Makna dan Dimensi Agama

0 2.189

Makna dan Dimensi Agama: Sikap keberagamaan sering dipandang sebagai puncak keyakinan. Keyakinan manusia tidak berdiri sendiri, tetapi didorong oleh potensi akal budi, logika dan pikirannya. Sehingga ia menjatuhkan pandangan yang selanjutnya diyakini. Dari konsep ini, berarti keagamaan adalah sistem keyakinan, dan keyakinan adalah tumpul yang sudah tidak berujung dan tak bersudut. Fenomena yang ada ternyata banyak agamawan yang mengalami migrasi keyakinan. Agama dipahami sebagai keyakinan, jalan untuk mencapai keselamatan,  serta sebagai identitas sosial yang harus diperjuangkan. Konversi agama dipengaruhi oleh faktor pergaulan, pernikahan, kesadaran, kejiwaan,  ekonomi,  kurangnya wawasan,  kegamaan dan faktor situasi sosial.  Sementara argumen konversi agama  untuk menjaga keutuhan kehidupan keluarga, untuk memupuk ketenangan jiwa,  penebusan dosa, rasionalitas sistem peribadatan serta sugesti kepercayaan diri.

Hadirnya agama dalam kehidupan, tidaklah bersifat statis dan konstan. Suatu saat agama disanjung dan dibela, dan suatu saat agama dibenci dan dicaci. Agama hadir menawarkan sebagai tali konsultasi antara manusia dengan Tuhan. Dan dari pihak manusia agama diyakini sebagai jalan keselamatan menuju kehidupan yang abadi. Dalam pandangan muslim, agama dipandang sebagai rahmat yang datang dari Allah. Dalam artian orang yang beragama Islam berarti dia adalah orang yang sedang diberkahi, dirahmati dan dikasihi oleh Allah. Dari keyakinan yang kuat dan teguh terhadap agama, sampai sampai membias pada cara pandang manusia yang beragama terhadap manusia lain yang tidak beragama dan mungkin hanya beda agama. Bias pandang tersebut sampai terjadi penglompokan sosial berdasarkan agama.

Dari bias pengelompokan sosial tersebut, akhirnya berkembang menjadi kekuatan ideologis yang bisa jadi akan mewarnai perilaku politik kehidupan dan bersosial. Dari sini muncul juga fanatik, simpatik dan kepedulian sosial yang didasarkan pada agama. Bias ini kadang kadang termenej oleh suatu kepentingan bagi keleompok tertentu yang akhirnya mendatangkan konflik dan ketegangan antar ummat beragama. Keberagamaan seseorang sering dipandang sebagai puncak dari pengalaman batin dan keyakinan. Pengalaman batin dan keyakinan manusia tidak berdiri sendiri, tetapi didorong oleh potensi akal budi, logika dan pikirannya. Sehingga ia menjatuhkan pandangan yang selanjutnya diyakini. Dari konsep ini, berarti keagamaan adalah sistem keyakinan, dan keyakinan adalah tumpul yang sudah tidak berujung dan tak bersudut. Akan tetapi fenomena yang ada ternyata tidak demikian. Banyak agamawan yang mengalami perpindahan, mulai keyakinan inter agama dan keyakinan antar agama yang dikenal dengan istilah konversi agama atau keyakinan.

Makna Agama

Dalam pembahasan tentang agama agama dan definisinya, tidak dimasukkan dalam ranah pengertian agama dalam wilayah sesuatu yang bersumber dari wahyu.  Wahyu hanya berbicara tentang perilaku manusia yang seharusnya dilakukan sesuai dengan petunjuk sang penciptanya. Institusi yang mengatasnamakan sumber petunjuk itulah yang dipahami sebagai agama. Dalam konteks ini, agama dipahami bukan dalam definisi wahyu. Akan tetapi pemahaman dan pengalaman masyarakat tentang hakekat agama itu sendiri. Dalam konteks ini, pemahaman agama adalah pengalaman masyarakat terhadap hal hal yang dipandang suci yang direkomendasikan oleh pengalaman spiritual mereka.

Dalam pandangan sosiologi, agama merupakan sstem sosial yang didefinisikan oleh para penganutnya yang bersumber dan berporos dari kekuatan non-empiris yang dipercayai dan didayagunakan untuk menggapai keselamatan baik untuk individu maupun untuk masyarakat luas. Dalam pengertian ini agama merupakan sistem sosial yang dirumuskan dari fenomena fenomena sosial yang disemangati oleh tekanan dari luar diri manusia untuk memberikan kepastian akan tercapainya keinginan yang ingin dicapai, yaitu keselamatan.

Dimensi Agama

  1. Religious believe (the ideological/doctrine commitment). Dimensi ini sebagai parameter untuk mengukur seberapa jauh seseorang mempercayai doktrin-doktrin agamanya, misalnya tentang keberadaan dan sifat-sifat Tuhan, ajaran-ajaran dan takdirNya. Kepercayaan kepada Tuhan dan sifat-sifat-Nya merupakan inti pokok dari adanya rasa agama.
  2. Religious practice (the ritualistic commitment). Dimensi ini untuk mengukur seberapa jauh seseorang melaksanan kewajiban peribadatan agamanya, misalnya tentang salat, puasa, dan ibadah wajib lainnya. Khusus untuk pengukuran dimensi ini difokuskan pada pelaksanaan rukun Islam, sementara pelaksanaan ibadah sunnah dapat dimasukkan untuk pengukuran dimensi lain, yaitu religious feeling.
  3. Religious feeling (the experiental/emotion commitment).Dimensi ini untuk mengukur seberapa dalam rasa kebertuhanan seseorang. Dimensi ini bisa disebut sebagai esensi keberagamaan seseorang. Karena dimensi ini mengukur kedekatannya dengan Tuhan. Pengukuran pada dimensi ini dapat menguatkan pengukuran pada dimensi ibadah.
  4. Religious knowledge (the intelektual commitment). Dimensi ini untuk mengukur intelektualitas keberagamaan seseorang. Dimensi ini mengukur tentang seberapa pengetahuan keberagamaan seseorang, dan seberapa tinggi motivasi dalam mencari pengetahuan tentang agamanya. Dimensi ini juga mengukur sifat dari intelektualitas keagamaan seseorang, apakah bersifat tertutup ataukah terbuka.
  5. Religious effects (the concequqntial/ethics commitment). Dimensi ini untuk mengukur tentang pengaruh ajaran agama terhadap perilaku sehari-hari yang tidak terkait dengan perilaku ritual, yaitu perilaku yang mengekspresikan kesadaran moral seseorang. Bagi orang Islam pengukuran dimensi etika dapat diarahkan pada ketaatannya terhadap ajaran halal dan haram, serta hubungan dengan orang lain.
  6. Community (social commitment). Dimensi ini untuk mengukur sejauh mana seorang pemeluk agama terlibat secara sosial pada komunitas agamanya. Dimensi ini dalam Islam dapat disebut sebagai pengukuran terhadap kesalehan sosial. Dimensi kesalehan sosial dapat digunakan untuk mengukur konteribusi seseorang bagi kegiatan-kegiatan sosial keagamaan, baik berwujud tenaga, pemikiran, maupun harta

Oleh: Ahmad Munir

Bahan Bacaan

Komaruddin Hidayat, Tragedi Raja Midas: Moralitas Agama dan Krisis Modernisme, (Jakarta: Paramadina, 1998, Cet. 1)

Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and The Sacred, (New York: State  University  of New York Press, 1989)

D. Hendropuspito, Sosiologi Agama, (Yogyakarta: Kanisius, 1983)

Komentar
Memuat...