Makna Shirat al Mustaqiem | Tafsir Bisnis-7

Makna Shirat al Mustaqiem | Tafsir Bisnis-7
0 38

Setelah ayat ke lima surat al Fatihah yang mendorong manusia menuju tawhid isti’anah, maka, barulah kita melantunkan ayat ke enam yang menurut penulis padat do’a. Ayat ke enam dimaksud berbunyi: Ihdinas shirãtal mustaqȋm [Tunjukilah kami [ya Allah] suatu jalan yang lurus. Jalan yang diridla’i Allah. Jalan yang dapat membawa manusia mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan hidup.

Tawhid Isti’anah adalah suatu keyakinan yang membangkitkan kekuatan personal kita sebagai hamba Allah yang langsung berhubungan dengan-Nya. Dialog yang komunikatif antara kita sebagai hamba-Nya dengan diri-Nya yang Tunggal. Kita tidak membuat adanya washilah atau perantara yang menghubungkan diri kita dengan Tuhan kita. Kita menyatu [tentu bukan dalam konteks wihdat al wujud atau hulul] dalam kekuatan ketuhanan.

Penulis melihat bahwa, inilah satu-satunya ayat yang sipatnya do’a yang terdapat pada surat alfãtihah. Suatu permohonan yang langsung ditujukan kepada Allah guna meminta sesuatu. Mengusulkan [do’a] agar Allah memberi jalan lurus. Jalan yang dapat membawa manusia menuju keberhasilan dan kebahagian hidup; di dunia maupun di akhirat.

Makna ayat Menurut Para Sahabat Nabi

Ibnu Abbas, mufassir pertama dunia Islam di generasi sahabat, menyebut bahwa yang dimaksud dengan  shirãtal mustaqȋm adalah agama. Pernyataan Ibnu Abbas ini dapat dibaca dalam tafsir al Azhar yang disusun Hamka saat menafsirkan surat al Fatihah. Sedangkan menurut Ibnu Mas’ud, yang dimaksud dengan shirãtal mustaqȋm adalah kitab Allah [al Qur’an]. Al Qur’an dalam  makna ini, harus disemaknakan dengan jalan yang lurus. Mereka yang memegang teguh kepada prinsip dasar agama [Islam], akan menjalani hidup di jalan lurus dimaksud.

Jika shirãtal mustaqȋm itu, berlandas kepada pikiran Ibnu Abbas tadi, maka, kita dituntut karena itu, meminta sesuatu itu hanya kepada-Nya itu berkaitan dengan mana agama yang menurut Allah itu benar. Agama yang dapat membawa manusia menuju Tuhan yang sesungguhnya Tuhan.

Tetapi, jika pendapat dua sahabat itu dijadikan rujukan, maka, makna shirãtal mustaqȋm itu adalah, suatu ungkapan kebathinan kita yang dituntut selalu menjadikan agama [Islam] sebagai pilihan keagamaan di satu sisi, dan menjadikan al Qur’an sebagai jalan di sisi lain. Agama dan al Qur’an didalamnya harus dijadikan petunjuk dalam bingkai kehidupan kita sehari-hari. Do’a ini semestinya menjadi landasan kuat kita dalam menjalani hidup dan kehidupan kita di dunia.

Dalam maknayang lebih sempit, indikator shirãtal mustaqȋm menurut beberapa mufassir yang dikutif dari Hamka, akan dicirikan dengan: Irsyad yakni kecerdikan dan kepintaran sehingga dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Taufiq yakni sikap mental kita yang memohon kepada Allah agar apa yang dilakukan sesuai dengan keinginan Allah. Ilham yakni kemampuan untuk dapat menyelesaikan masalah yang sangat sulit, dan al Dilalah, yakni diberi dalil-dalil yang kuat di mana argumentasi kebenaran dan kebaikan yang kita lalu, bukan saja memperoleh kebenaran akliyah, tetapi juga kebenaran naqliyah.

Nalar Bisnis berdasarkan Tafsir Ayat

Berdasarkan keterangan mufasir tadi, penulis melihat bahwa, pebisnis yang baik hanya akan memperoleh kebaikan bisninya, jika ia memperoleh irsyad, taufiq, ilham dan dilal yang baik. Empat ciri ini, memenuhi persyaratan di mana kita layak menjalani suatu titian kehidupan yang berada di jalur shirãtal mustaqȋm. Untuk mendapatkan empat ciri ini, menurut saya, salah satu langkah yang ditempuh itu adalah memohon kepada Allah, agar keempat ciri ini menjadi bagian tertentu dari ciri kita. By. Prof. Cecep Sumarna

 

Komentar
Memuat...