Makna Kebahagiaan (Al-Falah) Dalam Pandangan Al-Quran

0 3.168

Makna Kebahagiaan (Al-Falah) Dalam Pandangan Al-Quran (Baca: Pandangan Al-Qur’an Tentang Konsep Kebahagiaan). Dalam kamus besar bahas Indonesia, Makna bahagia diartikan dengan; 1. Keadaan atau perasaan senang dan tenteram serta bebas dari segala yang menyusahkan. 2. Beruntung, baik secara lahir maupun batin.[1]  Dari definisi tersebut, bahagia merupakan kondisi perasaan di mana manusia bebas dari segala beban yang menganggu perasaannya. Kondisi tersebut bisa jadi karena keberuntungan atau karena dampak dari usahanya. Kondisi tersebut bersifat holitistik, baik secara lahir maupun batin.

Kata bahagia dalam bahasa Indonesia tersebut dapat ditranslitasikan ke dalam bahasa Arab al-falâh bermakna; kemakmuran, keberhasilan, atau pencapaian dari apa yang diinginkan dan dicari setelah melakukan sebuah upaya, sesuatu yang dengannya orang merasa senang dan bahagia, menimati ketenteraman dan ketenangan, atau kehidupan yang penuh keberkahan yang secara terus menerus dan berkelanjutan.[2]  Di dalam al-Qur’an, kata al-falâh dengan berbagai derivasinya, disebut sebanyak 40 kali. Dari jumlah penyebutan tersebut dapat dikategorisasikan menjadi dua bentuk, yaitu bentuk nomina (isim) dan bentuk verba (fi’il).

Bentuk Nomina (isim)

Dalam bentuk nomina, derivasi kata al-falâh disebut sebanyak 13 kali.  Seluruhnya berbentuk isim fâ’il  yang berbentuk jama’ ma’rifah, 12 kali dalam posisi rafa’  (المُفْلِحُوْن),[3] dan satu kali dalam posisi nashab  (المُفْلِحِيْن).[4] Hal ini memberikan pelajaran bahwa kebahagiaan yang ditunjuki dengan kata al-falâh bersifat umum, tidak dapat disifati dengan sifat sifat tertentu. Dan kebahagiaan tidak memerlukan banyak wacana dan diskursus. Tetapi dibutuhkan kepastian para pelaku/subjek (fâ’il).

Dari data yang ada, 13 kali bentuk isim fâ’il, 12 kali berposisi rafa’. Artinya bahwa kebahagiaan dibangun atas usaha, kemandirian dan tindakan konkret. Seseorang tidak akan bisa merasakan kebahagiaan, kalau dia di bawah tekanan dan selalu dalam posisi objek. Ketika al-Qur’an menyebut isim fâ’il dari kata al-falâh dalam posisi selain rafa’, menunjukkan adanya prasyarat yang harus dipenuhi oleh manusia untuk mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Komentar
Memuat...