Management Sumber Daya Manusia Kementerian Agama

0 577

Management Sumber Daya Manusia Kementerian Agama. Timothy W. Crusiuss (2003) yang menyatakan bahwa management berstruktur dari kata to manage yang artinya mengatur, mengelola dan mengolah. Kata ini, awalnya berasal dari bahasa Italia, yakni meneggio,diadopsi dari bahasa Latin managiare yang berasal dari kata manus yang artinya tangan. Secara substantif, para ahli menerjemahkan managemen dengan: “Bekerja dengan lebih dari dua orang untuk mencapai tujuan tertentu dalam sebuah organisasi atau dalam suatu institusi”. Pengertian ini setidaknya dapat dibaca dari tulisan Harold Koont and Cyril O’Donnel (2008) yang menyebut: “Management is getting things done through people. In bringin about this coordinating of grouf activity, the manager, as a manager plans, organizes, staffs, direct and control the activities other people”.

Pendapat para ahli dimaksud, kemudian mengembang menjadi sebuah teori yang merumuskan konsep tentang perencanaan (planing), pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia atau kepegawaian (staffing), pengarahan dan kepemimpinan (leading) dan pengawasan (controlling)”. Dalam perspektif ini,  manajemen pada dasarnya menjadi sebuah pola pengaturan semua sumber daya tersedia untuk mencapai tujuan dan sasaran serta target tertentu yang ditetapkan sebuah institusi atau sebuah organisasi. Teori manajemen ini, disadur dari pikiran George R. Terry (2005: 42) yang menyebut: “Management is distinct process consisting of planning, organizing, actuating, controlling, utilizing in each both science and artand follow in order to accomplish predetermined objectives”.

Makna manajemen yang demikian, jika penulis mencoba merelevansikan dengan basis keilmuan yang penulis digeluti, yakni Managemen Sumber Daya Manusia, maka kata manajemen sejatinya memiliki relevansi tujuan yang kuat dengan teori pengelolaan SDM. Hal ini setidaknya dapat dibaca dalam tulisan Edward Sallis (1993:13) yang menyebut teori MSDM dengan: “Total Quality Management is a philosophy and a methodology which assist institutions to manage and to set their own agendas for dealing with the plethora of new external pressures”. (Manajemen mutu terpadu merupakan suatu filsafat dan metodologi yang membantu berbagai institusi, terutama industry, dalam mengelola perubahan dan menyusun agenda masing- masing untuk menanggapi tekanan- tekanan yang datang dari faktor eksternal.

Dalam tulisan, Patricia Kovel-Jarboe (1993: 87) mengutif Caffee dan Sherr secara lebih sempit menyatakan bahwa manajemen mutu mesti dikaitkan dengan keterpaduan. Dalam rumusan itu, ia menyatakan bahwa MSDM adalah suatu filosofi komprehensif tentang kehidupan dan kegiatan organisasi yang menekankan perbaikan yang sipatnya berkelanjutan sebagai tujuan fundamental untuk meningkatkan mutu, produktivitas, mengurangi pembiayaan dan ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan sebuah institusi.

Dalam tulisan Elmore Petersons dan E. Grosvenor Plowman (1998: 62) “Management maybe defined as a technique by means of which the purposes and objectives of a particular human group are determined, classified and affectuated”. (Manajemen dapat diberi definisi suatu teknik yang dengan teknik itu, maksud dan tujuan dari sekelompok manusia tertentu ditetapkan, diklasifikasikan serta dilaksanakan. Karena itu, manajemen adalah pengelolaan Sumber Daya Manusia. Karena objek utama manajemen itu manusia, maka manajemen pada dasarnya adalah seni. Hal ini sebagaimana disampaikan John F. Mee (1996:  56) yang menyebut: “Management is art of securing maximum results with minimum of efforts so as to secure maximum prosperity and happiness for both employer and employee and give the pubic the best possible service”. (Manajemen adalah seni untuk mencapai hasil yang maksimal dengan usaha yang minimal demikian pula mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan maksimal bagi pimpinan maupun pekerja serta memberikan pelayanan yang sebaik mungkin kepada masyarakat)

Makalah ini, sejatinya lahir atas refleksi penulis terhadap sejumlah teori manajemen yang mungkin sejatinya dapat diimplementasikan di lingkup Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota. Tema ini dipandang penting, sebab penguasaan terhadap dimensi-dimensi managerial akan menjadi penentu berhasil atau tidak berhasilnya lembaga ini dalam melaksanakan seluruh tugas pokok dan fungsinya yang ditetapkan pemerintah. Karena itu, makalah ini dapat juga disebut sebagai jawaban atas pertanyaan: Mungkinkah segenap perangkat manajemen berdasarkan teori-teori dimaksud dapat diimplementasikan untuk meningkatkan kualitas kerja pegawai. Jika kualitas kerja pegawai dapat ditingkatkan, maka, secara uthopis masa depan Kementerian ini, bukan saja akan meningkatkan daya saingnya dalam sejumlah program yang dihasilkannya, tetapi, ia juga dapat memiliki kapasitas yang sulit ditandingi mengingat hampir seluruh persoalan-persoalan umat ada di kementerian ini.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.