Manusia dan Pendidikan

0 368

Satu diantara pandangan klasik, menegaskan bahwa manusia adalah animal  educandus atau animal educandum . Sejak keberadaannya dalam kondisi kehidupan yang pirimitif hingga yang paling tinggi tingkat perkembangannya, manusia adalah satu-satunya mahklu yang didik dan mendidik (termasuk mendidik dirinya sendiri). Maka tidak berlebihan kalau dinyatakan bahwa pendidikan mansia berlangsung sepanjanghayatnya. Beranjak dari pandangan inilah UNESCO meluncurkan gagasan life-long education.

Erat kaitannya dengan pandangan ini ialah pendapat yang menyatakan, bahwa pembedayaan manusia sangat ditentukan oleh pendidikannya; dengan kata lain,pendidikan adalah ikhtiar yang tertuju pada pembedayaan segenap potensi manusia. Konsekuen pada pandangan ini, system pendidikan pun dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan setiap orang untuk meneruskan kterlibatanya dalam peroses  pembelajaran secara berjenjang, sejak pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Pada jenjang pendidikan tinggi ikhtiar pendidikan mulai dikembangkan melalui berbagai cara dan pendekatan yang khas sebagai mana diturunkan dalam sejarah dan teradisi selepas abad pertengahan.

Peningkatan Mutu SDM

Peningkatan mutu  sumber daya manusia (SDM) merupakan satu di antara dua isu besar yang dihadapi bangsa Indonesia. Isu besar lainya adalah pengentasan kemiskinan. Peningkatan sumber daya manusia tidak bias lepas dari pendidikan, karena pendidikan merupakan upaya yang strategis untuk mencapainya.[1]  Dapat juga dikatakan bahwa masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia adalah pendidikan dan kemiskinan.

Antara pendidikan dan kemiskinan dalam pengertian kehidupan ekonomi terdapat hubungan, disatu pihak saling menguatkan, namun pihak yang lain terbuka kemungkinan untuk mendapat hubungan yang saling melemahkan, misalnya orang bodoh bias miskin maka dia semakin bodoh dan serterusnya.[2] Persoalannya adalah bagai manan upaya hubungan tersebut saling menguatkan. Setiap orang memiliki kehidupan atau setatus tertentu di msyarakat. Setatus ini berkaitan dengan setratifikasi sosial. Oleh karena itu dengan kriteria tertentu seseorang bias menempati strata atas, menengah atau bawah.

Pandangan sosiologis mengenai dua katagori setatus sosial ascribed status dan achieved status. Ascribed status  adalah status yang diperbolehkan sejak lahir atau karena perkembangan usia, misalnya setatus sebagai laki-laki atau perempuan, anak-anak atau orang dewasa, bangsawan atau rakyat jelata. Achieved setatus adlah setatus yang diperoleh karena hasil usaha yang bersangkutan. Bentuk usaha tersebut antara lain melalui pendidikan. Contoh Achived Status adalah settatus yang diperoleh karena hasil usaha yang bersangkutan. Bentuk usaha tersebut antara lain melalui pendidikan. Achived setatus antara lain menjadi seorang guru, kariyawan, peminpin, gelandangan, pemain olah raga, pemain musik,  dan sebagainya.

Pendidikan Peralihan Status Sosial

Peralihan dari satu status sosial kepada setatus yang lain, yang dalam sosiologi dikenal dengan mobilitas sosial sangat mugkin terjadi. Ada dua macam mobilitas sosial yaitu mobilitas sosial horijontal dan vertikal. Pada mobilits horizontal terjadi perubahan dari setatus yang satu kepada setatus yang lain tanpa perubahan derajat karna berlangsung pada lapisan sosial yang sama. Sebagai contoh menikah dengan seorang pemuda yang sederajat, seorang gadis berubah menjadi seorang isteri atau ibu rumah tangga. Pada mobilitas vertikal terjadi perubahan melampaui batas lapisan sosial, baik kearah yang lebih tinggi maupun sebaliknya kearah yang lebih rendah. Contoh seorang Rektor atau Dosen sekalipun bisa menjadi Mentri. Demikian pula sebaliknya seorang Mentri kembali menjadi Dosen.

Melalui pendidikan yang berarti peningkatan kualitas sumber daya manusia, memungkinkan terjadi mobilitas sosial vertikal. Pelapisan sosial berbentuk piramida, persaingan untuk naik tangga yang lebih tinggi semakin ketat, karenanya peranan pendidikan semakin penting. Siapa saja yang berhasil dalam pendidikan, dialah yang memiliki kemungkinan teratas untuk naik tangga sosial,.sebagai contoh anak seorang petani kecil di desa terpencil yang menduduki strata sosial bawah dengan melalui pendidikan bisa menjadi seorang Dosen, Rektor, bahkan Direktur utama perusahaan ternama sehingga terjadi mobilitas sosial vertikal dari setrata bawah menjadi strata menengah bahkan atas. Untuk mempelajari yang sebaik-baiknya mengenai pendidikan tinggi perlu dipahami hal- ihwal yang menjadi tujuan dan ciri khasnya.[3]

Pasal 17 ayat (1) UU Sisdiknas menyatakan: “ pendidikan tinggi terdiri atas pendidikan akademik dan pendidikan perofesional .” Dengan demikian ditegaskanlah penyelenggaraan pendidikan tinggi sebagai pendidikan dengan pendekatan dua cabang (two-track approach), yaitu yang berorientasi pada scientism dan perofesionalism.

PP tentang Pendidikan Tinggi

Utuk mencapai tujuan termaksud penyelenggaraan pendidikan tinggi berpedoman a.l. pada kaidah moral dan etika pengetahuan, sebagai mana tercantum dalam PP No. 30 Tahun 1990 (selanjutnya disingkat PP No. 30/1990) yang kemudian diperbaharui menjadi PP No. 60 Tahun 1999 (selanjutnya disingkat PP No. 60/1999) tentang pendidikan tinggi, karena sebagai suatu masyarakat dengan perokupasi yang khas – yaitu sebagai civitas academica – selayaknya warganya berpegang pada kaidah susila (code of ethics) dan kaidah perilaku(code of conducts) sebagaimana berlakudan teradisi  teradisi akademik umumnya.

Dalam hal ini dipersoalkan sejuhmana masyarakat akademik harus membeku dalam sejarahnya dan terpasung oleh teradisinya yang sudah berabad-abad; bukankah justru dalam perjalanan  sejarah setiap teradisi mengalami perubahan? Juga demikian halnya, teradisi niscaya kehilangan maknanya manakala begitu sering mengalami perubahan sehingga akhirnya kehilangan jejak-jejak yang ditinggalkan dalam perkembangannya.

Pendidikan adalah upaya pembentukkan watak dan akhlak peserta didik. Usaha sadar dan terancana untuk mewujudkan suasana belajar dan peroses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya kekuatan sepiritual keagaman, pengedalian dri, keperibadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan Negara. [4] Berdasarkan pengertian pendidikan di atas, ada dua kata kunci yaitu usaha sadar dan terancam. Dengan demikian maka pendidikan dijalur, jenjang dan jenis manapun tidak ada yang diselenggarakan seadanya tanpa perencanaan yang matang termasuk yang diselenggarakan oleh Departemen Agama.

Para ahli baru dapat menjelajahi sebagian kecil dari rahasia-rahasia yang berkaitan dengan berfikir ini. Namun dapat diterima sebagai aksioma bahwa berfikir bermutu terkait erat dengan nilai-nilai bermutu. Ini berhubungan dengan kemampuan dan cara kerja bermutu. Selanjutnya ia bersambungdengan kinerja/performant dan out put bermutu, dan dengan kehidupan masa depan yang bermutu.[5] Sesuai dengan pembelajaran yang dikemukakan Ahmad Tafsir (2005) pada perinsipnya ada tiga, yakni: (1) tahu, mengetahui (kenowing). Disini tugas guru ialah mengupayakan agar murid mengetahui suatu konsep; (2) Mampu  melaksanakan atau mengerjakan yang kita ketahui itu (doing); (3) murid menjadi orang  seperti ia ketahui itu  (being). Konsep itu seharusnya tidak sekedar menjadi miliknya tetapi menjadi satu dari keperibadiannya.[6]

Tujuan Pembelajaran

Berdasarkan teori tersebut maka tujuan pembelajaran shalat umpamanya adalah; (1) tahu konsep salat (knowing), (2) tampil melaksanakan shalat (doing) dan (3) menjadi orang yang selalu mendirikan shalat dalam kehidupannya sehari-hari (being). Untuk mencapai tujuan pembelajaran sampai pada tingkat being  ini diperlukan metode khusus untuk itu. Metode yang sudah diketahui sampai saat ini menurut Ahmad Tafsir adalah “metode intranalisasi” (dari Prof. Achmad Sanusi) atau “ metode peropesionalisasi” (dari Prof. Djawad Dahlan).[7]

Dasar pemikiran dari metode ini adalah bahwa pengetahuan (baik itu konsep netral, maupun konsep yang mengandung nilai, ataupun konsep yang berupa nilai), adalah sesuatu yang diketahui. Pengetahuan masih berada di otak, dikepala, ktakanlah masih ada di pikiran. Dengan demikian berarti masih berada di daerah luar (ekstern). Keterampilan melaksanakan berarti masih berada didaerah ekstern. Untuk itulah diperlukan upaya memasukannya kedaerah dalam (intern).

Upaya memasukan pengetahuan (knowing) dan keterampilan melaksanakan (doing) itu kedalam peribadi, itulah yang disebut sebagai upaya internalisasi atau personalisasi. Internalisasi karena memasukan dari daerah ekstern ke interen, personalisasi karena upaya  itu berupa usaha menjadikan menjadikan pengetahuan dan keterampilan itu menyatu dengan peribadi (person).[8] Metode dikuasai, karena teknik inilah sebenarnya yang berpungsi untuk menjabarkan metode sehingga bisa di implementasikan dalam kegiatan pembelajaran. Teknik ini akan senantiasa berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi kegiatan pembelajaran tersebut berlangsung. Oleh karena itu kereativitas tenaga pengajar merupakan suatu keniscayaan. Dr. H. Djono

Bahan Bacaan

[1] Sanusi Uwes. Manjemen Pengembangan Mutu Dosen. Jakarta: Logos, 1999. hlm. v.
[2] Sudardja Adiwikarta,Sosiologi pendidikan, (Jakarta: LTPK, 1998), hal.140.
[3] Dalam Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional (selanjutnya disingkat UU No.20/2003) pasal 16 ayat (1): Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk menyerapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/ atau perofesional yang dapat menerapkan. Mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian.”
[4] Usaha sadar dan terancana untuk mewujudkan suasana belajar dan peroses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya kekuatan sepiritual keagaman, pengedalian dri, keperibadian , kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan Negara. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,cakap, kereatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Lihat Undang-Undang Nomer 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
[5] Ibid., hal. 58.
[6] Ahmad Tafsir., op. cit., hal. 88.
[7] Ibid., hal. 228.
[8] Ibid., hal. 229.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Komentar
Memuat...