Take a fresh look at your lifestyle.

Makna Ilmu | Epistemologi Part – 1

0 43

Konten Sponsor

Makna Ilmu. Jika dilihat dari hurup per hurup yang membentuk kata ilmu, maka, kata dimaksud begitu sangat simple. Semua orang, tanpa kecuali, tentu akan sangat mudah mengingatnya. Tetapi, jika ditanyakan apa itu ilmu? Bukan hanya orang awam yang sulit menjawab, kaum terpelajarpun, tidak sedikit yang tetap kesulitan memahaminya. Inilah persoalan atau kelemahan pendidikan kita, pada jenjang pendidikan apapun yang kita tempuh.

Jika membaca tulisan Sidi Gazalba [1973], Ilmu dalam Bahasa Indonesia, disebutnya berasal dari bahasa Arab. Struktur katanya, ‘alama, berarti pengetahuan. Kata ini, menurut Gazalba sering disejajarkan dengan kata science dalam bahasa Inggris. Di letak ini, menurut saya kekeliruan mulai muncul. Mengapa? Sebab, jika science diterjemahkan dengan ‘alama [Arab] yang berarti pengetahuan, maka, seolah antara pengetahuan dan ilmu sama. Padahal, menurut saya, keduanya berbeda secara signifikan. Dalam literasi Inggris, pengetahuan sering diterjemahkan dengan kata knowledge.

Tetapi, jika mencoba mendalami asal usul kata science, sangat mungkin merupakan serapan dari Bahasa Latin, scio, sciere atau scientin, memang  akhirnya kita dapat memahami mengapa Gazalba menyatakan demikian. Kata dimaksud mengandung arti pengetahuan atau aktivitas mengetahui. Inilah mungkin yang dimaksud Sidi Ghazalba.

M. Quraish Shihab [1996] berpendapat bahwa ilmu berasal dari bahasa Arab, Ilm. Arti dasarnya kejelasan. Menurutnya, segala bentuk yang terambil dari akar kata ‘ilm seperti ‘alam (bendera), ‘ulmat (bibir sumbing), a’lam (gunung-gunung) atau alamat, selalu mengandung objek pengetahuan. Ilmu dengan demikian dapat diartikan sebagai pengetahuan yang jelas tentang sesuatu. Dalam kitab suci umat [al Qur’an], menurut ahli tafsir kenamaan Indonesia, menyebut bahwa kata ilmu setidaknya terulang 854 kali. Menurutnya, kata dimaksud memiliki makna proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan.

Kata pengetahuan (B. Indonesia), menurut saya, tentu berbeda dengan ilmu. Pengetahuan [knowledge/Inggris], dapat diartikan sebagai sejumlah informasi yang diperoleh seseorang tanpa melalui pengamatan [observ], pengalaman (empiri) dan penalaran (rasio). Karena itu, pengetahuan tentu berbeda dengan ilmu terutama dalam cara perolehannya. Cara perolehan ilmu, dalam kajian Filsafat Ilmu sering disebut dengan epistemologi.

Mengenal Makna Epistemology

Epistemologi terdiri dari dua suku kata, yakni epistem [ἐπιστήμη] dan logy [logos/λόγος]. Keduanya berasal dari bahasa Yunani, yakni Epistem berarti pengetahuan, dan logy berati ilmu atau diskursus. Jadi epistemologi, secara bahasa berarti diskursus tentang pengetahuan. Banyak penulis kemudian menerjemahkan epistemologi dengan teori tentang pengetahuan.

Kembali ke persoalan makna Ilmu, menurut saya tampak lebih teoretis dibandingkan dengan makna pengetahuan. Karena ilmu lebih teortis, maka, kebenaran ilmiah membutuhkan pengujian. Sedangkan pengetahuan tidak selalu harus mendapatkan pembuktian! Dalam banyak kasus, pengetahuan seringkali diterima secara given. Hal lain, yang harus juga dijelaskan adalah, pengetahuan tidak berdampak pada prinsip generalisasi, sebagaimana ilmu mengakibatkannya. Ilmu selalu dan pasti diperoleh melalui sejumlah penelitian dan pembuktian yang berujung pada kemungkinan melakukan generalisasi.

Kesan yang muncul atas definisi di atas, sekali lagi  adalah pengetahuan berbeda dengan ilmu. Pengetahuan berisi sejumlah informasi yang menjadi landasan awal bagi lahirnya ilmu. Dalam banyak, ilmu seringkali lahir karena pertimbangan adanya pengetahuan, meski tidak semua ilmu pasti lahir karena pertimbangan pengetahuan.

Al-Ghazali [tt] menyebut pengetahuan sebagai produk aktivitas mengetahui. Misalnya, tersingkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan terhadapnya. Jiwa yang tidak ragu terhadap apa yangdiketahui, menjadi syarat mutlak diterimanya sebuah pengetahuan.

Misalnya, seseorang mengetahui dan meyakini bahwa ada sepuluh Malaikat yang wajib diketahui. Pengetahuan tentang sejumlah Malaikat yang sepuluh dan wajib diketahui itu, tetap dipertahankannya meskipun ada guru atau kaum cerdik cendekia lain menyatakan bahwa bukan sepuluh jumlah Malaikat yang wajib diketahui. Melainkan misalnya hanya ada lima. Pengetahuan yang dibarengi dengan keyakinan seperti itu, disebut al-Ghazali sebagai pengetahuan.

Ahmad Tafsir [1992] berpendapat bahwa pengetahuan berlangsung dalam dua bentuk dasar dan fungsi yang berbeda. Pertama, pengetahuan berfungsi untuk dinikmati dan memberikan kepuasan kepada hati manusia seperti terdapat dalam kajian mistik dan filsafat. Kedua, pengetahuan yang patut digunakan atau diterapkan dalam menjawab kebutuhan praktis kebutuhan manusia seperti yang terdapat dalam sains. Masing-masing jenis dan fungsi pengetahuan kemudian memiliki objek, paradigma, metode dan ukurannya sendiri-sendiri. Satu sama lain, menurutnya sangat mungkin berbeda.

Lalu Apa itu Ilmu?

Paparan di atas menyimpulkan bahwa setiap jenis pengetahuan, pada prinsipnya selalu berguna untuk memberikan jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang muncul dalam diri seseorang. Pengetahuan selalu memberi rasa puas dengan menangkap tanpa ragu terhadap sesuatu. Pengertian pengetahuan seperti itu telah membedakannya dengan ilmu yang selalu menghendaki penjelasan lebih lanjut dari hanya sekedar dituntut pengetahuan [lihat Mundiri, 2000].

Bagi saya, ilmu sama dengan teori. Karena itu, dalam bahasa Yunani, ilmu disejajarkan dengan kata logos, yang arti dasarnya adalah teori. Persoalannya, mengapa disebut teori? Sebab setiap ilmu, selalu mengandung teori atau lahir karena teori. Basisnya adalah dunia empiris dan keterukuran logika.

Contoh! Hujan pasti diawali mendung, meski tidak setiap mendung, pasti turun hujan. Pertanyaannya, adakah hujan turun tanpa mendung? Hampir sulit ditemukan. Karena itu, semakin sering mendung, maka, kemungkinan turun hujan semakin besar. Semakin jarang mendung, maka, semakin tipis juga kemungkinan turun hujan. Apa yang dapat disimpulkan dari kenyataan ini? Secara teoretik, hanya jika banyak mendunglah, hujan berkemungkinan turun. Jadi ingin turun hujan di musim kemarau yang panjang, maka, ilmu atau teorinya adalah, membuat apa yang hari ini disebut sebagai hujan buatan.

Hujan buatan pada hakikatnya adalah proses menyemai awan dengan menggunakan bahan yang bersifat higroskopik (menyerap air). Melalui proses ini,  pertumbuhan butir-butir hujan di dalam awan akan meningkat. Awan yang digunakan ilmuan untuk membuat hujan dimaksud adalah awan Cumulus (Cu). benda itu berbentuk persis seperti bunga kol. Setelah lokasi awan Cu itu diketahui, pesawat terbang yang membawa bubuk khusus [glasiogenik berupa Perak Iodida] kemudian ditaburkan pesawat.

Bubuk itu berfungsi membentuk es dalam awam. Pesawat juga membawa bubuk untuk “menggabungkan” butir-butir air di awan yang bersifat higroskopis seperti garam dapur atau Natrium Chlorida (NaCl), atau CaCl2 dan Urea. Jika proses ini berhasil dilakukan, maka, hujanpun pasti akan turun.

Contoh lainnya adalah. Konsepsi atau pembuahan dalam janin, secara teoretik terjadi karena bertemu antara ovum dengan spermatozoa. Dengan cara apapun [melalui penis atau jarum suntik], ovum dan spermatozoa itu bertemu, maka, konsepsi [hamil] bagi seorang wanita pasti akan terjadi. Teori terbaliknya adalah, sebetapapun kita sering melakukan hubungan suami istri, tetapi, ovum dan spermatozoa tidak bertemu, maka, pembuahan tidak mungkin terjadi.

Teori Islam tentang Hukum Alam

Itulah sunnatullah yang kalau diterjemahkan bebas bermakna hukum alam yang teratur. Suatu pola hukum yang satu sama lain saling terkait dan saling mempengaruhi. Dalam terminologi ini, hukum alam yang demikian, disebut dengan hukum kausalitas. Jadi secara teologis Islami, gagasan tentang hukum kausalitas ini, dibenarkan. Setidaknya hal ini dapat dibaca misalnya keterangan al Qur’an, khususnya dalam surat Yasin [36]: 37-40 yang artinya sebagai berikut:

” …. Suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. “… Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. “… Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. “… Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

Penjelasan tentang dasar-dasar pengetahuan yang meliputi penalaran atau logika dan kriteria kebenaran, akan dikaji secara serial dalam tulisan ini. Asumsinya, kemampuan seseorang dalam meletakkan dasar-dasar pengetahuan, akan menyebabkan dirinya berkemampuan untuk mengembangkan pengetahuan yang menjadi rahasia kekuasaan Tuhan.

Dalam perspektif teologi Islam, pengetahuan tentang soal ini, dapat menjadi semacam penguat akan fungsi manusia sebagai khalifat fi al-ard (penguasa, penjaga atau pengganti Tuhan di muka bumi). Hanya sejenis manusia yang mampu menguasai hukum alamlah, mereka yang bakal memiliki kemampuan untuk mengurusi alam sesuai dengan kepentingan manusia secara pragmatis, dan kepentingan Tuhan dalam makna ideal.

Perjalanan manusia yang berdimensi seperti itulah, sesungguhnya dalam tanda baca tertentu, manusia yang “dikehendaki” Tuhan. Dalam bahasa yang agak filsofis, rantaian pemahaman akan pentingnya penguasaan ilmu ini, akan mendorong manusia untuk memiliki kemampuan dalam konteks membaca qudrat, iradat dan masy’at Tuhan.

Hakikat ilmu Kalau Begitu Apa

Athur Thomson mendefinisikan ilrnu sebagai pelukisan fakta-fakta, pengalaman secara lengkap dan konsisten meski dalam perwujudan istilah yang sederhana. S. Hornby (1996: 307) mengartikan ilmu dengan kalimat:  “Science is organized knowledge obtained by observation and testing of fact“‘ (Ilmu adalah susunan atau kumpulan pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian dan percobaan dari fakta-fakta).

Kamus Bahasa Indonesia, menerjemahkan ilmu sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, sarana dan alat tertentu pula. Jika perangkat pengetahuan itu mampu dikonstruk dan digunakan, maka sekaligus ia dapat menerangkan gejala-gejala tertentu pula. Kamus ini juga menerangkan bahwa ilmu dapat diartikan sebagai pengetahuan atau kepandaian tentang soal duniawi, akhirat, lahir batin.

Poincare (1975: 272) menyebut bahwa ilmu berisi kaidah-kaidah dalam arti definisi yang bersembunyi (science consist entirely of convention in the sence of disguised definitions). Pengertian dan kandungan ilmu yang dicoba ditawarkan Poincare ini, harus pula diakui memperoleh penolakan dari sebagian ahli. Bahkan ada anggapan yang menyatakan bahwa pikiran Poincare ini merupakan kesalahan besar.

M Le Ray seolah menjadi antitesis dari pemikiran Poincare. Le Ray misalnya menyatakan bahwa “Science it consis only of conventions and it is solely to this circumstance that it owes its apparent certaintly”. Le Ray juga menyatakan bahwa science can’t teach us the truth, it’s can serve us only as a rule of action (ilmu tidak mengerjakan tentang kebenaran, ia dapat menyajikan sejumlah kaidah dalam berbuat). Dari beberapa definisi ilmu di atas, maka, kandungan ilmu berisi tentang; hipotesa, teori, dalil dan hukum.

Hakikat ilmu bersifat koherensi sistematik. Artinya, ilmu harus terbuka kepada siapa saja yang mencarinya. Ilmu berbeda dengan pengetahuan. Ilmu tidak pernah mengartikan kepingan-kepingan pengetahuan berdasarkan satu putusan tersendiri. Ilmu justru menandakan adanya satu keseluruhan ide yang mengacu kepada objek atau alam objek yang sama dan saling berkaitan secara objektif. Setiap ilmu bersumber di dalam kesatuan objeknya.

Ilmu tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan penalaran masing-masing orang. Ilmu akan memuat sendiri hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang sepenuhnya belum dimanfaatkan. Ilmu membutuhkan metodologi, sebab dan kaitan logis. Ilmu menuntut pengamatan dan kerangka berfikir metodik. Alat Bantu metodologis yang penting dalam konteks ilmu adalah termionologi ilmiah. Prof. Cecep Sumarna –bersambung–