olah atau tanami tanaman yang bisa menghasilkan uang, lalu kita tabung dan kalau sudah cukup kita bisa pergi ibadah haji tanpa harus menjual tanah atau sawah yang kita miliki. dan sawah itu masih bisa kita olah untuk penghasilan sehari hari

  24. Lenny Erdiani Choerun Nissa (Tadris IPS/1-B) berkata

    Assalamu’alaikum…
    Di part 2 kali ini cerita nya semakin menarik untuk dibaca.
    Sofi mengambil keputusan yang sangat bijaksana, ia tidak mungkin menjadi egois hanya karena keinginan nya untuk berangkar haji, sampai menjual aset berharga dan membuat pendidikan anaknya terbengkalai. Ia teringat tentang pelajaran kitab “Durah an Nashihin yang ia pelajari di pondok pesantren bahrul ulum. Kisah yang sangat membuatnya bersemangat, dan menambah spirit. Dan menjadi alasan untuk menjawab keinginan-keinginan istrinya untuk segera berangkat haji. Pelajaran yang dapat ia ambil dari kisah tersebut ialah, “Bahwasan nya menolong orang yang lebih membutuhkan bantuan nya saat ini, lebih baik daripada mendahulukan kepentingan nya untuk beribadah haji”.
    “Aku merasa bahwa tuhan belum waktunya dicari di kaki ka’bah. Aku akan mencari nya di sini. Di kampung halamanku sendiri.

  25. dhini apriliani 1/b ips berkata

    asalamualaikum. pada part 2 ada pelajaran dan hikmah yang bisa diambil setelah membaca ceritanya, alasan untuk shofi menunda untuk berangkat haji memanglah logis dan masuk akal di antara dua pilihan itu shofi harus meilih salah satunya. ia berfikir bisa saja menjual tanah dan sawah tetapi kehidupannya? shofi melamun di kursi tamu sekolah ia ingat tentang kitab ”DURAH AN NASHIHIN” di kitab itu isinya hampir sama seperti apa yang di hadapi oleh shofi dan menjadi jawaban untuk istri dan pamannya karena ibadah haji bukan mampu secara finansial tetapi jasmani dan rohani juga penting. akhirnya shofi menunda ibadah hajinya dan berfikir belum waktunya tuhan di cari di kaki kabah ia akan mencarinya di kampung nya sendiri.

    1. Cecep Sumarna
      Cecep Sumarna berkata

      Itulah haji sosial … haji yang mendeskripsi betapa pentingnya berbuat bajik terhadap sesama

  26. Firman Maulana mpi smt 4 berkata

    Part 2
    Dalam episeode kedua ini saya kagum dengan sebuah keputusan yg dipilih oleh shofi, yaitu menunda ibadah hajinya dengan waktu yg tidak menentu. Alasan shofi menundanya karena ia teringat dgn kisah seorang alim ulama yg miskin, yg diceritakan dalam kitab Durah An Nashihin yg pernah ia pelajari ketika mengenyam dipendidikan di pondok pesantren Bahrul Ulum Tasikmalaya. Dan lebih memilih mendidik keluarganya terlebih dahulu.

  27. tubagus rizqy yahya mpi/4 (1415209028) berkata

    Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari part 2, ibadah haji itu tidak boleh dilakukan dengan tergesah2 dan bimbang, apalagi bimbang karena keluarga. Dalam kitab sulamuntaufiq dijelaskan bahwa sebelum orang menunaikan ibadah haji itu harus mementingkan keluarganya terlebih dahulu. Msalnya memikirkan sandang pangang keluarga selama 1 bulan ditnggal haji. Sesungguhnya Islam adalah agama yang mudah, memberikan kemudahan, menghilangkan beban dan menghilangkan segala yang berat bagi manusia.

  28. Muhammad Yasir Arafah MPI/4 (1415109012) berkata

    Bismillahirrahmanirrahim, dalam part 2 ini pembahasan yang di bahas semakin menarik. Bagaimana kewajiban haji atau anjuran haji dibenturkan dengan keadaan yang dialami individu disini shofi. Bahwa ibadah haji butuh banyak persiapan dan kematangan, baik fisik, batin, financial, dll. Tidak bisa terburu-buru dan tanpa persiapan karena kegiatan dan perjalan haji sangat membutuhkan persiapan sendiri.
    Di part ini juga kita dapat mengambil hikmah bahwa, jika suatu keadaan belum mengizinkan kita untuk menunaikan ibadah haji atau salah satu rukun islam, maka harus tetap bersabar dan berikhtiar. Karena mabrur bukan hanya berhaji, cap mabrur bukan pada ibadah hajinya melainkan kembali pada individunya.

  29. Koko Santoso (MPI/4) berkata

    Part 2
    Mabrur Tak Identik Dengan Berangkat Haji
    Pada part ini, shofi dibuatbdilematis karena dihadapkan pada dua pilihan yg teramal sulit. Pilihan pertama menuruti istrinya untuk beribadah haji & pilihan ke dua menyekolahkan anak2nya hingga pendidikan tinggi. Meski tekad sudah bulat untuk beribadah haji, pada akhirnya datang sebuah bencana pada salah satu tetangganya yg terkena musibah. Akhirnya ia menghibahkan harta untuk beribadah haji yg dialokasikan untuk tetangganya yg terkena muaibah. Kesimpulannya bahwa dalam Kitab Lisan al-Arab, mabrur dapat berarti baik, suci, dan bersih dan juga berarti maqbul atau diterima. Dan pada kisah ini mabrur yg dimaksud adalah ketika mampu berbuat baik kepada sesamanya dengan hati yg ikhlas.

  30. umar faruq mpi 4 berkata

    seperti halnya yang dikatakan salah satu kitab berang siapa yang memberikan 1 sodaqoh makaakan dilipat gandakan 10, namun dari reverensi diatas bukan hanya materi bahkan allah menggantikannya dengan finansial-finansial lainnya. namun dengan didasarkan keikhlasan dan tawakal pasrah diri yakin bahwa allah akan menggantikannya apa yang dia beri.
    keren shofi sekali mendapatkan reverensi dari kitab Durah An Nashihin. Kitab ini, walaupun dianggap banyak kalangan mengandung hadits-hadits lemah. Tetapi meskipun lemah, ia dalam beberapa hal yang ada karomah didialamnya.
    kutipan yang saya suka
    “Aku merasa bahwa Tuhan belum waktunya Dicari di Kaki Ka’bah. Aku akan mencari dan menemukan-Nya di sini. Di kampung halamanku sendiri.”

  31. Ega Sugandi (1415109003) MPI/4 berkata

    Intervensi dari Istri dan pamanya membuat shofi seakan-akan permintaan itu menjadi beban pikiran baginya, pikiran-pikiran tersebut sampai membuatnya terbawa dalam menjalani aktivitasnya sebagai seorang pendidik. Shofi selalu melamun dan memikirkan solusi yang tepat untuk bisa keluar dari pegejolakan batin yang dihapinya, namun ketika shofi sedang melamun tiba-tiba ingat dengan pelajaran agama di pondok pesantren bahrul ulum tasik Malaya di pondok ini ia pernah belajar tentang kitab Durah An Nashihin yang berisi tentang hadist-hadist lemah, di dalam kitab tersebut terdapat sebuah cerita tentang ibadah haji. Dan pada saat ia teringat dengan cerita tersebut shofi memutuskan untuk menunda hajinya sampai batas waktu yang belum ditentukan.

  32. Siti Nurbaeti (1415109022)-MPI/4 berkata

    subhanAllah beruntung sekali orang alim tersebut mendapatkan salam langsung dari Baginda rasulullah SAW. Pelajaran yang harus di contoh dari kisah orang alim di atas yaitu sifat dermawan serta berusaha menolong antara sesama (tidak egois). Namun pelajaran yang saya ambil dari kisah shofi ini ialah janganlah memaksakan kehendak atas sesuatu yang belum bisa kita dapatkan. Saya sepakat dengan penulis bahwasanya mabrur tidak identik dengan haji, karena dengan beribadah (seperti sholat, zakat, puasa) dengan bersungguh-sungguh kepada Sang Kholik dengan disertai rasa ikhlas ridlo Lillahita’ala inshaAllah semua amal kita akan diterima oleh-Nya

  33. ABDURRAHMAN HASYIM ( MPI-4 ) berkata

    di part 2 ini sungguh berharga bahwa sanya shofi lebih mengedepankan keperluan keluarga. tenimbang brangkat haji walaupun keinginan nya sangat besar, dan apa yang tertera dalam judul part ini bahwa sanya mabrur tidak identik dengan berangkat haji,

  34. Siti Sutihatin-MPI/4 berkata

    Ibadah haji memang merupakan sesuatu yang perstisius bagi umat Islam. Tidak semua muslim bisa menunaikan rukun Islam yang kelima ini. Oleh karena itu, kita harus memikirkan secara matang sebelum memutuskan untuk berhaji. Jangan sampai kita berhaji hanya karena ingin dihormati oleh orang lain atau karena gelar haji saja.

  35. Sri hardianti-MPI/4 (1415109024) berkata

    Shofi masih merasa bingung dengan keadaan ini..
    Akankah ia menjual tanah dan kebun yang ia sisa untuk brhaji, lalu bagaimana dengan biaya pendidikan kelak untuk anak anaknyaa.
    Ia terus melamun sampai akhirnya ia teringat dengan cerita kyai..
    Kyai tersebut mengumpulkan uang selama beberapa tahun untuk brangkat ke mekkah untuk brhaji, akan tetapi kemudian ia mendengar bahwa tetanngganya mendapat musibah. Akhirnya ia memberikan uang tabungannya tersbut untuk membantu tetagganya..
    Saat itu shofi sadar dan kembali bersemangat untuk mengajar.

  36. Indah kusumawati (mpi-4) berkata

    Pada part 2 ini pak shofi masih kebingungan antara berangkat haji atau tidak, dia berfikir dgn matang akan kebutuhan nantinya setelah pulang haji. Pak shofi masih dg pendapatnya yg tidak mau brangkat haji apalagi dg cara terpaksa, dia ingin berangkat haji dg sepenuhnya karna niat semdri. Setelah membaca novel ini saya baru mendapatkan ilmu kalau mabrur itu tidak identik dengan berangkat haji, tapi bisa juga dg menolong sesama manusia dlm keadaan kesusahan.

  37. Riana Sri Anisah MPI Smt 4 berkata

    kesimpulan dari part 2 ini berhaji memang tidak wajib, akan tetapi di anjurkan bagi setiap muslim yang memang berniat ke baitullah dan bukan karena nafsu dan sudah mencukupi kebutuhan terhadap keluarganya. dan saya sangat kagum apabila seseorang yang harus merelakan dan mengorbankan hartanya untuk menolong dan membantu terhadap sesama dibandingkan untuk kepentingan pribadinya sendiri.

  38. Sri Rokhmah-MPI/4 berkata

    Bismillah..
    Pada novel diatas shofi lebih mengedepankan keperluan keluarga. Tekad utk melsksanakan ibadah haji blm ada. Dan subhanallah trhdp org alim yg lgsg mendapatlan salam oleh Rasulullah.

  39. Asyifa Nuraeni Kartika Ali berkata

    Asyifa Nuraeni Kartika Ali (MPI/4)
    Dalam part 2 ini menceritakan bahwa shofi masih dilanda kebingungan antara pergi haji dan menundanya, sedangkan istrinya selalu memerintahkan untuk mendaftar haji, tetapi keyakinan Shofi muncul ketika ia teringat akan salasatu isi kitab yang ia pelajari saat di pesantren, dan itu membuat ia optimis. Ibadah haji adalah ibadah yang wajib bagi yang mampu, dan apabila kita ditakdirkan atau dipanggil Allah untuk melaksanakan ibadah haji/ mendatangi rumahnya InsyaAllah semua itu akan di permudah, kembali lagi kepada diri kita sendiri bagaimana mengusahakannya dan berniat Lillah.

  40. Rahmat Maulana (MPI-4) berkata

    Bagi yang merasa mampu ataupun sudah mampu melaksanakan ibadah haji memang dianjurkan dan diwajaibkan untuk segera menunaikannya akan tetapi bayak sekali yang harus kita perhatikan terutama dalam hal niat dan lingkungan social, jadi janganlah tergesa-gesa karena hal yang demikian itu adalah perbuatan yang tidak baik. Dan saya setuju dengan isi novel diatas bahwa mabrur tak identik dengan pelaksanaan haji.
    Mudah-mudahan kita semua termasuk orang-orang yang beruntung

  41. Nur Aliffah MpI/4 berkata

    Dalam part 2 ini menceritakan bahwasannya seseorang yang inggin menunaikan ibadah haji, mengalami masalah karena tetangganya mengalami musibah yang sangat besar sehingga beliau memberikan semua bekal untuk menunaikan ibadah haji tersebut. Dari cerita diatas dapat kita tahui bahwasanya jika kita inggin melalukakan sesuatu maka kita harus melihat sekeliling kita, jikalau ada saudara atau tetangga ataupun yang lain sedang terkena musibah, kita harus membantunya, membantu orang yang sedang mengalami kesulitan itu juga termasuk hal yang sangat mulia dimata allah, dari pada kita harus pergi ke tanah suci dengan keadaan saudara kita terkena musibah,tanpa kita membantunya.

  42. siti Halimah MPI/4 berkata

    Bismillahirahmanirrahiim. . .
    Dalam part 2 ini shopi dilanda kebingungan, dimana kita harus bertindak bijak. Mengapa? Karna ibadah haji adalah ibadah maliah, yaitu idadah yang memerlukan banyak uang untuk bisa melaksanakannya. Disamping itu kita juga harus berfikir untuk kelanjutan hidup keluarga kita terutama anak-anak yang masih membutuhkan pendidikan. Sekiranya ketika kita melaksanakan ibadah haji anak-anak kita masih bisa terhidupi dengan baik.

  43. Asiro MPI/4 (1415109002) berkata

    Bismillahirrohmaanirrahiim…
    pada part 2 ini kita dapat mengambil hikmah bahwa memang “Mabrur Tak Identik dengan Berangkat Haji”. seyogyanya niat untuk berangkat ibadah haji tidak terburu-buru dengan mengikuti hawa napsu belaka, melainkan harus dipersiapkan terlebih dahulu segala keperluannya.

  44. Asiro MPI/4 (1415109002) berkata

    Bismillahirrohmaanirrahiim..
    pada part 2 ini kita dapat mengambil hikmah bahwa memang “Mabrur Tak Identik dengan Berangkat Haji”. seyogyanya niat untuk berangkat ibadah haji tidak terburu-buru dengan mengikuti hawa napsu belaka, melainkan harus dipersiapkan terlebih dahulu segala keperluannya.

  45. Fera Agustina (1415109004)/ MPI/ 4 berkata

    bismillahirokhmannirokhim..
    mengenai lanjutan novel di atas bahwasanya ibadah haji memang waib di kerjakan bagi setiap muslim yang mampu. tetapi bukan dengan cara memaksakan keadaan atau dengan cara tergesa-gesa.
    karena apa yang telah di terangkan dalam kitab durah annasihin itu menerangkan bahwa suatu hari ketika oranng alim itu hendak berangkat haji namun seketika itu melihat tetangganya terkena musibah orang alim itu merelakan apa yang ia punya yang seharusnya di gunakan untuk menunaikan ibadah haji ia malah dikorbankan untuk tentangganya yang lebih amat sangat membutuhkan. dann apa yang di sampaikan oleh bapak bahwasanya mabrur itu tidak identik dengan berangkat haji.

    Alhamdullilah…

  46. Winda Dwi Nurrachmawati (1415109032) MPI-4 berkata

    Sama seperti halnya yang sudah saya komentari di Part-1. Pada part ini juga pelajaran yang dapat diambil ialah dalam keinginan melaksanakan ibadah haji tidak harus dilakukan dengan terburu-buru semua harulah dipersiapkan secara matang dengan membulatkan niat untuk melaksnakannya.
    Karena saya sangat stuju pada judul part ini yaiu Mabrur Tak Identik dengan Berangkat Haji. Bisa dilihat langsung pada kehidupan bersosial sekarang bahwa perilaku orang yang sudah haji ataupun belum terkadang sama saja. Banyak manusia yang sekarang beribadah haji hanya ingin title haji saja tetapi tidak dapat mengamalkan apa yang telah ia dapat selama perjalanan ibadah haji.

  47. Wiwin Darwini MPI/4 berkata

    Bismillah,
    Pada part 2 ini menceritakan tentang kebimbangan pak shofi tentang kewajiban umat muslim untuk berangkat haji, dan ia mulai berpikir untuk membiayai keberangkatan nya ke tanah suci ia hendak menjual harta benda yg ia miliki agar kemauan istrinya untuk menunaikan haji bisa tercapai. namun tanpa pak shofi sadari bahwa jika ia berangkat haji dengan membawa nafsu yang tergesa-gesa yang akan membuat Allah SWT tidak meridhoi apa yg ia lakukan. Seperti yang terdapat dalam Kitab Durah An Nashihinudul bahwa ada seorang alim yang ia menabung untuk biaya menunaikan haji, namun pada hari ia keberangkatan nya ada tetangga nya terkena bencana, maka orang alim itu membatalkan untuk menunaikan haji nya demi membantu membiayai tetangga nya yg sedang kesulitan. dalam novel ini memberi tahu kepada kita bahwa sahnya kita sebagai umat muslim bisa jadi haji yang mabrur dihadapan Allah SWT karena memiliki pengorbanan harta, jiwa dan raga yang tinggi demi mencapai ridho Allah SWT seperti apa yg dilakukan oleh orng A’lim tersebut.
    Saya merasa tersanjung dan terkesan dengan apa yg dilakukan dan di dapati oleh seorang A’lim tersebut.

  48. uyunurrohmah MPI semester4 berkata

    masyaallah beruntung sekali orang alim yang mendapat salam langsung dari nabi Muhammad dalam kitab Durah Annasihin tersebut karna menunda hajinya dan memberikan semua bekalnya yg dia kumpulkan bertahun tahun kepada orang miskin yang tertimpa musibah.

  49. Sri Rahayu MPI/4 (1415109025) berkata

    Diawali dengan Bismillah…….. setelah saya baca pada part 2 ini mulai muncul pemikiran bahwasanya Ibadah haji memang wajib kita lakukan namun bukan dengan nafsu yang akan membuat gelisah pada kehidupan selanjutnya setelah haji, hemat saya kalo saja pak Shofi (Pak Mantri) melaksanakan hajinya dengan nafsu sehingga menjual sawah kebun dan ladangya untuk haji maka pak shofi akan membuat keluarganya kekurangan dalam finansial, belum jg ada banyak anak-anak yang menjadi tanggung jawab pak shofi selain keluarganya.
    Apabila kita kaitkan dengan kisah diatas tentang seorang A’lim yang akan berangkat haji namun diurungkan karena ada tetangga yang terkena musibah dan sangat membutuhkan bantuan, dengan tidak fikir panjang sang A’lim memberikan semua uang yang akan digunakan untuk haji pada tetangga tersebut, bisa jadi apa yang dilakukan sang A’lim adalah haji yang sesungguhnya dihadapan Allah SWT karena memiliki pengorbanan harta, jiwa dan raga yang tinggi demi mencapai ridho Illahi.
    Benar apa yang disampaikan Prof. bahwa mabrur tidak identik dengan pelaksanaan haji, karena tidak sedikit orang yang melaksanakan haji namun kehidupanya kadang tak sebaik orang yang belum pernah berhaji.