Inspirasi Tanpa Batas

Manifesto Prof. Cecep Sumarna tentang Kebaikan dan Keburukan

0 49

Aku tak ingin mengajarkan kebaikan – dalam arti lisan – kepada siapapun, termasuk kepada anak-anakku sendiri, karena aku sadar, aku belum pernah merasa bisa menjadi orang yang baik.Aku hanya ingin semua orang dapat menemukan kebaikan itu, dalam wujud yang tajalli dalam diri masing-masing, sehingga kebaikan itu benar-benar menyatu dengan dirinya sendiri, tanpa terpisah sedikitpun. Kebaikan terinternalisasi dalam diri manusia, tanpa pernah merasa disuruh untuk berbuat kebaikan.

Di balik ketidakmauanku untuk tidak mengajarkan kebaikan, aku hanya ingin menginspirasi semua orang – termasuk tentu yang paling utama adalah anak-anakku sendiri – yang ingin dan berlatih menjadi atau menuju perbuatan kebaikan. Mengapa? Sebab jika aku mengajarkan kebaikan, maka, kebaikan itu akan mengesankan seperti untuk orang lain, atau bahkan seolah untuk Tuhan kita semua. Padahal kebaikan adalah keharusan personal, untuk kepentingan sendiri.

Ini penting saya sebut, sebab banyak pihak menganggap bahwa kebajikan itu seolah bukan untuk diri pembuat kebajikan. Seolah berbuat bajik itu untuk orang lain, atau bahkan terkesan seperti untuk Tuhan. Padahal, khusus untuk Tuhan, kita mestinya sadar bahwa pada akhirnya, jikapun kita mampu berbuat sesuatu yang dianggap baik, maka, segenap kebaikan yang dilakukan sejak kita menghirup udara sampai detik ini, tak mungkin mampu menebus semua jenis dan bentuk kebaikan Tuhan kepada diri kita.

Tak Kularang orang Berbuat Keburukan

Aku juga tidak ingin melarang orang lain untuk tidak berbuat keburukan. Sebab bukan saja aku tak sanggup dan tak memiliki moral kuat untuk tidak melakukan keburukan itu, tetapi sesungguhnya, aku juga takut, jika aku melarang orang lain berbuat keburukan, dapat mendorong mereka, untuk menggantungkan amalan kebaikan sebagai jalan kebajikan dan kebahagiaan hidup.

Akibatnya, jika salah-salah, malah dapat mendorong manusia untuk menggantungkan hidupnya pada amalan yang disebutnya dengan kebaikan. Jika ini yang terjadi, maka, ini pertanda kita sebagai manusia, telah dan sedang mengalami penipisan akan harapan  untuk mendapatkan rahmat Tuhan, terlebih ketika mereka sedang tergelincir dalam apa yang kita sebut sebagai keburukan. Padahal dalam kaca mata tertentu, kebaikan dan keburukan, dalam keyakinan tertentu, harus pula difahami sebagai bersumber dari Tuhan.

Mendidik itu, bukan bagaimana berbicara baik, tetapi bagaimana bertindak baik. Sebab yang melatih bagaimana berbicara baik adalah politikus atau demagog. Pendidik beda dengan politikus dan juga beda dengan demagog. Mendidik sebagai bentuk kata kerja dari kata didik adalah memberi contoh dan suri tauladan terhadap keyakinan yang kita anut dalam apa yang kita sebut sebagai kebaikan.

Toleransi misalnya. Itu kebaikan dan sangat mudah diucapkan. Masalahnya, sudah dan pernahkan kita berbuat toleran terhadap pikiran dan pendapat orang lain yang berbeda sekalipun dengan kita? Jika kita belum bisa, ngapain bicara toleransi. Berilah contoh bagaimana bertoleransi yang sesungguhnya. Jika pada hal-hal kecil saja, kita tidak mampu toleran, bagaiamana toleransi dalam konteks makro, mampu kita tunaikan, sekalipun ternyata secara teoretik, kita sangat ahli dalam apa yang disebut dengan toleransi itu. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...