Integrasi Ilmu Bukan Ilusi atau Mimpi Menela’ah Pengalaman Gereja Abad Pertengahan

4 279

Keabadian adalah milik Tuhan. Sama seperti ketunggalan. Keduanya adalah murni Sipat Tuhan. Karena itu, tidak diperkenankan sedikitpun bagi mereka yang beragama, mengasumsikan bahwa kita mesti hadir dalam keabadian dan ketunggalan. Kita harus sedih dan kasihan, jika ada di antara kita, bercita-cita dan terus berharap lahirnya keabadian dan ketunggalan wajah. Sebab jika itu terjadi, maka, pemberi hukum bukan lagi makhluk, tetapi perannya akan langsung diambil Tuhan.

Tema tentang integrasi ilmu, sebenarnya bukan barang baru. Ia adalah produk lama. Produk yang dibangun filosof idealistik sejak abad klasik sampai abad postmo. Gagasan ini, tidak murni hanya dibangun komunitas masyarakat dan intelektual Muslim, tetapi, juga pemikir keagamaan lain yang merasa “memperoleh ancaman” atas perkembangan ilmu dan anak turunannya bernama teknologi yang telah “menjauhkan ilmu” dari sipatnya yang kudus. Bukti paling sederhana dapat dibaca dari pikiran Sri Paus pada sebuah acara di Vatikan pada tanggal 9 Mei 1983, di hadapan kurang lebih 33 orang peraih Nobel dari 300 ilmuwan yang diseleksi. Sri Paus menyatakan:

“…. Pengalaman Gereja mengenai masalah Hypathia di Iskandaria abad ke 3 Masehi dan Pengalaman Galileo Gallilei di abad ke 14 Masehi, telah membawa Gereja belajar melalui pengalaman dan pemikiran yang dibangun intelektual hebat yang tersia-siakan.
Hari ini, Gereja harus mengetahui dengan lebih baik bahwa Ilmuan mesti diberi kebebasan dalam usaha melakukan penelitian ilmiah untuk mencari kebenaran selain kebenaran dalam kitab suci. Karena itu, mengapa Gereja meyakini bahwa tidak mungkin lagi ada kontradiksi antara sains dan keimanan …. Bagaimanapun, hanya melalui sains dan keimanan Gereja dapat memisahkan kepentingan agama dari sistem-sistem ilmiah. Khususnya ketika pembelajaran Bible yang dipengaruhi segi-segi kultural nampaknya berhubungan dengan kewajiban mempelajari alam semesta …. (Abdussalam Ebad, 2005)

Para Pembaru Kristen dalam Konteks Ilmu

Di kalangan masyarakat Kristen, sejak awal sudah tersedia tokoh seperti Plotinus (204-269 M) dan Agustine (354-430 M) yang mengasumsikan pentingnya pemikiran filosofis di tengah kuatnya cengkraman arus pemikiran yang mengharamkan tumbuhnya filsafat. Pengaruh pemikiran mereka yang demikian, terasa kuat khususnya di abad pertengahan, baik terhadap filosof Muslim Mediterenia maupun filosof Kristen Medievelis.

Pemikiran mereka tentang ciri keesaan Tuhan misalnya, ternyata berpengaruh besar terhadap pemikiran filosof Muslim seperti Ibnu Sina, Al Razi, Al Farabi dan Ibnu Rusyd di dunia Islam dan terhadap Anselm (1033-1109 M) dan Thomas Aquinas (1224-1274 M) di abad pertengahan. (Fazlurrahman, 1968).

Pengaruhnya terhadap Pemikir Muslim

Rajutan pemikiran mereka, menetes dengan deras juga kepada para Theolog skolastik Islam awal. Era ini, bukan hanya diakui masyarakat Muslim sebagai era keemasan Islam, tetapi juga era keemasan dunia secara ilmiah. Fakta menunjukkan bahwa karya-karya filsafat dan sains Yunani yang dikembangkan Plotinus dan Agustine yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, bercabang dan berkembang menjadi suatu gerakan pemikiran filosofis dan ilmiah yang cemerlang.

Secara simplistik era ini pula yang dimimpikan Mahathir Muhammad 1987 dan BJ. Habibie 1991 dengan rumusan masyarakat Madani atau padanan lain yakni civil society. Tujuannya, agar dapat ditumbuhkan kembali semangat dimaksud di era moderen.

Gagasan filosofis tadi, telah menghasilkan karya-karya original dan bernilai tinggi. Ide-ide Plotanian tentang dasar asasi dari realitas, berpengaruh pada ide keesaan Tuhan kaum Mu’tazilah (kelompok Islam rasional) dan perdebatan sengitnya dengan kaum ahlu sunnah. Tuhan didefinisikan sebagai dzat yang mengetahui hal-hal yang dapat diketahui, kehendak-Nya; aktivitas kreatif-Nya sebagai emanasi benda-benda dan ha-hal daripada-Nya.

Tuhan dengan demikian tidak mengetahui persoalan terperinci. Hal-hal terperinci dapat dan harus dilakukan serta dikerjakan manusia. Pikiran semacam ini, berasas secara geneologis dari era-era sebelumnya yang secara waktu sangat berjarak dengan dunia Islam.

Pengaruhnya terhadap Pemikir Modern

Di era moderen juga sama. Sebagian ilmuan moderen yang “bukan Muslim” juga sudah mulai merenungkan dimensi yang sama. Misalnya, Stephen W. Hawking –tokoh fisika Barat moderen– dan Fritjof Capra — Budayawan moderen– telah meragukan adanya rumusan matematis yang dapat menerangkan segala macam kejadian, hanya melalui akal fisik manusia.

Menurut Hawking, manusia beIum berhasil dan tidak akan berhasil menemukan rumusan pasti tentang gejala alam ini jika hanya menggunakan akal daIam persfektif fisik-biologis. Ia justru menyarankan untuk mau takluk kepada hukum ketuhanan yang sumber dasarnya agama, atau serendahnya kecenderungan hati yang secara teoretik selalu fithrah.

Clare W. Graves (1914-1986) yang tulisannya hari-hari ini dapat dibaca disitus Values Memes dengan Spiral Dynamic-nya, teIah pula memiliki tipikal berpikir yang sama. Sejak tahun I959 dan 1961-an, Ia telah mempresentasikan tema-tema dimaksud di University of Michigan. Tokoh ini bahkan sering ditahbiskan sebagai icon dekonstruksi awal terhadap corak berfikir lama yang menelanjangi akal dan segala capaiannya yang bebas nilai.

Hawking menyebut bahwa perilaku etik, dan akal ruhiyah yang hanya terbatas pada dimensi fisik, yang karenanya akal ruhiyah tidak dapat diinvestigasi melalui metode ilmiah, harus dianggap keliru. Ia juga berpendapat bahwa akal ruhiyah yang memiliki sifat ketuhanan, pasti sangat metafisik- sekaligus subjektif, sejatinya akan menjadi landasan yang kuat untuk mencari pengetahuan yang lebih di atas segalanya.

Pendapat Clare W. Graves sekaligus menolak kaidah dan metodologi keilmuan moderen yang sangat positivistik. Paradigma ilmu moderen, yang dicirikan dengan:

  • Merujuk pada realitas alam;
  • Terpaku pada deduksi hukum alam;
  • Tersedianya piranti hypotesis yang mendorong berlakunya generalisasi dan mengesampingkan fenomena yang tidak teratur pada alam, dan;
  • Adanya proses uji coba atau observasi untuk melakukan validitas terhadap prediksi yang dibuat.

Rumusan pengetahuan dengan basis logika fisik-faktual semacam ini, dianggap sudah ketinggalan jaman. Rumusan ini akan berdampak buruk terhadap tata lingkungan kehidupan. Tetapi lebih jauh dari itu semua, citra kemanusiaan akan hancur, karena sebagian unsur terdalam manusia menjadi hilang. Menurut Graves akan semakin banyak fenomena alam yang mungkin tidak dapat diberlakukan hukum generalisasi. Bahkan jika mengutif Thomas S. Kuhn, semakin hari, akan semakin sering lahirnya anomali di mana hukum-hukum generalisasi tidak dapat diwujudkan.

Pendapat Hawking dan Clare W. Grave tadi, dapat dikorelasikan dengan tulisan Friedderich Max Muller. Ia telah lama meramalkan dampak buruk pengetahuan yang hanya bersandar pada dimensi fisik. Tokoh ini kemudian memperkenalkan teori Science of Religion. Pikirannya kemudian dipublikasikan dalam sebuah judul Introduction to the Science of Religion tahun 1873 di London, Inggris. Buku ini, telah menjadi sebuah magma besar dalam membongkar teori sains moderen yang berbasis pada kaidah keilmuan yang sangat positivistik. Tulisan Muller ini bahkan menjadi ilham penting bagi Daniel L. Pals ketika ia harus menyusun sebuah buku dengan judul Seven Theories of Religion (1996) yang dianggap berbagai kalangan sebagai buku dekonstruksi mutakhir atas pemahaman sains dan agama di zaman moderen ini yang telah membebaskan diri dari dogma dan agama dari memandang segala sesuatu, termasuk akal manusia dalam dimensi fisik.

Meski tulisan Muller sangat kuat dipengaruhi alam pikiran Yahudi dan Kristen serta filsafat Yunani Kuna- dan cenderung mengabaikan dimensi Islami- tetapi ada satu asumsi yang menyebutkan bahwa, hanya dengan agamalah manusia dapat memperoleh ketenangan bathin. Agama adalah kebutuhan dasar manusia. Manusia yang menjarakkan dirinya dengan agama, justru akan memperoleh pola hidup yang jauh dari nilai- nilai hakiki kemanusiaan. Hidupnya akan gersang dan jauh dari semangat kemanusiaan itu sendiri, terlepas dari agama apa yang dia anut. Sebab prinsip setiap agama, pasti akan mendorong manusia pada upaya pencapaian puncak kemanusiaan.

Pendapat tadi diamini Alvin Platingga & Nicholas Wolterstorff (ed.), yang tampaknya gelisah memperhatikan perkembangan ilmu moderen yang kering nilai. Keringnya nilai pada basis pengetahuan moderen, diakibatkan oleh adanya asumsi bahwa soal-soal metafisika, soal-soal ruhiyah harus dianggap berjarak dan bertentangan dengan semangat pengetahuan yang positivistik. Paradigma pengetahuan, hanya mengalaskan pengetahuan pada sumber-sumber empiris faktual dan rasional. Seolah kalau orang menganggap adanya kebenaran yang metafisik dan tidak lazim bukan sesuatu yang rasional. Padahal di dunia ini banyak sekali soal- soal yang muncul ke permukaan dan sulit untuk memperoleh rasionalisasi.

Edward O. Wilson menyetujui berbagai pendapat tadi dengan menyebut bahwa agama memiliki nilai penting dan tinggi dalam kehidupan umat manusia. Kebenaran agama diangggapnya bersifat tetap dan sulit untuk dikalahkan oleh apapun. Menjadi tidak berarti pemahaman keagamaan seseorang jika nilai-nilai agama tidak mampu diturunkan dalam kehidupan praksis. Agama adalah jalan dan perilaku hidup. Agama akan membentuk jalan hidup manusia berdasarkan prinsip-prinsip agama itu sendiri.

Tulisan tentang integrasi ilmu ini, karena itu, menurut hemat saya, agak rumit. Kerumitan itu, terlebih ketika harus disandingkan dengan kata Islam atau direvasi lain yang disemaknakan dengan kata Islam. Walau demikian, karena saya hidup sebagai Muslim –yang mudah-mudahan taat–, didorong dengan semangat luhur sebagai pengabdi di lembaga Pendidikan Tinggi Agama Islam, dan pengandaian sedikit berpolitik agar pendidikan tidak ditarik ke jurisprudensi Kemendikbud, tulisan ini akhirnya harus diselesaikan untuk disandingkan dengan tulisan lain. Hasilnya, semoga ada alur yang dapat dipersembahkan kepada bangsa ini, meski dalam kasus tertentu tulisan ini murni membatasi diri dalam ruang diskursus.

Islam dan Ilmu Pengetahuan

Kendati masyarakat semitis dan pengikut agama lain memiliki sejumlah pemikir dan produk ilmiahnya berkait dengan integrasi ilmu terjadi, di lingkup masyarakat Muslim, tema tentang Integrasi Ilmu ini, memiliki sedikit banyak perbedaan. Di kalangan masyarakat Muslim yang dibentuk Nabi Muhammad di Mediterania, Islam tampil bukan hanya menjadi penyelamat filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani, tetapi, menjadi pelopor lahirnya ilmu baru yang original dan khas Islam. Jika orang Kristen menganggap filsafat Yunani Kuna itu, sekular dan berbau paganistik, maka Islam memandangnya sebagai hikmah yang harus diselamatkan ke dalam basis keilmuan yang lebih praksis dan dinamis. Saya melihat ada dua dorongan mengapa komunitas Muslim melakukan penyelamatan terhadap ilmu pengetahuan yang berbasis empiris dan rasional. Kedua dorongan dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Dorongan keagamaan seperti terlihat dari nash-nash al-Qur’an yang banyak membicarakan tentang pentingnya ilmu pengetahuan. Hal ini terlihat misalnya dari Surat Ali ‘Imran [3]: 191-192 (berbicara mengenai kancah kosmologi, fisika, biologi dan bidang-bidang medical), surat al-Hujurat/11 (berbicara mengenai pentingnya ilmu pengetahuan) dan bahkan ayat serta surat yang pertama, al-’Alaq [98]: 1-5 yang lebih mendorong lahir dan berkembangnya ilmu –hatta jika dibandingkan dengan keharusan keberimanan. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa, al-Qur’an mendorong pengikut dan penganutnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan melalui pembacaan. Membaca di sini oleh ahli tafsir kemudian ditafsirkan dengan menyebut tafsir kawliyah dan tafsir kawniyah. Asumsi di atas diperkuat setidaknya oleh pemikiran Maurice Bucaille dalam tulisan The Bible, The Qur’an and Science yang menyimpulkan bahwa tidak ada satupun ayat dalam al-Qur’an yang menjelaskan fenomena alam yang bertentangan dengan apa yang kita ketahui secara pasti melalui penemuan-penemuan ilmiah. Di samping itu, terdapat banyak ayat al-Qur’an dan keterangan Sunnah Nabi Muhammad yang menyuruh umatnya untuk mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan hingga ke negeri Cina yang secara teologis bertentangan dengan teologi yang dikembangkan dunia Islam. Tentu masih banyak ayat dan hadits lain yang menjadi support atas lahirnya ilmu pengetahuan.
  2. Harus diakui bahwa kira-kira setelah seratus tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad, orang Islam telah berhasil melaksanakan tugas mereka untuk menguasai dua wilayah kekuatan politik (Persia dan Romawi) dengan semangat keagamaan yang tinggi. Terkuasainya dua wilayah ini menyebabkan terjadinya persentuhan dua peradaban Timur Tengah, dengan sikap kreatif dan peradaban masyarakat lain seperti Persia dan Iskandaria. Wilayah ini berada di pinggir sungai Euprat yang sejak lahir seolah tercipta sebagai masyarakat yang kreatif dan dinamis. Dengan terjadinya persentuhan seperti ini, Islam telah berkuasa dari sisi ilmu pengetahuan sejak abad ketujuh sampai dengan abad ke enam belas masehi dan sampai abad ke 20 dari sisi kekuatan politik.

Dunia Islam selama tujuh abad keemasannya, bukan saja telah melahirkan filosof seperti Ibnu Rusyd (1198 M) atau Averros (Barat), dan kemudian menjadi pelopor masuknya filsafat ke dunia Eropa melalui Cordova, tetapi jauh hari sebelum Ibnu Rusyd, masyarakat Muslim telah melahirkan sejumlah filosof yang luar biasa. Dunia Islam mampu melahirkan filosof dan saintis seperti: Ibnu Thufail (781-854 M), al-Farabi (950 M), al-Biruni (973-1048 M), Ibnu Sina (867-923 M) atau sering dikenal di dunia Barat dengan sebutan Avicenna, al-Kindi dan al-Razi (1209 M) yang terkenal dengan komentar-komentarnya terhadap filsafat Aristoteles. Al-Razi bahkan telah dinobatkan bukan saja oleh masyarakat Muslim, tetapi juga oleh penganut agama lain sebagai guru kedua setelah Plato.

Tokoh Muslim fenomenal dapat juga dilihat pikiran Ibnu al-Haitham (965-1039 M). Ia adalah seorang fisikawan Muslim Awal dan sering dikenang sebagai fisikawan terbesar sepanjang masa, adalah contoh lain di antara berbagai contoh kongkret dari keberhasilan dunia Islam dalam melahirkan dan mengembangkan filsafat menjadi ilmu praktis dan praksis. Ia adalah tokoh pertama yang merumuskan bahwa seberkas cahaya dalam menembus suatu medium, mengambil jalur yang termudah dan tercepat. la mengantisipasi prinsip Fermat tentang tempuhan waktu yang paling sedikit/ tercepat selama berabad-abad. Ibnu Haitham juga orang pertama yang mengumumkan hukum inertia (kelembaman).

Teori ini dipakai Isac Newton (di abad modern) melalui teori hukum geraknya. Menurut Abdus Salam (2004: 6) tulisan Roger Baconis Opus Majus jelas-jelas merupakan tiruan dari penemuan optic Ibnu al-Haitham. Itu hanya sedikit contoh dari perkembangan ilmu dalam Islam dan bagaimana pengaruhnya terhadap dunia Barat sekalipun. Agak berbeda dengan masyarakat Yunani yang diklaim banyak pihak keilmuannya berbasis sekularistik, ilmu dalam dunia Islam, disemangati oleh nilai-nilai agama dan nilai-nilai epistemologi keilmuan dan filsafat dalam bingkai yang sangat luar biasa karena komunitas masyarakat ini mampu memadukan antara kepentingan empiris-rasional dengan intuisi plus wahyu.

Pendekatan Ilmu dalam Dunia Islam Klasik

Masyarakat Muslim –sejauh yang mampu saya baca—mampu menyusun dan menawarkan tiga metodologi keilmuan yang menandai lahirnya epistemologi keilmuan yang kompromistik pada cara pengambilan pengetahuan yang murni berbasis empiris dan rasional dengan intuisi/wahyu. Sikap dan sifat ciri kompromistik itu, bagi saya, sejalan dengan pikiran Amin Abdullah (2004: ix-x), disusun dalam cara kerja dan metodologi: bayani, burhani dan irfani.

  1. Bayani adalah sebuah metode berfikir yang didasarkan pada teks kitab suci (bisa secara simplisik dibaca al-Qur’an). Teks suci menurut metodologi ini dianggap mempunyai otoritas penuh untuk memberikan arah dan arti terhadap kebenaran, sedangkan rasio yang menjadi sumber pengetahuan di era Yunani dan sebagian di era Patristik dalam dunia Islam hanya dijadikan sebagai pengawal bagi teramankannya otoritas teks. Pendekatan bayani yang tadi disebut sebagai metodologi periode awal, berhasil melahirkan sejumlah produk hukum Islam (bisa dibaca fikih Islam) dan bagaiman cara menghasilkan hukum dimaksud (ushul fiqh) dengan berbagai variasinya. Selain itu, metodologi ini juga melahirkan sejumlah karya Tafsir al-Qur’an yang tingkat keshahihan, kredibilitas dan genuitas sampai sekarang masih diakui dan sulit memperoleh tandingannya.
  2. Burhani adalah kerangka berfikir yang tidak didasarkan atas teks suci maupun pengalaman spiritual, melainkan atas dasar keruntutan logika. Pada tahap tertentu, keberadaan teks suci dan pengalaman spiritual bahkan hanya dapat diterima jika sesuai dengan aturan logika. Kebenaran dalam metodologi ini, persis seperti diperagakan oleh metodologi keilmuan Yunani yang landasannya murni pada cara kerja empiric-Rasional. Kebenaran harus dapat dibuktikan secara empiric dan diakui menurut penalaran logis. Pendekatan burhani mampu menyusun cara kerja keilmuan dan mampu melahirkan sejumlah teori dan praksis ilmu: seperti ilmu-ilmu biologi, fisika, astronomi, geologi dan bahkan ilmu-ilmu kemoderenan seperti ekonomi, pertanian dan pertambangan.
  3. Irfani adalah model penalaran yang didasarkan atas pendekatan dan pengalaman spiritual langsung (direct exprecience) atas realitas yang tampak. Karena itu sasaran bidik burhani berbeda dengan sasaran bidik bayani dan burhani yang bersifat eksoteris, sebab sasaran bidik irfani adalah esoteric atau bagian batin tek, dan oleh karena itu, rasio digunakan hanya untuk menjelaskan pengalaman spiritual. Metodologi dan pendekatan irfani mampu menyusun dan mengembangkan ilmu-ilmu keshufian. Kontribusi pemikiran dan aksi dengan basis metodologi ini cukup banyak.

Cara kerja dan hubungan kerja ilmu di antara ketiga model ini, idealnya memang bersatu dalam satu koherensi logis yang saling mendukung. Faktanya, dalam sejarah memang tidak selalu demikian? Ketiga model ini satu sama lain bergerak dan berjalan sendiri.Cara kerja keilmuan berdasarkan tiga metodologi di atas, dalam realitas sejarah Islam memang tidak selalu seiring sejalan. Bahkan ada kesan satu sama lain saling mengalahkan.

Beradasarkan ketiga metodologi di atas, masyarakat Muslim mampu menghasilkan temuan berharga (baik bersifat teoritis maupun praktis). Ilmu pengetahuan telah berhasil mencapai titik optimum dengan capaian yang luar biasa. Keluarbiasaan itu, bukan saja terletak pada ditemukannya ilmu-ilmu kealaman (sains), ilmu sosial, kedokteran, biologi, farmasi, baik berupa konsep, teori, hukum-hukum, tesis, hipotesis, maupun yang sudah berwujud tekhnologi; tetapi kemampuannya yang mencoba mereduksi aspek transenden dalam kajian keilmuannya ke dalam bentuk yang lebih praktis.

Ujung akhir dari corak berfikir yang demikian ini, hampir tidak dapat ditemukan baik sebelum masa Islam, mampu merasa sesudahnya cara kerja keilmuan seperti ini. Keberhasilan masyarakat Muslim ini, pada perkembangannya yang akan datang, khususnya ketika Barat Modern gagal memformulasikan pengetahuannya yang kering nilai, telah menjadi impian dan romantisme yang menarik, khususnya bagi kelangan Muslim untuk mencoba mengambil kembali tradisi Muslim awal. Dapat dijelaskan bahwa sistem kefilsafatan yang dibangun masyarakat Muslim ke depan, tampaknya perlu dirumuskan dalam model sintesis dari filsafat yang dikembangkan Yunani (yang murni berbasis empirik-rasional) dengan imbuhan intuisi wahyu yang berjuang pada sistem filsafat yang ramah terhadap persoalan-persoalan spritualitas (E.C. Ewing, 1962: 31).

Pengetahuan dalam visi keislaman, seperti terlihat tadi, diakui keharusannya oleh tokoh seperti Syed Huein Nasr (1992: 12). Menurutnya, model sintetik atas runyamnya basis keilmuan yang selama ini ada, sangat mendesak untuk dilakukan. Tujuannya agar basis keilmuan masyarakat modern tidak tercerabut pada prinsip-prinsip yang sama sekali meninggalkan aspek transendentalnya. la mencoba melihat realitas benda dalam konteks rasio-empiris, namun tetap mengakui kemungkinan Sang Maha Qudus sebagai sumber segala yang qudus.

  1. Muhammad Afandarys berkata

    sangat menarik Artikelnya
    kakak saya suka sekali tentang filsafat
    Izin Share

  2. Fadhli Uyun berkata

    Saya setuju pendapat bapak terkait pembahasan diatas, akan tetapi sya izin bertanya perbedaan ilmuan sekarang dengan masa lalu itu apa ? Terimakasih.#1415104035

  3. aceng khoer ependi berkata

    saya sangat setuju dengan pendapat bapak atas pernyataan di atas .#1415104004

    1. lyceum
      lyceum berkata

      ya terima kasih mas

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.