Home » Sastra Budaya » Novel » Malam Pertama tanpa Fanny dalam Novel Bergulat dengan Nafas Terakhir_Part 4

Share This Post

Novel

Malam Pertama tanpa Fanny dalam Novel Bergulat dengan Nafas Terakhir_Part 4

Malam pertama, di mana Doddy tidur tanpa Fanny, dijalani dengan suasana bathin yang sangat sepi. Tetesan dan lelehan air mata, terus mengalir di kelopak matanya. Terlebih saat di mana Doddy akan merebahkan tubuhnya, di sebuah kasur yang tidak terlalu empuk. Ia memeluk sebuah guling dan membayangkan, bagaimana saat pertama ia memeluk Fanny dengan hangat, dan bagaimana Fanny membalas pelukannya dengan lembut. Ia membayangkan bagaimana suasana dingin daerah pegunungan saat itu, yang bukan saja telah menyentuh kulitnya, tetapi bahkan masuk ke pori-pori tulang dan sumsum mereka.

Malam pertama perkawinan mereka tidak dilalui dengan cerita yang terlampau bahagia. Mereka justru membicarakan nasib pekerjaan Doddy yang karena menikahi seorang mahasiswi, yakni Fanny, ia justru terkena sanksi institusi di mana dia bekerja. Doddy tidak diberi jadwal mengajar. Ia dikembalikan statusnya sebagai seorang staf biasa. Karena itu, mereka tidak lagi mendapatkan gajih sebagaimana biasa dia menerimanya pada bulan-bulan sebelumnya.

Fanny dengan lembut membelai muka Doddy. Belaian lembut itu ia ikuti dengan kalimat sebagai berikut: “Aa … betapa hebatnya dirimu. Demi aku dan demi cintamu kepadaku, kata Fanny, kau relakan status dosenmu dicabut, meski hanya untuk sementara”.  Ya kata Doddy. Tetapi, sejujurnya, aku merasa institusi di mana aku bekerja, telah berbuat kedhaliman kepaku. Aku ingin berontak, tetapi aku tak berdaya. Aku ini siapa. Aku melawan malah statusku semakin parah. Kata Doddy pelan.

Rekomendasi untuk anda !!   Lelehan Air Mata | Mencari Tuhan di Kaki Ka'bah Part - 1

Saat Doddy diam, Fanny tidak menambah kepusingan suaminya. Ia malah mengatakan: “Sabarlah A … Aku yakin dan percaya, bahwa cinta hanya milik Tuhan. Ekspresi cinta Tuhan, kini kau lekatkan ke dalam tubuh dan jiwamu yang kau pantulkan dalam ramuan cintamu kepaku. Aku tidak takut kehilangan sedikit banyak uang yang biasa kau dapatkan. Mengapa? Karena kehilangan uang itu, semakna dengan mendatangkan keberkahan baru dalam hidup kita. Meski ya, untuk malam pertama saja, Tuhan telah menguji kita dengan persoalan yang pelik dalam bentuk kehilangan beberapa keping uang milikmu.

Tapi percayalah A, aku bangga dan bahagia. Karena melalui cinta ini, kau balutkan masa depan bersamaku. Aku semakin yakin, bahwa ketika kau tidak goyah dengan apa yang kau biasa dapatkan, kini bukan malah bertambah tetapi berkurang, tetapi kau tetap memilih aku untuk menjadi pendampingmu. Aku yakin hanya dengan dan karena cintalah, semua pengorbanan akan bermakna di mata Tuhan. Dan sesuatu yang bermakna di mata Tuhan, maka, hanya Tuhanlah yang akan mengatur segalanya.

Ya Allah … kata Doddy dalam hati. Berilah kami keberkahan hidup. Terima kasih juga Kau telah membalutkan ketulusan pada jiwa Fanny. Malam di mana akhirnya Doddy sendiri tanpa Fanny itu, akhirnya, tertidur dengan memeluk guling seolah memeluk Fanny. Tidur Doddy yang demikian pulas itu, baru terbangunkan saat di mana Doddy merasa Fanny membangunkannya untuk melaksanakan tahajud. Waktu itu, jam menunjukkan pukul 3.30 pagi, seolah Doddy mendengar suatu suara, seperti suara yang biasanya pada malam-malam di mana Doddy bersama Fanny merajut kasih sayang dalam mahligai rumah tangganya, yakni Fanny membangunkan Doddy.

Rekomendasi untuk anda !!   Vanny Membayangi Doddy | Novel Bergulat dengan Nafas Terakhir-Part 5

Aa … bangunlah. Hari sudah mulai pagi. Bangunlah untuk shalat tahajud agar kau ditempatkan Tuhan dalam maqam yang terpuji. Doddy bangun dengan seketika, namun sayang, seonggok wanita yang biasanya sudah menggunakan mukena putih, saat membangunkan Doddy tak lagi dia lihat. Fanny biasanya membangunkan Doddy, dengan pakaian shalat wanita lengkap, duduk di pinggir kasur mereka. Kali ini, wanita itu tidak ada, tetapi, darimanakah suara perempuan yang membangunkannya di malam ini.

Dengan lunglai Doddy bangun, lalu mengambil air wudlu dan kembali shalat tahajud, tanpa Fanny di sampingnya tentu saja. Tuhan … do’a dalam jerit tangisku di malam ini, tempatkanlah Fanny dalam Taman Syurga-Mu. Tuhan berilah aku kekuatan untuk menjaga semua rasa yang aku miliki. Doddy sambil sujud, meneteskan air mata dengan deras, lalu tidur di atas sajadah perkawinan mereka. Charly Siera — bersambung.

Untuk membaca kembali part sebelumnya silahkan kunjungi halaman dibawah ini:

Novel Edisi Khusus Dodi Achmad Haerudin

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>