Home » Filsafat » Manifesto Prof. Cecep Sumarna tentang Kebaikan dan Keburukan

Share This Post

Filsafat

Manifesto Prof. Cecep Sumarna tentang Kebaikan dan Keburukan

Aku tak ingin mengajarkan kebaikan – dalam arti lisan – kepada siapapun, termasuk kepada anak-anakku sendiri, karena aku sadar, aku belum pernah merasa bisa menjadi orang yang baik.Aku hanya ingin semua orang dapat menemukan kebaikan itu, dalam wujud yang tajalli dalam diri masing-masing, sehingga kebaikan itu benar-benar menyatu dengan dirinya sendiri, tanpa terpisah sedikitpun. Kebaikan terinternalisasi dalam diri manusia, tanpa pernah merasa disuruh untuk berbuat kebaikan.

Di balik ketidakmauanku untuk tidak mengajarkan kebaikan, aku hanya ingin menginspirasi semua orang – termasuk tentu yang paling utama adalah anak-anakku sendiri – yang ingin dan berlatih menjadi atau menuju perbuatan kebaikan. Mengapa? Sebab jika aku mengajarkan kebaikan, maka, kebaikan itu akan mengesankan seperti untuk orang lain, atau bahkan seolah untuk Tuhan kita semua. Padahal kebaikan adalah keharusan personal, untuk kepentingan sendiri.

Ini penting saya sebut, sebab banyak pihak menganggap bahwa kebajikan itu seolah bukan untuk diri pembuat kebajikan. Seolah berbuat bajik itu untuk orang lain, atau bahkan terkesan seperti untuk Tuhan. Padahal, khusus untuk Tuhan, kita mestinya sadar bahwa pada akhirnya, jikapun kita mampu berbuat sesuatu yang dianggap baik, maka, segenap kebaikan yang dilakukan sejak kita menghirup udara sampai detik ini, tak mungkin mampu menebus semua jenis dan bentuk kebaikan Tuhan kepada diri kita.

Rekomendasi untuk anda !!   Proses Nalar dalam Takdir Buta Manusia

Tak Kularang orang Berbuat Keburukan

Aku juga tidak ingin melarang orang lain untuk tidak berbuat keburukan. Sebab bukan saja aku tak sanggup dan tak memiliki moral kuat untuk tidak melakukan keburukan itu, tetapi sesungguhnya, aku juga takut, jika aku melarang orang lain berbuat keburukan, dapat mendorong mereka, untuk menggantungkan amalan kebaikan sebagai jalan kebajikan dan kebahagiaan hidup.

Akibatnya, jika salah-salah, malah dapat mendorong manusia untuk menggantungkan hidupnya pada amalan yang disebutnya dengan kebaikan. Jika ini yang terjadi, maka, ini pertanda kita sebagai manusia, telah dan sedang mengalami penipisan akan harapan  untuk mendapatkan rahmat Tuhan, terlebih ketika mereka sedang tergelincir dalam apa yang kita sebut sebagai keburukan. Padahal dalam kaca mata tertentu, kebaikan dan keburukan, dalam keyakinan tertentu, harus pula difahami sebagai bersumber dari Tuhan.

Rekomendasi untuk anda !!   Memahami Ilmu Pengetahuan| Filsafat Ilmu Part - 9

Mendidik itu, bukan bagaimana berbicara baik, tetapi bagaimana bertindak baik. Sebab yang melatih bagaimana berbicara baik adalah politikus atau demagog. Pendidik beda dengan politikus dan juga beda dengan demagog. Mendidik sebagai bentuk kata kerja dari kata didik adalah memberi contoh dan suri tauladan terhadap keyakinan yang kita anut dalam apa yang kita sebut sebagai kebaikan.

Toleransi misalnya. Itu kebaikan dan sangat mudah diucapkan. Masalahnya, sudah dan pernahkan kita berbuat toleran terhadap pikiran dan pendapat orang lain yang berbeda sekalipun dengan kita? Jika kita belum bisa, ngapain bicara toleransi. Berilah contoh bagaimana bertoleransi yang sesungguhnya. Jika pada hal-hal kecil saja, kita tidak mampu toleran, bagaiamana toleransi dalam konteks makro, mampu kita tunaikan, sekalipun ternyata secara teoretik, kita sangat ahli dalam apa yang disebut dengan toleransi itu. Prof. Cecep Sumarna

Share This Post

24 Comments

  1. Kebaikan harus melekat dalam diri setiap individu sabagai wujud nyata dari seseorang yang takut kepada Tuhannya

    kebaikan maupun keburukan seseorang melahirkan perspektif yang berbeda-beda karena dilihat dari point of view yang berbeda pula
    terkadang kebaikan selalu tertutupi dengan keburukan, ataupun sebaliknya (Serigala Berbulu Domba)
    So, Don’t judge by the cover and always think positive 🙂

    Reply
  2. Jika sesuatu yang menurut kita itu baik tapi disisi lain ada orang awam yang beranggapan sesuatu itu tidak baik atau menjadi keburukan. Bagaimana cara untuk menyikapi, karena terkadang orang awam itu terlalu keras kepala ?
    Sekiyan terimakasih prof

    Reply
  3. Jadi kebaikan yang kita lakukan itu merupakan suatu kebutuhan bagi kita sendiri tah prof???

    Reply
  4. Jadi kebaikan yg kita lakukan itu merupakan kebutuhan kita sebagai makhluk sosial.

    Reply
  5. Jadi pada intinya kebaikan yg kita lakukan tuh merupakan kebutuhan kita sendiri tah prof???

    Reply
  6. Baik Buruk terkadang relatif, dimana posisinya itu jg menentukan.

    Reply
  7. Kadar baik buruk sangat relatif,

    Reply
  8. Jadi kebenaran itu akan melekat jika ditemukan oleh pribadinya sendiri. Dan akan jadi kebiasaan

    Reply
    • lyceum

      Yes … itu yang penting

      Reply
  9. Assalamualaikum..
    Benar benar menginspirasi dari setiap kata per katanya. sebuah pernyataan yang membuat kita sadar akan sebuah kebaikan dan keburukan. Setelah saya memahami mengenai kebaikan, ternyata benar kebaikan itu jangan kita tunjukan kepada orang lain tetapi ini adalah kewajiban yang perlu kita terapkan dalam diri kita.

    Reply
  10. Mendidik itu, bukan hanya bagaimana berbicara baik, tetapi lebih baik bagaimana bertindak baik.
    berbicara salah bukan berarti tindakannya juga salah, akan tetapi masalah datang dari berbagai arah yang tak searah.

    Toleran = Ngelirik awak melayu bareng

    Reply
  11. Yang menjadi dalang dibalik keburukan adalah tidak adanya kebaikan

    Reply
    • lyceum

      Atau mungkin karena ada apa yang kita sebut dengan kebaikan.

      Reply
  12. bukanlah sesuatu itu dikatakan kebaikan manakala hanya sebatas pandangan atau dianggap baik oleh orang lain. nyatanya rembulan yang tampak dalam pandangan mata sangat indah, nyatanya ? jadi kebaikan itu seharusnya sesuatu yang keluar dari pancaran hatinya, menjadi bagian dari dirinya dan bukan karena siapa-siapa. kebaikan seperti inilah yang akan mengalir, merembet, terus menerus bertambah sesuai dengan lajunya.
    manakala kita melakukan kebaikan maka rembetannya adalah kebaikan demi kebaikan yang akan menjadikan munculnya sekaligus menjaga kebaikan-kebaikan yang lain terus mengalir. misalnya berawal hanya sekedar tersenyum, terus merembet ingin menyapa, mungkin berlanjut mengenal, menolong, dan mungkin juga terus terjalin komunikasi, hubungan bisnis dll. kebaikan menjadikan hidup menjadi indah, penuh makna. itulah kebaikan, bukan rangkaian kata-kata indah tapi bukti nyata yang menjadi contoh yang akan menginspirsi dan memotivasi orang lain mengikuti jejaknya.
    sebagaimana kebaikan, keburukanpun memiliki laju yang sama. sekali berbuat keburukan akan membuka pintu keburukan-keburukan yang lain.

    Reply
    • lyceum

      Jika demikian, berarti kebaikan dan keburukan itu, terletak dalam perilaku bukan? Makanya, pikiran dan ucapan tidak memiliki pengaruh berarti sepanjang belum ada aksi. Tetapi apapun itu, komentarmu sangat bagus dan memikat pemikiran. Lanjutkan

      Reply
    • lyceum

      Di mana posisi kebaikan dan keburukan itu berada jika demikian adanya? Ditindakan bukan …? Makanya sering saya katakan, kebaikan itu pada tindakan. Sementara ucapan dan pemikiran itu, hanya membutuhkan kearipan

      Reply
    • lyceum

      Good-good …

      Reply
  13. Assalamu’alaikum..
    Setelah Saya baca dan memahami tentunya mengenai keburukan dan kebaikan itu ialah sesuatu yang datang dari dirinya sendiri dan juga dari luar dirinya,, seseorang yang berbuat kebaikan maka ia akan dekat dengan Tuhan dan sbaliknya sesesorang yang berebuat keburukan maka ia akan jauah dari Tuhan.

    Reply
    • lyceum

      Ya kebaikan dan keburukan itu dua kata yang bukan hanya sekedar dapat dipertukarkan, tetapi bahkan dapat diperjual belikan. Karena itu, berbuat kebaikan atau sebaliknya, adalah sikap dan conduct. Penilai sebenarnya berarti dirinya sendiri

      Reply
  14. mengenai kebaikan dan keburukan, memang benar yang telah dipaparkan diatas bahwasanya kebaikan yang sesunguhnya bukanlah mengajarkan sesuatu yang baik lewat lisan saja melainkan harus dibuktikan melalui perbuatan. akan tetapi, manusia diberikan akal untuk berfikir dan memilih antara sesuatu yang baik/buruk. melakukan sesuatu yang baik salah satunya adalah mengajarkan dan mencontohkan kebaikan, menginspirasi orang lain untuk berbuat baik itu juga termasuk mencontohkan kebaikan sehingga orang lain termotivasi untuk berbuat baik dan itu sesuatu yang mulia, tentunya harus dibarengi dengan perbuatan yang baik juga.
    adapun mengenai keburukan, manusia diberikan hak untuk memilihnya. melarang seseorang pada saat berbuat buruk bukan berarti mendorong manusia untuk menggantungkan hidupnya pada amalan yang disebutnya dengan kebaikan, apalagi penipisan akan harapan untuk mendapatkan rahmat Tuhan.
    akan tetapi, pada hakikatnya melarang keburukan adalah untuk saling mengingatkan. yang mengingatkan belum tentu lebih baik dari yang diingatkan, yang diingatkan juga belum tentu lebih buruk dari yang mengingatkan. namun, disitu ada makna cinta yaitu mengingatkan dan saling menjaga.

    Reply
    • lyceum

      Hebat lho komentar mu ini. sbenarnya itu juga yang dimaksud

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>