Manajemen Pengelolaan Organisasi Kemahasiswaan

0 1.668

JURNAL

MANAJEMEN PENGELOLAAN ORGANISASI KEMAHASISWAAN
(WADAH PENDEWASAAN MAHASISWA)

AIP SYARIFUDIN, M.Pd.I
Nidn/Nik 0402018402/12.04.18.048
[email protected]

Abstract

Mahasiswa adalah merupakan bagian dari Bangsa Indonesia sebagai aset penerus dan pemegang tonggak kepemimpinan di masa mendatang. Betapa berat sebenarnya beban harapan yang dipikul oleh mahasiswa kelak ketika mereka lulus menjadi Sarjana Strata. Harapan-harapan yang di bebankan kepada mahasiswa tentu tidak akan bisa terealisasi ketika mahasiswa itu sendiri tidak melakukan proses yang seharusnya dalam jenjang perkuliahan. Menjadi seorang mahasiswa yang kelak akan mampu mengejawantahkan nilai-nilai pesanan Bangsa Indonesia tidaklah mudah dan tidak akan bisa dicapai hanya dengan proses yang sederhana. Sekalangan mahasiswa masih berfikir sempit bahwa tugas dari seorang mahasiswa hanya menyelesaikan study saja. Mereka lupa, bahwa mahasiswa adalah merupakan Agen of Change,dan  Agen of Social Control. Artinya disana mahasiswa memiliki peran –peran tambahan untuk ikut andil dalam berbangsa dan bernegara. Salah satu hal yang penting dilakukan adalah mahasiswa mampu berorganisasi dengan baik. Dengan Berorganisasi yang berlandaskan atas Manajemen Pengelolaan Organisasi yang baik maka disitulah mahasiswa akan mampu menemukan ruh yang sesungguhnya sebagai seorang mahasiswa. Mahasiswa yang diharapkan adalah mereka yang matang secara emosional, cakap secara intelektual.

PENDAHULUAN

Mahasiswa sebagai salah satu bagian dari komponen bangsa memiliki peran yang sangat strategis dan kiprah nya sangat ditunggu untuk membantu membangun Bangsa Indonesia.  Dalam perjalanannya mahasiswa dihadapkan pada dua pilihan yang sulit menurut kaca mata mereka yang sebetulnya dua pilihan tersebut bukanlah hal yang harus dipilih salah satu, akan tetapi bisa berjalan dengan berkesinambungan. Pilihan yang penulis maksud adalah :

  1. Mahasiswa memilih untuk fokus pada perkuliahan saja
  2. Mahasiswa memilih fokus di perkuliahan dan juga aktif di Organisasi Kemahasiswaan

Menyikapi hal tersebut diatas maka mahasiswa membutuhkan pencerahan (tanwir) dari para dosen ataupun para senior yang pernadh berkiprah di organisasi kemahasiswaan.  Sebagai dosen yang memiliki tugas yang sangat berat dalam mengaktualisasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi  tentu harus memiliki sikap resfect terhadap anak didiknya. Tugas dosen dalam memberikan pengajaran haruslah sesuai dengan Skema Pendidikan, yang  tujuan utama nya adalah terjadinya sebuah Perubahan, jika dosen hanya memberikan pengajaran secara normatif saja maka dapat dipastikan perubahan yang dimaksud tidak akan pernah tercapai.

Dalam tulisan singkat ini saya ingin menyampaikan beberapa point penting terkait dengan Organisasi Kemahasiswaan yang saya yakini mampu melakukan akselerasi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran di Perguruan Tinggi. Pengejawantahan pendidikan tidak hanya yang bersipat Normatif saja, melainkan harus juga mengacu pada aplikatif emirik.

 PEMBAHASAN

  1. Pengertian Organisasi

Dalam kamus bahasa asing, organisasi berasal dari kata organon (yunani) yang berarti alat. Secara singkat dapat diinterpretasikan bahwa organisasi merupakan sekumpulan orang-orang yang disusun dalam kelompok-kelompok, yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama.

Organisasi adalah system kerjasama antara dua orang atau lebih, atau organisasi adalah setiap bentuk kerjasama untuk pencapaian tujuan bersama, organisasi adalah struktur pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerjasama secara tertentu untuk bersama-sama mencapai tujuan tertentu. Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang , material, mesin, metode , lingkungan ), sarana- parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.

  1. Organisasi dalam Pengertian Para Fakar

Menurut Prof Dr. Sondang P. Siagian, mendefinisikan “organisasi ialah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang mana terdapat seseorang / beberapa orang yang disebut atasan dan seorang / sekelompok orang yang disebut dengan bawahan.” Dan menurut Chester L Bernard (1938) mengatakan bahwa “Organisasi adalah system kerjasama antara dua orang atau lebih ( Define organization as a system of cooperative of two or more persons) yang sama-sama memiliki visi dan misi yang sama.”

Menurut Chester I. Barnerd (1938) Dalam bukunya “The Executive Function” mengemukakan bahwa : “Organisasi adalah system kerjasama antara dua orang atau lebih” (I define organization as a system of cooperatives of two more persons”).

Menurut James D. Mooney, Mengatakan bahwa : Organization is the form ofmevery human association for the attainment of common purpose, (Organisasi adalah setiap bentuk kerjasama untuk mencapai tujuan bersama)

Menurut Dimock, Mengatakan bahwa : Organization is the systematic bringing together of interdependent part to form a unifid whole thought which authority, coordination and control may be exercised to achive a given purpose, (Organisasi adalah Perpaduan secara sistematis dari pada bagian-bagian yang saling ketergantungsn/berkaitan untuk membentuk suatu kesatuan yang bulat melalui kewenangan, koordinasi dan pengawasasn dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditentukan).

Stoner mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama.

Stephen P. Robbins menyatakan bahwa Organisasi adalah kesatuan ( entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relative dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relative terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimulkan bahwa setiap organisasi harus memiliki tiga unsur yaitu :

  1. Orang-orang (Organisator)
  2. Kerjasama
  3. Tujuan yang ingin dicapai (Goal)
  1. Organisasi Mahasiswa

Organisasi kemahasiswaan merupakan suatu wahana dan sarana pengembangan diri mahasiswa kearah perluasan wawasan dan peningkatan kecendikiawanan, serta integrasi kepribadian bagi mahasiswa untuk mencapai tujuan pendidikan tinggi. Kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi kemahasiswaan adalah kegiatan ekstrakulikuler yang mencakup perluasan penalaran mahasiswa, perbaikan kesejahteraan, dan pengabdian masyarakat. Organisasi kemahasiswaan diselenggarakan dengan memberikan peranan dan keleluasaan lebih baik kepada mahasiswa secara keseluruhan dan bukan hanya oleh beberapa individu aau kelompok mahasiswa.

Jenis-jenis Organisasi Mahasiswa

  1. Badan Perwakilan Mahasiswa
  2. Badan Eksekutif Mahasiswa
  3. Unit Kegiatan Mahasiswa
  4. Himpunan Mahasiswa
  5. Unit Pengembangan Keprofesian Mahasiswa
  6. Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus (HMI, IMM, PMII, GMNI, KAMMI dll)

Untuk mempermudah mahasiswa dalam memahami dan mengerti akan esensi dari organisasi maka kita perlu untuk membedah tentang teori teori organisasi.

Ada 9 macam teori organisasi yaitu teori organisasi klasik, teori organisasi birokrasi, teori organisasi human relations, teori organisasi perilaku, teori proses, teori organisasi kepemimpinan, teori organisasi fungsi, teori organisasi pembuatan keputusan dan teori organisasi kontingensi. Namun, Perkembangan teori-teori organisasi yang dilihat dan dikaji sejak tahun-tahun pertama abad kedua puluh secara garis besar dapat diikhtisarkan menjadi 4 (empat) kelompok besar teori yakni klasik, perilaku, system, dan kontingensi.

  1. Teori Organisasi Klasik.

Teori ini biasa disebut dengan “teori tradisional” atau disebut juga “teori mesin”. Berkembang mulai 1800-an (abad 19). Dalam teori ini organisasi digambarkan sebuah lembaga yang tersentralisasi dan tugas-tugasnnya terspesialisasi serta memberikan petunjuk mekanistik structural yang kaku tidak mengandung kreatifitas. Terdapat 3 (tiga) kategori pokok pendekatan klasik yakni, scientific manajement, administrative manajement, the bureaucratic model of organization (Beach, 1980: 133).

  1. Teori Human Relations.

Teori ini disebut juga teori neoklasik, teori hubungan kemanusiaan, teori hubungan antara manusia, teori hubungan kerja kemanusiaaan atau the human relations theory. Teori ini muncul akibat ketidak puasan dengan teori klasik dan teori ini merupakan penyempurnaan teori klasik. Teori ini menekankan pada “pentingnya aspek psikologis dan social karyawan sebagai individu ataupun kelompok kerja”. Suatu hubungan dikatakan hubungan kemanusiaan apabila hubungan tersebut sudah dapat memberikan kesadaran dan pengertian sehingga pihak lain merasa puas.

  1. Teori Organisasi Perilaku.

Teori ini merupakan suatu teori yang memandang organisasi dari segi perilaku anggota organisasi. Teori ini berpendapat bahwa baik atau tidaknya, berhasil tidaknya organisasi mencapai sasaran yang telah ditetapkan berasal dari para anggotanya.

  1. Teori Birokrasi.

Pada dasamya teori organisasi birokrasi menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan, organisasi harus menjalankan strategi sebagai berikut:

  1. Pembagian dan penugasan pekerjaan secara khusus.
  2. Prinsip hierarki atau bawahan hanya bertanggung jawab kepada atasannya langsung.
  3. Promosi didasarkan pada masa kerja dan prestasi kerja, dan dilindungi dari pemberhentian sewenang-wenang dan yang demikian disebut prinsip loyalitas.
  4. Setiap pekerjaan dilaksanakan secara tidak memandang bulu, tidak membeda-bedakkan status sosial, tidak pilih kasih. Strategi ini dinamakan prinsip impersonal.
  5. Tiap-tiap tugas dan pekerjaan dalam organisasi dilaksanakan menurut suatu sistem tertentu berdasarkan kepada data peraturan yang abstrak. Strategi ini dinamakan prinsip uniformitas.
  1. Teori Organisasi Proses.

Teori ini merupakan suatu teori yang memandang organisasi sebagai proses kerjasama antara kelompok orang yang tergabung dalam suatu kelompok formal. Teori ini memandang organisasi dalam arti dinamis, selalu bergerak dan didalamnya terdapat pembagian tugas dan prinsip-prinsip yang bersifat umum (Universal).

  1. Teori Organisasi Kepemimpinan.

Teori ini beranggapan bahwa berhasil tidaknya organisasi mencapai tujuan tergantung sampai seberapa jauh seorang pemimpin mampu mempengaruhi para bawahan sehingga mereka mampu bekerja dengan semangat yang tinggi dan tujuan organisasi dapat dicapai secara efisien dan efektif, adapun sedikitnya kajian atas teori organisasi yang berhubungan dengan masalah kepemimpinan dapat dibedakan atas: Teori Otokratis, Teori Demokrasi, Teori Kebebasan (Teory laissez fairre), Teori Petnernalisme, Teori Personal atau Pribadi, Teori Non-Personal

  1. Teori Organisai Fungsi.

Fungsi adalah sekelompok tugas atau kegiatan yang harus dijalankan oleh seseorang yang mempunyai kedudukan sebagai pemimpin atau manager guna mencapai tujuan organisasi. Sekelompok kegiatan yang menjadi fungsi seorang pemimpin atau manager terdiri dari kegiatan menyusun perencanaan (Planning), pengorganisasian (Organizing), pemberian motifasi atau bimbingan (Motivating), pengawasan (Controlling), dan pengambilan keputusan (Decision making).

  1. Teori Pengambilan Keputusan.

Teori ini berlandaskan pada adanya berbagai keputusan yang dibuat oleh para pejabat disetiap tingkatan, baik keputusan di tingkat puncak yang memuat ketentuan pokok atau kebijaksanaan umum, keputusan di tingkat menengah yang memuat program-progam untuk melaksanakan keputusan adminitratif, maupun keputusan di tingkat bawah.

  1. Teori Kontingensi (Teori Kepentingan).

Teori ini berlandaskan pada pemikiran bahwa pengelolaan organisasi dapat berjalan dengan baik dan lancar apabila pemimpin organisasi mampu memperhatikan dan memecahkan situasi tertentu yang sedang dihadapi dan setiap situasi harus dianalisis sendiri.

Dari semua teori ini, tidak satu teori pun yang dianggap paling lengkap atau paling sempurna, teori-teori itu satu sama lain saling mengisi dan saling melengkapi. Teori dianggap baik dan tepat apabila mampu memperhatikan dan menyesuaikan dengan lingkungan dan mampu memperhitungkan situasi-situasi tertentu.

Dalam konteks gerakan pendewasaan Mahasiswa, kiranya point nomor lima sangat relevan dengan tujuan pendidikan, yakni organisasi adalah merupakan wadah untuk seseorang agar mampu dan menghargai proses. Sehingga mahasiswa akan memiliki “process minded” , tidak “goal minded”. Dengan demikian mahasiswa akan lebih bersemangat untuk melakukan proses dalam kehidupannya, tidak selalu berfikir instant dan serba mudah.

Ada persepsi yang salah dari mahasiswa dan civitas akademika hari ini terkait organisasi. Banyak kalangan yang beranggapan bahwa dengan ikut sertanta mahasiswa di Organisasi Kemahasiswaan maka akan menghambat perkuliahan karena konsentrsi mahasiswa menjadi tidak focus pada kuliah. Spekulasi ini sebetulnya tidak bisa kita salahkan, akan tetapi hal ini tidaklah sepenuhnya benar.

Sejenak kita kaji mengapa spekulasi ini muncul dan tumbuh dalam diri mahasiswa dan civitas akademika. Setelah saya mencoba untuk masuk dan mendalami persoalan ini maka ada beberapa hal yang dapat disimpulkan terkait dengan alasan organisasi menjadi penghambat perkuliahan, yakni :

  1. Mahasiswa yang tergabung di organisasi kemahasiswaan tidak melakukan pengelolaan organisasi dengan manajemen organisasi yang baik
  2. Mahasiswa belum mampu melakukan manajemen terhadap diri sendiri, jangankan manajeman terhadap organisasi
  3. Dis-orientasi masuk organisasi kemahasiswaan
  4. Iklim Kampus yang kurang mendukung
  5. Kurangnya Motivasi untuk fokus terhadap perkuliahan.

Beberapa hal diatas bisa menjadi faktor yang menyebabkan mahasiswa yang berorganisasi akan mengalami kemunduran dalam perkuliahan. Padahal sebenarnya hal tersebut diatas bisa diatasi oleh mahasiswa dengan melakukan beberapa trik dibawah ini  :

  1. Dalam mengelola Organisasi, bentuk tim kecil yang akan memotori laju organisasi

Hal ini berkaitan dengan kesuksesan dalam berorganisasi, salah satunya adalah manajerial yang baik perlu ditopang dengan tim yang kokoh. Cara paling sederhana adalah dengan membentuk timkecil yang berisi orang-orang yang dianggap bisa menjadi partner kerja dan mampu bekerjsama.

2. Susun Program Kerja yang waktu pelaksanaannya disesuaikan dengan jam kuliah agar tidak berbenturan

Point ini terkesan tidak penting dan sering dianggap sepele oleh sebagian besar aktivis, padahal pembagian  waktu dalam pelaksanaan program kerja merupakan hal yang sangat penting. Ketika kita berada pada rutinitas organisasi maka perlu diingat bahwa kita berada di area organisasi  kemahasiswaan adalah karena kita telah mejnadi mahasiswa, maka tentu tugas utamanya adalah bagaimana bisa menyelesaikan perkuliahan secara baik, organisasi diposisikan sebagai supporting area bagi perkuliahan.

3. Jadikan organisasi sebagai wadah untuk melatih kecakapan dan kecerdasan, sehingga kecakapan itulah yang dapat dipergunakan dalam sesi perkuliahan

Banyak hal yang menjadi nilai lebih dari organisasi kemahasiswaan, salah satunya adalah bahwa di organisasi seorang mahasiswa biasanya memiliki kecakapan dan daya kritis yang cukup tinggi, sehingga seharusnya kemampuan ini dapat dipergunakan oleh aktivis untuk menopang perkuliahannya.

4. Hindari dan lawan rasa malas untuk berangkat ke perkuliahan

Biasanya seorang aktivis kadang kadang menjadikan kesibukannya di organisasi sebagai justifikasi atau lebih tepatnya pembenaran untuk tidak fokus terhadap perkuliahan, padahal sebenarnya alasan yang terjadi adalah karena malas. Ini yang akan menjadi pemicu awal keterpurukan seorang aktifis dalam study nya.

5. Hindari hal hal yang dianggap tidak produktif, seperti nongkrong, begadang, dan pacaran yang berlebihan.

Sedikit melakukan relaksasi boleh saja, akan tetapi tidak kemudian justeru aktifitas relaksasi itu menjadi rutinitas yang memakan waktu secara berlebihan.

6. Gunakan Fasiliats kampus seperti perpustakaan, wifi sebagai sarana menambah pengetahuan

Mahasiswa hanya akan mendapatkan sedikit ilmu di kelas, maka salah satu cara yang cepat untuk menambah wawasan adalah dengan banyak memanfaatkan fasilitas kampus seperti perpustakaan, wifi dan lain sebagainya.

7. Buatlah kelompok belajar dan lakukan diskusi rutin (bisa menjadi salah satu agenda kerja organisasi)

Usia mahasiswa bukan lagi usia menghafal, maka metode lain untuk dapat mengingat dan memahami pelajaran adalah dengan adanya diskusi. Supaya bisa beriringan dan saling mengisi maka lakukan diskusi atau kerja kelompok ini sebagai salah satu dari bagian program kerja di organisasi. Bisa dilakukan setiap seminggu dua kali dengan topik yang sekira relefan dengan perkuliahan.

8. Menjalankan ibadah dengan baik.

Salah satu hal yang bisa dirasakan secara langsung dari menjalankan ibadah dengan baik adalah ketepatan waktu. Mahasiswa akan terbisas dengan pola hidup teratur dan tertib. Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa kita hidup hanya berusaha, sedangkan yang menentukan hanyalah Allah SWT sang pemilik segalanya. Sehingga ketika kita berusaha maka haruslah selalu dibarengi dengan doa.

Beberapa point diatas dapat dijadikan bahan sebagai strategi yang mungkin bisa mengatasi kegalauan berorganisasi mahasiswa saat ini. Di era informasi yang serba mudah saat ini seharusnya mahasiswa mampu untuk melek informasi dan bisa menjadikan kemudahan itu sebagai modal awal dalam menjalankan aktifitas keseharian. Sebagai mahaisiswa yang memahami tri darma perguruan tinggi maka sudah saatnya hari ini mahasiswa mampu mengamalkan nilai nilai kontekstual tidak hanya tekstual saja.

Alur mahasiswa yang serba mudah tanpa mengalami masa kritis “ personality “ dalam upayanya mencari jati diri sesungguhnya akan membuat sosok mahasiswa yang bermental lemah, tantangan dan hambatan dalam diri seorang mahasiswa sesungguhnya akan menjadi bara kecil yang perlahan akan menempa diri mahasiswa menjadi sosok yang bermental baja. Kegundahan Mahasiswa seyogiyanya dicurahkan dan diarahkan pada pencarian hal hal yang positif sehingga akan berdampak baik pada proses kematangan diri mahasiswa tersebut.

KEPEMIMPINAN

Point penting yang tidak bisa dipisahkan dari aktifitas seorang mahasiswa dalam berorganisasi adalah jiwa Kepepmimpinan. Hal ini selaras dengan hadits rasulullah yang di riwayatkan oleh Al-Bukhari :

setiap kalian adalah ra’in (pemimpin) dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya (kepemimpinannya)…”

Hadits di atas merefleksikan substansi peran kepemimpinan yang harus dimiliki dan nantinya akan dipertanggung jawabkan oleh setiap manusia. Dalam konteks peran dan kiprah mahasiswa, hal yang pertama harus disadari oleh mahasiswa adalah setiap dari kita adalah pemimpin, setidaknya bagi diri kita sendiri.

Ketika mahasiswa sudah menyadari perihal kepemimpinan yang ada dalam dirinya sendiri, nantinya ini akan menjadi pendorong mahasiswa untuk berbuat, penumbuh semangat untuk berkarya, dan pembakar nurani untuk bergegas menyusun dan merekatkan kembali puing kebangsaan yang berserak untuk menjadi satu kesatuan utuh.

Kepemimpian (leadershif ) mrupakan kemutlakan dalam diri seorang aktifis. Ada dua tipe pemimpin :

  1. Who Born

Pemikiran ini menyimpulkan bahwa seorang pemimpin adalah merupakan sosok yang  dilahirkan. Sehingga dalam dalam hal ini pemimpin adalah merupakan sosok yang memiliki jiwa kepemimpinan yang merupakan bawaan. Artinya menjadi seorang pemimpin adalah harus dari seseorang yang memiliki titisan darah seorang pemimpin. Teori ini seakan membius mahasiswa yang merasa bukan titisan pemimpin relatif akan diam dan tidak berupaya untuk maju menjadi seorang pemimpin.

  1. Who Made

Pemikiran ini merupakan kebalikan dari pemikiran sebelumnya. Menurut teori ini seorang pemimpin adalah merupakan sosok siapa saja yang dibentuk dan dilatih untuk bisa memiliki manajerial kepemimpinan yang baik. Ini memberikan peluang kepada siapa saja untuk mampu dan mau menjadi seorang pemimpin. Bahkan beberapa kalangan menyatakan bahwa seorang pemimpin yang ideal adalah sosok yang dibentuk dan ditempa menjadi seorang pemimpin.

Menurut Kuntowijoyo ada 3 karaktert kepemipinan yang dapat dimainkan oleh mahasiswa, yakni :

  1. Humanisasi

Teori ini memiliki makna membebaskan manusia dari ketergantungan atas kebendaan dan penghambaan atas manusia, sehingga nantinya bisa merubah dan menggeser orientasi manusia yang saat ini lebih condong kepada semangat humanisme antroposentris, yang menjadikan manusia sebagai pusat dari segalanya menuju humanisme teosentris yang menjadikan tuhan adalah pusat dan tujuan manusia.

  1. Liberasi

Paradigma ini menghendaki pembebasan manusia menuju makhluk yang seutuhnya, yakni merdeka dan mulia. Paradigma ini memulainya dengan menjadikan agama sebagai sandaran dalam pengimplementasian semangat pembebasan tersebut. Setidaknya ada empat hal yang digariskan oleh Kunwotijoyo dalam sasaran liberasinya, yakni sistem pengetahuan, sistem sosial, sistem ekonomi dan sistem politik yang masih membelenggu manusia sampai saat ini.

  1. Transendensi

Poin terakhir dari karakter paradigma yang di gagas oleh Kuntowijoyo ini merupakan elemen penting yang merekonstruksi dan mendasari dua unsur sebelumnya ( Humanisasi dan Liberasi ). Transedensi mencoba menempatkan nilai-nilai ketuhanan menjadi dasar dari humanisasi dan liberasi yang nantinya menjadi penunjuk arah kemana dan untuk tujuan apa humanisasi dan liberasi itu dilakukan. Karakter yang ketiga inilah yang saya pikir bisa menjadi bahan mahasiswa dalam mengejawantahkan kepemimpinannya. Sehingga melalui hal ini mahasisawa akan mampu memiliki jiwa kepepimpinan untuk menjalankan roda organisasi dan mencapai pencapaian kepuasasn personal sebagai seorang pemimpin yang selalu mampu menyelaraskan persoalan ruhani dengan kondisi dan situasi yang terjadi saat ini. Menjadi sosok mahasisawa yang mampu punya daya saing dan intelektiualiats yang tinggi dibarengi dengan sikap enyata dalam memberikan kiprah terhadap Nusa dan bangsa adalah merupakan tingkat ideal bagi seorang mahasiswa. Mahasiswa yang berkualitas secara akademik dan sosok yang memiliki nilai jual dalam memberikan kiprahnya bagi Negara Republik Indonesia.

KESIMPULAN

Melalui tulisan singkat ini saya ingin memberikan stimulan teori dan penguatan kepada mahasiswa agar mampu menjadi sosok mahasiswa yang memiliki prinsip dan mampu mengejawantahkan konsep kemahasiswaannya. Tidaklah hebat seorang mahasiswa dengan IPK diatas 3,50 apabila dia tidak memiliki kematangan (maturity) dalam kepribadiannya. Kematangan yang dimaksud dapat dilihat dari sejauh mana mahasiswa mampu merefleksikan kemahasiwaannya melalui tindakan yang nyata bagi masyarakat. Hal ini tentu tidak akan bisa diraih tanpa melalui proses pendewasaan yang matang. Proses pendewasaan dimaksud dapat diperoleh mahasiswa melalui Berorganisasi yang dilandasi oleh jiwa kepepmimpinan yang baik. Tentu tidaklah mudah menjadikan hal ini sebagai sesuatu yang kongkrit tanpa kerja keras dan kerja nyata dalam upaya mencapainya. Selalu berfikir positif dan melakukan gerakan Tajdid dalam rangka perubahan yang lebih baik.  Wallahua’lam Bishawab.

DAFTAR PUSTAKA

Danim, Sudarwan dan Suparno. 2008. Manajemen Dan Kepemimpinan Transformasional Kekepalasekolahan. Jakarta: Rineka Cipta.

Fattah, Nanang. 2006. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Bandung.

Hikmat. 2009. Manajemen Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.

Malawi, Ibadullah (dkk). 2010. Profesi Kependidikan. Madiun: IKIP PGRI Madiun.

Nawawi, Hadari dan Martini Hadari. 2004. Kepemimpinan yang Efektif. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Sudarmiani. 2009. Diktat Manajemen Pendidikan. Madiun: IKIP PGRI Madiun.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.