Inspirasi Tanpa Batas

Makna dan Fungsi Sikap Keberagamaan

0 180

Konten Sponsor

Belakangan, kata sikap keberagamaan, hangat dibicarakan. Tetapi, jarang di antara mereka yang faham, apa sesungguhnya sikap keberagamaan? Tulisan ini, meski sangat sederhana, akan mengurai tentang makna sikap keberagamaan, dan mengapa peserta didik mesti memiliki sikap keberagamaan

Secara operasional perilaku, sikap keberagamaan didefinisikan sebagai praktik hidup berdasarkan ajaran agama yang diabut seseorang. Selain itu, sikap keberagamaan, dapat juga diterjemahkan dengan tanggapan atau bentuk perlakuan terhadap agama yang diyakini dan dianut seseorang. Praktik dan tanggapan atas keberagamaan itu, dalam nalar selanjutnya, kemudian akan dijadikan sebagai pandangan hidup dalam kehidupan.

Jika demikian, apa itu keberagamaan? Menurut Edgar Stons [1958: 251], keberagamaan dalam bentuknya dapat dinilai dari bagaimana sikap seseorang dalam melaksanakan perintah agamanya dan menjauhi larangan agamanya. Dengan pemaknaan tersebut, keberagamaan bisa dipahami sebagai potensi diri seseorang yang membuatnya mampu menghadirkan wajah agama dengan tampilan insan religius yang humanis.

Sikap Keberagamaan Menurut Para Ahli

Di kalangan para faqih Muslim abad ke 9-10 Masehi, misalnya Abu Hanifah, keberagamaan dianggapnya harus merupakan kesatuan utuh antara iman dan Islam. Artinya, keberagamaan jika diamati dari sisi internal adalah iman dan dari sisi eksternalnya adalah Islam. Sebagai suatu fenomena sosial, rumusan ini sejalan dengan pendapat Joachim Wach [1965: 110], bahwa pengalaman beragama terdiri atas respons terhadap ajaran dalam bentuk pikiran, perbuatan serta pengungkapannya dalam kehidupan kelompok.

Charles Y. Glock & Rodney Stark menjelaskan bahwa agama adalah sistem simbol, sistem keyakinan, sistem nilai, dan sistem perilaku yang terlembagakan. Semua itu, menurutnya harus berpusat pada persoalan-persoalan yang dihayati sebagai yang paling maknawi (ultimate meaning). Sedangkan tentang keberagamaan Glock & Stark, melihatnya dari lima dimensi, yaitu:

  1. Dimensi keyakinan yang berisi pengharapan-pengharapan dimana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin tersebut.
  2. Dimensi praktik agama yang mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Praktik-praktik keagamaan ini terdiri atas dua aspek penting, yaitu aspek ritual dan ketaatan.
  3. Dimensi pengalaman. Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengaharapan-pengharapan tertentu, meski tidak tepat jika dikatakan bahwa seseorang yang beragama dengan baik pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan subyektif dan langsung mengenai kenyataan terakhir bahwa ia akan mencapai suatu kontak dengan kekuatan super natural. Dimensi ini berkaitan dengan pengalaman keagamaan, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi dan sensasi-sensasi yang dialami seseorang.
  4. Dimensi pengetahuan agama yang mengacu kepada harapan bahwa orang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi.
  5. Dimensi pengamalan. Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat atau konsekuensi keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman, dan pengetahuan seseorang dari ke hari. By. Dr. Hj. Ety Tismayati

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar