Take a fresh look at your lifestyle.

“Makna Peci” Antara Simbol Kebaikan Dan Sebuah Paradoks

0 345

Trend hidup hari ini adalah nyleneh, yang penting beda dari biasanya. Gaya hidup yang di luar kemapanan dan kelaziman publik akan dianggap hebat dan berani. Begitu pula jika seseorang sedikit banyaknya melepas simbol religiusitas maka disebut toleran dan menghargai keragaman. Orang-orang yang bergaya hidup seperti ini nampaknya disambut dengan baik oleh publik, terutama komentar positif di media sosial yang kini sedang menjadi parameter pembenaran terhadap apapun yang menjadi sikap dan tindakan seseorang, yang penting banyak yang like, maka pembenaran seakan menjadi kebenaran.

Sebaliknya, fenomena lain yang semestinya dianggap tuntunan berubah hanya sebagai tontonan. Realitas ini muncul ketika cibiran dan pandangan sebelah mata terhadap individu-individu yang tergerak hatinya untuk bersikap dan bertindak dengan pendekatan religius. Contoh sederhana adalah ketika seorang muslim yang mengenakan pakaian rapi dan sopan, santun dalam berkomunikasi dan perhatian terhadap masalah agama. Persepsi orang yang kurang menyetujui sikap dan tindakan itu mengatakan bahwa islam itu di hati, kebaikan itu tidak untuk dipublikasi, kebaikan itu yang penting hatinya bukan yang ditampakkan, jangan dilihat penampilannya tapi kebaikan hatinya dan ungkapan-ungkapan lain yang seakan menjustifikasi bahwa jangan pernah menilai penampilan nyata untuk mengatakan orang itu baik.

Penulis tidak bermaksud menegasikan bahwa penampilan kurang sopan itu cerminan orang jelek, namun secara rasional bahwa kita hidup di dunia realitas faktual. Semua yang kita jadikan landasan harus memiliki ukuran jelas agar mendapatkan alasan yang terukur pula. Tidak sekedar justifikasi subjektif berlatar perasaan dan persepsi absurd. Jika penampilan buruk tidak selamanya mencerminkan buruk hatinya, mengapa ketika kebaikan hati itu tidak dicerminkan dalam penampilan nyata di depan publik. Karena memberikan penampilan yang baik di depan publik sama halnya dengan dakwah bil hal, bagaimana kita belajar memberi contoh kebaikan kepada publik meskipun hanya sedikit. Ini pesan Nabi Agung kita. Tak perlu kita menunggu kebaikan yang banyak untuk ditampilkan ke publik sebagai teladan. Mulailah berbuat kecil untuk menjadi teladan agar kebaikan berikutnya menguat pada diri kita.

Peci dan Simbol Kebaikan

Dalam masyarakat religius, peci merupakan salah simbol kesholehan individu. Simbol selalu menunjukkan pesan yang tidak selalu menampilkan apa yang disimbolkannya. Begitu juga dengan berpeci, tidak dimaknai bahwa seseorang itu beralasan untuk menutupi kebotakan kepala, takut kepanasan, atau berpura-pura menjadi orang baik. Peci merupakan simbol kesholehan individu. Yang kita petik dari pensimbolan itu adalah bukan pada bahan dasar dari peci dan warna peci itu sendiri. Esensi dari penggunaan peci itu adalah seseorang akan dapat dikendalikan secara sikap dan tindakan karena simbol religius itu ada dikepalanya. Peci hitam disamping sebagai simbol warga negara indonesia mulai era Soekarno, namun secara umum peci hitam ini menjadi simbol kaum religius muslim. Sehingga, seseorang yang mengenakan peci sedikit banyaknya akan dipengaruhi oleh cahaya kebaikan terhadap hatinya untuk bisa mengendalikan perilaku agar tetap berada dalam ranah religius.

Sejatinya peci adalah pengerem atau pengendali. Seseorang yang mengenakan peci akan berfikir ulang untuk melakukan tindakan amoral dan di luar batas regulasi religi. Peci tidak sesederhana dipakai semata. Ia memiliki persepsi religius kuat yang terkoneksi dengan hati dan pikiran seseorang dalam bertindak. Peci adalah salah satu simbol kebaikan bagi pemakainya. Seseorang yang mengenakkannya sama halnya dengan ia sedang membawa pesan kebaikan, kesantunan dalam tindakan dan teladan dalam segala hal yang ia perbuat.

Pakaian adalah Cermin Hati

Pengabaian terhadap penampilan nyata adalah kekeliruan. Jika seseorang masih memahami dirinya sebagai makhluk sosial, maka ia tidak akan pernah mengabaikan persepsi publik untuk dirinya. Kebaikan hati yang terus diasah mesti dicerminkan melalui sikap dan tindakan nyata. Apalah arti sebuah kebaikan hati namun tidak pernah dirasakan oleh publik. Karena kebaikan diri harus dimunculkan kepada publik sebagai teladan baik dan sarana dakwah. Tidak harus mencari pembenaran kalau performa publik itu tidak penting, karena tanpa kita sadari jika mengabaikan performa diri, di sisi lain kita pun menuntut publik untuk menganggap eksistensi diri kita.

Sungguh paradok dalam mempersepsikan penampilan. Di satu sisi kita abai dalam konteks performa diri untuk publik sementara di sisi lain kita menuntut pengakuan publik tentang kebaikan diri kita. Sepertinya kita sedang terus belajar bagaimana rasa takut dan sungkan untuk melakukan kebaikan itu mesti dihilangkan. Abaikanlah kebanggaan untuk berbuat salah diantara yang baik dan hindari kebanggaan berbuat jelek diantara kebaikan. Karena berbuat jelek itu berdosa namun hal lebih berdosa lagi adalah merasa bangga dalam melakukan kejelekan itu.


foto-nanan-abdul-mannan

Tentang Penulis

Nanan Abdul Manan, lahir di Kuningan tanggal 11 Februari 1982. Penulis adalah Dosen STKIP Muhammadiyah Kuningan. Untuk mengetahui lebih lengkap Lihat Biografi Lengkapnya  

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar