Makna Sujud dalam Pendekatan Filosofi

0 324

Mesjid dalam makna lain dapat diterjemahkan sebagai tempat bersujud. Tempat di mana umat manusia, menunjukkan rasa rendah dirinya di mata Allah. Sujud akan menjadi momen penting di mana umat manusia harus sadar bahwa perjalanan kemanusiaan pada akhirnya akan bergerak mulai dari merunduk [rukuai??i??] dengan membukukkan kepala memandang bumi. Lalu bentuk final ketundukkan itu, diwujudkan dalam apa yang disebut dengan sujud.

Bersujud bukan hanya meletakkan kepala merunduk ke bawah. Tetapi seluruh jasad menyentuh bumi. Dalam makna ini, sujud akan mengingatkan manusia pada kematian. Nalar seperti inilah, mungkin yang menyebabkan Emha Ainun Nadjib dalam banyak cermahanya, menyebut bahwa di mana manusia bisa bersujud, di tempat itulah, ia layak disebut Masjid.

Makna Sujud

Dilihat dari pengertian bahasa, sujud berarti tunduk, merendah dan bercenderungan. Dalam pelaksanaan shalat, sujud dilakukan dengan cara meletakkan sebagian kening yang terbuka di atas tanah. Sujud dalam makna itu, menurut keyakinan umat Islam, adalah bagian penting pelaksanaan shalat.

Sujud menjadi bentuk ekspresi Ai??situasi dan kondisi di mana manusia harus merasa paling dekat dengan Allah. Ketika dahi dan muka seseorang menempel pada permukaan bumi, maka, saat itulah sisi-sisi kemanusiaan [basyar] manusia menjadi habis. Kesombongan, kerakusan, egoisme dan segala bentuk riya manusia, harus berakhir bersama pelaksanaan sujud.

Secara praktis, sujud dilakukan dengan cara meletakkan seluruh telapak tangan, kedua lutut, kedua telapak kaki dan kening bersama hidung. Para ahli fiqih menyebut bahwa kesempurnaanAi?? sujud adalah meletakkan tujuh anggota tubuh ke bumi. Ketujuh anggota tubuh dimaksud adalah: kening, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua bagian telapak kaki. Pada saat sujud wajah diletakkan di bawah sehingga sederajat dengan telapak kaki. Wajah yang berposisi paling tinggi dan paling terhormatpun, saat menghadap Allah, harus kita letakkan dalam posisinya yang paling rendah.

Mengapa demikian? Sebab sujud akan menjadi tempat terendah yang dalam kegiatan sehari-hari, tempat semacam itu, justru yang paling sering diinjak. Egoisme, kehebatan logika dan kemampuan nalar manusia harus dikalahkan. Semua harus di zero-kan atau dikalahkan demi satu tujuan, yakni mengagungkan kemahamutlakkan Allah. Wujud yang menjadi rabb dan malik [raja] segala raja bagi seluruh ciptaan-Nya.

Penjelasan ini, merupakan jawaban atas munculnya suatu pertanyaan menarik banyak mahasiswa, ketika mencoba menerjemahkan shalat, dan mengapa manusia harus shalat.Ai?? Lebih khusus tema dimaksud muncul dalam mencari nilai filosofi dari pelaksanaan sujud. Pertanyaan itu misalnya menyangkut, shalat tidak hanya sujud. Tetapi juga rukuai??i??. Persoalannya, mengapa tempat shalat tidak disebut sebagai tempat rukuai??i??.

Sujud Adalah Titik Kesempurnaan kepada Tuhan

Fungsi dan filosofi sujud, salah satunya, menurut saya, dapat dibaca dari perjalanan Nabi Muhammad dengan sahabatnya. Kisah ini dapat dibaca dari dialog seorang sahabat dengan Nabi. Kisah dimaksud terekam dalam salah satu hadits kumpulan Imam Muslim. Hadits dimaksud artinya sebagai berikut:

Dari Abu Faras Rabi`ah ibn Ka`ab al-Aslamy [seorang pelayan Rasulullah] ahli Shuffah. Ia berkata: Ketika suatu malam saya tidur bersama Rasulullah. Tentu sebelumnya, saya melayani wudhu` dan segala keperluannya. Saat itu Rasulullah bersabda: ai???Silakan minta dari ku?ai???Sayapun berkata: Saya minta agar dapat menjadi mendampingimu di Syurga. Beliau kemudian bersabda: ai???Selain itu ada nggak?ai???, Saya menjawab, itu saja ya Rasulullah. Tiba-tiba Rasul berkata: ai???Berjanjilah kamu atas diriku untuk memperbanyak sujudai???.

Dalam salah satu periwayatan lain, misalnya hadits dalam periwayatan Said bin Zubair Rasulullah berkata: ai???Tidak ada sesuatu yang paling disukai Allah, kecuali ketika manusia menghempaskan wajahnya di atas tanah untuk Allahai???. Hadits terakhir ini, dipekruat sabda Rasulullah melalui periwayatan Ibnu Abbas. Ia menyatakan bahwa Rasulullah bersabda: ” Kondisi hamba Allah yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika sujud. Maka perbanyaklah do’a. Itulah moment yang patut dikabulkan bagimu. (HR Ahmad, Muslim, Abu Daud dan al-Nasai). Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.