Mananti Antrian dalam Sebuah Tulisan| Teknik dan Cara Menulis

Belajar Menjadi Kekasih Allah Part -4
0 28

Menanti Antrian dalam Sebuah Tulisan. Pernahkah kita merasa bahwa lembaran hidup yang selama ini dijalani, dibuka dari kortek otak kita. Lalu, semua peristiwa dicatatkan dalam setiap lembar kertas Kehidupan yang kita jalani. Jika anda pernah melakukannya, maka, anda sedang menjadi penulis dan bakal menjadi penulis hebat.

Kita tidak boleh letih untuk terus menerus menulis setiap episod hidup. Tujuannya, agar setiap peristiwa dapat menjadi buku kehidupan. Hasilnya, buku dimaksud kelak dapat menjadi inspirasi bagi orang lain. Yang paling penting, anek peristiwa yang dialami, pada hakikatnya akan menjadi pengetahuan yang luar biasa manfaatnya.

Buku itu, tidak boleh terbuka dengan lepas tanpa permisi kepada kita. Siapapun tidak boleh membaca serpihan pengalaman diri kita yang berjalan demikian panjang dan berliku, sebelum kita mengaransemennya. Siapapun yang karena kebetulan atau tidak melewati altar yang di situ terdapat buku mentah kehidupan kita, tidak boleh diidzinkan untuk dibaca siapapun. Meski sangat mungkin, mereka yang membaca buku tersebut akan berdecak penuh ketakjuban.

Ruang-ruang peristiwa hidup kita yang kadang imaginer, akan mengingatkan suatu prolog hidup menuju titik tertentu agar menjadi semacam epilog kehidupan. Kita harus yakin bahwa semua peristiwa, entah kapan waktunya, akan menjadi legenda. Legenda kehidupan yang mengisahkan kesetian versus kejujuran.

Kisah hidup yang jalani, jika diaransemen dengan baik, mungkin akan memporakporandakan pikiran banyak orang. Misalnya, kita bersuskan kejujuran dengan kesetiaan. Atau sebaliknya. Kesetiaan diversuskan dengan kejujuran. Tapi itulah hidup. Kita harus mampu merangkai kalimat yang merangsang orang lain pada akhirnya untuk berpikir keras. Tulisan yang menginspirasi dunia nyata seperti apa yang pernah dimainkan penulis kelas dunia.

Banyak manusia hebat yang dicatat berbagai kitab suci, sebetulnya karena mereka telah membuat sebuah legenda kemanusiaan. Mereka itu adalah jiwa-jiwa yang tidak mampu mempertemukan tawa dan duka dalam waktu yang sama. Legenda yang membunuh waktu seorang hamba dalam penantian kebahagiaan yang sulit kunjung tiba. Kebahagiaan, hanya hadir seperti dalam mimpi kalau bukan ilusi yang menjebak siapapun yang bercita-cita mendapatkannya.

Sulit karena datangnya kebahagiaan selalu beriringan dengan duka. Meski dalam lakon kedukaan orang berhimpitan dengan rasa suka. Jika anda berada dalam domain berbeda di waktu yang sama, maka, mungkin kita termasuk orang gila.

Catatan itu Pasti Bersipat Putaran

Hidup memang putaran. Kita tidak mungkin berada dalam ruang dan waktu yang sama dalam posisi yang saling bertentangan. Bahagia tidak dapat disatukan dengan duka. Tawa tidak dapat disatukan dengan tangisan. Berkuasa tidak dapat disatukan untuk menjadi rakyat jelata. Cinta tidak mungkin hadir bersama benci. Harum agak rumit jika harus disandingkan dengan aroma bau yang menyengat.Berjiwa hemat tidak mungkin bersatu dengan boros. Kaya dengan miskin bahkan cantik dan ganteng dengan jelek. Ia persis seperti siang dan malam.

Tidak mungkin dalam waktu yang sama, malam datang bersama siang. Atau sebaliknya. Siang datang bersama malam. Seonggok manusia hanya mungkin merasakan, malam seolah siang atau siang terasa malam. Tetapi malam tetap malam. Sama seperti siang tetaplah siang. Yakinlah bahwa tak kan pernah ada siang jika tak pernah ada malam. Kita catatkan bagaimana sikap manusia yang yakin, seolah hari akan selamanya siang. Pasti mereka akan menuju jurang kehancuran. Karenanya jangan berkecil hati.

Karena itu, tak perlu risau dan galau. Kegalauan hadir karena ada sesuatu yang ambigu. Kita mungkin melihat dengan  telanjang mata, bahwa di bumi yang kita cintai, selalu tersedia suatu versus yang seharusnya tidak diversuskan. Ada sesuatu yang seharusnya dicintai, tetapi, malah dibenci. Menghadapi situasi semacam ini, alangkah lebih baik jika kita membuat legenda kita dalam bentuk tulisan. Tulisan yang berisi tentang prolog dan akan menjadi epilog dari pragmen sejarah kehidupan kita sebagai manusia. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...