Mabrur Tak Identik dengan Berangkat Haji | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part-2

Mabrur Tak Identik dengan Berangkat Haji | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part-2
0 160

Mabrur Tak Identik dengan Berangkat Haji | Dengan pipi kiri dan kanan Shofi yang dialiri air mata, ia mengambil Tembako Cap Wayang. Ia gelar Tembako itu, di pusaran para ksatria agama. Tidak ada diskusi dan tidak ada lagi komunikasi antara mereka, kecuali hanya melintingkan daun Nira kering dengan Tembako dimaksud. Mereka sama-sama menghabiskan dua lintingan Tembako. Suasana yang kelihatan sangat asyik dan nikmat itu, berakhir ketika Shofi idzin ke WC. Seperti biasa, Shofi menggosok gigi dan mempersiapkan diri berangkat ke sekolah.

Tas Hitam bersama dengan baju Safari yang berganti setahun sekali itu, ia gunakan. Tampak sosok laki-laki separuh baya itu masih gagah untuk berdiri dan berjalan. Tidak lupa kaca mata plusnya ia selipkan ditasnya, lalu menjinjingnya pergi ke sekolah. Dari rumah menuju sekolah yang dipimpinnya itu, kurang lebih 700 meter, dan ia selalu berjalan kaki. Sepatu yang digunakan jarang disemir. Maklum merasa percuma, sebab tidak lama habis disemir, sepatu itu pasti kembali merah. Jalan yang dilalui bukan hanya terjal, tetapi jauh dari aspal.

Perjalanan Penuh Lamunan

Sambil berjalan kaki, Shofi tidak berhenti melamun. Beberapa temannya yang melewati atau dilewatinya, kadang tidak terhiraukan. Banyak orang berkata: “Assalamu’alaikum pak Mantri …! Tidak semua kata itu terjawab. Ia berjalan dengan sejumlah kebingungan yang sangat akut. Ia mempertanyakan, apakah mungkin orang Islam, terpaksa atau dipaksa harus menunaikan ibadah haji. Ia menghitung jumlah kebun dan sawahnya. Kalau dijual, untuk ibadah haji berdua, insyaallah cukup. Lalu untuk makan dan meneruskan pendidikan anak dari mana?

Kadang ia menjawab sendiri. Aku kan punya gajih sebagai PNS. Bathinnya kembali menjawab. Gajihgu kan habis dipotong Koperasi. Belum karena aku menjadi Kepala Sekolah Swasta, bukankah soal ujian juga harus aku bayar. Anak-anak yang sekolah di sini banyak yang bukan saja tidak mampu bayar, tetapi, juga memandang pendidikan tidak penting. Akibatnya, uang gajih ku kan habis dipotong Suvervisilah, membayar soal ujianlah dan beban-beban lain.

Gajihku tidak cukup, bukan saja untuk membiayai pendidikan tinggi anak-anakku, tetapi, juga untuk hanya sekedar makan. Ya Allah bagaimana aku ini. Jika aku jual tanah sawah dan kebunku, bagaimana semua ini harus aku jalani. Sementara istriku, tidak pernah berhenti untuk memintanya agar mendaftar melaksanakan ibadah haji. Lindungilah aku ya Allah dari kesesatan pikiranku, dan nafsuku termasuk nafsu melaksanakan ibadah haji.

Tidak terasa perjalanan dari rumah menuju sekolah itu, telah sampai. Shofi duduk di kursi tamu sekolah. Ia melamun dengan tenang. Anak-anak sekolah mulai ramai. Banyak guru sudah hadir dan siap untuk mengajar. Shofi masih duduk di kursi tamu itu, seperti tidak ingain bangkit. Bel sekolahpun sudah dibunyikan. Semua murid dan guru sudah masuk ke dalam kelas. Shofi tetap duduk di kursi dan sedikitpun tidak terkesan mau masuk ke dalam kelas.

Shofi Ingat Kitab Durah An Nashihin

Saat Shofi melamun di kursi tamu sekolah itu, ia kemudian ingat pelajaran agama di Pesantren Bahrul Ulum Tasikmalaya. Di lembaga pendidikan ini, ia pernah belajar suatu kitab yang disebut Durah An Nashihin. Kitab ini, memang dianggap banyak kalangan mengandung hadits-hadits lemah. Tetapi meskipun lemah, ia dalam beberapa hal tetap memberi pelajaran berarti. Salah satu kisah yang ingat saat itu, dalam apa yang terdapat dalam kitab dimaksud adalah kisah haji. Inilah ceritanya:

“Suatu hari ada seorang alim yang lemah dari sisi ekonomi. Ia menabung dalam waktu yang cukup lama untuk kepentingan ibadah haji. Tibalah saatnya ia berangkat ibadah dimaksud dengan perbekelan yang menurutnya bakal cukup. Ribuan hari yang dia tunggu untuk ibadah itu, terjawab sudah. Tetapi, pada malam hari, di mana besoknya dia mau berangkat ibadah dimaksud, tiba-tiba hujan besar dan menyebabkan satu rumah orang miskin hancur tempat tinggalnya. Berita itupun sampai kepada sang alim itu.

Tanpa diduga seluruh biaya yang dipersiapkannya untuk melaksanakan ibadah itu, ia berikan. Tanpa menyisakan sedikitpun uang yang dimilikinya untuk ibadah dimaksud. Iapun akhirnya, tidak jadi berangkat haji. Beberapa bulan setelah kejadian dimaksud, seorang shufi besar asal Baghdad, bermimpi bertemu dengan Rasul Muhammad di Ka’bah. Yang dalam mimpi itu dititipi salam agar disampaikan kepada seseorang dengan alamat dan tempat di mana sang alim yang miskin itu tidak jadi berangkat ibadah haji. Dialah dari ribuan orang yang melaksanakan ibadah itu, yang hajinya diterima Allah”

Inilah Kisah yang menjadi spirit Shofi. Dan inilah Dalil yang dia gunakan untuk menjawab istrinya dan pamannya. Setelah lamunan itu, Shofi bangkit lalu bergerak menuju kelas untuk mengajar. Ia begitu lincah menerangkan sesuatu. Ia pandai dan menjadi murid teladan saat dia mengikuti Pendidikan Guru Agama 6 Tahun di sekolahnya. Iapun tidak lagi memiliki sedikit keraguan, bahwa hajinya harus ditunda sampai dalam batas waktu yang belum ditentukan.

Dalam hatinya, Shofi berkata: Aku merasa bahwa Tuhan belum waktunya Dicari di Kaki Ka’bah. Aku akan mencari dan menemukan-Nya di sini. Di kampung halamanku sendiri. By. Charly Siera — bersambung.

Komentar
Memuat...