Connect with us

Psikologi

Makna Kebahagiaan (Al-Falah) Dalam Pandangan Al-Quran

aceplutvi

Published

on

Bentuk Verba (fi’il)

Dalam bentuk verba, derivasi kata al-falâh disebut sebanyak 27 kali   yang dapat dikelompokkan menjadi dua bentuk, yaitu bentuk lampau    dan bentuk sedang.

Bentuk Fi’ail Mâdli

Dalam bentuk lampau, derivasi kata al-falâh diulang sebanyak empat kali,  seluruhnya dalam bentuk persona ketiga tunggal (أَفْلَحَ),[5] yang diawali dengan huruf qad (قَدْ) yang menunjukkan keseriusan atau kesungguhan.[6] Dalam bahasa Arab, huruf qad (قَدْ) tidak dipakai kecuali terhadap hal hal yang telah selesai dilakukan.   Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan harus diupayakan oleh manusia dengan penuh kesungguhan dan keseriusan. Hanya saja apakah setiap kesungguhan dan keseriusan usaha manusia mesti mendapatkan kebahagiaan?

Bentuk fi’il mudlâri’

Dalam bentuk sedang, derivasi kata al-falâh diulang sebanyak 23 kali dengan berbagai bentuk dan konteks.

1). Bentuk persona kedua dalam bentuk jama’ (تُفْلِحُوْنَ).

Bentuk ini diulang sebanyak 11 kali, seluruhnya diawali dengan kata la’alla (لَعَلَّ) yang dikaitkan dengan:

a). Sikap taqwâ dengan penuh disiplin dan ketaatan dalam menjalankan perintah. Salah satu bentuk keikhlasan seseorang dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab adalah dia menjalankannya sesuai dengan apa yang diperintahkannya. Upaya untuk bertanya dan mencari yang belum diketahui, semata mata untuk memenuhi kekurangannya, bukan untuk mempolitisir sesuatu yang telah disampaikan. (Q.S. Al-Baqarah/2: 189)

b). Sikap taqwâ dengan diikuti upaya untuk menjauhi hal hal yang   diharamkan. Segala yang dilarang oleh al-Qur’an, dipastikan di sana ada sesuatu yang akan membawa kepada kemadlaratan bagi manusia. Oleh karenanya, sikap kehati hatian terhadap apa yang dilarang oleh Allah adalah langkah awal harapan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. (Q.S. Al-Mâ’idah/5: 100)

c).  Sikap taqwâ dengan diikuti sikap sabar serta selalu berwaspada. Kesabaran yang produktif adalah kunci dari kesuksesan dan kebahagiaan. Kesabaran yang produktif tidak menjadikan manusia berpangku tangan. Tetapi selalu mewaspadai kemungkinan kemungkinan yang akan menggiring kepada kegagalan. Akhirnya dia mengmbil sikap dan langkah antipasti agar apa yang diupayakan mencapai pada tujuan atau kebahagiaan.  (Q.S. Alu ‘Imrân/3: 200)

d). Sikap taqwâ dengan diikuti sikap kreatif untuk mengambil langkah dan usaha dengan penuh kesungguhan dan keseriusan. Keberhasilan dan  kebahagiaan akan dicapai bila manusia berani untuk memulai mengambil langkah dan tindakan dengan penuh kesungguhan dan keseriusan. (Q.S. Al-Mâ’idah/5: 35)

 e). Memperbanyak dzikir. Secara bahasa dzikir adalah mengingat, atau menyebut, baik untuk menghadirkan sesuatu yang teralpakan, maupun untuk meneguhkan atau melanggengkan sesuatu yang telah termemorikan.[7] Dzikir hakekatnya adalah kondisi dan dinamika jiwa manusia yang terrefleksikan baik melalui lisan dengan berbagai bacaan dan ucapan, melalui hati yaitu rasa dan kesadaran akan kehadiran ilahi serta tindakan atau perbuatan. Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang yang beriman,   dia mengenalkan dirinya dengan al-dzikr,[8]  agar ketika manusia sedang menghadapi masalah,  memperbanyak berdzikir, yang  akan menghasilkan suatu kebahagiaan. (Q.S. Al-Anfâl/8: 45)

f).  Melakukan instropeksi. manusia tidak dapat mengetahui yang sesungguhnya dari hasil yang telah dikerjakan dan diupayakan. Jangan jangan yang dianggap manusia itu baik dan sukses, ternyata adalah sebuah kerugian. Dalam hal ini, muhasabah atau evaluasi diri akan menjadi penting untuk mencapai tujuan yang dicita citakan oleh manusia dalam kehidupan yaitu suatu kebahagiaan. Evaluasi di sini tidak cukup manusia sekadar mengetahui kekurangan dan kesalahannya. Lebih penting dari itu adalah dia berani untuk mengambil sikap yang tegas yaitu meninggalkan secara total hal hal yang ternyata tidak memberikan dampak kebaikan dan kemaslahatan.   (Q.S. Al-Nûr/24: 31)

g). Berbuat kebajikan yang didasarkan sikap ketundukan dan kepatuhan kepada Tuhan.   (Q.S. Al-Hajj/22: 77). Untuk mencapai kebahagiaan yang sempurna, maka disuruh untuk melakukan segala hal yang memiliki dampak positif dalam kehidupan, niscaya manusia akan memperolah kebahagiaan. Kata tuflihûn (تُفْلِحُونَ) yang memiliki akar kata al-falâh, berarti membuka atau membelah. Petani disebut fallâh (فَلاَّح) karena dia sebelum memanin terlebih dahulu dia menanam, sebelum menanam, terlebih dahulu dia mengolah tanah dengan mencangkul dan membolak balik tanah agar subur.[9]

2). Bentuk persona ketiga baik dalam bentuk jama’  maupun bentuk tunggal (يُفْلِح/يُفْلِحون)

Di dalam al-Qur’an, derivasi kata al-falâh yang berbentuk fi’il mudlâri’ disebut 11 kali. Dua kali dalam bentuk persona ketiga jama’ (يُفْلِحُون) yang disebut dua kali, dan sembilan kali dalam bentuk persona ketiga tunggal (يُفْلِح). Seluruhnya baik yang berbentuk tunggal maupun jama’ didahului dengan  huruf negasi yaitu lâm nafyi yang menunjuk arti tidak.  Data ini dapat diklasifikasikan menjadi beberapa konteks yaitu: