Makna Sumber Ilmu Pengetahuan | Epistemology Part – 3

0 125

Makna Sumber Ilmu Pengetahuan. Sumber ilmu dapat diterjemahkan sebagai asal usul ilmu. Misalnya, dari mana ilmu itu sesungguhnya bermula atau dimulai. Sumber ilmu tidak bicara tentang akhir sebuah ilmu, tetapi, lebih pada bagaimana ilmu bermula. Kajian atas sumber atas asal muasal ilmu, secara teoretik, dapat dibedakan pada dua pendekatan. Kedua pendekatan itu adalah: Pendekatan, perkembangan ilmu yang sudah berkembang [empiris], atau dari kemungkinan ilmu itu lahir [logika]. Kedua pendekatan ini, tentu saja akan membawa konsekwensi masing-masing dengan jenis keilmuan yang satu sama lain, tentu saja berbeda.

Mengapa kajian atas sumber ilmu itu penting? Alasannya, karena kajian atas sumber ilmu pengetahuan, secara faktual telah menunjukkan dua gejala misterius. Misalnya,A�Pertama. Adanya perbedaan pandangan di kalangan filosof dan saintis tentang apa yang menjadi sumber ilmu; dan Kedua. Perbedaan ini ternyata terjadi karena perbedaan paradigma yang dianut masing-masing komunitas ilmuan. Bagi kita yang kebanyakan mengkaji ilmu-ilmu sosial, termasuk ilmu agama, kajian ini, dimaksudkan akan dapat dimengerti mengapa perbedaan ilmiah menjadi demikian marak.

Sebut misalnya, pandangan para teolog [termasuk Muslim] berbeda dengan pandangan filosof dan atau saintis yang sebut saja materialism. Kedua jenis ilmuan ini, terbelah dalam belahan yang cukup signifikan. Mengapa beberda? Karena masing-masing memiliki paradigma khusus dalam merumuskan sumber ilmu pengetahuan. Terlebih dengan mereka yang menganut pradigma keilmuan Yunani Kuna, tingkat Aristotaliannya sangat tinggo.

Di kalangan filosof dan saintis Muslim, berkembang sebuah pemikiran bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah wahyu [al-Quran dan Sunnah Rasul]. Sumber al Qur’an ini bukan hanya mendampingi sumber pengetahuan lain, misalnya sumber empiris yang faktual [induktif] dan rasional [deduktif]. Al- Qur’an bahkan dapat dianggap sebagai pemegang otoritas lahirnya ilmu yang mengawal dua persoalan besar tadi [empiris dan rasional]

Kenapa demikian? Sebab dalam perspektif Islam, alam yang menjadi sumber empiris, adalah wahyu Tuhan juga. Ia adalah simbol terendah dari Tuhan yang Maha Tinggi dan sekaligus Maha Qudus. Jikapun ada perbedaan pandangan di kalangan masyarakat Muslim, umumnya lebih pada prioritas dalam merumuskan fungsi wahyu.

Fungsi wahyu itu misalnya, apakah wahyu menjadi alat konfirmasi (pembenar) atas penemuan fakta empiris-rasional atau justru menjadi alat informasi terhadap lahir dan jalannya ilmu pengetahuan. Perbedaan itu sekali tetap ada! Tetapi perbedaan itu sama-sama masih mempertahankan wahyu sebagai sumber, baik sebagai informasi maupun hanya menjadi sumber sekunder atau konfirmasi terhadap segala capaian yang dihasilkan alat indera dan rasio manusia.

Sumber Ilmu di Kalangan Saintis Barat

Berbeda dengan sumber ilmu dalam Islam, di kalangan filosof dan saintis Barat umumnya, ilmu pengetahuan dibatasi hanya pada dua sumber utama. Kedua pertimbangan itu adalah:A�Pertama.A�Rasio (akal/ deduksi) dan yang keduaA�pengalaman (empirs/induksi). Sumber pengetahuan yang mendasari pada pengalaman disebut empirisme. Sedangkan kebenaran yang didasarkan atas rasio disebut dengan rasionalisme. (Jujun S. Surisumantri, 1982)

Berbagai rujukan yang berhasil dibaca, di kalangan masyarakat Barat saat ini, masa yang sering disebut periode agung bagi perkembangan filsafat, sains dan aplikasinya, yakni teknologi, mereka hanya menyajikan dua sumber ilmu pengetahuan. Kedua sumber dimaksud adalah empirsme dan rasionalisme. Kedua sumber dimaksud dalam istilah Noeng Muhadjir (2004) ditambah dengan kata sensual. Sehingga rumusan yang dipakai tokoh terakhir ini sering diistilahkan dengan rasional sensual dan empiris sensual.

Masalahnya, faktor apa yang menyebabkan dunia Barat hanya mengakui dua sumber ilmu pengetahuan dan menafikan sumber lain di luar dua sumber tadi seperti wahyu dan intuisi? Jawaban terhadap pertanyaan ini memang sangat komplek.A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A� .

Namun jika mencoba meraba faktor utamanya adalah karena Barat berhasyrat membebaskan ilmu dari cengkraman Gereja. Dengan kata lain, ilmu lahir sebagai antitesis dari sistem dan doktrin Gereja yang mengontrol jalannya ilmu pengetahuan yang ancillia theologiae. Hal ini tentu berbeda dengan tradisi filosof dan saintis Muslim yang melahirkan ilmu justru atas dorongan atau spirit kewahyuan (baca al-Qur’an).

Berbagai prolog di atas, akhirnya menyimpulkan bahwa sumber ilmu dapat dibagi menjadi dua belahan besar. Dua belahan dimaksud adalah: Pertama.A�Ilmu yang diberikan Tuhan kepada manusia yang dipilih-Nya melalui para nabi dan rasul dalam bentuk wahyu dan kitab suci keagamaan. Kedua.A�Ilmu yang dihasilkan manusia melalui penalarannya terhadap alam dan manusia. Selain tentu, ilmu yang lahir karena adanya hubungan antara manusia dengan manusia, dan atau manusia dengan alam. Prof. Cecep Sumarna –bersambung

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Komentar
Memuat...