Makna dan Sejarah Pondok Pesantren

0 213

Makna dan Sejarah Pondok Pesantren: Pondok Pesantren, secara bahasa berasal dari dua struktur kata, yakni kata pondok dan kata pesantren. Pondok dapat diartikan dengan tempat tinggal, hotel sederhana atau asrama. Makna dimaksud diambil dari bahasa Arab, yakni funduq yang berarti asrama. Sedangkan kata pesantren, patut diduga berasal dari kata santri  (memperoleh awalan ”pe” dan akhiran ”an”) yang berarti orang yang mempelajari ilmu agama.

Makna Pondok Pesantren

Pondok pesantren dengan demikian dapat diterjemahkan dengan tempat para santri/murid untuk tinggal menginap dalam waktu yang lama dalam suatu usaha mencari ilmu agama. Kata santri sendiri, berasal dari bahasa India, shastri atau Sastra (Bahasa Tamil), yang berarti orang yang mengerti dan mengetahui makna-makna dalam kitab suci agama, khususnya Hindu, atau sarjana yang ahli dalam memahami kitab suci agama mereka. Kata santri, pada awalnya umum digunakan untuk orang shaleh yang mengerti ajaran agama Hindu.

Kata santri kemudian diadopsi menjadi istilah orang yang mempelajari ilmu agama Islam. Jadi santri sering juga diterjemahkan dengan orang-orang yang mendalami ajaran agama Islam. Dengan demikian, maka Pondok Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan yang menggunakan sistem asrama di mana di dalamnya diajarkan berbagai macam ilmu, khususnya ilmu tentang agama Islam.

Sejarah Pesantren

Secara historis, di pesantren awalnya hanya mempelajari ilmu-ilmu agama (Islam). Tetapi dalam perkembangan berikutnya, pesantren dituntut beradaptasi dengan perkembangan zaman, sehingga pesantren sekarang menyelenggarakan berbagai kursus yang dapat menunjang keterampilan santri. Bahkan, tidak sedikit pesantren yang mengajarkan mata pelajaran umum. Misalnya Bahasa Inggris, komputer, menjahit, bengkel, dan berbagai keterampilan lainnya seperti pertanian dan perkebunan.

Syaikh Maulana Malik Ibrahim sebagai Pendiri Pertama Pondok Pesantren

Pendiri pertama pondok pesantren di Indonesia, sering ditahbiskan kepada Syaikh Maulana Malik Ibrahim, diyakini salah seorang wali sembilan di Jawa, yang berasal dari Gujarat, India. Penyebutan tokoh ini sebagai tokoh pertama yang mendirikan pesantren, diyakini karena dia adalah “wali” yang cenderung akomodatif dengan kultur masyarakat setempat. Salah satu kultur yang diadaptasi dari masyarakat Jawa yang berbasis pada tradisi Hindu adalah sistem dan model pembelajaran ajaran agama Hindu-Budha yang ada di Jawa, yakni model pendidikan yang sekarang disebut pesantren.

Tokoh ini dianggap berhasil mendidik para ulama besar di Indonesia. Sedangkan yang mengembangkannya adalah Sunan Ampel yang mendirikan pesantren di Rembang Kuning, Surabaya. Pondok Pesantren yang didirikan oleh Sunan Ampel, pertama kali hanya diikuti oleh tiga orang santri. Ketiga santri dimaksud adalah: Wiro Suryo, Abu Hurairah, Kyai Bang Kuning.

Selanjutnya Sunan Ampel mendirikan pondok pesantren di Ampel Denta Surabaya, yang lama kelamaan menjadi semakin berpengaruh dan menjadi terkenal di seluruh Jawa Timur. Di antara para alumnus pesantren Ampel Denta, hanya Raden Fatah yang giat dan serius mengelola usaha pendidikan dan pengajaran ajaran agama Islam dengan cara yang terencana dan teratur. Sekitar tahun 1476 M kemudian dibentuk organisasi pendidikan Bayangkara yang menjadi organisasi pendidikan dan pengajaran Islam pertama di Indonesia.

Pondok Pesantren dalam Transformasi Keislaman dan Ilmu Pengetahuan

Pada awal  kelahirannya, pondok pesantren  memiliki peran  penting dalam proses transformasi nilai-nilai keislaman dan transformasi ilmu pengetahuan. Pesantren telah menjadi satu-satunya lembaga pendidikan bagi masyarakat Muslim  Nusantara, khususnya ketika kolonialisme Belanda memarginalkan umat Islam dalam bidang ekonomi, sosial dan pendidikan. Masyarakat Muslim Nusantara tidak diberi akses optimal termasuk terhadap dunia pendidikan. Kurikulum pendidikan Pesantren memadukan tiga unsur  pendidikan. Ketiga unsur itu adalah; menanamkan nilai-nilai keimanan, tabligh untuk  menyebarkan ilmu dan amal  serta untuk mewujudkan  kegiatan masyarakat  dalam kehidupan  sehari- hari.***H. Edeng Z.A

Bahan Bacaan

Hamka. Sedjarah Islam di Sumatra. Medan: Pustaka Nasional, 1950.

Hamka. Tasawuf dari Abad ke Abad. Jakarta: Pustaka Islam, 1955.

Abu Bakar Atjeh. Sedjarah Hidup KHA. Wachid Hasym dan Karangan Tersiar. Djakarta: Panitya, 1957

Abdurrahman Saleh Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, Jakarta: Rineka Cipta, 1995.

Abdurrahman Wahid, Bunga Rampai Pesantren, Cetakan Pertama, Jakarta: Darma Bhakti, 1999.

Azyumardi Azra. Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Yogyakarta: Logos, 1999.

Aqiel Siraj. Pesantren Masa Depan. Bandung: Pustaka Hidayah, 1999.

Tossyiyyuki Akiyama. Islamic Perfektives on Science and Technologi. Japan: The Institute of Middle Eastern Studies, 1998. hlm.

Zuhairini dkk. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1992.

Daniel George Edward Hall. Historians of Southeast Asia. London: Oxford University Press, 1961.

Clifford Geertz. Religion in Java. Glencoe, III: The Free Press, 1960.

J.S. Furnivall. Colonial Policy and Practice. Cambridge: University Press, 1944.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.