Makalah Filsafat Integrasi Ilmu Bukan Ilusi atau Mimpi

Makalah Filsafat Integrasi Ilmu Bukan Ilusi atau Mimpi
0 487

Makalah Filsafat Integrasi Ilmu Bukan Ilusi atau Mimpi

Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Guru Besar Filsafat Ilmu IAIN Syekh Nurjati CirebonIntegrasi Ilmu Bukan Ilusi Dan Mimpi Tetapi Fakta Meski Sulit Untuk Menepi Keabadian adalah milik Tuhan. Sama seperti ketunggalan. Keduanya adalah murni Sipat Tuhan. Karena itu, tidak diperkenankan sedikitpun bagi kita, untuk menetapkan bahwa kita mesti hadir dalam keabadian dan ketunggalan. Kita harus sedih dan kasihan, jika ada di antara kita, bercita-cita dan terus berharap lahirnya keabadian dan ketunggalan wajah. Sebab jika itu terjadi, maka, pemberi hukum bukan lagi makhluk, tetapi perannya akan langsung diambil Tuhan.

Pendahuluan

Tema tentang integrasi ilmu, sebenarnya bukan barang baru. Ia adalah produk lama. Produk yang dibangun filosof idealistik sejak abad klasik sampai abad postmo. Gagasan ini, tidak murni hanya dibangun komunitas masyarakat dan intelektual Muslim, tetapi, juga pemikir keagamaan lain yang merasa “memperoleh ancaman” atas perkembangan ilmu dan anak turunannya bernama teknologi yang telah “menjauhkan ilmu” dari sipatnya yang kudus. Bukti paling sederhana dapat dibaca dari pikiran Sri Paus pada sebuah acara di Vatikan pada tanggal 9 Mei 1983, di hadapan kurang lebih 33 orang peraih Nobel dari 300 ilmuwan yang diseleksi. Sri Paus menyatakan:

“…. Pengalaman Gereja mengenai masalah Hypathia di Iskandaria abad ke 3 Masehi dan Pengalaman Galileo Gallilei di abad ke 14 Masehi, telah membawa Gereja belajar melalui pengalaman dan pemikiran yang dibangun intelektual hebat yang tersia-siakan.
Hari ini, Gereja harus mengetahui dengan lebih baik bahwa Ilmuan mesti diberi kebebasan dalam usaha melakukan penelitian ilmiah untuk mencari kebenaran selain kebenaran dalam kitab suci. Karena itu, mengapa Gereja meyakini bahwa tidak mungkin lagi ada kontradiksi antara sains dan keimanan …. Bagaimanapun, hanya melalui sains dan keimanan Gereja dapat memisahkan kepentingan agama dari sistem-sistem ilmiah. Khususnya ketika pembelajaran Bible yang dipengaruhi segi-segi kultural nampaknya berhubungan dengan kewajiban mempelajari alam semesta …. (Abdussalam Ebad, 2005)

Di kalangan masyarakat Kristen, sejak awal sudah tersedia tokoh seperti Plotinus (204-269 M) dan Agustine (354-430 M) yang mengasumsikan pentingnya pemikiran filosofis di tengah kuatnya cengkraman arus pemikiran yang mengharamkan tumbuhnya filsafat. Pengaruh pemikiran mereka yang demikian, terasa kuat khususnya di abad pertengahan, baik terhadap filosof Muslim Mediterenia maupun filosof Kristen Medievelis. Pemikiran mereka tentang ciri keesaan Tuhan misalnya, ternyata berpengaruh besar terhadap pemikiran filosof Muslim seperti Ibnu Sina, Al Razi, Al Farabi dan Ibnu Rusyd di dunia Islam dan terhadap Anselm (1033-1109 M) dan Thomas Aquinas (1224-1274 M) di abad pertengahan. (Fazlurrahman, 1968).

Rajutan pemikiran mereka, menetes dengan deras juga kepada para Theolog skolastik Islam awal. Era ini, bukan hanya diakui masyarakat Muslim sebagai era keemasan Islam, tetapi juga era keemasan dunia secara ilmiah. Fakta menunjukkan bahwa karya-karya filsafat dan sains Yunani yang dikembangkan Plotinus dan Agustine yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, bercabang dan berkembang menjadi suatu gerakan pemikiran filosofis dan ilmiah yang cemerlang. Secara simplistik era ini pula yang dimimpikan Mahathir Muhammad 1987 dan BJ. Habibie 1991 dengan rumusan masyarakat Madani atau padanan lain yakni civil society. Tujuannya, agar dapat ditumbuhkan kembali semangat dimaksud di era moderen.

Gagasan filosofis tadi, telah menghasilkan karya-karya original dan bernilai tinggi. Ide-ide Plotanian tentang dasar asasi dari realitas, berpengaruh pada ide keesaan Tuhan kaum Mu’tazilah (kelompok Islam rasional) dan perdebatan sengitnya dengan kaum ahlu sunnah. Tuhan didefinisikan sebagai dzat yang mengetahui hal-hal yang dapat diketahui, kehendak-Nya; aktivitas kreatif-Nya sebagai emanasi benda-benda dan ha-hal daripada-Nya. Tuhan dengan demikian tidak mengetahui persoalan terperinci. Hal-hal terperinci dapat dan harus dilakukan serta dikerjakan manusia. Pikiran semacam ini, berasas secara geneologis dari era-era sebelumnya yang secara waktu sangat berjarak dengan dunia Islam.

Di era moderen juga sama. Sebagian ilmuan moderen yang “bukan Muslim” juga sudah mulai merenungkan dimensi yang sama. Misalnya, Stephen W. Hawking –tokoh fisika Barat moderen– dan Fritjof Capra — Budayawan moderen– telah meragukan adanya rumusan matematis yang dapat menerangkan segala macam kejadian, hanya melalui akal fisik manusia. Menurut Hawking, manusia beIum berhasil dan tidak akan berhasil menemukan rumusan pasti tentang gejala alam ini jika hanya menggunakan akal daIam persfektif fisik-biologis. Ia justru menyarankan untuk mau takluk kepada hukum ketuhanan yang sumber dasarnya agama, atau serendahnya kecenderungan hati yang secara teoretik selalu fithrah.

Clare W. Graves (1914-1986) yang tulisannya hari-hari ini dapat dibaca disitus Values Memes dengan Spiral Dynamic-nya, teIah pula memiliki tipikal berpikir yang sama. Sejak tahun I959 dan 1961-an, Ia telah mempresentasikan tema-tema dimaksud di University of Michigan. Tokoh ini bahkan sering ditahbiskan sebagai icon dekonstruksi awal terhadap corak berfikir lama yang menelanjangi akal dan segala capaiannya yang bebas nilai. Ia menyebut bahwa perilaku etik, dan akal ruhiyah yang hanya terbatas pada dimensi fisik, yang karenanya akal ruhiyah tidak dapat diinvestigasi melalui metode ilmiah, harus dianggap keliru. Ia juga berpendapat bahwa akal ruhiyah yang memiliki sifat ketuhanan, pasti sangat metafisik- sekaligus subjektif, sejatinya akan menjadi landasan yang kuat untuk mencari pengetahuan yang lebih di atas segalanya.

Pendapat Clare W. Graves sekaligus menolak kaidah dan metodologi keilmuan moderen yang sangat positivistik. Paradigma ilmu moderen, yang dicirikan dengan: 1). Merujuk pada realitas alam; 2). Terpaku pada deduksi hukum alam; 3). Tersedianya piranti hypotesis yang mendorong berlakunya generalisasi dan mengesampingkan fenomena yang tidak teratur pada alam, dan; 4). Adanya proses uji coba atau observasi untuk melakukan validitas terhadap prediksi yang dibuat. Rumusan pengetahuan dengan basis logika fisik-faktual semacam ini, dianggap sudah ketinggalan jaman. Rumusan ini akan berdampak buruk terhadap tata lingkungan kehidupan. Tetapi lebih jauh dari itu semua, citra kemanusiaan akan hancur, karena sebagian unsur terdalam manusia menjadi hilang. Menurut Graves akan semakin banyak fenomena alam yang mungkin tidak dapat diberlakukan hukum generalisasi. Bahkan jika mengutif Thomas S. Kuhn, semakin hari, akan semakin sering lahirnya anomali di mana hukum-hukum generalisasi tidak dapat diwujudkan.

Pendapat Hawking dan Clare W. Grave tadi, dapat dikorelasikan dengan tulisan Friedderich Max Muller. Ia telah lama meramalkan dampak buruk pengetahuan yang hanya bersandar pada dimensi fisik. Tokoh ini kemudian memperkenalkan teori Science of Religion. Pikirannya kemudian dipublikasikan dalam sebuah judul Introduction to the Science of Religion tahun 1873 di London, Inggris. Buku ini, telah menjadi sebuah magma besar dalam membongkar teori sains moderen yang berbasis pada kaidah keilmuan yang sangat positivistik. Tulisan Muller ini bahkan menjadi ilham penting bagi Daniel L. Pals ketika ia harus menyusun sebuah buku dengan judul Seven Theories of Religion (1996) yang dianggap berbagai kalangan sebagai buku dekonstruksi mutakhir atas pemahaman sains dan agama di zaman moderen ini yang telah membebaskan diri dari dogma dan agama dari memandang segala sesuatu, termasuk akal manusia dalam dimensi fisik.

Meski tulisan Muller sangat kuat dipengaruhi alam pikiran Yahudi dan Kristen serta filsafat Yunani Kuna- dan cenderung mengabaikan dimensi Islami- tetapi ada satu asumsi yang menyebutkan bahwa, hanya dengan agamalah manusia dapat memperoleh ketenangan bathin. Agama adalah kebutuhan dasar manusia. Manusia yang menjarakkan dirinya dengan agama, justru akan memperoleh pola hidup yang jauh dari nilai- nilai hakiki kemanusiaan. Hidupnya akan gersang dan jauh dari semangat kemanusiaan itu sendiri, terlepas dari agama apa yang dia anut. Sebab prinsip setiap agama, pasti akan mendorong manusia pada upaya pencapaian puncak kemanusiaan.

Pendapat tadi diamini Alvin Platingga & Nicholas Wolterstorff (ed.), yang tampaknya gelisah memperhatikan perkembangan ilmu moderen yang kering nilai. Keringnya nilai pada basis pengetahuan moderen, diakibatkan oleh adanya asumsi bahwa soal-soal metafisika, soal-soal ruhiyah harus dianggap berjarak dan bertentangan dengan semangat pengetahuan yang positivistik. Paradigma pengetahuan, hanya mengalaskan pengetahuan pada sumber-sumber empiris faktual dan rasional. Seolah kalau orang menganggap adanya kebenaran yang metafisik dan tidak lazim bukan sesuatu yang rasional. Padahal di dunia ini banyak sekali soal- soal yang muncul ke permukaan dan sulit untuk memperoleh rasionalisasi.

Edward O. Wilson menyetujui berbagai pendapat tadi dengan menyebut bahwa agama memiliki nilai penting dan tinggi dalam kehidupan umat manusia. Kebenaran agama diangggapnya bersifat tetap dan sulit untuk dikalahkan oleh apapun. Menjadi tidak berarti pemahaman keagamaan seseorang jika nilai-nilai agama tidak mampu diturunkan dalam kehidupan praksis. Agama adalah jalan dan perilaku hidup. Agama akan membentuk jalan hidup manusia berdasarkan prinsip-prinsip agama itu sendiri.

Tulisan tentang integrasi ilmu ini, karena itu, menurut hemat saya, agak rumit. Kerumitan itu, terlebih ketika harus disandingkan dengan kata Islam atau direvasi lain yang disemaknakan dengan kata Islam. Walau demikian, karena saya hidup sebagai Muslim –yang mudah-mudahan taat–, didorong dengan semangat luhur sebagai pengabdi di lembaga Pendidikan Tinggi Agama Islam, dan pengandaian sedikit berpolitik agar pendidikan tidak ditarik ke jurisprudensi Kemendikbud, tulisan ini akhirnya harus diselesaikan untuk disandingkan dengan tulisan lain. Hasilnya, semoga ada alur yang dapat dipersembahkan kepada bangsa ini, meski dalam kasus tertentu tulisan ini murni membatasi diri dalam ruang diskursus.

Komentar
Memuat...