Manusia dalam Pandangan Pendidikan Islam| Eksistensi Pendidikan Islam Part -2

1 104

Misi utama berdirinya LPI adalah menuntun manusia menuju Tuhan. Lembaga Pendidikan Islam tidak boleh membuat manusia menjadi Tuhan. Ada adagium yang menyebutkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Inilah  prinsip dasar dan ekistensi seluruh aspek pendidikan Islam. Oleh karena itu, titik pangkal pelaksanaan pendidikan Islam dengan misi tadi adalah manusia bertuhan.

Sisi ini bertumpu pada konsep tauhid yang mengajarkan kepada manusia akan pentingnya pengakuan eksistensi Tuhan yang tunggal. Selain itu, Tuhan juga harus dipandang absolut. Suatu sikap yang mengakui bahwa semua makhluk memiliki kesederajatan yang sama di sisi Tuhan. Pembeda nyata di antara sesama manusia hanya ditentukan oleh ketaqwaannya. Prinsip ini harus menyatu dalam semua aspek pendidikan Islami; guru-murid dan elemen lainnya, termasuk situasi dan lingkungan yang diciptakan.

Dengan kata lain, ciri penting pendidikan Islam harus menjadikan manusia sebagai pusat kajian. Hanya dengan sikap seperti inilah, pendidikan Islam akan mencapai titik kemajuan yang paling utama. Dengan misi sebagaimana digambarkan tadi, maka pelaksanaan pendidikan Islam harus bergerak dalam bentuk pengembalian citra manusia. Hal ini dalam istilah Islam diperkenalkan dengan sebutan abdullah dan sekaligus khalifah Allah.

Manusia Sulit Didefinisikan

Perspektif di atas, penulis sependapat dengan sebagian ahli filsafat dan ahli pendidikan yang memandang bahwa kegagalan pendidikan kontemporer lebih disebabkan karena pendidikan gagal mendefinisikan manusia. Seringkali sistem pendidikan yang demikian banyak di dunia ini, termasuk di dunia Islam, tidak ditujukan pada manusia sebagai subjek pokok pendidikan. Oleh karena itu, wajar jika pendidikan tidak mampu mendidik manusia secara benar.

Posisi manusia sebagai ‘abdullah akan menuntut makhluk bernama manusia untuk selalu bertaslim terhadap hukum Tuhan dan berbagai hukum yang terkandungdidalamnya. Sedangkan sebagai khalifah Allah, manusia dituntut memelihara dan mengelola alam, karena alam diciptakan untuk manusia. Dalam perspektif horizontal, manusia sebagai khalifah Allah, mengharuskan dirinya untuk mampu bersimetri dengan sesama manusia

Dua fungsi kemanusiaan sebagaimana dijelaskan tadi, menjadi alasan untuk disebut bahwa manusia adalah ahsani taqwim (al-Thin/ 95: 4). Kalimat ini, jika menggunakan nalar Maulana Muhammad Ali dalam tafsir the Holy Qur’an [tt: 1759), adalah kemampuan yang luar biasa besar dari manusia terdidik itu untuk maju, atau mengembangkan potensi dirinya melalui alat pendengaran dan penglihatan.

Selain itu, melalui pendidikan yang demikian potensi lain berupa al Qalb yang dimiliki manusia akan dapat digunakan sebagaimana mestinya. Meski perlu menjadi catatan bahwa dalam realitas kekinian, paradigma pendidikan modern dan imbasnya pasti terasa dalam dunia pendidikan Islam, alat lain yang diberikan Tuhan, berupa hati [al qalb] itu, tidak dapat dipahami sebagai alat yang berguna untuk memperoleh pengetahuan.

Teosentrisme dalam Filsafat Pendidikan Islam

Alat terakhir ini dianggap terlalu subjektif untuk dijadikan patokan kebenaran yang karenanya tertolak. Penolakan dimaksud terjadi karena ilmu modern terlalu berorientasi pada objektifitas baik pada sisi objek maupun subjek. Langkah ini dilakukan untuk mengokohkan pemahaman dan sikap ahli pendidikan ntuslim untuk meletakkan manusia sebagai pusat [teoseniris] kesemestaan, titik tolak (starting point), dan sekaligus sebagai titik tujuan (ultimate goal).

Langkah ini dapat diikhtiarkan dengan melakukan pembinaan atas keseluruhan sifat-sifat hakiki (fi trah) yang dimiliki peserta didik ke arah pembentukan kepribadian yang sempurna. Sebab dalam perspektif pendidikan Islam, kesempurnaanmanusia ditunjukkan oleh akhlaknya. Pribadi manusia yang berakhlak adalah sikap manusia yang memiliki kemampuan untuk mengelola hidupnya sesuai dengan nilai-nilai (baik ilahiyah maupun insaniyah).

Kemampuan tersebut, jika dilakukan dengan baik dan benar dari keseluruhan proses pendidikan Islami, sebenarnya dapat dimiliki dan dilakukan oleh setiap pribadi dengan cara melakukan tazkiyat an- nafs (penyucian diri), melalui perenungan [kontemplasi filosofis], riyadhat an-nafs (latihan kepribadian), dan mujahadah (kesungguhan dalam berusaha) atas realitas alam yang dinamis. Kegiatan inilah yang sesungguhnya merupakan inti dari kegiatan pendidikan Islam.

Penempatan manusia sebagai inti kajian pendidikan Islam, meminjam pikiran Sayyed Hossein Nasr (1984: 31), dimaksudkan agar manusia terdidikmampu menciptakan satu sistem harmoni antara manusia dengan alam dan sekaligus antara manusia dengan Tuhan. Di perspektif ini, harus diakui bahwa terjadinya disharmoni antara manusia dan alam, sebenarnya terjadi karena hancurnya harmoni antara manusia denganTuhan.

Pendidikan Islamdengan demikian, harus tetap mampu mengembangkan prinsip dan misi yang memandang bahwa isi alam semesta -termasuk di dalamnya manusia memiliki suatu aspek sakral dan transenden. Karena isi alam berasal dari sesuatu yang sakral dan transenden, maka alam bukan saja membutuhkan pemeliharaan demi kemaslahatan manusia, tetapi lebih dari itu, alam juga membutuhkan kasih sayang dan belas kasihan dari manusia, karena ia memiliki kejiwaan yang sumber asasinya sama seperti manusia, yakni Tuhan. Prof. Cecep Sumarna –bersambung–

  1. Siswanto bisa berkata

    Dalam eksistensi pendidikan islam berisi tentang pertunjukan antara manusia dengan agama. Manusia yang sempurna dapat dilihat dari akhlaknya. Menurut saya perbuatan manusia dapat dibikin” namun hatilah yang bisa mengendalikan alam sadar berfikir kita.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.