Inspirasi Tanpa Batas

Majalengka Menjadi Tempat Investasi Baru di Jawa Barat

Jika anda memiliki ruang untuk berinvestasi, segeralah kunjungi Majalengka. Majalengka saat ini sudah berubah drastis. Ia mampu mengubah wajah dari “kampung pedalaman” ke Kota Megapolitan. Kota ini tumbuh secara apik dengan tata lakon baru sebagai masyarakat Sunda yang “pedalaman” ke dalam percaturan global. Siapkah masyarakat menyongsongnya? Bacalah ulasan dalam tulisan ini.

0 80

Konten Sponsor

Tahukah anda bagaimana masa lalu Kabupaten Majalengka? Sebut misalnya 15 tahun yang lalu. Jangan terlalu jauh sampai ke 20 atau 30 tahun. Di 15 tahun atau bahkan sepuluh tahun yang lalu saja, Majalengka akan lebih mudah dikenal sebagai Kota Mati dan Kota kumpulan para pensiunan. Sekedar lampu merah saja sulit ditemukan. Jangan tanya mall, perguruan tinggi atau swalayan hebat. Majalengka sering hanya menyisakan rasa sunyi dan sepi. Jam empat sore, suasananya persis seperti subuh di Kota Cirebon.

Hari ini? Wah lain ceritanya! Mall banyak. Perguruan Tinggi apalagi. Mulai dari Universitas Majalengka, Stikes YPIB, Akper YPIB, STKIP serta beberapa akademi lain yang relatif kecil. Ribuan Mahasiswa belajar di kabupaten yang dulu dikenal sebagai Kabupaten Pinggiran. Mereka datang bukan hanya dari Majalengka, tetapi dari Kabupaten yang relatif berjarak dengannya. Singkatnya, Majalengka kini telah menjadi destinasi baru yang cukup menjanjikan.

Jalan yang lengang dan sepi di masa lalu, kini bukan hanya ramai. Tetapi macet dan sering macet total. Karena itu, ketika dulu saya mau ke Majalengka, membawa motor atau mobil tua saja dari Cirebon, dapat ditempuh hanya dalam waktu 30 menit. Hari ini, jangan berani-berani jika anda memiliki jam tertentu atau waktu tertentu dalam suatu acara di Majalengka. Hari ini, perjalanan Cirebon-Majalengka, bahkan dapat ditempuh dalam durasi waktu dua jam atau bahkan lebih.

Mobil yang lalu lalang di Majalengka juga  berubah. Ia bukan hanya mobil kolot. Tetapi, sudah menjadi lazim mobil-mobil mewah. Luar biasa memang, kemajuan yang terjadi di Majalengka dan seolah mengubah segalanya. Pertanyaannya ada apa? Dan mengapa semua ini, terjadi demikian cepat? Bagaimana pula implikasi populis atas warga yang terdapat didalamnya?

Kemajuan Teknologi

Kemajuan teknologi ternyata menjadi pengaruh utama perubahan itu. Dan hal ini, tampaknya akan terus berkembang sampai dalam batas waktu yang hampir sulit diprediksi. Sepanjang pertumbuhan ilmu pengetahuan dapat terus terbarukan, maka, IPTEK akan terus mendorong kemajuan.

Melalui IPTEK, segalanya menjadi berubah! Termasuk atas apa yang terjadi di Majalengka. Daerah yang dulu dikenal sangat sepi dan dikenal sebagai kota para pensiunan itu, tidak lagi mampu dikalahkan atau dihentikan, pun oleh legitimasi agama dan para pemangku agama. Mencegah kemajuan arus teknologi, termasuk jika harus dilegitimasi agama, hanya akan membawa dampak kemunduran. Karena itu, yang dibutuhkan kita hari ini adalah, adaftasi atas kemajuan teknologi tadi dengan tetap mempertahankan prinsio-prinsip lokal dan ideologi keagamaan.

Pertanyaannya, apa itu teknologi? Jhon Naisbitt (2002), menyebut teknologi sebagai produk suatu benda, sebuah obyek, bahan dan wujud yang berbeda dengan manusia. Namun demikian, produk itu dibutuhkan manusia. Ia menjadi keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi keberlangsungan dan kenyamanan hidup. Teknologi karena itu, pasti akan meningkatkan nilai tambah bagi manusia.

Mengapa Majalengka menjadi demikian maju? Dalam analisa saya, kemajuan dimaksud, setidaknya ditopang tiga hal penting. Ketiga hal dimaksud adalah: Berdiri dan eksisnya Universitas, sebut misalnya Universitas Majalengka [UNMA]. Suatu universitas yang dimotori tokoh besar, Prof. M. Yunus ini, berhasil menyedot ribuan manusia di Majalengka. Terbukanya jalur cepat Jakarta yang melintasi wilayah 3 Cirebon, termasuk tentu Majalengka, dapat disebut sebagai faktor kedua. Dan tentu yang paling monumental adalah diresmikannya Bandara Internasional Kertajati di wilayah Kabupaten Majalengka.

Bandara Internasional

Bandara Internasional Kertajati, tampaknya menjadi penyokong utama kemajuan dan perubahan Majalengka yang berjalan demikian massif belakangan ini. Melalui Bandara Kertajati ini, Majalengka memasuki era baru. Suatu daerah yang dulu dikenal pedalaman, dengan harga tanah yang sangat murah misalnya, akses transportasi yang sangat terbatas, harus segera mengubah mainset dari penduduk pedalaman menjadi penduduk global.

Daerah [Kertajati] yang mungkin sebelumnya tidak pernah masuk dalam peta dan catatan dunia, dipaksa masuk dalam lakon baru sebagai daerah yang memancarkan budaya lokal ke dalam percaturan global. Ia akan menjadi tempat baru di mana budaya global harus hadir di satu sisi, namun, dapat menjadi sarana baru untuk mentransformasi berbagai genus lokal yang dimiliki masyarakat Majalengka, dan bahkan masyarakat Indonesia ke dalam percaturan global di sisi yang lain.

Kertajati yang sebelumnya “pedalaman” itu, kini tampil menjadi daerah utama. Ia akan tampil menjadi agen sekaligus duta besar daerah dalam megapolitan dunia. Mega Proyek Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang rencanannya akan menelan biaya sebesar 25,4 triliun rupiah, akan menjadi saksi nyata atas tampilnya Majalengka dalam percaturan dunia. Nilai rupiah sebesar itu, dipandang mampu mendirikan suatu Bandar Udara Internasional dalam luas lahan 1. 800 hektar are persegi. Jika diekwivalensikan, hal ini setara dengan 3.600 kali lebih luas lapangan sepak bola. Bandara ini mampu menyediakan landasan pacu (runway) pesawat sepanjang 3.500 Meter.

Catatan atas Budaya Sunda

Budaya Sunda yang cenderung menrima dan cenderung malu-malu, mau, tampak perlu mengubah wajah. Kehadiran teknologi dan sejumlah transfortasi atas kemajuan itu, pasti membutuhkan tenaga kerja yang tak berhingga. Kemajuan ini, semestinya harus dapat dinikmati masyarakat lokal. Mengapa ini penting disebut? Sebab posisi Majalengka yang seperti ini, harus diakui, akan memaksa banyak investor masuk ke dalam.

Masuknya ragam investor [nasional dan multi nasional], selain akan tenaga kerja profesional luar ke dalam, juga akan membawa dampak perubahan pola budaya. Untuk kalimat yang terakhir, memang harus diakui hebat. Mengapa? Sebab beberapa ornamen yang terdapat di bandara ini, dapat dipandang tepat untuk mengawetkan pola budaya yang dalam lakon tertentu disebut “sakral”. Sakralitas ini, belakang sudah mulai luntur dan cenderung banyak dilupakan orang, termasuk oleh orang Sunda itu sendiri.

Selain itu, karena bandara ini bersifat internasional dengan kapasitas investor yang cukup variatif, maka, jangan sampai masyarakat Majalengka menjadi penonton. Mereka harus tampil menjadi bagian penting, dan hal ini hanya dapat dilakukan, jika pemangku kebijakan arif melihatnya. Apa yang terjadi di jakarta, di mana kemajuan malah mendorong warga Betawi semakin meminggir, harus menjadi catatan lain. Hal ini harus mampu dikonstruk dalam tata aturan main yang cukup berarti.

Masyarakat Sunda di Jawa Barat,harus sadar bahwa bangsa besar adalah mereka yang memiliki kepedulian dan kemampuan dalam mengawetkan pola budaya serta keterlibatannya dalam setiap event pembangunan. Meski harus dicatatkan bahwa melalui peresmian bandara Internasional ini, dalam makna lain dapat mempengaruhi bangsa-bangsa lain di dunia.

Semoga saja, hal ini dapat menjadi kesadaran bersama. Termasuk jika memungkinkan, bagaimana para investor lokal tertarik untuk berinvestasi di sini. Semoga ruang investasi ini, dapat pula adil untuk kita lihat bersama. Prof. Cecep Sumarna

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar