Manifestasi Dzikir dalam Ibadah Shalat, Puasa dan Haji

0 55

Manifestasi Dzikir dalam Ibadah: Dari problematika kehidupan manusia yang disebabkan karena sisi kealpaan, maka dalam hal ini dzikir akan menjadi terapi bagi kegelisahan seseorang pada saat ia berada dalam posis lemah di bawah intimidasi perasaan jiwanya yang disebabkan karena kekhilafan dan kealpaannya dalam kehidupannya. Oleh karena itu wajar kalau Allah mengibaratkan bahwa orang yang berpaling dari dzikir kepada Allah ia akan menghadapi dan menemui kehidupan yang sempit (dhanka). Hal ini seperti firman Allah:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى.

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta“. (QS. Thaha/20:124)

Di sisi lain kalau seluruh aktivitas manusia dalam kehidupan ini dikatagorikan sebagai pengabdian (worship) kepada Allah sebagaimana tujuan Allah menciptakan manusia itu sendiri, maka dalam kenyataannya ibadah khususnya yang bersifat formal dan seremonial kesemuanya bertujuan untuk mengingat Allah. Hal ini dapat kita lihat bagaimana aplikasi dzikir tersebut dalam ritualitas yang kita lakukan dalam ibadah di antaranya adalah:

Shalat

Dalam ibadah ini seluruh aktifitas, baik yang diisyaratkan oleh perbuatan/ gerak- gerik dalam shalat, maupun yang diisyaratkan dalam bacaan-bacaannya seperti mengagungkan asma Allah (takbir), membaca al-Qur’an, membaca tasbih baik dalam sujud maupun ruku’, mengucapkan hamdalah, shalawat dan lain sebagainya. Kemudian dilanjutkan setelah selesai shalat yang berbentuk wirid, istighfar, do’a dan lain sebagainya. Kesemuanya adalah merupakan sebuah komponen aktivitas yang dikehendaki untuk mengingat Allah. Oleh karena itu wajarlah kalau salah satu dari perintah shalat illatnya dikaitkan untuk mengingat Allah seperti dalam QS. Thaha:14:

 إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي.

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

Puasa

Puasa yang tujuan akhirnya sebagai ketaatan kepada Allah (لعلّكم تتقون), penghindaran dari hal- hal yang dimurkai oleh Allah, pengagungan kepada-Nya serta sebagai rasa syukur kepada-Nya kesemuanya juga dalam rangka mengingat Allah. Hal ini seperti yang ditegaskan dalam firman-Nya:

يريد الله بكم اليسرى ولا يريد بكم العسر ولتكملوا العدّة ولتكبّروا الله على ما هداكم ولعلّكم تشكرون.

Allah menghendaki bagimu suatu kemudahan dan tidak menghendaki suatu kesusahan, dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu mengagungkan  Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah:185)

Haji

Dalam ibadah haji, para hujjaj menghabiskan dan menggunakan seluruh waktunya untuk shalat, berdo’a, berserah diri dan menunaikan manasik haji. Hal ini juga tidak lepas dari  konteks mengingat  Allah. Firman Allah:

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ .

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfa`at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak..(QS.Al-Hajj: 28)

Tidaklah berlebihan, kalau dzikir kepada Allah merupakan akomodasi dari penghambaan manusia terhadap Tuhannya. Maka tidaklah cukup kalau dzikrullah tersebut hanya terbatas pada ibadah formal saja. Akan tetapi meliputi sepanjang kehidupan. Oleh karena itu dalam beberapa ayat salah satu perintah ibadah yang diperintahkan oleh Allah dan dikaitkan dengan sifat nominalitas (كثيىا) dan kelanggengan adalah perintah berdzikir.

واذكر ربك كثيرا وسبح بالعشي والإبكار

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak- banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari”.(QS. Ali Imran: 41).

Oleh Ahmad Munir

Bahan Bacaan

Prof. Dr. Muhammad Usman  Najati, Al-Qur’an dan Psikologi, Jakarta: Aras Pustaka, 2001

Imam Al-Ghazali, Teosofia Al-Qur’an, Surabaya: Risalah Gusti, 1995.

Ar-Raghib Al-Asfahani, Mu’jam Mufradat Alfad Al-Qur’an, Beirut: Dar al-Fikr, tt.

Al-Bahi al-Kulli, Adam as., Falsafah Taqwim al-Insan wa Khilafatihi, Kairo: Maktabah Wahbah, 1974, Cet. 3.

Al-Syaikh Abi Ali Al-Fadhal Ibn Al-Hasan Al-Thabarsyi, Majma’al-Bayan Fi Tafsir Al-Qur’an, J. 5,  dar al-Ma’rifah, 1986.

Al-Allamah Sayyid Muhammad Husain Al-Thaba’thaba’i, Al-Mizan Fi Tafsir Al-Qur’an,Beirut:, Muassasah al-A’lamy, Cet.II,1974, J.13.

Sa’id Hawwa, Tarbiyatuna Ar-Ruhiyyah, Kairo: Maktabah Wahbah, 1979.

Syamsuddin Abi Abdullah Muhammad bin Qayyim al-Jauziyyah, Al-wabl al-shayyib Wa Rafi’ al-Kalim al-Thayyib, Damaskus: Maktabah dar al-Bayan, tt.

Manna’Khalil al-Qath-than, Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an, Mansyurat al-Ashr al-Hadits,Cet.III, 1973.

Dr.Rifyal Ka’bah, Dzikir dan Do’a dalam al-Qur’an, Jakarta: Paramadina, 1999.

Al-Imam Abi Al-Qasim jar Allah Mahmud bin Umar bin Muhammad Az-Zamakhsyari, Tafsir Al-Kasy-syaf, J.I, Beirut: Dar al-Kutub,,Cet.I, 1995.

Muhammad Rasyid Ridha,  Al-tafsir Al-Qur’an Al-Hakim, Beirut: dar al-Fikr, tt,.

Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarir At-Thabari, Jami’ al-Bayan Min Ta’wili Ayi al-Qur’an, Beirut: Dar al-Fikr, Juz. 2, tt.

Muhammad Ali Al-Shabuni, Shafwah al-Tafasir, J.2, Beirut: Dar al-Fikr, tt.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.